
Dengan mengendarai motor barunya, Furya sampai di depan cafe Sherly.
Buk Dinda yang ada di sana dan mempersiapkan dagangan juga sudah tau kabar yang beredar.
Para ibu rumah tangga dengan koneksi tanpa batas sudah ramai membicarakan Furya yang membeli motor sport baru.
Bahkan ada emak-emak yang kepo sampai bertanya pada sang pengantar dan ia di buat terkejut mendengar bahwa Furya membeli motor secara cash.
Karena ini buk Dinda dan pak Hery sudah tau keanehan itu tapi masih diam saja.
Melihat Furya yang sampai di depan cafe, Buk Dinda langsung tersenyum dan menyapa.
“Ehh Furya. Bentar ya Sherly masih siap-siap. Biasa anak perempuan.”
“Iya tante.”
“Ngomong-ngomon itu motor kamu?”
“Iya tante, baru kemarin Furya beli.”
Mendengar hal mengejutkan itu dari mulut Furya langsung, buk Dinda hanya tersenyum.
Tapi yang membuat buk Dinda terkejut sebenarnya bukan itu.
Melihat motor sport yang mahal dan jelas harganya yang tak main-main ada rasa khawatir di dalam hatinya.
Ia jadi takut dan khawatir akan ada masalah dengan Furya yang sudah ia anggap anak sendiri.
Tak lama menunggu, Sherly akhirnya keluar.
Setelah pamit dengan ibunya, Sherly langsung mendatangi Furya dan berbicara dengan bahasa isyarat tangan.
“Pagi.”
“Pagi juga, yuk berangkat.”
Sherly yang sampai langsung di berikan helm oleh sang kekasih biar aman.
Karena kelamaan dandan, mereka yang hampir telat langsung berangkat.
Baru saja motor melaju, suara yang Furya tunggu-tunggu langsung terdengar di kepalanya.
[Ding! Selamat tuan menerima misi baru]
[Sampai di sekolah dalam 10 menit, hadiah 10.000 Perfection Poin]
Mendengar misi yang aktif, Furya langsung memperingatkan Sherly.
“Sherly, pegangan yang kenceng!”
Mendengar ucapan Furya, Sherly yang di bonceng hanya menurut dan Furya langsung melaju kencang.
Sherly yang di bonceng sampai ketakutan dan hampir di buat kesurupan.
Furya yang membutuhkan Poin jelas akan membabat habis semua misi yang di berikan apapun itu.
Meskipun tau Sherly penakut, tapi demi Poin, Furya tak punya pilihan dan mengebut di jalanan.
Karena pagi hari jalan utama pasti macet, Furya langsung menggunakan jalan alternatif untuk memangkas waktu.
Di berikan waktu 10 menit, Furya menggunakan semua kemampuan mengendarai motor miliknya. Sesekali mereka bahkan hampir menabrak.
__ADS_1
Sherly yang ketakutan hanya bisa memeluk sang kekasih dan menutup mata.
Nyawanya ia percayakan sepenuhnya pada sang kekasih sampai akhirnya dengan begitu cepat, mereka sampai di gerbang sekolah.
[Ding! Selamat tuan telah menyelesaikan misi]
[Selamat tuan mendapatkan hadiah 10.000 Perfection Poin]
[Selamat tuan telah naik level]
Furya yang mengetahui Sherly sampai gemetaran langsung menenangkannya dengan cara memegang tangan Sherly.
“Udah sampai...jangan takut lagi.”
Mendengar perkataan pacarnya, Sherly langsung membuka mata.
Melihat motor yang sudah berjalan pelan, Sherly akhirnya bisa bernafas lega.
ia juga memukul-mukul punggung Furya karena marah dan ketakutan.
Setelah sampai di parkiran motor, Sherly yang marah terlihat cemberut.
Melihat sang pacar pucat, Furya langsung meminta maaf.
“Maaf...maaf, janji deh gak bakalan ngebut lagi.”
“Maaf yang sayang...”
Di panggil sayang, Sherly akhirnya bisa tersenyum lagi.
“Yaudah. Kali. Ini. Ku. Maafin. Tapi. Jangan. Ngebut. Lagi. Aku. Takut!”
“Hehehe, iya aku janji.”
“Iya aku janji.”
Furya yang tak terlalu suka kebut-kebutan karena berbahaya memang mau tak mau saat itu terpaksa melakukannya.
Demi misi, ia sampai melawan prinsipnya sendiri dan membahayakan Sherly.
Setelah itu Furya dan Sherly pergi ke kelas masing-masing.
Kemarin saat jalan-jalan dengan Sherly di mal, Furya sempat membujuk Sherly kembali agar mau berangkat sekolah besoknya.
Untungnya Shery yang di mabuk cinta setuju.
Furya juga sudah mengatakan dan meyakinkan Sherly kalau Viona tak akan mengganggunya lagi.
Saat sampai di kelas, Furya duduk dan bersantai sejenak. Tak lama Jamal datang dan tersenyum ke arahnya.
“Wih motor baru tuh.”
“Loh kok tau?”
“Anjir, jadi beneran. Aku tadi kamu salip masa gak liat?”
Furya yang fokus mengebut jujur saja tak sadar menyalip sahabatnya. Karena itu ia masih sedikit bingung.
“Kamu kok tau itu aku?”
“Taulah, helm sama motor yang di parkiran sama persis kayak punyamu dan si Sherly keliatan dikit bokongnya, hehehe”
__ADS_1
“Kampret lu...”
Setelah itu seperti biasa, Jamal mulai membicarakan soal motor baru sang sahabat. Ia yang sempat di traktir juga tak kaget lagi kalau Furya beli motor baru.
“Ohhh, mahal juga 700 juta, dapet duit sebanyak itu dari mana?”
“Dari warisan kakekku, hehehe.”
Demi menjaga rahasia, Furya terpaksa berbohong lagi.
Akan makin merepotkan kalau banyak orang tau ia memiliki kekayaan yang melimpah karena bantuan sistem.
Setidaknya sampai masa-masa sekolahnya usai, ia tak ingin terlalu menonjol.
Jamal yang tau sang sahabat menyembunyikan sesuatu juga tak banyak omong. Jika bisa kecipratan sedikit saja, ia sudah cukup senang.
Pagi itu pelajaran pertama akhirnya di mulai, semua murid terlihat fokus belajar.
Sherly yang masuk kembali setelah 2 hari libur juga tak di ganggu lagi.
Melihat Viona yang diam saja dan cuek saat ia datang, Sherly juga diam. Sampai jam pelajaran selesai dan bel istirahat berbunyi.
Teng...tong...teng..ting
“Ahhh...akhirnya selesai, Fur makan di kantin utama lagi yok.”
Jamal yang mengetahui sang sahabat sudah banyak uang mencoba mengajaknya makan di kantin utama lagi.
Tapi karena misi tak aktif, Furya enggan dan lebih memilih makan soto bude kesukaannya.
“Males ah, aku kangen makan soto bude.”
“Yaelah, yaudahlah yuk makan.”
Di kantin, Furya dan Jamal makan berdua.
Tak lama mereka duduk, Sherly dan sahabatnya Chika juga datang dan mereka berempat makan berdempet-dempetan di meja yang kecil.
“Geseran dikit Mal.”
“Haduh, udah pojok ini Chika, pantatmu besar kali sih.”
Sambil makan siang, Furya yang melihat Sherly sudah tersenyum cerah dan mau sekolah kembali menjadi senang.
Mulai sekarang ia yang sudah memiliki kekuatan setidaknya bisa melindungi sang kekasih dari bullying yang selama ini menimpanya di sekolah.
Setelah makan, karena bersama sang pacar Furya tak pergi ke belakang perpus dan duduk di taman berdua dengan Sherly.
Melihat sang sahabat yang bucin, Jamal juga pergi bersama anak lain dan tak mengajaknya.
“Gimana si Viona masih ganggu kamu?”
“Enggak. Dia. Diam. Aja. Tadi.”
“Baguslah, kalo sampai berani gangguin lagi bakalan ku siram air sebaskom dia.”
Sherly yang melihat sang pacar sangat perhatian dan melindunginya hanya tersenyum dan duduk menempel.
Di bangku taman yang hampir penuh pasangan muda anak sekolahan, Furya dan Sherly menghabiskan waktu istirahat di sana.
Taman sekolah di SIS juga bisa di bilang besar dan hampir seperti hutan kota.
__ADS_1
Pohon besar dan banyaknya bunga seperti menjadi surga bagi para pasangan bucin seperti mereka.