
Furya yang selesai ganti baju bersama Jamal di ruangan ganti langsung kembali ke lapangan.
Melihat pertandingan yang sudah mau dimulai, mereka berlari cepat dan langsung berkumpul dengan anak-anak kelas 2D.
Khusus di basket Boby yang lebih senior dan berpengalaman mengambil label captain.
“Oke guys, strategi kita di pertandingan awal simple aja! Cukup serahin bola sama aku atau Ali dan sisanya fokus bertahan!”
“Sebisa mungkin kartu truf kita jangan dilihatin sampai babak 4 besar.”
“Ngerti kan Fur, lu sabar dulu ya.”
“Ngerti-ngeri, santai.”
Furya yang mendengar penjelasan Boby hanya menuruti perkataannya. Ia yang di cadangkan tak terlalu masalah.
Jujur saja kalau soal kekuatan fisik Furya dapat mengalahkan semua pemain dilapangan sendirian.
Tapi dipermaian berkelompok termasuk baset, tetap kekompakan dan skill masing-masing harus saling mendukung.
Furya yang tak terlalu mengerti basket dan hanya ikut karena dipilih teman-temannya hanya mengangguk.
Bahkan ia tak pernah sekalipun ikut latihan basket bersama anak-anak kelas 2D dan sama sekali tak mengerti cara main basket.
Namun tetap saja, tak ada satupun teman sekelas Furya yang tak tau kekuatannya dan kartu truf andalan kelas mereka harus digunakan di waktu yang tepat.
Setelah itu Boby dan 4 pemain pertama memasuki lapangan dan sisa pemain cadangan termasuk Furya duduk dibangku cadangan.
{Pritt}
“Oke anak-anak kalau sudah siap kita mulai ya.”
“Disebelah kiri lapangan ada kelas 2D dan disebelah kanan ada anak 1C.”
“Kita mulai ya kalau sudah siap.” Kata pak Bambang yang menjadi komentator di pertandingan kali ini.
Sangking hebatnya SIS, bukan hanya memiliki 2 lapangan basket. Bahkan disemua perlombaan olahraga mereka sampai menyewa wasit profesional untuk memimpin jalannya pertandingan.
Jadi sudah jelas hasilnya akan adil dan sportifitas tetap terjaga.
Boby dan Ali yang ada di depan terlihat begitu bersemangat dan pertandinganpun dimulai.
{Pritt}
Ketika peluit berbunyi dan wasit melempar bola keatas, Boby dan captain kelas 1C melompat bersamaan.
Tapi Boby yang merupakan pemain inti tim basket SIS langsung merebut bola diudara dan melakukan Dribbling (Menggiring Bola) sendirian kedepan.
Dengan begitu mudahnya Boby menerobos pertahanan kelas 1C dan melakukan dunk kuat sebagai pembukaan poin.
{Teet}
2 poin langsung diamankan kelas 2D dari ganasnya pemain inti basket SIS satu ini.
Furya yang melihat lawan kelas mereka di babak awal sangat amatiran hanya bisa tersenyum.
Pertandinganpun terus berlanjut dan benar saja, Boby yang menggilai basket terlihat begitu bersinar dan mencetak angka lagi dan lagi.
Ditambah adanya Ali yang tinggi dan mampu memberikan operan akurat makin membuat Ace kelas 2D ini bermanuver manja dan pembantaian sepihak terjadi secara terang-terangan.
“Gila sih Boby, 52 Poin di cetak sendirian.” Kata Ardhi yang duduk dibangku cadangan.
“Jelaslah, anak tim inti basket SIS gituloh! Kalo gak jago gak mungkin bisa menang di tournamen Nasiona ***.” Lanjut Egi yang duduk disebalah Furya.
Dalam pertandingan pertama, kelas Furya akhirnya menang telak dengan skor mencengangkan yaitu 102-24.
Furya yang di pertandingan awal hanya menonton dan melihat juga sedikit mengerti cara bermain basket.
__ADS_1
Sambil duduk ia juga menyempatkan membaca beberapa peraturan dasar dari mbah google.
“Fur, abis ini kita lawan anak kelas 3B, lu langsung turun ya.” Kata Ali.
“Oke bos.”
Setelah memenangkan pertandingan, Furya dan anak-anak kelas 2D istirahat sejenak di bangku penonton karena lapangan kedua akan di pakai kelas lain.
Dari lapangan pertama terlihat kelas 3A membantai anak kelas 3C dengan skor tak manusiawi yaitu 213-2.
Rudy yang menjadi captain basket dari kelas 3C bahan dibuat tak bergerak dan membisu.
“Anjir-anjir, emang ngeri anak kelas 3A.” Kata Jamal yang duduk dan menonton.
“Bener ***, jadi kasian gini gue liat Rudy sama anak-anak kelas 3C di bantai gitu.” Lanjut Egi.
“Mau gimana lagi, siapa emang yang bisa ngelawan Marco. Ditambah dari 10 orang pemain inti SIS, 5 orang diborong semua sama kelas 3A.” Tegas Ali.
Boby yang melihat kakak kelasnya dalam eskul basket bermain dengan begitu mengerikan terlihat fokus menonton.
Mungkin itu adalah saat-saat terakhir kakak kelasnya bermain di lapangan olahraga basket SIS, jadi tak heran kalau mereka tak memberi ampun dan membantai semua kelas dengan skor telak.
Furya yang melihat Boby diam dan terlalu fokus menonton menepuk pundaknya dan berbicara.
“Woi...kira-kira berapa persen kemunginan kita menang lawan anak kelas 3A?”
Mendenger perkataan Furya, Boby langsung tertawa terbahak-bahak.
“Hahaha, berapa persen?”
“Furya, maaf nih ya! Aku tau kamu kuat tapi tetap aja kita gak akan bisa ngalahin si gorila.”
“Kalau mau dihitung kasar nih, mungkin 1% cukuplah buat kelas kita.”
Fuya yang mendengar jawaban dari seorang Boby hanya tersenyum tipis.
Bahkan di pertandingan sebelumnya, teman-teman sekelasnya yang lain lebih banyak diam dan hanya Boby yang mencetak angka.
Sambil duduk menonton, Boby tanpa sadar bersuara.
“Coba aja aku bisa kasih permainan yang seru buat kakak-kakak kelasku yang mau lulus!”
Mendengar perkataan Boby, Furya merangkul pundak si penggila basket itu dan berbicara.
“Santai, aku jamin kakak kelasmu gak bakalan lupa Festival Olahraga tahun ini.”
Boby yang mendengar perkataan Furya hanya tersenyum dan berdiri.
“Oke guys, sudah cukup istirahatnya dan sekarang waktunya beraksi!”
Karena pertandingan di lapangan 1 sudah selesai, kelas 2D yang akan melawan kelas 3B langsung memasuki lapangan pertandingan.
Boby yang berpas-pasan dengan Marco dan kakak kelasnya di eskul basket mendekat dan sedikit menyapa.
Furya yang tak terlalu dekat dengan kakak kelas hanya diam saja dan duduk ke bangku pemain bersama yang lainnya.
Sampai akhirnya pertandingan kedua bagi kelas Furya dimulai.
Jika memenangkan pertandingan kali ini, maka sudah dipastikan mereka akan melaju ke babak final 4 besar besok.
“Oke guys, lawan kita kali ini bukan kaleng-kaleng! Jadi kali ini kita langsung serius.”
“Start awal gue tetap sebagai posisi 3.”
“Terus Ali diposisi 2. Radit diposisi 1. Jamal diposisi 4 dan Furya diposisi 5.”
“Fur, langsung kasih paham!” Kode Boby.
__ADS_1
Furya yang kebagain tim pertahanan karena memang tubuhnya tinggi dan kuat terlihat bersemangat.
Meskipun tak terlalu mengerti, yang jelas asalkan bola memasuki ring musuh maka poin akan didapatan.
Karena itu Furya yang memiliki sense dan kekuatan besar sangat yakin ia bisa menang kali ini bahan tanpa membeli skill Dewa Game.
{Pritt}
“Oke anak-anak silahkan kumpul ke lapangan.”
“Disebelah kanan babak ada kelas 2D dan disebelah kiri bapak ada anak kelas 3B.”
“Kalau udah siap kita mulai ya.”
“Tiga...dua...satu...”
{Pritt}
Dengan arahan pak Bambang, wasit langsung memulai permainan dan melempakan bola ke atas.
Boby yang berada di depan langsung melompat dan berhasil merebut bola pertama.
Dengan gaya khasnya, pria penggila basket ini langsung masuk dan dribbling sendirian ke dalam pertahanan musuh.
Tapi menghadapi anak kelas 3B yang postur badannya lebih besar dan merata, Boby sedikit kesulitan tapi tetap bisa mencetak angka dengan gaya dunk andalanya.
{Pritt}
“Mantap Bob! Asik langsung dapat 2 Poin.” Kata Jamal yang diam saja seperti patung.
Furya juga sama dan diam saja di garis pertahanan.
Sampai anak-anak kelas 3B dengan cepat memulai pertandingan kembali.
Kini Furya yang didekati 2 musuh yang makin mendekat terlihat seperti terumbu karang besar di bagian belakang.
Karena dihalangi, Jhony sebagai captain sekaligus Ace kelas 3B langsung melakukan shooting dari jarak jauh.
Furya yang melihat itu tak tinggal diam dan melompat lalu menggagalkan bola yang hampir masuk ke ring mereka.
Saat memegang bola, Furya yang sudah diberitahu strategi simple mereka yaitu oper bola ke Boby dapat melihat Boby yang memberi kode didepan.
Karena itu dengan satu tangan, Furya melempar bola kearah Boby dengan begitu mudahnya.
Furya yang memiliki sense tinggi juga dapat melakukan passing dengan begitu akurat.
Padahal jaraknya hampir satu lapangan tapi operannya tepat mengarah kearah Boby.
Mendapatkan operan cantik, Boby dengan mudah mencetak angka kembali dari luar garis 3 dan 3 poin tambahan langsung kelas mereka dapatkan.
“Yes...mantap Bob!” Teriak Egi.
“Asik, baru mulai langsung unggul 5 poin” Lanjut Ardhi.
Melihat kelas mereka unggul diawal, anak-anak kelas 2D yang lain juga mulai memberi dukungan dari bangku penonton.
Melawan anak kelas 3B yang lumayan hebat, Furya lebih banyak bertahan dan mengoper manja.
Meskipun ia bisa saja langsung melempar masuk ke ring, tapi karena kelas mereka unggul jauh Furya masih menahan diri.
Ditambah adanya Radit yang sangat ahli mencetak angka dari luar garis 3 dan Ali yang sering membantu menyerang membuat seorang Furya di pertandingan kali ini lebih banyak santai.
Seperti kata Boby di awal, kartu truf harus disimpan dan dikeluarkan pada saat yang tepat saja.
Didepan memiliki mesin pencetak angka sempurna dan dibelakang ada tembok besar tak tertembus.
Kelas 2D lagi-lagi menang telak dan berhasil masuk ke babak Grandfinal bahkan tanpa harus membuat seorang Furya Aditya serius.
__ADS_1