
Furya yang bersantai dan menghabiskan waktu bersama sang pacar di cafe Sherly akhirnya pulang karena hari sudah mau gelap.
Para Bocil juga sudah bubar barisan ke rumah masing-masing.
Di rumah, Furya yang habis mandi duduk sejenak di ruang tengah. Di dapur ibunya sedang menyiapkan makan malam di bantu sang paman
Nando yang menumpang dan tangannya masih di perban terlihat sangat rajin dan membantu apa yang masih bisa ia kerjakan.
Melihat piano yang kosong karena kedua adiknya sedang mengerjakan pr di kamar, Furya duduk dan berniat belajar sedikit soal music.
Karena melihat Sherly yang giat berlatih Biola entah kenapa ia juga ketularan.
Untungnya sang ibu sempat membeli buku panduan pianis pemula untuk kedua adiknya belajar piano.
Furya yang melihat ada buku tutorial khusus pemula mulai mencoba piano peninggalan sang ayah.
Tapi baru beberapa menit belajar piano, Furya langsung di buat menyerah.
“Hemmm...gila, susah juga main piano.”
“Udah ah nyerah!”
Sadar dirinya tak berbakat dalam bidang music, Furya langsung menyerah.
Sebenarnya jika ia mau bisa saja Furya membeli skill Dewa Music yang di jual di toko sistem.
Skill hebat itu akan membuat Furya mampu menguasai seluruh alat music yang ada di dunia sampai ke tingkat master terhebat.
Tapi harganya yang mahal yaitu 100 ribu Poin membuat Furya hanya bisa gigit jari.
Mungkin di masa depan nanti jika memiliki poin berlebih baruah ia bisa membeli skill hebat itu.
Sambil menunggu makan malam, Furya hanya menonton tv.
Lalu seperti yang sudah ia tunggu-tunggu, makan malam siap dan keluarga kecil Furya makan bersama.
“Yeeee, ayam goreng lagi!”
“Ren Minta paha lima ya ma.”
“Iya sanyang. Cuman pelan-pelan makannya masih panas!”
Setelah makan malam, Furya yang kekenyangan kembali ke kamar dan lanjut rebahat.
Sesekali ia chat-chatan dengan Sherly.
Karena besok akan ada banyak kegiatan, Furya memilih tidur lebih awal.
Pagi harinya Furya terbangun dan langsung mengerjakan rutinitas paginya.
“Sistem, Check In!”
[Ding! Selamat tuan berhasil Check In hari ke 14]
[Selamat tuan menerima hadiah 14.000 Perfection Poin]
Furya yang ke kamar mandi sambil cuci muka dapat melihat jelas status dan poin miliknya di layar hologram.
Nama : Furya Aditya
__ADS_1
Ras : Manusia
Level : 14
Status : Penerus Resmi Dewa Kesempurnaan
Umur : 17
Perfection God : Terkunci
Perfection Body : 240
Perfection Rich : 0
Perfection Power : 50
Status Poin : 0
Perfection Poin : 96.990
“Huhh, tanggung amat.”
“Sabar ya Sherlyku!”
Hanya kurang 4 ribu poin lagi bagi Furya untuk dapat mewujudkan satu lagi impiannya.
Meskipun bisa menunggu sampai kemampuan regenerasinya bisa di gunakan untuk orang lain, nyatanya Furya tak mempedulikan itu.
Jika bisa lebih cepat, ia pasti lebih memilih melakukannya langsung.
100 ribu poin, mahal tapi itu setara dengan apa yang bisa ia dapatkan.
Untuk orang-orang yang ia sayangi, 100 ribu Perfecion Poin hanyalah angka dan Furya akan dengan senang hati memberikan semua poinnya.
Sherly yang menyerah akhrinya tak ingin olahraga pagi lagi dan memilih tidur.
Di jalan Furya sesekali memperhatikan sekitar dan berharap ada orang yang bisa ia bantu.
Karena sebelumnya misi aktif saat ia berniat menolong mobil yang mogok, Furya berharap kejadian serupa bisa terjadi lagi.
Tapi seperti yang Furya duga, semakin di harapkan maka misi justru tak kunjung aktif.
“Sistem, berikan aku misi. Lari 20 keliling Jalan Sudirman lagi aku mau kok!”
[Ding! Lapor tuan, misi akan aktif secara random tanpa bisa tuan tentukan]
Mendengar jawaban yang klise dari sistem, Furya yang sudah 1 jam lebih joging akhirnya kembali ke rumah.
Setelah mandi, Furya sarapan bersama kedua adiknya.
“Kak, mobil Ren mana kok belum datang?”
“Besok mungkin, katanya dua sampai tiga hari paling lama.”
“Yahhh...padahal yang itu Ren suka.”
“Hadeh, emang buat apa sama kamu? Emang kamu bisa makenya?”
“Enggak...tapi kan ada om Nando! Nanti dia yang bawa mobil kak, jadi Ren bisa keliling sama temen-temen Ren!”
__ADS_1
Melihat si bandel yang suka pamer, Furya hanya bisa menyipitkan matanya.
Entah mengikuti sifat siapa, adik lelakinya itu memang sedikit berbeda.
Setelah sarapan, Furya pamit berangkat sekolah dan menjemput sang kekasih.
Sherly yang menggunakan pakaian olahraga SIS berwarna pink terlihat sangat cantik dan manis.
Karena ujian sudah selesai, maka hari sabtu itu mereka akan ada acara gotong royong masal di sekolah.
Karena itu Furya tak membawa tas dan sedikit lebih bebas.
Setelah sampai sekolah, Furya akhirnya bisa kembali ke kelasnya dan duduk di bangkunya.
Meskipun kelas D, tetap saja Furya menyukai kelasnya yang sekarang.
Sambil duduk di kelas dan mengobrol dengan beberapa temannya, wali kelas D yaitu buk Gina akhirnya datang dan semua murid kembali ke bangku masing-masing.
“Oke anak-anak! Seperti yang kalian tau kita baru saja menyelesaikan ujian semester tahun ajaran ini.”
“Ibuk harap nilai kalian semua di atas rata-rata dan tak ada yang di DO dari kelas kita.”
“Ohh iya, karena selasa udah mulai Festival Olahraga, hari ini kita bakalan bersih-bersih kelas dan sekolah dulu ya!.”
Seperti yang sudah di duga oleh semua murid, pagi itu mereka akhirnya di paksa membersihkan kelas dan seluruh sekolah.
Furya dan anak-anak lelaki kelas 2D yang kebagian membershkan tong sampah utama di belakang sekolah hanya bisa menerima nasib sial mereka.
“Anjirlah, mentang-mentang kita anak kelas D masa bagian kita di tong sampah mulu!” Protes Boby.
“Ya mau gimana lagi. Emang mau anak-anak pejabat bersihin tempat ini?” Kata Ali.
“Udah ***, nih angkut jangan protes mulu. Masih banyak ini loh!” Potong Jamal yang sudah kotor berseluncur di dalam tempat pembuangan sampah.
Furya yang di sekolah hanya murid biasa hanya bisa menahan sedikit kekesalannya karena ia harus membesihkan temat pembuangan sampah super besar dan bau.
Dari semua kelas kenapa harus dan selalu kelas D yang kebagian tempat-tempat mengerikan seperti itu.
Jika di bandingkan dengan kelas A yang membersihkan perpustakaan, jelas bagian mereka sangat-sangat menjiikkan.
Untungnya tak hanya kelas 2D tapi anak kelas 1 dan 3D juga ikut membantu.
“Kampre-kampret, mau sampai kapan kelas D terhina begini!” Protes kakak kelas Furya yang juga ada di sana.
“Bener tuh, Coba aja ada yang bisa bikin gebrakan besar gitu biar kelas D gak di pandang rendah mulu.” Protes pria lain.
“Hilih ******! Sejak kapan ada orang kayak gitu di kelas D. Udah jangan halu, bantuin biar cepet selesai ini.” Lanjut lainnya.
Melihat dari kelas 1 sampai kelas 3D semuanya protes dan malas-malasan, pak Bambang yang ada di sana dan bertugas mengawasi bukannya membantu malah menyuruh mereka bekerja lebih ekstra.
“He...he...he...malah ngobrol!”
“Itu masih banyak sampahnya. Jangan ngobrol mulu!”
“Yaelah pak, bantuin biar cepet jangan liatin doang.” Tegas kakak kelas Furya.
“Apa kamu bilang? Berani nyuruh guru kamu? Mau nilai disiplin kamu di kurangin?”
Di ancam oleh pak Bambang, para murid lelaki dari kelas D makin di buat tak senang.
__ADS_1
Jika saja tak ada CCTV dan Nilai Kedisiplinan, mungkin pak Bambang sudah mereka lempar rame-rame ke tong sampah.
Furya yang akhirnya merasakan sakit dan pedihnya penderitaan murid-murid kelas D di SIS menjadi sedikit termotivasi. Mungkin sudah saatnya ia merubah ketimpangan sosial di sekolah itu.