
Setelah menerima khotbah pak RT, Furya mengerti letak kesalahannya di mana.
Tapi tetap saja, bagi Furya ia merasa tak berbuat salah apapun.
Jangankan menyinggung, dirinya bahkan tak perna ikut campur atau mengurusi hidup orang lain.
Saat ia kesusahan juga tak ada orang di tempat tinggalnya yang membantu dan itu seperti menjadi sebuah dilema di hatinya.
Karena masalah sudah di urus, Furya masuk ke rumah dan rebahan di ruang tengah.
Nando yang terluka juga sudah di obati. Untungnya luka sabetan parang di tangan sang paman tak terlalu dalam.
Setelah di nasehati pak RT, Furya juga langsung membicarakan soal keamanan rumahnya dengan sang ibu.
Ia juga berencana memagar rumah mereka dan membuat sebuah garasi di samping rumah.
“Ikutin aja sih saran pak RT kalo menurut mama. Mama masih takut nanti kejadian lagi.”
“Iya ma, Furya udah nelpon Pak Toleh dan besok dia bantu bikin pagar dan garasi. Pak RT juga bilang tadi kalau keamanan komplek bakalan di perketat lagi.”
“Nah bagus tuh, kalo bisa pagarnya yang tinggian biar maling mikir 2 kali mau masuk!” Lanjut Nando.
Furya yang tak bisa tidur lebih memilih kembali ke kamar dan tiduran. Sambil rebahan, ia dapat melihat statistik dirinya yang makin tinggi.
Nama : Furya Aditya
Ras : Manusia
Level : 14
Status : Penerus Resmi Dewa Kesempurnaan
Umur : 17
Perfection God : Terkunci
Perfection Body : 240
Perfection Rich : 0
Perfection Power : 50
Status Poin : 0
Perfection Poin : 82.990
Furya yang selesai Check In hari ke 13 sedikit lagi dapat membeli Water Of Life kembali.
Ia juga berharap hari jumat itu misi bisa muncul agar besoknya pas Check In bisa langsung terkumpul 100 ribu poin.
Tapi tetap saja misi hanya muncul random tanpa Furya bisa menentukan.
Untungnya di bantu misi Check In Harian yang sudah sampai ke hari 13, Poinya bisa bertambah lebih cepat.
Doubel Bonus Misi untuk mendapatkan nilai sempurna di ujian juga belum selesai.
Itu karena memang hari jumat adalah hari terakhir ujian dan sabtu akan ada acara bersih-bersih sekolah lalu pengumuman nilai akan di beritahukan senin.
Tanpa terasa pagi datang menghampiri dan Furya yang sudah janji dengan sang pacar untuk joging pagi langsung bersiap-siap.
__ADS_1
Nando juga sudah mengatakan akan mengurus masalah malam itu dan Furya tak perlu ambil pusing.
Setelah selesai mandi dan ganti pakaian olahraga, Furya menelepon Sherly.
Titt...titt...titt
Titt...titt...titt
“Hadeh, pasti masih tidur nih anak!”
Karena masih pagi buta dan Sherly memang sulit bangun, Furya yang panggilannya tak di jawab langsung keluar rumah dan menjemput sang pacar.
Cafe Sherly terlihat masih tutp tapi Furya tetap mengetok pintu rumahnya.
Tok...tok...tok
Tok...tok...tok
“Sherly...”
Masih pagi sudah menerima tamu, pak Hery yang belum tidur sehabis ke rumah Furya yang kemalingan langsung membukakan pintu.
Ia yang pagi hari memang harus ke pasar terlihat tengah bersiap-siap.
Melihat Furya yang datang, pak Herly langsung mengerti dan membangunkan Sherly.
Sang pacar yang tidurnya kayak kebo akhirnya bangun karena di ganggu sang ayah.
“Hoi bagun, tuh Furya udah di depan!”
“Emang kenapa sih pak?”
“Lah, bukannya kamu udah janjian mau joging bareng!”
Pak Hery yang harus ke pasar untuk membeli kebutuhan cafe keluar rumah dan mengeluarkan mobil Pick Up miliknya.
Sambil memanaskan mobil, ia duduk sejenak menemani Furya.
“Si Sherly baru bangun, bentar lagi paling siap!”
“Oke om...”
“Terus itu memang mobil kamu?”
“Bener om, Furya baru beli buat mama.”
“Wah banyak duit ya kamu sekarang!”
“Iya om, hehehe...”
Furya yang memiliki banyak uang sama sekali tak menyembunykan itu apalagi dari keluarga pacarnya.
Pak Hery yang tau rumah Furya baru saja kemalingan langsung memberikan beberapa nasehat dan masukan.
Nasehatnya juga sama seperti pak RT, yaitu tentang pandangan hidup bersosial yang baik di masyarakat.
Memang di tempat mereka tinggal ketimpangan sosial antara warganya sangat dan begitu terlihat.
Ada yang rumahnya gedung bak istana dan ada yang sederhana hanya dengan papan.
__ADS_1
Furya yang di nasehati calon mertua juga mengangguk dan memasuki mode anak penurut.
Di tambah jika ada orang yang benar-benar ia hormati selain orangtuanya, jelas itu adalah pak Hery dan istrinya.
Furya juga tak akan pernah melupakan kebaikan setiap orang kepadanya.
Jika baik, ia juga akan membalas baik bahkan melebihi apa yang orang itu berikan.
Hanya saja Furya tetap pria muda 17 tahun yang cara berfikirnya masih labil dan tumpang tindih.
“Yaudah itu aja yang mau om bilang. Jangan lupa sedekah dan berbagi kalo udah punya banyak uang. Ingat tetangga kita juga masih banyak yang kesusahan dan butuh bantuan!”
“Iya om, Makasih masukannya.”
“Sep, kalo gitu om ke pasar dulu.”
“Oke om, makasih.”
Setelah menasehati Furya, pak Hery pergi ke pasar dengan mobil Pick Up miliknya.
Ia juga tak menyinggung terlalu dalam dari mana Furya mendapatkan banyak uang.
Yang jelas ketika waktunya nanti, pak Hery yakin Furya akan mengatakan itu kepadanya.
Ia juga sudah mengenal Furya dari masih bayi sampai sebesar yang sekarang.
Jadi pak Hery tau betul Furya tak akan melakukan tindak kejahatan hanya untuk mendapatkan kekayaan secara instan.
Jika di lihat dari luar, jelas pak Hery dan keluarganya juga tak kekurangan apapun dalam hal finansial.
Rumah keluarga Sherly juga bisa di bilang cukup besar dan bagus.
Meskipun tak bertingkat, tapi tanahnya sangat luas dan cafe milik keluarganya juga selalu ramai.
Furya yang menunggu sang pacar akhirnya dapat melihat malaikat cantik yang baru bangun tidur.
Sherly dengan pakaian olahraga pink terlihat begitu menawan.
Apalagi rambut panjangnya yang terikat dengan gaya ponytail makin menampakkan leher Sherly yang putih dan bersih.
“Akhirnya datang juga tukang tidur.”
“Hehehe. Maaf. Lama. Yuk. Pergi!”
Setelah menuntup pintu, Sherly dan Furya langsung jalan bersama.
Melihat perkembangan dan perubahan luar biasa dari pacarnya, Sherly jujur saja mulai di buat ketar-ketir.
Selain makin tampan, Furya juga sudah kaya raya.
Bahkan Sherly sudah melihat status terbaru Ren di media sosial yang pamer mobil baru saat jalan-jalan bersama keluarganya.
Di pinggir jalan dan khusus pejalan kaki, Furya yang joging santai dapat melihat sang pacar yang mulai ngos-ngosan.
“Astaga, baru mulai loh ini Sher.”
Sherly yang kelelahan setelah 20 menit joging hanya tersenyum dan menjawab dengan bahasa isyarat.
“Aku. Capek. Kita. Duduk. Dulu. Yuk!”
__ADS_1
Melihat sang pacar yang kelelahan dan minta istirahat, Furya mengagguk dan mereka duduk di bangku taman yang kebetulan mereka lewati.
Seperti tak mengenal tempat, dua muda-mudi itu malah bermesra-mesraan di sana.