
Surya yang mulai memainkan piano dapat merasakan sensasi aneh memenuhi hatinya saat jari jemarinya menyentuh not piano.
Moonlight Sonata, salah satu music classic terbaik ciptaan musisi terkenal abad pertengahan bernama lengkap Ludwig Van Beethoven.
Music ini terbagi menjadi 3 cour di mana cour pertama adalah Adagio Sustenuto.
Surya yang memainkan simfoni pertama milik Beethoven seperti dapat merasakan hal aneh memenuhi hati dan perasaannya.
Di cour pertama yang sedih dan melow, Surya dapat merasakan langsung bagaimana perjuangan Beethoven untuk menciptakan lagu itu dikala dirinya mengidap penyakit tuli alias sulit mendengar.
Ia sekilas dapat melihat perjuangan berat Beethoven menghadapi penyakitnya dikala dirinya yang mencintai music justru di benci oleh music itu sendiri.
Bagaimana caranya seorang musisi menciptakan lagu jika ia saja sulit mendengar.
Itu bagaikan harapan dan impain Sang Musician yang harus terhenti paksa oleh takdir hidupnya yang kejam.
Tapi seakan melawan takdirnya, Beethoven tak menyerah dan terus berusaha sampai namanya kini di kenal dunia sebagai salah satu musisi terbaik yang pernah ada.
“Beethoven, aku tak mengenalmu dan juga tak pernah bertemu denganmu!”
“Tapi dari lagu ciptaanmu ini aku mengerti arti dari sebuah perjuangan. Terimakasih, akan ku sampaikan rasa cintamu kepada semua orang!” kata Surya dalam hati sembari memainkan cour pertama Moonlight Sonata.
Sedangkan para tamu yang menyaksikan Surya memaikan piano di atas panggung hanya bisa diam dan menikmati apa yang mereka dengar.
Saat itu mata dan telinga semua orang hanya tertuju pada pria muda 17 tahun yang memainkan piano di atas panggung.
Ibu Reni yang melihat anaknya bermain piano terlebih lagi memainkan lagu kesukaan alm suaminya tak dapat lagi berata-kata.
Rasa kagum sekaligus rasa sedih memenuhi hatinya.
Saat itu juga ia mengingat momen pertama yang membuatnya jatuh cinta kepada pria keturunan Jepang bernama Arata Tatsuya.
Gaya sederhana saat bermain piano dan senyuman penuh perjuangan itu mengingatkannya kembali pada suami tercinta sampai-sampai air matanya keluar tanpa sadar.
Furya yang memaikan cour pertama Moonlight Sonata juga merasakan hal yang sama dengan ibunya.
Saat kecil dulu, Surya sering di pangku ayahnya yang sedang bermain piano.
Bahkan beberapa kali ia ikut menenami ayahnya yang manggung di acara kesenian kota.
Seperti ditemani sosok ayahnya, Surya bermain piano dengan senyuman dan menyelesaikan cour pertama dengan sempurna.
Sampai di cour kedua yaitu Alleegretto, nada dan simfoni sedih itu berubah menjadi menyenangkan.
__ADS_1
Gaya selow dan mellow berubah menjadi nada indah penuh rasa cinta.
Furya yang memainkan cour kedua di temani bayangan ayahnya dapat mengingat momem-momen bahagianya saat kecil dulu.
Mulai dari ia belajar berjalan sampai naik sepeda. Mulai dari ia masuk taman kanak-kanak sampai SMA.
Saat itu sosok pahlawan dalam hidupnya terlukis indah penuh senyuman di hatinya.
Semua tamu yang hadir di aula utama juga merasakan hal yang sama. Entah karena apa, lagu indah penuh kenangan itu tersampaikan kepada semua orang.
Aurelia dan Bastian yang menyaksikan langsung permainan piano Furya terdiam dan menikmati itu.
Saat itu mereka berdua tau kalau sosok hebat di atas panggung memang sungguh luar biasa.
Mereka berdua yang lahir di keluarga konglomerat sudah diajarkan alat music piano bahkan sejak masih balita.
Tapi seperti mengakui kekalahan mereka, tak ada rasa iri dan tersaingi dari apa yang mereka dengar.
Justru saat itu rasa kagum dan senang terlihat jelas di wajah mereka.
Sherly yang tak begitu mengerti music classic hanya bisa memejamkan mata sambil mendengarkan melodi indah yang di mainkan sang pacar.
Saat itu ia sama seperti semua orang yang ada di aula dan mendengarkan dengan seksama.
Kehidupannya benar-benar menyenangkan sampai cour kedua yang penuh cinta dan kenangan selesai dan tergantikan oleh melodi penuh amarah.
Di cour ketiga dan terakhir yaitu Presto Agiato, Saat itu bayangan ayahnya yang ikut bermain piano tersenyum dan menghilang begitu saja.
Furya yang tersadarkan kembali dengan kenyataan mulai mengingat saat-saat terberat dalam hidupnya.
Saat ia harus kehilangan sosok sang pahlawan penopang keluarga.
Saat ia harus bekerja sampai larut malam dikala luka pasca kecelakaan memberinya rasa sakit tak tertahankan.
Saat dimana ibunya terbaring koma tak sadarkan diri.
Lalu di saat adik-adiknya menangis karena kelaparan.
Mengingat momen itu, Surya menutup matanya dan mencoba menahan air matanya yang ingin keluar.
Semua rasa sakit itu ia simpan dalam-dalam sampai sosok mukjizat muncul seperti menerangi hatinya yang dipenuhi kebencian.
Saat itu juga ia mulai mengingat kembali titik balik dimana kehidupannya yang menyedihkan berubah 180 derajat.
__ADS_1
Tak kekurangan satu hal apapun dan dapat membalaskan dendamnya dengan elegan.
Furya yang memaikan cour ketiga penuh emosional dan dendam akhirnya dapat melepaskan jeratan kelam yang seakan mengikat dirinya.
Seperti terbebaskan, ia menutup matanya dan bermain piano dengan suka cita alih-alih penuh amara.
“Ayah ... apa kau melihatnya dari sana?”
“Aku ... Aku berjanji akan menjaga dan melindungi keluarga kita.”
“Jadi ... tolong tenanglah dan serahkan sisanya pada anakmu ini!”
Furya yang memaikan simfoni penuh emosional membuat semua orang awalnya rileks sampai terkaget-kaget.
Nada dan suara yang awalnya indah dan penuh cinta berubah seketika menjadi kelam dan mencekam.
Suara keras yang di hasilkan oleh piano saat itu seperti dapat masuk dan menusuk tepat kedalam jiwa semua orang.
Meskipun terkesan kelam dan sulit dipahami, namun semua orang tau akan maksud melodi indah tersebut.
Seperti dapat melihat cahaya bulan di siang hari, semua orang yang matanya terfokuskan ke atas panggung dapat melihat dan mendengar sebuah mahakarya yang begitu mengagumkan selesai dimainkan.
Sampai Furya yang bermain piano selama 15 menit selesai dan semua orang yang ada di aula berdiri dan memberikan tepuk tangan meriah.
Theodirick Malfey ayah Bastian yang berasal dari Ingriss dan menggilai music Classic juga ikut berdiri dan memberian tepuk tangan paling kuat bersama para jejeran tamu VIP.
Ia yang sudah sering melihat penampilan para pianis ternama dunia dibuat takjub dan tak bisa berkata-kata lagi.
Mungkin kata Jenius tak akan cukup untuk menggambarkan sosok anak muda yang kini ia lihat.
“Hebat sekali! Ini adalah penampilang paling luar biasa yang pernah saya lihat!” ucap Theo ayah Bastian sambil memberikan tepuk tangan kuat.
“Benar tuan Theo, sepertinya kita menemukan talenta luar biasa. Saya yakin di masa depan nanti anak ini akan menjadi orang besar!” lanjut Aurelio yaitu ayah dari Aurelia yang juga merasa kagum.
Saat para senior memberikan dukungan penuh, teman-teman Surya yang melihat pertunjukaan spetakuler dirinya juga sama dan memberikan banyak tepuk tangan meriah.
Aurelia yang lagi-lagi melihat sosok hebat dari adik kelasnya tak dapat menyembnyian rasa kagum.
Bahkan Bastian yang menganggap Surya musuh juga mengaku kalah dan ikut berdiri bersama semua orang untuk memberikan tepuk tangan meriah.
“Aku mengaku kalah! Sepertinya tak ada yang tak bisa dilakukan pria satu ini!” kata Bastian di hadapan ketua OSIS sambil bertepuk tangan.
Aurelia yang mendengar itu juga diam saja dan mengerti apa maksudnya.
__ADS_1
Saat itu semua orang benar-benar merasa senang dengan pertunjukan hebat dari Sang Terpilih.