Perfection System

Perfection System
Khusus Untukmu


__ADS_3

Dari siang sampai sore, Furya menemani sang ibu yang baru saja siuman di kamarnya.


Sherly dan keluarganya yang memang dekat sepeti keluarga sendiri juga ada di sana.


Semua orang terlihat begitu bahagia. Tapi sang ibu yang tak melihat suaminya akhirnya bertanya kepada anak sulungnya.


“Furya, papa mana?”


Furya dan semua orang yang mendengar perkataan buk Reni langsung terdiam dan termenung.


Tentu saja sang ibu belum mengetahui kalau sang suami sudah meninggal dunia.


Furya yang di tanya bahkan bingung harus menjawab apa.


Matanya yang sudah merah terlihat makin sedih dan hampir menangis kembali.


Pak Herly yang melihat Furya diam dan ragu untuk menjawab langsung memegang pundaknya.


Melihat pak Hery yang mendukungnya, Furya menatap kembali mata sang ibu dan mulai berbicara.


“Ma...”


“Papa...Papa udah gak ada ma...”


Buk Reni yang mendengar ucapan sang anak sulung diam sesaat dan mencoba untuk tetap tenang.


Ia mencoba untuk tetap tersenyum karena tak ingin membuat suasana yang awalnya gembira menjadi sedih.


Tapi tetap saja, hati tak bisa di bohongi dan sang ibu yang tak kuasa menahan air matanya akhirnya menangis kembali.


Ren yang melihat ibunya menangis langsung memeluk sang ibu dan menenangkan.


“Mama gak usah nangis. Kan disini masih ada Ren sama Yuki. Terus kak Furya juga masih ada!”


Furya yang melihat si bandel menunjukkan kehebatannya langsung mengelap air matanya yang sudah menetes bagai hujan.


Dirinya yang lebih tua saat itu seperti di pukul keras tepat di pipi.


Bisa-bisanya dirinya menangis cengeng di saat sang ibu butuh hiburan.


Karena itu juga Furya ikut memeluk sang ibu dan menenangkannya.


“Jangan nangis lagi ma. Furya...Furya janji akan jadi anak yang bisa Mama dan Papa banggakan!”


Melihat kedua anak lelakinya yang hebat mencoba menghibur dirinya, sang ibu akhirnya jadi sedikit lebih baik.


Yuki si adik bungsu yang melihat itu akhirnya juga ikutan nangis.


Melihat si kecil manja menangis, sang ibu yang sudah mendengar fakta kalau suaminya telah tiada langsung memeluk Yuki.


Ia yang sadar sudah lama menelantarkan anak-anaknya mencoba menguatkan dirinya dan tak boleh terlarut dalam kesedihan.


Setelah keadaan makin membaik, Furya yang sore itu juga ingin membawa sang ibu pulang di hentikan oleh dokter Dedi.


Karena baru siuman, sang ibu tetap harus menjalani beberapa tes kesehatan.


Furya yang sebenarnya sudah tau kalau semua tes yang di katakan dokter Dedi tak di perlukan juga awalnya menolak keras.


Tapi untuk menunjukkan rasa terimakasihnya karena sudah 1 tahun sang ibu di rawat dan di jaga dengan baik di sana, Furya akhirnya mengalah.


“Maaf ya Furya, ini semua memang harus di lakukan untuk kebaikan ibumu juga. Mungkin besok baru ibumu sudah boleh pulang setelah semua tes kesehatan selesai.”


“Baiklah dok, kalau begitu saya mohon kerjasamanya.”


Hari itu, dari siang sampai malam, Furya dan kedua adiknya hanya menemani sang ibu yang sudah tersadar di kamarnya.


Karena besok sang ibu baru boleh pulang, Furya yang sadar keadaan rumahnya seperti genteng bocor berniat pulang lebih dulu untuk merapikan kamar dan beberapa tempat.


“Ren, kamu mau tidur di sini apa ikut pulang?”

__ADS_1


“Ren mau bobok di sini sama mama kak.”


“Iya kak, Yuki juga mau tidur di sini.”


Buk Dinda yang tau Furya khawatir juga menenangkan dan memastikan kedua adiknya akan baik-baik saja di sana.


Pak Hery yang tau Furya pasti akan sangat sibuk juga menyuruhnya pulang dan istirahat.


“Udah gpp, yang di sini serahin sama om. Kamu pulang aja beresin rumah sama Sherly sana!”


Seperti mengetahui keinginannya, Furya akhirnya izin pulang lebih dulu.


Sherly yang ingin membantu sang pacar juga ikutan pulang.


Setelah izin pamit dengan sang ibu, Furya dan Sherly akhirnya pulang ke rumahnya.


Saat sampai di rumah, Furya yang pergi ke kamar adiknya hanya bisa geleng-geleng kepala karena malam itu sepertinya akan menjadi malam yang panjang.


Baru saja mau mulai merapikan kamar, seperti menyemangati dirinya, Furya mendapatkan misi baru.


[Ding! Selamat tuan menerima misi baru]


[Bersihkan dan Rapikan semua barang yang berserakan di rumah tuan sampai tengah malam, hadiah 12.000 Perfection Poin]


Furya yang menerima misi dan melihat rumahnya seperti kapal pecah langsung gerak cepat dan membereskan segala kekacauan.


Di bantu Sherly, semuanya ia bersihkan.


Sherly yang melihat rumah sang kekasih sangat kotor dan jorok hanya bisa geleng-geleng.


Meskipun ia sudah sering mampir dan membantu membersihkan jika ada waktu luang, tetap saja di sebagian tempat debu dan sampah masih menumpuk.


Bahkan di kamar dan bawah kolong tempat tidur sang kekasih sendiri terlihat sangat kotor dan menjijikan.


“Kamu. Ini. Jorok. Banget. Sih. Masa. Sampah. Di. Tumpuk. Di. Bawah. Tempat. Tidur!”


Dari awal magrib sampai jam 9 malam, Furya dan Sherly membersihkan rumah yang berantakan seperti kapal pecah.


Sampai setelah semuanya hampir bersih dan di rapikan, Furya dan Sherly yang kelelahan akhirnya duduk dan beristirahat sejenak.


Ruangan dan kamar adiknya yang awalnya kotor juga sudah bersih dan rapi.


Seprai yang bau juga sudah di ganti dengan milik keluarga Sherly yang bersih.


Furya yang memiliki banyak uang akhirnya sadar kalau dirinya masih sangat amatiran dalam mengelolah keuangan.


Ada begitu banyak hal mendasar yang tak ia perhatikan dan sebenarnya sangat penting.


“Huuh...”


Melihat sang kekasih yang kelelahan dan berkeringat, Furya yang menatap tubuh Sherly yang menggunakan tengtop bening tipis di buat sedikit melirik.


Meskipun tak terlalu besar, tetap saja boba berkeringat itu sangat menggoda.


Di tatap cabul oleh sang kekasih, Sherly yang sudah kelelahan dan kehabisan tenaga hanya menatap langit-langit kamar.


Sadar atau tidak, mereka kini berada di dalam kamar dan sedang berdua saja di rumah.


Tapi Furya bukan pria tak beradap yang akan terus curi-curi pandang.


Meskipun misi belum selesai, melihat Sherly yang kelelahan iapun memutuskan pergi ke minimarket untuk membeli minuman dingin.


“Ke minimarket Yuk, enak ini minum dingin-dingin.”


“Aku. Masih. Capek. Kamu. Aja. Yang. Beli. Aku. Nunggu. Di. Sini!”


“Ohhh, yaudah kamu mau minum apa?”


“Aku. Air. Putih. Aja.”

__ADS_1


Furya yang di kulkasnya tak ada apa-apa bahkan air putih dingin akhirnya pergi ke minimarket sendirian.


Setelah membeli beberapa minuman dan cemilan di minimarket dekat rumahnya, Furya yang kembali langsung meminum air dingin dan memakan beberapa cemilan yang di beli bersama sang pacar.


Sehabis minum dan istirahat yang cukup, Furya yang belum menyelesaikan misi melanjutkan perkejaannya.


Sherly yang lemah dan mudah lelah bahkan sudah tertidur pulas dan tak membantu lagi.


Tapi Furya yang tak ingin membebani sang pacar lebih dari itu melanjutkan hal yang belum tuntas sendirian.


Sesekali pak Hery juga menelepon dan menanyakan keadaan mereka.


“Huuuh...dua jam lagi Furya, ayo semangat!”


Meskipun lelah, Furya yang membutuhkan Poin tak berhenti dan tetap bersemangat.


Karena besok minggu, jangankan sampai tengah malam, sampai pagi saja akan ia kerjakan.


Dirinya yang masih membutuhkan Poin tak bisa berleha-leha.


Masih ada satu orang lagi yang harus ia sembuhkan dan misi harus di selesaikan demi Poin.


Sampai akhirnya di waktu yang berdekatan dengan tengah malam, Furya akhirnya berhasil membereskan rumahnya yang berantakan dan menyelesaikan misi.


[Ding! Selamat tuan berhasil menyelesaikan misi]


[Selamat tuan menerima hadiah 12.000 Perfection Poin]


“Akhirnya selesai....” kata Furya yang langsung duduk dan tiduran di bawah lantai.


Setelah istirahat sebentar, ia yang melihat sang pacar tertidur nyenyak di dalam kamar akhirnya mendekati Sherly.


Melihat tubuh Sherly yang hanya menggunaan tengtop polos, Furya makin di buat tak tahan.


“Aduh, Tahan-tahan. Inget Furya, belum waktunya!”


Karena sudah terlalu malam, Furya yang di telpon kembali oleh ayah Sherly akhirnya membangunkan sang pacar.


Sherly yang kelelahan dan tertidur nyenyak tak bangun-bangun dan membuatnya kebingungan.


“Sher...bangun Sher...”


“Sherly...”


Sherly yang tidur kayak kebo membuat sang pacar pusing. Untung saja setelah di paksa bangun sambil di geser-geser sedikit, Sherly akhirnya terbangun.


“Akhirnya bangun juga. Jangan tidur di sini, ayahmu nyariin tuh. Yuk pulang!”


Melihat wajah sang pacar dan menyadari dirinya ketiduran, Sherly yang mengantuk mau tak mau berdiri dan cuci muka ke kamar mandi.


Setelah cuci muka, Sherly di temani Furya pulang ke rumahnya.


Melihat Sherly yang mengantuk dan jalan sempoyongan, Furya hanya bisa tertawa.


Biasanya Sherly yang anak rumahan pasti sudah tertidur maksimal jam 10 malam.


Tapi karena membantu dirinya, sang kekasih sampai kelelahan dan mengantuk begitu.


Karena itu Furya yang sudah di bantu langsung berniat menggendong sang pacar.


“Mau di gendong kayak dulu gak?”


Sherly yang mendengar perkataan sang pacar dan badanya lelah tanpa pikir lagi langsung naik ke atas punggung Furya.


Dulu saat masih kecil, setelah pulang bermain sore hari pasti Sherly sering minta di gendong.


Tapi yang namanya manusia pasti makin lama makin besar dan seiring bertambahnya usia, mereka tak pernah melakukan hal memalukan itu lagi.


Tapi malam itu, khusus untuk sang pacar tercinta, Furya melupakan gengsi dan melakukan hal memalukan itu lagi.

__ADS_1


__ADS_2