
Setelah memenangkan pertandingan basket, anak-anak kelas 2D istirahat sejenak di pinggir lapangan.
Dengan kemenangan itu mereka memastikan tiket ke babak 4 besar dan besok akan melawan kelas 2A.
Setelah beristirahat cukup akhirnya semua orang pulang karena memang hari sudah sore.
Furya yang pulang bersama Sherly dapat melihat wajah sang pacar yang terlihat sangat kelelahan.
Meskipun sedang taruhan tetap saja ia sedikit kasihan melihat sang kekasih sampai seperti itu.
Diperjalanan pulang, Sherly juga diam saja dan memeluk Furya dengan erat.
Setelah sampai rumah, Sherly langsung turun dari motor.
“Dadah, istirahat yang banyak ya sayangku.”
Sherly yang hari itu full bertanding hanya mengangguk dan jalan dengan keadaan pelan.
Dari pagi sampai siang bermain voli membuat badan montoknya super kelelahan.
Furya yang melihat Sherly sangat serius untuk memenangkan taruhan dengannya hanya bisa tersenyum.
Saat sampai rumah, keadaan rumah Furya kosong dan hanya ada pak Toleh yang sedang bekerja bersama beberapa kuli.
Ia yang sudah dihubungi sang ibu kalau sore itu ibunya akan jalan-jalan bersama semua orang sudah tau dan langsung mandi dan berendam di bak mandi.
“Ahhh...enaknya.”
“Sistem buka layar hologram!”
Dengan perintah Furya, layar hologram terbuka dihadapannya dan status dirinya sebagai pemilik sistem dapat terlihat jelas.
Nama : Furya Aditya
Ras : Manusia
Level : 18
Status : Penerus Resmi Dewa Kesempurnaan
Umur : 18
Perfection God : Terkunci
Perfection Body : 240
Perfection Rich : 50
Perfection Power : 50
Perfection Poin : 120.990
Status Poin : 0
Skill : Seni Beladiri Dewa I, Regeneration, Mata Dewa I
Furya yang memiliki banyak poin sangat gatal ingin shoping dan membeli banyak hal.
Tapi karena belum terlalu dibutuhkan, ia mengurungkan niatnya dan hanya bersantai di bak mandi.
Setelah mandi dan tampil rapi, Furya yang gabut dan tak ada kerjaan pergi ke cafe Sherly.
__ADS_1
Baru saja sampai, didepan terlihat ada 2 orang wanita yang ternyata sudah bekerja disana.
Melihat ada 2 karyawan baru, Furya langsung mendekati buk Dinda dibagian kasir dan sok basa-basi.
“Tante, itu siapa?”
“Itu karyawan baru tante Furya. Baru 2 hari kerja disini.”
“Ohhh...”
Furya yang sudah menganggap rumah Sherly sebagai rumahnya sendiri langsung masuk.
Tentunya ia sudah menyapa pak Hery di dapur terlebh dahulu.
Mendengar suara biola dari kejauhan, Furya sudah dapat menebak sang pacar sedang apa.
Lalu saat sampai didepan kamar Sherly, Furya langsung menggetok pintu.
~Tok...tok...tok~
“Sherly...”
Sherly yang sedang asik latihan biola awalnya tak mendengar suara ketokan pintu.
Tapi di ketokan berikutnya ia dapat mendengar suara yang mengganggu konsentrasinya.
Karena itu Sherly berhenti sejenak dan langsung membuka pintu.
Saat pintu kamar dibuka, ia dapat melihat wajah sang pacar yang cengengesan.
“Hehehe, aku ganggu kamu latihan gak?”
Furya yang tangannya ditarik dan dibawa masuk kedalam kamar hanya bisa kaget.
Meskipun sudah sering kerumah sang pacar, tetap saja ia tak pernah sampai masuk kekamar Sherly.
Saat sudah masuk, kondisi kamar ternyata tak jauh berbeda saat ia masih kecil dulu.
Kamar sang pacar masih dipenuhi boneka lucu dan dekorasi berwarna merah muda, tentunya itu sangat bersih dan harum dan berbeda dengan kamar miliknya.
Furya yang dibawa masuk hanya duduk di kasur dan disuruh menjadi penonton dadakan.
“Coba lihat penampilanku, pasti kamu kaget.”
Diperlihatkan penampilan bidadari cantik yang sedang memainkan biola, Furya tanpa sadar dibuat terhipnotis.
Bukan hanya cantik, tapi Sherly juga terlihat sangat ahli memainkan Biola pemberiannya. Padahal baru beberapa waktu lalu pacarnya itu masih sangat amatiran.
Tapi kini penampilan Sherly sudah seperti professional dan sukses membuat Furya bertepuk tangan meriah.
“Hebat, kamu latihan tiap malam sampai bisa sejago ini?”
“Iya dong! Kan aku sama kelasku mau tampil nanti diakhir Festival Olahraga.”
“Ohhh, emang ada acara music juga?”
“Adalah, masa kamu gak tau sih!”
Furya yang seisi kelasnya tak ada yang berjiwa seni bahkan tak membahas soal acara music di akhir penghujung Festival Olahraga.
Ditambah ia yang tahun lalu dirawat dirumah sakit membuatnya sama sekali tak tau ada acara seperti itu.
__ADS_1
“Bagus deh, aku jamin semua orang nanti bakalan kaget lihat bidadari cantik main biola.”
Sherly yang dibilang bidadari langsung tersenyum dan malu-malu.
Malam itu Furya menemani sang pacar latihan biola di kamarnya selama 3 jam.
Melihat antusias Sherly, Furya hanya bisa mendukung dan memberi support terbaik.
Sampai dua pasangan muda yang hampir lupa waktu itu harus berpisah karena malam makin larut.
“Udah ya, aku mau pulang.”
“Hemmm, hati-hati dijalan dan besok pagi aku bakalan nonton kamu main basket.”
“Hooh, jadi kamu lebih dukung aku kan daripada kelasmu?”
“Jelaslah aku dukung pacarku sendiri. Tapi aku juga tetap dukung kelasku jadi jangan ngarep aku teriak-teriak dukung kamu ya.”
“Hehehe...oke-oke, aku ngerti kok. Yaudah aku pulang ya.”
Baru saja Furya mau keluar kamar, tiba-tiba saja Sherly memeluknya dari belakang.
Furya yang dipeluk erat dan ditempelkan dua boba besar nan lembut dari belakang kaget sekaligus senang.
Sangat ingin rasanya ia menyerang Sherly saat itu juga. Tapi karena tau keadaan tak aman, Furya menahan dirinya.
“Makasih ya yang untuk malam ini. Aku seneng banget kamu mau datang.”
Furya yang hanya datang dan menonton tak menyangka akan mendapatkan pelukan hangat dari Sherly.
Niat awalnya yang gabut berujung jackpot besar.
Ia juga masih tak mengeti kenapa sang pacar sangat senang padahal ia hanya menonton saja.
Mendengar suara buk Dinda dari luar kamar, Furya akhirnya melepaskan pelukan sang pacar dan membuka pintu.
“Dadah, nanti ku telepon deh sebelum tidur.”
Sherly yang sangat senang sang pacar mau menemaninya malam itu berjam-jam latihan biola membalas perkataan Furya dengan senyuman penuh cinta.
“Dadah...”
Setelah itu Furya pulang dan kembali kerumahnya.
Dirumah terlihat sang ibu banyak memborong barang dan perabotan rumah baru.
Ren dan Yuki juga sama dan puas berbelanja baju dan mainan baru.
“Kakak...lihat nih kak Ren beli pistol baru.” Kata sang adik sambil mengarahkan pistol mainan tepat ke wajah Furya.
“Woi jangan diarahin kemuka, bahaya tau.”
“Hehehe, dasar penakut kakak nih.”
Furya yang suasana hatinya sedang baik duduk dan berkumpul dengan keluarga kecilnya di ruang tengah.
Sambil memakan ayam kfc yang dibeli, Furya bersantai sejenak sambil bergurau dengan kedua adiknya.
Kemudian panggilan dari bebep Sherly muncul di layar hp dan dengan itu Furya kembali ke kamar lalu memulai obrolan bucin seperti biasa sampai ketiduran.
Pagi harinya Furya langsung Check In dan memulai rutinitas pagi. Setelah itu ia pergi menjemput Sherly dan berangkat kesekolah.
__ADS_1