
Furya yang selesai bermain piano dapat mendengar tepuk tangan meriah dan suara dukungan dari semua tamu.
Sat itu ia yang bermain piano merasa lebih dekat dengan sang ayah.
Namun seperti menjadi dilema di hatinya, Surya yang memiliki pendengaran tajam dapat mendengar suara wanita menangis dari banyaknya para tamu yang hadir.
Buk Reni yang melihat anak sulungnya sudah makin dewasa dan mirip dengan ayahnya menjadi sedih dan teringat kembali dengan alm suaminya.
“Mama ... kok mama nangis?” tanya adik bungsu Furya yaitu Yuki yang melihat ibunya menangis.
Sherly yang duduk dekat dan melihat tante Reni menangis tak tinggal diam dan mendekat.
“Tante ... tante kenapa?”
“Ini tisu tante!” kata Sherly seraya memberikan tisu.
Dari banyaknya dukungan yang Furya dapatkan, sang ibu yang seperti melihat sosok suaminya dari Furya tak dapat menahan air matanya yang tumpah.
Saat itu juga banyak tamu lain yang keheranan melihat ada seorang wanita yang justru menangis saat semua orang berbahagia.
Tapi tangisan buk Reni saat itu bukankah tangis kesedihan melainkan kebahagiaan.
Ia benar-benar bersyukur karena keluarganya masih tetap utuh meskipun sang suami tercinta telah tiada.
Furya yang selesai memainkan lagu kesukaan sang ayah kini berdiri dan menatap semua tamu yang hadir dari atas panggung.
Dari sorakan dan tepuk tangan yang ia dapatkan sudah jelas kalau semua orang pasti menyukai permainan piano solo yang ia perlihatkan.
Lalu saat itu juga suara sistem muncul dan mendengung di kepala Furya.
[Ding! Selamat tuan berhasil menyelesaikan misi Spesial]
[Selamat tuan mendapatkan hadiah 50.000 Perfection Poin dan Kotak Hadiah Spesial]
[Selamat tuan telah naik level]
Furya yang menyelesaikan misi hanya tersenyum tipis dan berniat langsung turun dari panggung.
Namun saat ia turun dari panggung, saat itu juga banyak jajaran tamu VIP yang mendekat dan mengajaknya bersalaman.
“Selamat, itu pertunjukkan yang luar biasa.” kata pria pemilik SIS yaitu Aurelio Sanjaya.
Surya yang di salami hanya tersenyum dan sedikit menundukkan kepala.
“Luar biasa, siapa namamu anak muda?” taya Theodorick Malfey alias ayah Bastian.
“Nama saya Furya Aditya, pak.”
“Sungguh penampilan yang luar biasa, Furya. Jika kau mau saya sangat ingin melihat pertunjukkanmu di panggung Internasional. Ini kartu namaku, hubungi aku jika kau berminat!” kata Theo seraya memberikan kartu nama.
“Terima kasih pak, mungkin akan saya pikirkan nanti.” jawab Surya sambil bersalaman dan mengambil kartu nama yang diberikan.
Beberapa tamu VIP yang Furya lewati juga ikut menyalaminya.
Mr Tanaka dan Naomi yang melihat pertunjukkan luar biasa Furya juga ikut memberikan dukungan.
“Luar biasa, sepertinya ayahmu akan sangat senang jika tau anaknya bisa sehebat ini bermain piano.”
“Benar, dia pasti bangga padamu.” lanjut Naomi.
“Terima kasih kek dan makasih suah menolong saya kak Naomi!”
Setelah itu Surya yang selesai basa-basi dan sudah menyelesaikan misi dengan sempurna lalu kembali ke bangku tempatnya duduk.
Melihat ibunya yang menangis, Furya hanya tersenyum dan mendekat.
“Ma ... bagaimana penampilan Furya tadi?”
Buk Reni yang sedih hanya tersenyum dan tak berkata apa-apa.
Anak sulungnya memang benar-benar luar biasa dan ia sangat bangga kepadanya.
Setelah itu acara pentas seni SIS ke 66 akhirnya berakhir.
__ADS_1
Furya dan ibunya yang keluar aula akhirnya dapat melihat wajah adik lelakinya dan Arthur yang tertahan di pintu keluar karena tak bisa masuk.
“Kakak ... kenapa mama nangis kak?” tanya Ren yang heran.
“Gpp, udah pegangin mama sini.”
Surya yang melihat Arthur menjadi pesuruh adiknya dan terlambat masuk aula langsung mendekat dan berbicara padanya.
“Arthur, apa kau ingat misi yang ku berikan?”
“Tentu saja tuan.”
“Kalau begitu kenapa kau bisa terlambat?”
“Mohon maaf tuan. Tapi Saya tak pernah sekalipun terlambat!”
“Meskipun tertahan di luar tapi sebagian sel tubuh saya sudah melekat pada keluarga tuan. Jadi saya dapat mengetahui semua kejadian di sekitar mereka!”
Furya yang awalnya ingin marah karena Arthur hanya menjaga adik lelakinya yang bandel lalu tersenyum dan menepuk pundak Arthur.
“Baguslah kalau begitu. Maaf aku sedikit salah sangka.”
“Tak apa-apa tuan. Arthur juga mengerti dengan keadaan tuan saat ini.”
Furya yang jujur saja sejak tadi menahan air mata dan emosinya memilih duduk dan beristirahat sendirian di taman.
Saat itu Nando dan adik-adiknya sudah membawa ibunya ke tempat yang lebih sepi untuk beristirahat.
Furya yang duduk di taman sendirian lalu di datangi Sherly.
“Akhirnya ketemu! Kenapa sih gak ngumpul sama-sama?”
Furya yang ingin sendiri hanya tersenyum dan tak menjawab pertanyaan Sherly.
Saat itu Sherly yang melihat gelagat aneh Furya langsung duduk di sampingnya dan memegang tangan sang kekasih.
“Kamu kenapa sayang? Jangan-jangan kamu keinget papa kamu juga, ya?”
Seperti dapat melihat ke dalam hatinya, Sherly yang duduk di samping Furya lalu memeluk sang kekasih.
“Kamu gak perlu nyimpen semuanya sendirian lagi.”
“Kalo ada apa-apa kasih tau aku!”
“Aku gak bisa nolong banyak tapi aku janji akan setia sampai mati sama kamu.”
Furya yang di peluk dan di tempelkan dua boba besar milik Sherly lalu memeluk sang kekasih dan mengeluarkan semua emosi yang memenuhi dirinya.
Saat itu juga seorang pria hebat menangis seperti bayi di pelukan wanita yang di cintainya.
Sherly yang melihat Furya menangis sadar dengan penderitaannya selama ini.
Sambil memeluk Furya, Sherly juga mengelus kepalanya dan mulai menenangkan sang kekasih.
“Gak papa, nangisin aja!”
“Aku tau kok penderitaan kamu.”
Di taman sekolah SIS yang mulai sepi, Furya yang diberikan ruang untuk mengekpresikan kesedihannya menangis di pekukan sang kekasih selayaknya pria biasa yang kesepian.
Sampai semua beban di pundaknya terangkat sebagian, barulah Furya bisa menegakkan kepalanya kembali.
“Makasih ... aku benar-benar beruntung memilikimu, Sherly.”
Setelah si bayi besar menjadi lebih baik, akhirnya Furya dan Sherly menyusul keluarga mereka yang berada di tempat lain.
Buk Reni dan kedua adik Furya yang sudah menunggu lama langsung tersenyum saat melihat pria kebanggaan keluarga mereka datang.
“Kakak ... yuk kita berangkat. Ren udah gak sabar mau pulang kampung!”
“Iya kak, Yuki juga mau main ke rumah nenek. Kata mama di sana ada pantai dan kebun teh luas.”
Furya yang mendengar perkataan kedua adiknya hanya tersenyum dan hari itu ia pulang ke rumah dan bersiap-siap mengunjungi kakek dan neneknya di kampung.
__ADS_1
Sherly yang melihat keluarga pacarnya ingin menikmati liburan akhir sekolah bersama sangat ingin ikut.
Untungnya kedua orang tuanya mengizinkan dan Sherly yang ikut berlibur bersama Furya kini sudah tampil cantik dan siap berangkat.
“Udah semua kan barang-barangnya? Gak ada yang ketinggalan lagi, mbak?” tanya Nando kepada kakaknya yang kadang pelupa.
“Udah semua, yuk berangkat!”
Setelah itu keluarga Furya akhirnya meninggalkan ibu kota Jakarta dan pergi ke kampung halaman buk Reni di kota Bandung.
Furya yang pergi bersama Sherly di mobil lain menyusul dan mengendarai mobil beriringan.
“Woi Ren, ngapain sih gak ikut Mama Sama Nando aja!”
“Ishh kakak nih. Di sana sempit lah kak udah ada Arthur.”
“Terus Ren mau naik mobil yang ini! Kak Sherly aja suruh pindah.”
Furya yang kedekatannya dengan sang pacar di ganggu oleh adiknya sendiri menjadi sedikit kesal.
Apalagi melihat Ren yang dipeluk Sherly membuatnya sedikit iri.
Tapi apa boleh buat, jika di paksa sang adik pasti akan menangis dan Furya hanya bisa menahan kebisingan dari adik lelakinya.
Sore itu juga Furya meninggalkan kota Jakarta kelahirannya dan pergi ke kampung halaman ibunya.
Meskipun awalnya enggan, tapi Furya yang mencintai keluarganya dan merasa membutuhkan sedikit hiburan tak dapat menolak ajakan keluarganya.
Di tempat lain...
Saat Furya dan keluarganya meninggalkan kota Jakarta untuk bersenang-senang, terlihat beberapa pria bersetelan hitam berdiri di pinggiran sungai ciliwung yang kotor.
Dari penampilan mereka dan lambang naga hitam di salah satu jaket yang dikenakan, sudah bisa di tebak mereka siapa.
Itu adalah beberapa anggota dari sindikat Mafia Sembilan Naga yang melegenda.
“Bagaimana, apa mayatnya sudah ketemu?” tanya seorang pria bersetelan hitam yang memakai kaca mata hitam dan baru saja datang.
“Santai saja tuan Romeo, sebentar lagi pasti...”
Belum lama kedua orang itu berbicara, seorang pria yang hanya menggunakan celana pendek melompat dari dasar sungai yang kotor dan keruh.
Saat itu juga pria tersebut membawa mayat seseorang yang terlihat hancur dan menjijikkan.
“Cih, ini terakhir kalinya kau menyuruhku untuk melakukan pekerjaan menjijikkan seperti ini, Romeo.” kata seorang pria yang baru saja keluar dari sungai yang kotor.
Saat itu juga pria itu meletakkan mayat seorang pria yang tak lain adalah Tomy Antony.
Wajah yang tak berbentuk dan hancur itu sudah tak dapat dikenali lagi.
Namun dari tato di punggungnya, semua orang tau itu adalah pria yang mereka cari-cari.
“Kakak...”
Seorang pria bersetelan hitam yang melihat mayat tak berbentuk itu terlihat begitu marah.
Saat kacamata hitamnya di buka, wajah pria yang mirip sekali dengan Tomy dan merupakan adiknya langsung memeluk mayat yang sudah tak berbentuk itu.
“Keparat! Sampai berani berbuat seperti ini kepada kakak ku...”
“Kakak, beristirahatlah! Akan ku pastikan siapa yang membunuhmu menerima balasannya!”
Di temani beberapa anggota Sembilan Naga, seorang pria menatap langit sore kota Jakarta dan berjanji pada langit untuk balas dendam.
Lalu belum lama ia berbicara, seorang wanita cantik dengan setelan hitam datang mendekat ke arahnya.
“Tuan Romeo, tim Zero sudah berhasil menemukan identitas pelakunya!”
Romeo Antony Sang Naga Kesembilan yang mendengar itu langsung berdiri dan saat itu juga wanita cantik di sampingnya menunjukkan wajah 2 orang pria dari CCTV yang ada di sekitaran taman.
Dari rekaman CCTV yang harusnya sudah di hapus Arthur, terlihat wajah pelaku yang sudah membunuh Tomy Antony secara keji.
Tak perlu di sebutkan lagi siapa 2 orang itu. Saat itu juga wajah Furya dan Arthur terlihat jelas dari rekaman yang ada.
__ADS_1
Pria bernama Romeo yang melihat wajah pelaku yang sudah berani membunuh kakaknya lalu tersenyum jahat.
Di saat Furya merasa hidupnya sudah tenang dan berbahagia, tanpa ia duga kegelapan yang pekat akan kembali mengusik kedamaian yang baru saja ia dapatkan.