Perfection System

Perfection System
Kenangan Lama


__ADS_3

Sambil menunggu pak Devan datang, Furya duduk di sana.


Sherly yang menyukai music dan sempat bermimpi untuk menjadi penyanyi terlihat senang dan begitu antusias.


Meskipun sudah tak dapat berbicara lagi, jauh di dalam lubuk hatinya impian masa kecilnya itu masih tersimpan.


Sherly juga sudah sejak lama tertarik dengan yang namanya Violin.


Tapi naasnya, impian dan harapannya di hancurkan takdir yang begitu menyedihkan.


Tapi Sherly tak membenci music dan masih mencintainya meskipun sudah tak mungkin ia gapai.


Melihat harga yang begitu tak masuk akal, Sherly menjadi sedikit ragu.


Tapi karena sadar sang pacar sudah banyak uang, Sherly memaksakan keegoisannya dan hatinya langsung jatuh cinta saat melihat sebuah Violin atau Biola berwarna putih silver yang begitu indah.


Furya yang memperhatikan sang kekasih dari jauh juga sadar pasti Sherly masih ragu untuk membeli apa yang ia mau.


Karena itu Furya yang melihatnya langsung berdiri dan berjalan mendekat.


“Kamu mau yang itu?”


Sherly yang melihat sang pacar menghampirinya tak dapat lagi menyembunyikan rasa senangnya dan langsung mengangguk.


Melihat sang pacar sudah memilih apa yang ia mau, Furya hanya tersenyum dan berbicara kembali.


“Ambilah, tunggu apa lagi.”


Sherly yang di belikan alat music mahal tanpa pikir panjang langsung mengambil Violin berwarna putih silver yang memikat hatinya.


Dari harga yang tertera, Furya dapat melihat nilai yang begitu fantastis.


“Anjir, ginian doang 70 Juta!” Kata Furya dalam hati.


Setelah menentukan pilihannya, Sherly di temani sang pacar langsung menuju meja kasir.


Furya yang banyak uang tak terlalu ambil pusing.


Jangakan 70 juta, semua uangnya juga akan ia berikan jika sang pacar mau.


Setelah membayar di kasir, Sherly di temani karyawan toko kembali lagi untuk membeli alat pelengkap lain khusus untuk wanita dan pemula.


Furya yang duduk cukup lama di salah satu kursi mewah yang ada di sana akhirnya melihat kembali wajah seseorang yang di ingatnya.


Devan, pria yang dulunya masih muda itu kini terlihat makin bermatabat dan rapi.


Melihat sang bos datang, karyawan yang ada di sana langsung memanggil Furya.


“Ini dek pak Devan, katanya da perlu.”


‘Iya mbak makasih.”

__ADS_1


Devan yang di cari dan masih berdiri di sana juga langsung menatap Furya.


“Siang pak, masih ingat saya gak?”


Devan yang melihat wajah khas keturunan asia terkhusus Jepang sudah mulai lupa dan benar-benar tak ingat. Karena itu ia bertanya pada Furya.


“Aduh maaf, saya lupa. Adek siapa ya dan ada perlu apa nyari saya?”


“Saya Furya anak pak Arata pak. Saya mau nebus kembali piano yang dulu di gadaikan ayah saya.”


Devan yang teringat dengan nama ayah Furya langsung sadar kalau bocah yang ada di hadapannya itu adalah anak dari temannya saat masih kuliah.


Karena itu ia langsung tersenyum dan terlihat begitu senang.


“Ohhh anak Arata. Ingat-ingat...mana ayah kamu kok gak pernah mampir ke sini lagi?”


Furya yang mendengar ucapan Devan dengan berberat hati menceritakan apa yang menimpa ayahnya.


Devan yang baru mengetahui kalau salah satu teman masa kuliahnya dulu sudah tiada hanya bisa kaget sekaligus merasa sedih.


Meskipun sudah lost contac, tapi ia benar-benar tak tau kabar itu karena memang ia dulu sangat sibuk bekerja di luar negri dan ayah Furya orangnya juga sangat tertutup dan jarang bergaul.


Sambil duduk dan bercerita, Furya di sana lagi-lagi mendengar kenangan lama sang ayah saat masih masa kuliah dari pak Devan.


Sang ayah yang kabur dari keluarganya di Jepang dan pindah ke indonesia seorang diri ke Jakarta memang memiliki beberapa teman baik.


“Jadi gitu ya...maaf om gak tau sampai ke situ.”


“Gpp kok om. Terus masalah piano ayah saya...”


“Wah beneran om? Masih bisa Furya tebus gak?”


Melihat anak teman baiknya dulu yang terlihat menginginkan piano ayahnya kembali, Devan dengan banyak pertimbangan akhirnya mau memberikan kembali piano tua ayah furya.


Meskipun tua, tapi Devan sudah banyak menghabiskan uang untuk memperbaiki piano itu.


Selain ia ahli di bidang seni, dirinya juga tau harga dan kualitasnya yang memang asli. Karena itu Devan yang juga seorang bisnisman tetap meminta bayaran.


“Maaf ya sebelumnya, itu piano udah lama banget di gadainya dan udah banyak saya perbaiki. Jadi kalau mau di tebus mungkin harganya bakalan naik.”


Furya yang mendengar itu hanya tersenyum puas. Selain di perbaiki, pak Devan juga berkata menggunakan piano itu untuk mengajar les piano beberapa muridnya.


Karena barang lama dan asli, Devan sampai menggunakan jasa seniman professional untuk memperbaiki beberapa bagian yang rusak.


Furya yang di jelaskan juga tak terlalu peduli dengan harga. Asalkan bisa kembali, berapapun akan ia bayar.


“Gini aja deh.... 1 Milyar aja, gimana?”


Devan yang sebenarnya tak ingin membebani Furya terlihat sedikit tak enak.


Hanya saja memang piano itu barang classic yang langka dan ia sudah membuang banyak uang di beberapa perbaikan.

__ADS_1


Jadi ia yang tau harga aslinya juga tak mau rugi.


Furya yang tak tau nilai barang seperti piano hanya bisa setuju dan saat itu juga ia mentrasfer bayaran yang Devan inginkan.


Devan yang awalnya ragu Furya dapat membayar hanya bisa kaget karena anak sahabatnya itu ternyata sudah kaya raya.


“Sep...siang ini juga bakalan om anter. Alamat rumah kamu di mana?”


“Di jalan sudirman nomor 666 om. Nih nomor Furya kalo ada apa-apa telfon aja.”


“Oke...sekarang juga om suruh anak buah om buat antar ke rumah kamu.”


“Oke om makasih...”


Furya yang siang itu membuang banyak uang tak begitu memikirkannya.


Hari itu juga adalah hari di mana Berlian miliknya yang sedang di lelang di Dubai akan terjual.


Sebelumnya Naomi sempat mengajak Furya untuk mengikuti acara lelang di Dubai bersamanya.


Tapi karena sedang ujian, Furya menolak dan menyerahkan semuanya kepada Naomi.


Setelah urusannya beres, Furya kembali pulang bersama sang kekasih.


Sherly yang di berikan Violin baru terlihat begitu tak sabar ingin memainkannya di rumah.


Saat kecil dulu, Sherly bersama Furya dan ayahnya sempat menonton pertujukkan music classic secara langsung di sebuah pameran.


Sejak hari itu Sherly kecil sudah tertarik dan baru sekarang ia di berikan kesempatan untuk mencoba apa yang ia mau.


Setelah sampai rumah, Sherly yang bersemangat langsung pulang dan memasuki rumahnya.


Furya yang pulang di sore hari juga kembali ke rumahnya dan berkumpul bersama sang ibu dan kedua adiknya.


Malamnya barang yang di tunggu-tunggu Furya akhirnya datang.


Melihat mobil yang mengangkut piano tua sang ayah, Furya langsung keluar dan menyambut pak Devan yang ternyata ikut mengantar.


“Malam om...”


“Aduh maaf ya agak lama. Mindahinnya butuh waktu karena ini barang udah tua banget dan harus hati-hati biar gak rusak.”


“Iya om saya ngerti kok. Yaudah yuk masukin ke rumah saya om.”


Di bantu Furya dan beberapa pria lain, piano tua milik sang ayah akhirnya berhasil di bawa masuk.


Meskipun sedikit terhambat karena pintu yang kecil, tapi di bantu beberapa orang pintu samping terpaksa di hancurkan terlebih dahulu agar piano besar itu bisa masuk.


Sang ibu yang melihat piano penuh kenangan dari sang suami bahkan diam-diam sampai menangis di kamar.


Melihat sang anak sulung yang membawa piano peninggalan ayahnya kembali, ibu Furya menjadi senang.

__ADS_1


Bisa di bilang Furya lahir juga berkat piano itu.


Dulu saat masih gadis, sang ibu berkenalan dengan suaminya saat sang ayah bermain piano di salah satu acara ketika mereka masih kuliah.


__ADS_2