
Furya yang hampir mati karena bosan akhirnya bisa bernafas lega saat bel tanda ujian pertama selesai.
Teng...tong...teng...ting
Semua murid yang mendengar bel tanda ujian selesai langsung mengumpulkan kertas ujian.
“Oke, waktunya habis. Silahkan kumpulin kertas ujian kalian.”
Pengawas yang melihat Furya banyak bersantai langsung mengecek kertas ujian miliknya.
Saat di lihat, ia hanya bisa di buat terkejut karena Furya menyelesaikan semua soal dengan benar.
Bahkan soal sulit anak kuliahan yang sengaja di selipkan juga di jawab dengan sempurna.
Sadar ada yang tak beres karena memang Furya berasal dari kelas D dan nilainya biasa-biasa saja sebelumnya, buk Pengawas berinisiatif mengecek CCTV.
Tapi tetap saja, Furya yang mencontek lewat layar hologram tak kasat mata tak terbukti curang dan nilai sempurnanya lagi-lagi tak dapat disalahkan.
Di ruang guru juga mulai banyak desas-desus tak mengenakkan soal kepala sekolah yang memang sering membocorkan soal ujian kepada beberapa murid dengan sengaja.
Sadar atau tidak, Furya dengan nilai sempurnanya makin membuat posisi si botak alias pak kepala sekolah makin di sudutkan.
Beberapa guru baik dan profesional bahkan sudah tak tahan lagi lalu mengadukan masalah itu ke Dewan SIS.
Di tempat lain...
Furya yang makan di kantin Bude bersama teman-temannya terlihat begitu asik mengobrol.
Para pria yang memang memiliki hobi yang sama itu sedang membicarakan perihal Festival Olahraga Tahunan yang sebentar lagi akan di selenggarakan.
Di tahun lalu kelas mereka berhasil menempati posisi ke 4 dari seluruh kelas di SIS.
Jadi tahun ini, mereka semua lebih bersemangat dan ingin menempati posisi pertama.
Mereka yang hanya jago dalam hal olaharaga setidaknya memiliki kesempatan di sana untuk menjatuhkan kelas A yang selalu menjadi top kelas di sekolah mereka.
“Mangkanya, kita harus nyusun strategi mulai sekarang!” Kata Ali yang merupakan ketua kelas.
“Bener, kalo perlu sabtu besok kita adain rapat kelas sama anak cewek buat nentuin siapa aja yang ikut lomba.” Tegas Boby.
“Aku setuju, kita buktikan kalau kelas D juga gak kalah hebat sama anak-anak dari kelas A.” Lanjut Radit.
Furya yang melihat teman-temannya begitu besemangat dan antusias hanya mendengarkan sambil tetap mengikuti arus.
Sebenarnya ia tak terlalu peduli mau kelasnya menang atau tidak.
Tapi Furya yang tahun lalu kecelakaan dan tak bisa mengikuti acara Festival Olahraga Tahunan menjadi sedikit penasaran.
Karena itu ia juga menjadi bersemangat dan seandainya misi aktif, Furya pasti akan membantu kelasnya mencapai puncak.
Ya, itu jika misi aktif karena memang Furya tak terlalu suka pamer kekuatan.
Seperti mengakhiri diskusi singkat mereka, bel tanda istirahat berbunyi.
Teng...Ting...Teng...Tong
Semua murid yang mendengar itu kembali ke kelas mereka masing-masing dan mengikuti ujian berikutnya.
__ADS_1
Furya yang selesai mengerjakan ujian langsung bersantai sambil menungu waktu pulang sekolah.
Sampai waktu yang di tunggu-tunggu semua murid akhirnya tiba dan Furya pulang ke rumahnya.
Setelah mengantar Shery, Furya langsung mengendarai motor dan pulang ke rumahnya.
Baru saja sampai, pak Toleh dan beberapa pria yang memang mengerjakan dan membuat pagar dan garasi sudah mulai bekerja.
Untungnya ada Nando yang sudah menghandel masalah itu jadi Furya tak begitu kerepotan.
“Gimana om, aman semuanya?”
Nando yang menjadi mandor dadakan hanya mengangguk sambil tersenyum. Di percayai sultan muda jelas ia tak akan mengecewakan Furya.
“Aman, kalo yang kerja banyak begini pasti makin cepet siapnya.”
“Baguslah, terus masalah maling itu gimana?”
“Udah om urus. Aneh mereka, masa malah minta kita buat bayar biaya berobat. Udah sukur gak kita laporin polisi malah makin menjadi-jadi.”
Furya yang mendengar ucapan Nando menjadi agak kesal.
Jika saja bukan permintaan buk Reni yang kasihan dan tak ingin si maling di penjara, Furya pasti akan melaporkan kasus itu ke polisi.
Di tambah 2 maling itu dengan terang-terangan menyerang menggunakan parang.
Jika saja tak ada Nando dan dirinya malam itu, bisa jadi ibu dan kedua adiknya yang menjadi korban.
Karena itu Furya tak akan mau memaafkan maling yang berani masuk kerumahnya.
“Jangan mau bantu bayarin uang rumah sakit mereka om. Biarin mereka sadar dulu atas perbuatannya.”
Furya yang mendengar perkataan Nando hanya bisa tepok jidat.
Bukanya pelit atau tak mau membantu, hanya saja Furya ingin memberikan sedikit pelajaran kepada kedua maling itu.
Tapi ternyata ibunya yang baik hati sudah lebih dulu membantu sampai memberikan uang.
Furya yang tau ibunya pasti akan melakukan itu hanya bisa diam.
Dalam hatinya ia menjadi teringat kembali saat-saat keluarganya kesulitan dulu.
Boro-boro ada yang bersimpati, justru semua orang seperti tutup mata dan tak ada yang mau menolong.
Untung saja ada keluarga Sherly yang bahkan mau menyewakan pengacara untuk dirinya waktu itu.
Jika tidak, maka sudah pasti uang kompensasi dari Tomy tak dapat dan hidup keluarganya makin sengsara.
Furya yang sampai rumah langsung ganti baju. Ia juga melihat denah garasi mobil dan rancangan pagar yang sedang di kerjakan pak Toleh bersama para tukang lain.
“Ohhh, jadi garasinya sama pagarnya mau di bikin agak ke belakang!”
“Iya, itu usul ibu kamu karena gak mau bengkel di depan di gusur.”
“Yaudah terserah deh! Kalo bisa di percepat ya pak. Kalo makin cepat saya janji bakalan kasih bayaran lebih plus bonus!.”
Mendengar perkataan Furya, pak Toleh hanya mengangguk dan bekerja lebih cepat. Jika di itung ada 7 tukang yang bekerja.
__ADS_1
Furya yang tak melihat adik lelakinya mendekat kembali ke Nando yang mengawasi dan bertanya.
“Ren kemana om?”
“Ke rumah pacarmu. Dia mau main motor-motoran di sana.”
“Oalah, gak liat tadi. Yaudah Furya ke sana ya om.”
“Oke, serahin yang di sini sama om.”
Furya yang takut adik lelakinya yang bandel main ke jalan raya langsung menyusul Ren ke rumah Sherly.
Untunya saat sampai sana sang adik terlihat asik mengendarai motor mini dengan teman-temannya yang lain.
“Woi Ren, mainya jangan ke jalan ya! Kalo sampe ke jalan kakak sita motornya.”
“Hehehe, oke-oke kak.”
“Ren...gantian dong aku juga mau coba!” Kata Bocil lain yang ada di sana.
“Iya Ren cepet gantian.” Lanjut yang lainnya.
“Sabar-sabar, sekali putaran lagi.”
Melihat para bocil yang mengatri motor mini, Furya hanya bisa tertawa dan memperhatikan dari dalam cafe.
“Tante, pesen kopi susu satu ya.”
“Oke...duduk aja dulu.”
“Ohhh iya tante. Sekalian bikin lima deh buat para bocil.”
Di temani kopi susu, Furya hanya mengawasi para bocil yang bergantian menaiki motor mini.
Karena cafe Sherly memang tepat di pinggir jalan raya besar, Furya yang gabut dan semua masalah di keluarganya bertahap membaik lebih memilih bersantai.
Di hubungi sang pacar, Sherly keluar kamar sambil membawa Biola barunya.
Furya yang melihat Sherly sudah lumayan mahir memainkan Biola hanya bisa tersenyum dan memperhatikan sang pacar yang pamer kebolehannya.
“Gimana. Tadi?”
“Lumayan...cuman masih agak kaku.”
“Hehehe. Kalo. Sempet. Aku. Mau. Ikutan. Tampil. Bareng. Temen-temen. Kelasku. Di. Festival. Olahraga. Besok!”
“Ohhh, emang ada acara music juga?”
“Ada. Dong!”
“Ohhh. Iya. Kamu. Kan. Waktu. Itu. Di. Rumah. Sakit. Jadi. Ini. Pertama. Kalinya. Ya.”
“Hooh, tahun lalu gak bisa ikut aku.”
Di temani sang pacar, Sherly makin semangat latihan Biola.
Furya yang hari itu tak mendapatkan misi sempat ngambek pada sistem.
__ADS_1
Tapi untung saja harinya makin menyenangkan karena kebahagiaan perlahan makin membuat hatinya yang sakit di penuhi rasa senang.
Bahkan saat itu Furya sempat melupakan sejenak dendam yang ada di hatinya dan bisa tersenyum cerah.