
Furya yang kaget karena banyak tetangganya yang datang berkunjung juga di buat kewalahan.
Jujur saja ia sudah meremehkan jarangan informasi ibu-ibu rumah tangga yang cepat bagai intel.
Bahkan rombongan ibu-ibu pengajian di daerahnya juga ikut hadir dan berdoa untuk kesembuhan sang ibu hari itu.
Untungnya pak Hery dan keluarga Sherly sekali lagi membantu dan sudah menyiapkan banyak makanan untuk para tamu.
Furya di sini sekali lagi menyadari kalau dirinya masihlah seorang bocah dan tak memikirkan sampai ke hal-hal mendasar seperti itu.
Setelah kunjungan terakhir, Furya sebagai anak sulung yang jelas ikut menyambut para tetangga dan tamu akhirnya bisa bernafas lega.
Sherly yang ada di sana dan melihat sang kekasih kewalahan hanya tersenyum dan meyemangatinya.
“Semangat. Dong. Jangan. Lemes. Gitu!”
“Hehehe, makasih ya udah bantuin lagi.”
Malam harinya Furya dan kedua adiknya akhirnya bisa merasakan kembali masakan seorang ibu yang begitu nikmat.
Sudah 1 tahun lebih ia tak mencicipi masakan sang ibu yang di sukainya.
Meskipun sederhana dan hanya ayam sambal dan sayur brokoli tumis, tapi rasanya jauh lebih nikmat dari restoran berbintang.
“EEEEKKKK, kenyang.” kata Ren yang perutnya kembung kekenyangan.
Furya dan keluarganya yang bisa berkumpul lagi dan makan bersama di meja makan kayu sederhana terlihat begitu bahagia.
Karena besok senin, sang ibu yang tau anak-anaknya masih sekolah bertanya pada Furya.
“Gimana sekolah kamu?”
“Baik kok ma, besok juga Furya udah ujian semester.”
“Ohh udah mulai ujian. Yaudah sana belajar.”
“Ren juga sana belajar jangan main game mulu!”
Furya yang jujur saja tak pernah belajar di rumah hanya menurut dan pergi ke kamarnya.
Ren yang asik main hp juga kembali ke kamar bersama Yuki dan belajar di temani sang ibu.
Furya sebagai kakak yang sibuk memang tak pernah mendesak adik-adiknya untuk belajar.
Bahkan ia cenderung membebaskan karena itu nilai kedua adiknya tak begitu bagus.
Tapi karena sudah ada yang akan membimbing, Furya bisa melepaskan salah satu beban di pikirannya kembali.
“Huuh, meskipun sudah punya sistem tapi setidaknya aku harus belajar dan mendapatkan nilai dari hasil kerja kerasku sendiri!” Kata Furya dalam hati dengan begitu percaya diri.
Meskipun tau ia bisa menggunakan cara curang, Furya tetap memilih belajar.
Jika tidak terpaksa, ia tak akan menggunakan kelebihan sistem hanya demi sebuah nilai ujian.
Karena memang besoknya sudah mulai ujian, Sherly yang berada di kelas A juga sama dan belajar di rumahnya.
__ADS_1
Ia yang sering absen harus mendapatkan nilai yang tinggi di ujian agar tetap berada di kelas A.
Untungnya Sherly yang anak rumahan memang suka belajar dan memang sedikit lebih pintar dalam pelajaran jika di bandingkan sang pacar.
Setelah lelah belajar, atau lebih tepatnya bosan, Furya melawan prinsipnya sendri dan memilih rebahan.
Meskipun sempat bertekat akan mengerjakan soal ujian dengan cara benar, nyatanya ia tetap bergantung pada cheat terhebat yaitu sistem.
*****
Sampai pagi hari tiba dan Furya terbangun bukan karena alarm tapi karena aroma masakan yang ibunya buat.
“Sistem, Chek In.”
[Ding! selamat tuan berhasil Check In hari ke 8]
[Selamat tuan mendapatkan hadiah 8.000 Perfection Poin]
Setelah Check In, Furya langsung ke dapur dan di sana ia melihat ibunya begitu bersemangat untuk menyiapakan sarapan pagi.
Untungnya kemarin malam sang ibu sempat belanja di minimarket bersama buk Dinda.
“Pagi ma...”
“Ehhh Furya. Cepet banget kamu bangun pai gini?”
“Hehehe...maklum ma, Furya mau joging pagi.”
“Ohhh, hati-hati ya jangan terlalu ke tengah. Terus nanti pas pulang ini makanannya pasti udah siap.”
“Sep, jadi gak sabar Furya mau makan masakan mama lagi!”
Berbeda dengan paginya yang sepi, kini sang ibu sudah hadir dan menemani.
Furya yang ingin olahraga tanpa menunggu lagi langsung cabut.
Jika biasaya ia dapat memutari jalan sudirman yang luas dan panjang sebanyak 5 kali dalam 1 jam, kini sistem aktif seperti mengetes seberapa jauh ia tumbuh dan memeberikan misi kurang ajar.
[Ding! selamat tuan menerima misi baru]
[Kelilingi jalan sudirman sebanyak 20 kali dalam 1 jam, hadiah 12.000 Perfection Poin]
Furya yang sedang berjalan santai langsung terkejut mendengar suara misi yang aktif.
20 kali berkeliling, jumlahnya tak main-main dan Furya yang sadar ia harus mengeluarkran semua kekuatan dan bekerja serius tanpa pikir panjang lagi langsung berlari kencang.
Dari detik awal ia sudah berlari secepat kilat dan tak menahan diri.
Kecepatan larinya jika di perkirakan sudah menyamai atau bahkan melampaui pelari tercepat manusia yaitu Usain Bolt.
Jika saja dirinya mengikuti olimpiade lari internasional, sudah dapat di pastikan Furya akan menjadi juara satu.
Beberapa pengendara motor dan mobil yang pagi itu ada di jalan juga di buat kaget dan terkejut.
Melihat seorang pemuda berlari sangat cepat dengan penutup kepala, mereka hanya bisa bengong.
__ADS_1
Bahkan ada bapak-bapak yang menaiki motor di salip oleh Furya yang kecepatan larinya sudah di luar nalar.
“Huuu...Haaa...Huuu...”
“Huuu...Haaa...Huuu...”
Sambil mengambil nafas teratur dan menjaga tempo kecepatannya, Furya yakin ia bisa menyelesaiakn misi yang di berikan sistem.
Setau Furya, sistem tak akan pernah memberikan misi yang tak mampu ia kerjakan.
Ada kalanya misi sangat mudah dan terkadang sangat sulit.
Inilah misi yang sulit dan ia yang membutuhkan Poin akan berusaha dan berjuang sampai titik batas terakhir.
“Huuu...Haaa...Huuu...”
“Huuu...Haaa...Huuu...”
“Ayoo Furya...sedikit lagi!”
Tanpa mempedulikan sekitar dan tatapan orang lain ke arahnya, Furya terus berlari kencang.
Di jalur khusus pejalan kaki, beberapa orang lain yang sedang olahraga juga di buat syok karena Furya sudah beberapa kali melewati mereka.
Untungnya penutup kepala di jaketnya dapat menyembunyikan wajah Furya dan dengan itu ia tak terlalu khawatir menarik banyak perhatian.
Sampai di menit terakhir, Furya yang melihat jarak dan waktu yang di tempunya masih jauh hampir di buat menyerah.
Bisa di bilang misi kali ini benar-benar gila sampai ia harus mengeluakran semua kemampuannya.
Untungnya Furya yang rajin olahraga beberapa hari ini membuat tubuhnya lebih rileks dan tak tak kaku.
Tapi tetap saja, saat ini tubuhnya sudah hampir mencapai batas akhir.
“Sialan, dikit lagi...”
“Ayo bergeraklah...”
Di detik-detik terakhir, Furya yang persendian kakinya sakit dan tubuhnya panas dingin hampir di buat menyerah.
Keringatnya juga sudah terlampau banyak dan membuat semua pakaiannya basah dan dingin.
Pandangannya bahkan sudah mulai kabur karena sudah berlari kencang tanpa henti hampir 1 jam lamanya.
“Sialan...sialan...sialan...”
Merasakan jantungnya yang mulai sakit dan berdetak cepat melebihi batas, Furya yang tak menyangka misi kali ini terlalu sulit untuk ia kerjakan tak menyerah dan terus berusaha.
Bisa saja ia membeli sebuah potion di toko sistem. Tapi semua poinnya telah habis membeli Water Of Life untuk sang ibu.
Ditambah ia juga menabung kembali demi kesembuhan sang pacar dan harga potion penambah stamina yang di jual sistem juga tak murah dan harganya 5.000 Poin.
Apalagi hanya tinggal beberapa meter saja dan sangat sayang rasanya membuang 5 ribu poin berharga miliknya.
Demi berhemat, di detik-detik terakhir, Furya melawan dirinya sendiri dan akhirnya tanpa sadar melampaui “Batas” dirinya.
__ADS_1
Sempat tersirat wajah sang pacar dalam benaknya yang membuat larinya bahkan menjadi makin cepat dan gila.
Entah sadar atau tidak, Furya berlari sangat cepat bagai peluru dan mungkin sudah melampaui kecepatan semua mahkluk bumi di daratan.