Perfection System

Perfection System
Poin Pertama


__ADS_3

Setelah memenangkan pertandingan melawan anak kelas 2A, Furya dan teman-temannya istirahat dibangku penonton sambil menyaksikan pertandingan lain.


Diantara banyaknya penonton yang kecewa, Sherly yang kelasnya kalah terlihat biasa saja dan langsung mendekati sang kekasih.


“Yang, kamu hebat banget tadi.”


Furya yang dipuji mulai sok cool dan hanya mengangguk.


“Kira-kira bisa menang gak di final nanti lawan kakak kelas?” Tanya Sherly dengan begitu bersemangat.


“Bisa dong, cuman lihat nanti deh!”


Furya yang duduk bersama Sherly di bangku penonton kini menyaksikan pertandingan anak kelas 3A melawan 1B yang tak sebanding.


“Gila...kasihan banget sampe gak dikasih bola gitu.”


“Hahaha, mau gimana lagi Sher. Dari badan aja udah kelihatan gak imbang.”


Di pertandingan tak manusiawi itu, kelas 3A membantai habis adik kelas mereka dengan skor telak 256-8.


Setelah pertandingan selesai dan istirahat yang cukup, dua kelas yang melaju kebabak final kini mulai bersiap-siap.


Furya yang duduk bersama Sherly terpaksa harus berpisah lagi.


“Yaudah aku pergi dulu.”


“Hemmm...semangat ya! Aku dukung kamu dari sini!”


Didukung sang pujaan hati dari bangku penonton, Furya tambah semangat untuk bisa menang.


Ditambah jika nanti misi aktif, maka sudah dipastikan tak ada alasan lagi untuknya menahan diri.


Sesampainya di dalam lapangan, Furya berjalan menyusul teman-temannya yang sudah lebih dulu sampai.


Saat melewati kakak kelas yang badannya besar-besar, Furya dengan rendah hati menyapa sambil sedikit menundukan kepala.


Tak ada satupun dari anak-anak kelas 3A yang tak tau kehebatan pria yang baru saja melewati mereka.


Bahkan Marco sebagai ketua tim basket SIS yang sudah membawa sekolah mereka memenangkan kejuaraan nasional basket tingkat SMA 3 kali berturut-turut sangat tak sabar ingin melawan pria misterius yang akhr-akhir ini selalu menjadi topik hangat disekolah mereka.


{Tett}


“Oke anak-anak. Pertandingan Final basket putra dalam perlombaan Festival Olahraga SIS ke 66 akan segera dimulai.”


“Para penonton mana nih dukungannya!”


Di sapa oleh buk Melati yang ikut menjadi komentator di samping pak Bambang, semua penonton bersorak dan memberikan dukungan untuk jagoan mereka masing-masing.


“Ayo kelas 3A, jangan kasih ampun!”


“Gas bang Marco...jangan biarin anak kelas D menang.”


“Ayo kelas 2D, aku mendukung kalian!” Teriak beberapa penonton.


Meskipun banyak yang lebih mengunggulkan kelas 3A yang memang saat ini menjadi kelas dengan perolehan nilai tertinggi dalam Festival Olahraga dari semua angkatan, tetap saja masih ada yang mendukung kelas 2D.

__ADS_1


Ditambah adanya sosok Furya yang memang seminggu ini sering menjadi perbincangan hangat diantara para murid SIS makin menambah minat nonton para murid.


Bahkan saat ini semua bangku penonton sudah full dan sebagian yang tak kebagian terpaksa berdiri atau duduk berdempetan.


“Gila...lihat tuh penontonnya. Banyak banget!” Kata Jamal yang melihat kearah penonton yang membludak.


“Hahaha, keren guys! Kapan lagi kita bisa main di panggung utama kayak gini.” Lanjut Ali.


Boby yang  pernah bermain di panggung nasional hanya tersenyum melihat teman-teman sekelasnya yang begitu bersemangat.


Setidaknya mereka tak takut menghadapi Marco dan anak kelas 3A dan itu sudah menjadi nilai tertinggi dari pertandingan kali ini.


“Oke Guys, sini ngumpul!”


Boby yang menjadi captain langsung mengumpulkan semua pemain secara melingkar.


Mereka juga membahasa strategi sederhana yang akan digunakan untuk melawan dominasi dari kelas 3A.


Semua orang yang mendengar arahan dari Boby hanya menurut dan setuju.


Jujur saja sebenarnya memang tak ada dari mereka yang benar-benar bisa bermain Basket.


Ali mungkin hebat, tapi ia juga tak begitu mahir. Radit yang tembakannya sangat akurat juga terkadang gagal.


Bahkan Jamal dan yang lainnya benar-benar amatiran dan hanya masuk untuk melengkapi saja.


Untungnya di bagian depan ada sang Ace yang memang selalu mencetak angka dan karena itu mereka bisa sampai final.


Ditambah adanya sosok Furya yang mengamankan bagian belakang dengan sempurna membuat permainan mereka seperti professional tapi nyatanya tidak seperti itu.


“Intinya gitu. Ingat pertandingan dibagi menjadi 4 babak dan stamina lawan kita jauh lebih tinggi, jadi kita main santai aja diawal.”


“Bob, kira-kira berapa % kemungkinan kita menang?” Tanya Ardhi to the poin.


“Berapa ya, mungkin gak sampai 10%.”


Mendengar perkataan Boby sang captain, semua orang menjadi lemas dan menatap kebawah.


“Kenapa malah lemas gitu? 10% itu kalau Ace kita yang sesungguhnya masih ragu-ragu. Bener kan, Furya!” Lanjut Boby sambil menatap kearah Furya.


Furya yang ditatap Boby dan semua temannya hanya diam saja dan tak berbicara.


Bagi Furya yang lebih suka menunjukkan bukti dari pada bacot doang hanya diam dan tersenyum.


“Entahlah Bob, cuman aku janji bakalan serius!”


“Nah denger sendiri kan. Kalo Furya yang bilang sendiri bakalan serius aku bisa jamin kesempatan kita menang bisa meningkat drastis!”


“Jadi ayo semangat Guys, kita kasih permainan terbaik di final ini untuk kakak kelas kita yang mau lulus!”


“Dan jangan lupa, lihat tuh cewek-cewek cantik yang nonton. Kalo sampai menang, bisa makin populer kita, hehehe!”


Mendengar perkataan Boby, semua orang langsung cengengesan dan menjadi makin bersemangat terlebih lagi para jomblo.


Disaksikan banyak murid perempuan tentu saja membuat semangat mereka berkobar.

__ADS_1


{Pritt}


“Sebelum mulai kita ambil foto dulu ya buat kenang-kenangan!” Kata pak Bambang.


Akhirnya peluit tanda permainan akan dimulai berbunyi.


Setiap pemain dari masing-masing kelas kini diarahkan dan berdiri ditengah lapangan.


Semua orang mulai saling berjabat tangan untuk sekedar formalitas dan sesi foto sekolah.


Marco yang menggenggam tangan Furya juga terang-terangan menantangnya.


“Akhirnya kita bertemu juga.”


“Aku sudah menonton pertandinganmu sebelumnya. Ayo kita bertandingan dengan sportif!”


Furya yang mendengar perkataan Marco hanya tersenyum dan balik berbicara.


“Tentu saja, Aku juga tak sabar ingin melawan senior!”


Setelah mengabadikan momen itu, semua pemain kembali ke tempat masing-masing dan pertandinganpun dimulai.


{Pritt}


Sesaat peluit tanda permainan berbunyi, suara sistem juga terdengar di kepala Furya.


[Ding! Selamat tuan mendapatkan misi baru]


[Kalahkan tim lawan dan menjadi juara pertama dalam lomba basket, hadiah 18.000 Perfection Poin]


Furya yang akhirnya mendapatkan misi langsung tersenyum cerah.


Boby dan Marco sebagai captain terlihat melompat mengambil bola di udara.


Tapi karena perbedaan tubuh yang terlalu besar, Marco dengan mudah memenangkan duel di udara dan mengamankan bola pertama.


Dengan cepat bagai kilat, gorila besar itu maju sendirian dan melewati semua orang sampai sosok terakhir berdiri dihadapannya.


Furya yang siap menghadang Marco berdiri dengan gagah dan dual one on one pun terjadi.


Marco yang tubuhnya lebih besar dan tinggi tanpa basa-basi langsung melompat dan melakukan dunk kuat.


Tapi Furya yang melihat itu mencoba menghentikan sampai duel di udara pun terjadi.


Marco yang melihat dunk kuatnya berhasil ditahan langsung kaget.


Namun itu hanya sesaat sampai dengan sedikit trick, bola yang lepas berhasil didorong kesamping kiri dan pria lain bernama Daniel mengamankan bola lalu melepaskan shooting dari luar garis 3.


{Tett}


Dengan begitu cantik, 3 poin pertama didapatkan oleh kelas 3A.


Furya yang sedikit terhalang badan besar Marco juga telat berdiri atau lebih tepatnya sengaja ditahan agar sulit bergerak.


Sesaat mencetak angka, Marco hanya tersenyum lebar dan menatap kearah Furya.

__ADS_1


Furya yang kebobolan angka diawal terlihat cuek dan santai.


Baginya itu hanya 3 angka dan akan segera ia balas.


__ADS_2