
Sambil berjalan pelan, Furya menggendong sang pacar di punggungnya.
Entah karena status atau fisiknya yang makin kuat, menggendong Sherly rasanya seperti menggendong anak kucing.
Pandangan dan jangkauan mata Furya juga perlahan mulai berubah makin jauh dan tajam.
Seperti kata sistem, semakin meningkatnya status maka semua sense atau indra di tubuh Furya jadi makin melebihi batas manusia normal.
Contohnya saja ia saat ini bisa melihat 2 kucing yang sedang bercinta di atas atap rumah yang gelap.
Setelah jalan dan sampai di depan rumah sang pacar, Furya langsung mengetok pintu.
Tok...tok...tok
Tok...tok...tok
“Om Hery, Ini Furya om.”
Pak Hery yang tinggal sendirian di rumah karena sang istri memilih menginap di rumah sakit bersama sang sahabat baik juga belum tidur dan langsung membukakan pintu.
Tentu saja ia belum bisa tidur, satu-satunya anak gadis kesayangannya belum pulang sampai tengah malam.
Tapi karena bersama Furya yang ia percayai dan sudah di anggap anak sendiri, pak Hery tak terlalu berprasangka buruk.
Saat membukakan pintu, pak Hery dapat melihat Furya yang tersenyum ke arahnya sambil menggendong Sherly.
“Akhirnya pulang juga, kenapa sih Sherly?”
“Gpp kok om. Biasa, dia ketiduran karena capek bantu-bantu.”
“Ohhh, sini om bawa ke kamarnya.”
Setelah menyerahkan Sherly yang terlelap, Furya izin pamit.
Besok harinya akan sangat panjang dan Furya yang kembali ke rumahnya langsung tidur karena lelah.
*****
Pagi harinya Furya terbangun karena alarm hp yang berbunyi.
Seperti biasa, rutinitas paginya pasti berorahraga. Tak lupa ia juga mengerjakan misi Check in yang sudah masuk hari ke 7.
Baru seminggu memiliki sistem hidup Furya sudah berubah 180 derajat.
Ia yang awalnya kesusahan dalam hal finansial kini tak pusing lagi soal uang.
Bahkan tubuhnya yang sakit dan kaki kirinya yang pincang sudah sembuh tanpa meninggalkan bekas luka sedikitpun.
Setelah berorahraga pagi, Furya langsung mandi dan bersiap-siap ke rumah sakit. Tak lupa ia juga membawa pakaian ganti untuk kedua adiknya.
__ADS_1
“Huuuh, rumah udah beres dan tinggal bawa mama pulang!”
Furya yang sudah memiliki banyak uang tetap berpegang teguh pada pendiriannya.
Di ajarkan disiplin dan sederhana sejak kecil oleh sang ayah membuatnya tak begitu boros.
Ya, hanya saja ia tetaplah anak remaja yang pasti memiliki hobi dan kesukaan.
Karena itu ia mengeluarkan motor Sport miliknya yang masih mengkilap dan tentunya mahal.
Sempat tersirat di pikirannya untuk membeli rumah baru dan sebagainya.
Tapi karena keadaan yang belum berpihak, Furya tak terlalu memikirkan hal itu.
Bisa ribet urusannya jika sang ibu mengetahui dan curiga kalau anak lelakinya memiliki begitu banyak uang yang melimpah secara instan tanpa bekerja.
Karena itu Furya tak ingin terlalu menampakkan kekayannya. Setidaknya sampai ia tamat sekolah dan memulai bisnis besarnya kelak.
Setelah bersiap, Furya langsung berangkat pagi-pagi menuju rumah sakit.
Tak lupa ia juga mampir ke toko buah untuk membeli buah apel kesukaan ibunya.
Saat sampai di rumah sakit Kartika yang besar dan megah, Furya langsung masuk dan berjalan menuju kamar ibunya.
Baru saja masuk, Furya dapat melihat sang ibu yang sudah berjalan sendiri dan tak tiduran lagi di kasur.
“Ehh, anak mama udah datang!”
Melihat anak sulungnya datang, buk Reni langsung mendekat.
Setelah cium tangan, Furya duduk dan mulai memakan apel merah yang baru di belinya.
Melihat kondisi sang ibu yang benar-benar sudah pulih, Furya hanya bisa tersenyum dan senang.
Water Of Life memang benar-benar mujarab. Bahkan menurut Furya, wajah ibunya jadi tambah muda dan makin cantik.
“Gimana badan mama, udah sembuh?”
“Hehehe udah dong! Jujur aja mama juga masih bingung. Badan mama rasanya enteng banget kayak gak pernah sakit apalagi sampai koma.”
“Lihat nih...” kata Sang ibu sambil menggerakkan badannya yang lentur seperti karet.
Furya yang melihat itu hanya bisa tertawa. Meskipun sudah tau jawabannya, ia masih belagak bodoh dan pura-pura terkejut.
Karena masih pagi dan hari minggu, Furya hanya duduk dan mengobrol panjang lebar sambil melepas rindu dengan sang ibu.
Kedua adiknya juga masih terlelap di tempat tidur karena begadang semalaman di kamar VIP ibu mereka.
Sampai siang datang dan tes kesehatan lanjutan di sambung.
__ADS_1
Dokter Dedi yang memeriksa tubuh ibu Furya kali ini sudah yakin dan benar-benar yakin kalau pasien satunya itu sudah sembuh bahkan menjadi lebih sehat.
Ia yang ahli dalam bidang kedokteran masih tak habis pikir dengan apa yang ia temukan.
Bukan hanya sembuh, semua luka baik fisik luar dan dalam seperti tak pernah ada dan menghilang begitu saja.
Terlebih lagi darah dan sel-sel dalam tubuh buk Reni seperti masih muda layaknya anak remaja.
Ia yang rutin menyecek kesehatan dan kodisi tubuh buk Reni setiap hari bahkan masih ingat beberapa hari yang lalu tubuh pasiennya itu kurus dan tinggal tulang.
Tapi seperti menjadi orang yang berbeda dalam semalam, semuanya berubah dan buk Reni terlihat makin cantik seperti muda kembali.
Untuk tujuan penelitian, dokter Dedi bahkan sampai mengabaikan beberapa ketentuan dan diam-diam mengambil beberapa sample darah ibu Furya untuk di teliti lebih lanjut olehnya.
Setelah cek kesehatan lanjutan, dokter Dedi menemui Furya kembali.
“Furya, selamat ya ibu kamu udah bisa pulang ke rumah.”
“Ini ada beberapa resep dan obat yang harus kamu berikan untuk ibumu!”
“Baik dok.”
“Ingat ya, meskipun sudah sembuh harap berikan obat ini karena kita tak tau kedepannya gimana.”
Furya yang di nasehati dan di arahkan juga hanya tersenyum dan mengangguk.
Setelah semua hal dan formalitas selesai, akhirnya sang ibu bisa kembali ke rumah.
Di bawa oleh mobil ambulance, buk Reni akhirnya meninggalkan rumah sakit yang sudah merawatnya selama setahun dan pulang ke rumahnya.
Furya yang naik motor juga mengikuti bersama Ren dari belakang.
Setelah sampai rumah, buk Reni masuk dan di buat sedikit bernostalgia.
Terlebih lagi saat melihat foto keluarga mereka yang ada di ruang tengah.
Ayah, Ibu dan seorang anak lelaki dekil bersama dua malaikat kecil tersenyum cerah di foto yang di pajang.
Saat memasuki kamar, buk Reni juga di buat senang karena kondisi kamar masih sama dengan yang dulu.
“Wahhh, semuanya bersih dan rapi.”
“Gak nyangka mama anak mama ini bisa ngurus rumah sampai kayak gini.” Puji sang ibu sambil menatap Furya.
Hanya saja sang ibu tak tau kalau anaknya kemarin begadang semalaman untuk membersihkan rumah yang seperti kapal pecah.
Setelah buk Reni sampai ke rumah, para tetangga lain juga banyak yang datang dan memberi selamat.
Keluarga Furya yang terkenal baik dan ramah memang di senangi oleh banyak tetangganya.
__ADS_1