Perfection System

Perfection System
Piano Tua


__ADS_3

Furya yang duduk di taman dapat melihat tiap murid yang mulai keluar kelas. Ada yang wajahnya khawatir dan ada yang tersenyum.


Lalu tak lama Jamal menghubunginya kembali lewat alat transmisi suara.


“Woi di mana lu? Ke kantin yok!”


Furya yang mager dan pagi tadi sudah kenyang memakan sarapan buatan sang ibu menolak dan tetap memilih duduk di taman.


Di tambah jam istirahat hanya sebentar dan ia yang bosan hanya ingin cepat-cepat pulang.


“Lanjut aja sama yang lain. Aku udah sarapan di rumah.”


“Ohhh, yaudah. Tapi nanti pas ujian kedua bantu lagi ya, hehehe.”


“Aman...”


Pagi itu Furya yang menunggu jam ujian kedua hanya bersantai di taman sekolah.


Sherly yang datang dan membawa bekal juga memilih menemaninya di sana dan mereka duduk berdua.


Di bawain risoles buatan sang pacar, Furya yang mencobanya benar-benar di buat ketagihan.


“Sumpah enak banget risoles buatan kamu.”


“Hehehe. Makasih. Tambah. Lagi. Nih!” Jawab Sherly dengan bahasa isyarat.


Sambil duduk dan menikmati waktu istirahat bersama sang kekasih, Furya yang menghabiskan 5 potong risoles daging akhirnya di buat kekenyangan.


Meskipun tak lapar, tetap saja karena Sherly sudah membuatkannya, Furya menghabiskan itu semua tanpa sisa.


Sampai  bel tanda jam istirahat berbunyi dan kemesraan mereka terpasa terhenti.


Teng...tong...teng...ting


“Nah dah masuk. Yuk balik ke kelas.”


Sherly yang kelasnya berada di tempat berbeda akhirnya berpisah dengan Furya dan memasuki kelas mereka masing-masing.


Furya yang sampai di kelas langsung duduk kalem di mejanya sambil menunggu guru datang.


Seorang murid perempuan dari kelas A yang duduk di sampinya terlihat sedang ngerumpi bersama murid lain dan sedikit menyinggung Furya yang menyelesaikan soal ujian lebih cepat dari mereka.


“Hahaha, dasar anak kelas D. Paling kalo gak curang ya asal jawab.”


“Bener, sombong amat pake acara siap duluan!”


“Hussh jangan gede-gede suara lu ntar kedengeran dia.”


Furya yang memiliki pendengaran tajam bahkan bisa mendengar obrolan julid itu dengan jelas.


Hanya saja Furya tak begitu peduli dan tetap santai. Tak lama kemudian pak Bambang datang dan ujian kedua di mulai.


Khusus di guru satu ini, keamanan dan pengawasan sedikit kendor. Furya yang membuka soal ujian langsung bertanya pada sistem.


“Sistem, berikan aku jawaban soal ini!”


[Ding! Perintah di terima, memberikan jawaban yang tuan inginkan]


Dengan begitu mudahnya, semua jawaban yang terjamin kebenarannya langsung muncul di layar hologram Furya.

__ADS_1


Tanpa basa-basi, Furya langsung mengisi semua soal. Ia bahkan tak membaca lagi soal dan langsung mengisi kertas ujiannya.


Setelah mengisi semua soal, Furya yang gabut hanya tidur-tiduran.


Lagi-lagi, murid perempuan dari kelas 2 A yang duduk di samping Furya di buat jengkel dan kesal.


Bisa-bisanya anak kelas D justru tidur saat semua orang mengerjakan ujian dengan begitu kesulitan.


Furya yang merasa tatapan tak menyenangkan dari sebagian murid juga cuek dan tak mempedulikan itu.


Bahkan pak Bambang yang melihat Furya tidur-tiduran juga diam dan asik main hp.


Sampai saat sedang tidur, Jamal menghubungi kembali.


“Lapor bos, jawaban nomor 7,9,12,23,26 apa ya?”


“C,D,A,A,B!” Jawab Furya pelan.


Jamal yang mempercayai sang sahabat tanpa berfikir langsung memilih dan mengisi soal ujian.


Apa yang Furya katakan tak ia tanya kembali karena memang Jamal sangat mempercayai sang sahabat baik.


Di tambah Furya yang seperti menyembunyikan hal besar makin meyakinkan Jamal kalau jawaban dari Furya tak mungkin salah.


Setelah 2 jam yang melelahkan, akhirnya bel tanda ujian selesai berbunyi.


Furya yang mendengar bel tanda pulang sekolah langsung meregangkan badan dan mengumpulkan kertas ujian sama seperti murid lainnya.


“Oke sini kumpulin semua kertas ujian kalian.”


“Ingat ya besok mata pelajaran IPS dan Bahasa Indonesia. Jadi baca ulang buku catatan kalian dan pastikan habis ini langsung pulang, jangan keluyuran ya. Terutama untuk anak kelas D.”


Pak Bambang yang sudah menerima kertas ujian para muridnya terlihat duduk dan mengecek beberapa dokumen.


Saat di lorong kelas, Boby yang satu kelas mengajak Furya untuk nongkrong kembali di markas besar Broterhood.


“Woi nyet, yuk ke markas.”


Di ajak Boby, Furya yang siang itu mau langsung ke toko piano menolak dengan halus sambil tetap berjalan.


“Besok deh Bob, hari ini aku ada urusan.”


“Yaelah, paling juga pacaran...”


Tanpa membalas perkataan Boby, Furya tetap berjalan pelan menuju parkiran motor.


Tak lama menunggu, Sherly datang dan tersenyum ke arahnya.


“Gimana. Ujian. Kamu. Aman. Gak?”


“Aman, liat aja besok pas pengumuman. Mungkin kamu bakalan terkejut.”


“Heeeh. Cuman. Nilai. Kamu. Gak. Bakalan. Lebih. Tinggi. Dariku. Hehehe!”


“Iya iya, terus kamu mau pulang dulu apa ngikut aku ke Jaksel?”


Sherly yang di tanya terlihat sedikit bingung dan balik nanya dengan bahasa isyarat tangan.


“Emang. Kamu. Mau. Ngapain. Ke. Sana?”

__ADS_1


“Aku mau ngambil balik piano ayahku yang dulu di gadai.”


Sherly yang saat kecil sering bermain di rumah sang kekasih bahkan masih ingat dengan piano yang Furya maksud.


Karena itu ia ingin ikut dan siang itu juga Furya bersama Sherly pergi ke Jakarta Selatan.


Sherly yang di bonceng sang kekasih terihat menempel dan tak mau lepas.


Sampai setelah 1 jam berkendara, mereka sampai di depan toko music yang masih Furya ingat.


“Kalu gak salah ini deh tokonya, cuman kok jadi besar gini sih?”


“Coba. Aja. Masuk. Dulu. mungkin. Yang. Punya. Masih. Sama!”


Setelah memarkirkan motor, Furya di temani Sherly langsung memasuki toko music yang terlihat berkelas dan besar.


Toko music yang menyewa 5 ruko 3 laintai sekaligus itu terlihat begitu modern bahkan di sana ada kelas musicnya juga.


Dulu saat masih kecil, Furya ingat sekali tempat itu tak begtu besar seperti sekarang.


Baru saja masuk, mereka langsung bertemu karyawan toko yang duduk di bagian depan.


Melihat ada anak sekolah yang datang, mbak karyawan langsung berdiri dan menyambut mereka.


“Siang dek, ada yang bisa saya bantu?”


“Mbak, ini bener toko music Devan?”


Karyawan yang mendengar ucapan Furya menjadi kebingungan dan langsung bertanya kembali.


“Waduh kurang tau juga. Ini tempat khusus sekolah music Yamaha. Tapi nama pemiliknya bener pak Devan. Emang ada perlu apa ya dek?”


“Jadi gini mbak...”


Akhirnya Furya menceritakan keperluannya datang ke sana.


Mbak karyawan juga tak bisa membantu banyak soal piano tua yang Furya ceritakan.


Memang tempat itu selain menjadi sekolah music juga menjual banyak alat music seperti gitar, Violin dll. Tapi kalau piano yang Furya katakan ia tak pernah lihat.


“Gini aja dek, bentar lagi mungkin pak Devan datang. Dia datang abis makan siang biasanya.”


“Ohhh gitu ya mbak. Yaudah saya bisa nunggu di sini gak mbak?”


“Boleh dong, duduk aja. Kalo mau juga bisa lihat-lihat di toko sebelah!”


“Di sana lengkap ada alat music clasic dan moder semuanya ada. Mungkin adek mau liat-liat dulu sambil nunggu.”


Sherly yang mendengar itu terlihat sedikit tertarik.


Furya yang juga menyikai music akhirnya mengikuti saran mbak karyawan dan langsung ke toko sebelah yang masih satu ruko.


“Wihhh, banyak banget alat musicnya, bagus-bagus lagi. Sher kalau kamu mau pilih aja nanti aku beliin?”


“Beneran?” Tanya Sherly dengan bahaa isyarat tangan.


“Iya...”


“Hehehe. Makasih. Sayang!”

__ADS_1


Meskipun menyukai music, Furya tak begitu tertarik melihat barang-barang mewah yang ada di sana.


Jika ada yang membuatnya ingin membeli, itu tak lain adalah piano tua peninggalan sang ayah yang sempat tergadai saat ia kecil dulu.


__ADS_2