Perfection System

Perfection System
Dapat Capeknya Doang


__ADS_3

Furya yang selesai ganti baju langsung mengeluarkan motornya dan berniat menjemput Sherly.


Karena ada 10 poin status nganggur, Furya yang niat awalnya ingin menyembuhkan sang ibu dengan tangannya sendiri dan mengisi full ke bagian Perfection Body berfikir sejenak.


140 Poin Satus yang berharga sudah ia isi dan kemampuan regenerasi super tubuhnya makin hebat.


Tapi karena merasa sudah cukup dan keinginan awalnya untuk menyembuhkan sang ibu sudah tarlaksana, Furya yang tau Poin ternyata lebih penting dan dapat diandalankan secara langsung mengisi 10 statusnya ke bagian lain.


Perfection Rich, status sebagai pemilik sistem yang belum pernah ia isi kini bertambah 10.


Meskipun sudah bertambah, tak ada efek atau apapun yang ia rasakan.


Status yang meningkatkan tingkat keberuntungan dan penambahan exp serta poin ini sama sekali tak terlihat manfaatnya secara langsung atau bisa di bilang belum terasa baginya.


Setelah sampai rumah Sherly, Furya dapat melihat cafe pak Hery masih tutup.


Lalu di rumah Sherly ada banyak tetangga dan bocah yang bermain. Ren yang main motor mini juga ada di sana bersama anak-anak lain.


Furya yang malas bertemu banyak orang lebih memili menunggu di depan afe dan menghubungi sang pacar.


Setelah beberapa saat menunggu, Sherly akhirnya datang.


Melihat sang pacar yang sangat cantik bak bidadari dari kayangan, Furya hanya tersenyum lebar.


“Kenapa senyum-senyum gitu?”


“Gpp, aku seneng aja.”


“Seneng kenapa?”


“Adalah, yuk pergi.”


Furya yang berniat pergi ke mal dan menemani sang pacar membeli pakaian dan daleman baru tak dapat lagi menyembunyikan rasa senangnya.


Di peluk dari belakang dan ditempelkan dua boba besar nan lembut, Furya yang sudah lama menunggu momen itu hanya bisa tersenyum lebar.


Setelah sampai mal, Furya langsung shoping bersama Sherly.


Sherly yang semua pakaian dalam dan sebagian bajunya jadi kekecilan membeli yang di perlukan saja.


Karena naik motor, ia hanya membeli secukupnya. Dengan itu, setidaknya ia tak memakai bh emaknya lagi.


Karena sore hari acara di rumahnya sudah mulai, Sherly yang sudah puash shoping langsung pulang.


Furya di mal juga tak membeli apa-apa dan hanya menemani sang pacar.


Saat di perjalanan pulang, Sherly yang di telpon buk Dinda terpaksa harus mampir ke pasar untuk mengambil pesanan ibunya.


“Yang, kita mampir ke pasar bentar ya ngambil pesanan daging mama.”


“Lah, emang kenapa?”


“Iya mama takut nanti makanannya kurang jadi dia pesen lagi.”


“Yaelah Sher, emang mama kamu mau bikin acara segede apa sih?”


“Gak tau juga, pokoknya mama sore nanti mau bagi-bagi makanan gratis sama malamnya ngundang anak yatim.”


Furya yang di suruh Sherly mampir dan ngambil pesanan ke pasar hanya bisa menurut.


Bukan apa-apa, motornya sudah penuh belanjaan dan nanti pasti ia yang akan memegang daging karena Sherly yang jijikan mana mau kotor.


Setelah sampai di pasar, Furya yang pernah menemani pak Hery beli daging dan perlengkapan cafe sudah tau tempat tujuannya.

__ADS_1


Karena hari minggu dan keadaan ramai serta cuaca sangat panas, Furya menyuruh Sherly menunggu di tempat sejuk agar ia juga bisa lebih cepat bergerak.


“Udah kamu tunggu sini aja, biar aku yang masuk.”


“Hehehe, oke yang. Hati-hati ya.”


Sherly yang manja sebenarnya ogah berdesak-desakan di pasar dan memang lebih ingin menunggu di parkiran.


Untungnya sang pacar yang baik hati sudah mengerti dan ia tak perlu repot beralasan lagi.


Selagi menunggu Furya, Sherly hanya duduk santai di salah satu kursi yang ada sambil main hp.


Di tempat lain...


Furya yang masuk ke dalam pasar Falamboyan yang besar dan luas mulai mengingat-ngingat tempat biasa pak Hery membeli daging.


Meskipun pernah ke sana, tapi itu sudah lama sekali.


Untungnya Furya yang memiliki ingatan kuat dapat menemukan toko daging potong langganan pak Hery.


“Pak, saya mau ngambil pesanan daging pak Hery.” Kata Furya kepada pemilik toko.


“Ohhh, bentar-bentar saya telpon dulu pak Hery nya.”


Karena pernah kecolongan, pemilik Toko menghubungi pak Hery kembali untuk memastikan orang yang menjemput benar-benar suruhannya.


Furya yang di suruh menunggu hanya berdiri dan melihat-lihat tempat itu.


Ada banyak sekali jenis daging yang di jual. Mulai dari yang normal sampai abnormal.


Bahkan di depan Furya ada daging ular piton yang di pajang.


“Gile, siapa sih orang yang mau makan daging ular segede ini.” kata Furya dalam hati.


Setelah menunggu sejenak, pak pemilik toko kembali sambil membawa 2 kresek besar daging.


Mau di taruh dimana itu daging kalau gak di depannya nanti.


“Nih dek pesanannya. Yang ini daging cincang.”


“Yang ini ayam sama belut.”


“Oke-oke pak. Cuman tolong lapisin plastik lagi dong pak, saya pakai motor ini.”


Setelah mengabil pesanan dan berterima kasih, Furya kembali ke parkiran motor dan menemui Sherly.


Sherly yang melihat 2 plastik besar yang di bawa Furya hanya bisa kaget dan langsung mendekat.


“Itu beneran pesenannya?”


“Iyalah Sher, emang yang mana lagi.”


“Ohhh, yaudah taruh depan aja deh yang.”


Furya yang sudah tau pasti akan mendengar jawaban itu hanya tersenyum tipis dan mencoba sabar.


Untung saja ia sudah mengantisipasi dan melapisi kembali plastik yang awalnya kotor agar lebih bersih. Dengan itu pakaian dan motornya akan aman.


Setelah sampai rumah Sherly, telihat cafe pak Hery ternyata sudah buka dan ramai oleh pembeli.


Bukan pembeli, lebih tepatnya orang-orang yang ingin mendapatkan makan gratis.


Furya yang sampai sana langsung di suruh Shery mengantar pesanan ke dapur rumahnya.

__ADS_1


“Bawain sekalian ke dapur ya yang. Aku mau ke kamar bawa belanjaanku.”


“Oke tuan putri.”


Furya yang pergi ke dapur rumah Sherly dapat melihat banyak emak-emak komplek yang membantu masak.


Melihat ada banyak sekali yang membantu tak membuat Furya heran.


Keluarga pak Hery memang sangat baik dan ramah kepada semua tetangga.


Jadi saat ada acara, pasti banyak orang yang membantu termasuk sang ibu.


Tapi karena tak melihat ibunya di sana, Furya yang habis menyerahkan pesanan ke salah satu emak-emak langsung bertanya.


“Buk Titin, lihat mama saya?”


Di tanyai pria muda dan tampan seperti Furya, buk Titin yang masih tetangganya  hanya tersenyum dan menjawab.


“Di depan itu.”


“Mungkin lagi bantu bagi-bagi makanan sama yang lain.”


“Ohh, oke-oke buk makasih.”


Furya yang sudah sampai sana juga ingin membantu di depan sama seperti ibunya.


Tapi baru saja sampai depan cafe, antrian dan orang yang datang terlihat makin ramai.


Karena berada di pinggir jalan, ada sebagain pengendara yang juga ikut mengambil nasi kotak yang di bagikan secara gratis dan cuma-cuma.


Melihat semua orang kerepotan, Furya langsung bergerak cepat dan membantu.


“Ma, Furya bantuin ya.”


Di samperin sang anak yang datang dan ingin membantu, buk Reni hanya tersenyum dan sore itu cafe Sherly yang bagi-bagi makanan gratis sudah terlihat seperti pasar.


Dari Gojek sampai pengamen yang datang entah dari mana juga ikut mengantri.


Furya yang mengisi nasi kotak di bagian agak belakang bersama Sherly dan emak-emak lain bahkan di buat kewalahan.


Apalagi bagian depan tempat sang ibu yang membagikan nasi kotak, di sana lebih sibuk lagi karena antrian makin tak terbendung.


Pak Hery yang ada di depan juga di buat bingung.


Padahal niat awalnya hanya ingin sedikit sedekah kepada sesama tapi antian tak kunjung habis.


Untungnya pak Hery yang sudah menyiapkan 1.000 lebih nasi kotak untuk dibagikan di bantu oleh banyak orang.


Karena itu dari sore sampai maghrib semuanya terkendali.


Furya yang membantu bahkan tak kebagian nasi kotak dan hanya dapat capeknya saja.


Tapi baginya itu tak masalah. Toh ia juga sudah punya banyak uang dan hanya sekedar membantu dan membalas jasa pak Hery.


Jika saja bukan untuk keluarga sang pacar, tak akan mau Furya capek-capek begitu.


Sherly yang kelelahan dan selesai membantu membersihkan tempat langsung mendekati Furya yang duduk di depan sambil bersantai.


"Yang, kamu udah maem?"


"Belum, kenapa emang?"


"Gpp, mau makan bareng gak? Aku udah nyimpen satu nih buat kita."

__ADS_1


Sore itu Furya yang capek dan gak dapat apa-apa hanya bisa tersenyum lebar sambil di suapin Sherly makan.


Saat itu juga rasa lelah dan letihnya terbayar kontan.


__ADS_2