Perfection System

Perfection System
Pria Misterius Yang Akan Mengubah Sejarah


__ADS_3

“Oke, kita lanjut di pertanyaan kategori terakhir yaitu Matematika.”


“Karena perbedaan nilai yang sulit di kejar, para juri memutuskan kalau dua soal terakhir berhasil di jawab kelas 2D maka pertandingan ini akan langsung selesai.”


“Jadi lihat baik-baik ke layar infocus di sebelah ibu ya!”


Bastian yang sangat menguasai pelajaran Matematika hanya tersenyum dan berniat melibas habis 10 pertanyaan dan membalikkan keadaan sebagai sang bintang.


Ia terlihat sangat percaya diri dan merasa yakin bisa menjawab lebih dulu semua soal matematika yang akan di berikan lewat layar infocus atau proyektor.


Para penonton yang untuk pertama kalinya melihat kelas A terpojok oleh kelas terendah hanya diam mematung dan fokus menonton.


Sherly yang duduk di barisan dan geng anak kelas A terlihat bingung mau mendukung siapa.


Di satu sisi ia ingin kelasnya menang tapi di sisi lain ia juga ingin sang pacar yang menang.


Karena itu Sherly hanya diam saja sambil menatap kearah Furya dalam-dalam.


“Oke...ini pertanyaannya. Tolong fokus ke gambar sebelah ibuk ya!”


[Tett]


Baru saja gambar pertanyaan Matematika muncul, hal tak terduga dan diluar nurul langsung membuat semua murid menatap ke podium 4 tempat Furya berdiri.


Bahkan belum sempat seorang Bastian melihat secara jelas pertanyaan yang diberikan, Furya sudah menekan bel dan membuat semua mata yang ada di Aula Utama SIS tertuju kearahnya.


Buk Melati yang mendengar suara bel dari Furya padahal gambar baru muncul sepersekian detik terlihat sangat kaget dan langsung menutup gambar kembali dan berbicara.


“Ya...iya Furya. Apa jawabannya?”


{Jawabannya -250 buk}


Buk Melati yang mendengar jawaban Furya langsung mengagguk pelan dan berbicara.


“Be-benar...jawaban dari soal di samping ibuk adalah -250. Se-selamat kelas 2D mendapatkan 10 Poin.”


Bastian yang melihat keanehan itu hanya bisa terkena serangan jantung dadakan.


Bisa-bisanya Furya langsung menekan bel padahal belum 1 detik soal terlihat di layar proyektor.


Karena itu ia yang memiliki satu kali kesempatan lagi kali ini akan fokus dan akan melakukan hal yang sama.


Terlebih lagi para murid dan penonton, semuanya diam mematung tanpa ada suara sedikitpun.


Furya yang melihat Bastian pucat hanya tersenyum halus. Melihat wajah sombong itu keringatan sangat membuatnya senang.


“Hahaha, coba yang ku lakukan tadi kalau kau bisa!” Kata Furya dalam hati.


“O-oke anak-anak. Kita lanjut di pertanyaan kedua dan mungkin akan menjadi terakhir.”


“Sekali lagi ibu jelaskan peraturannya ya. Setelah gambar muncul di samping ibu, siapapun yang mengetahui jawabannya boleh langsung menekan bel.”

__ADS_1


“Tapi ingat, sehabis menekan pastikan kalian sudah mengetahui jawabannya karena gambar akan ibu tutup kembali.”


“Kalau begitu ini dia soal selanjutnya...”


Bastian yang syok dan keringat dingin terlihat sedikit menggigil.


Di pertanyaan ini ia harus menjawab lebih dulu dari Furya atau habis sudah harapannya.


Karena itu, Bastian yang kali ini harus menjawab tanpa sengaja menekan bel sesaat gambar muncul.


Belum sempat ia melihat soal matematika di layar proyektor secara keseluruhan, buk Melati yang sportif langsung menutup kembali soal.


“Iya Bastian, apa Jawabannya?”


Bastian yang jujur saja sangat pintar dan cerdas langsung keringat dingin dan kebingungan.


Jangankan jawaban, ia bahkan tak tau soal apa yang ia lihat.


Karena itu Sebastian Malfey terlihat pucat dan makin syok.


Di tatap wali kelas yang sangat mendukungnya, Bastian terdiam dan gemetaran.


Ditambah tatapan mata semua murid di Aula yang melihat kearahnya dan berharap tinggi makin membuat Bastian Frustasi.


“Bastian, apa jawabannya?”


Di tanya kembali oleh buk Melati, Bastian yang sadar sudah membuat kesalahan akhirnya menundukkan kepala dan berbicara pelan.


Buk Melati yang mendengar perkataan muridnya itu dengan tegas menjawab.


“Maaf Bastian! Ibu sudah kasih tau soal peraturannya di awal tadi. Jadi kalau kamu gak bisa jawab maka pertanyaan ini akan ibu ulangi tapi kamu gak bisa ikutan lagi.”


Bastian yang mendengar jawaban buk Melati seketika itu juga merasa dirinya seperti orang idiot.


Tak mungin buk Melati mau memperlihatkan kembali soal dan tentu saja ia akan di anggap gagal karena tak bisa menjawab pertanyaan.


“Sekali lagi ibu tanya, apa kamu tau jawabannya?”


Bastian yang sudah mandi keringat dan badannya panas dingin akhirnya menggelengkan kepala sambil tetap menundukkan kepalanya.


Buk Melati yang melihat itu akhirnya mengerti kalau Bastian tak dapat menjawab soal dan hanya menghela nafas.


“Baiklah anak-anak, sepertinya Bastian tak mengetahui jawabannya! Maka dari itu ibuk akan memperlihatkan soal kembali dan pastikan kalian menekan bel setelah mengetahui jawabannya ya.”


Furya yang melihat Bastian terdiam dan sangat menyedihkan sebenarnya merasa kasihan.


Jujur saja jika main bersih jelas sekali pria tampan dan paling populer itu yang akan menang.


Tapi maaf saja, Furya sudah membuang jauh-jauh perasaan seperti itu karena dirinya adalah manusia terpilih dan memang mampu untuk menang.


Tak ada kata curang bagi sang terpilih, itulah yang ia yakini berkat sistem.

__ADS_1


“Oke, ini dia soalnya...”


Kali ini hampir sama dengan yang dilakuan Bastian, Furya menekan bel tepat sesaat soal matematika terlihat.


Kedua kontestan lain bahkan hanya bisa diam seperti batu karena ulah Furya.


Buk Melati yang mendengar suara bel langsung refleks menutup kembali layar infocus.


“Iya Furya, apa jawabannya?”


Furya yang sudah bertanya pada sistem dengan santai menjawab.


{Jawabannya 3 X- 12 Y}


Buk Melati yang mendengar jawaban Furya masih tak habis pikir dengan kecepatan berfikir pria muda di hadapannya itu.


Tapi karena jawaban Furya benar, buk Melati hanya tersenyum dan langsung memberikan selamat.


“Selamat, jawaban kamu benar!”


“Selamat kelas 2D berhasil memenangkan lomba cerdas cermat untuk angkatan kelas dua.”


Mendengar perkataan buk Melati, semua penonton yang awalnya masih terdiam dan mematung sontak berteriak dan histeris.


“HEBAT...”


“MANTAP FURYA...”


“Selamat kak Furya.”


“Selamat anak kelas 2D.”


“Furya...Furya...Furya...”


“Furya...Furya...Furya...”


Untuk pertama kalinya dalam sejarah SIS, ada murid dari kelas D yang berhasil memenangkan cerdas cermat.


Meskipun baru di tingkatan angkatannya saja, tapi tetap hal ini membuat banyak murid senang.


Sherly yang kelasnya kalah bahkan tak begitu peduli dan ikutan berdiri dan bertepuk tangan.


Kemarin menjadi juara umum dan membuat kehebohan besar. Sekarang memenangkan cerdas cermat dan membuat kehebohan kembali.


Dengan ini rumor buruk yang mengatakan Furya curang saat ujian bisa ditepis.


Dari banyaknya murid yang menonton dan berteriak memberi ucapan selamat, salah satunya adalah Aurelia.


Ketua OSIS yang melihat adik kelasnya yang sangat misterius dan beberapa waktu lalu sering di jumpainya di taman memenangkan lomba menjadi sangat terhibur.


Dengan ini kesenjangan sosial antara kelas yang bahkan tak bisa ia hilangkan akan sedikit menurun.

__ADS_1


Ditambah ia yang akan segera bertanding menjadi tak sabar ingin melawan adik kelas misteriusnya itu di babak bintang.


__ADS_2