Perfection System

Perfection System
Jangan Sentuh Wanitaku


__ADS_3

Setelah itu Furya pulang naik motor bersama Sherly. Sejak pagi sampai siang Furya merasa sedikit aneh karena Sherly full senyum.


Tapi ia yang polos dan tak peka hanya menganggap Sherly sedang senang saja dan tak memikirkan apa-apa.


Saat sampai di depan rumah Sherly, sang pacar langsung turun dan menatap ke arah Furya sambil cengengesan.


“Dah...nanti aku mampir ke cafe. Aku mau ganti baju dulu.”


“Oke...”


Melihat lagi-lagi Sherly tersenyum manis, Furya menjadi heran kembali.


“Kenapa sih tuh anak senyum-senyum mulu!” Batin Furya.


Sesampainya Furya di rumah, terlihat keadaan luar rumahnya makin berantakan karena memang pak Toleh dan beberapa kuli sedang bekerja.


Melihat Devan ternyata ada di sana dan sedang mengobrol dengan Nando, Furya hanya tersenyum dan menyapa ramah


Karena sekilas tadi ia melihat cafe Shery sangat ramai, Furya berniat langsung ke sana dan sedikit membantu.


Maklum, sampai sekarang Furya juga belum bisa membalas semua kebaikan keluarga sang kekasih.


Jika di lihat keluarga Sherly memang tak kekurangan hal apapun.


Furya yang memiliki banyak uang juga takut menyinggung pak Hery jika main kasih uang.


Setidaknya ia akan membantu secara normal terlebih dahulu dan ketika benar-benar memerlukan bantuan, maka Furya akan membantu dengan uangnya.


Setelah ganti baju, Furya langsung keluar kamar dan berniat langsung pergi ke cafe Sherly.


Melihat Devan yang masih ada di sana, sebelum pergi Furya mendekat ke arah Nando dan sedikit berbisik padanya.


“Om, jangan sampai si Devan ketemu mama sampai ngajak mama jalan-jalan!”


“Pokoknya buat dia sibuk dan pastikan gak bisa deketin mama!”


Di bisikkan oleh Furya, Nando yang merasa anak kakaknya itu belum siap untuk menerima sosok orang yang dapat menggantikan ayahnya langsung mengerti dan menganguk.


Devan yang melihat Furya juga tersenyum dan menyapa.


“Mau kemana rapi begitu?”


“Mau ke rumah pak Hery om.”


“Ohhh, pasti mau ngapel ya?”


“Iya om. Sekalian ngapel juga sih, hehehe.”


Karena sempat bertemu Furya dan Sherly anak pak Hery di kantornya, Devan juga sudah tau kalau mereka berpacaran.


Furya yang tak suka dengan Davan hanya bisa bersandiwara dan tetap bersikap ramah.


Tapi tetap, ia tak akan pernah membiarkan Devan ataupun pria lain mendekati ibunya.

__ADS_1


Setelah itu Furya langsung berjalan menuju rumah Sherly.


Di parkiran cafe Sherly yang cukup luas, adik lelakinya juga sedang bermain motor mini dengan anak-anak komplek lain.


Melihat sang kakak yang datang, Ren langsung mendekat.


“Kak minta duit! Ren mau beli minum.”


Di palak oleh sang adik, Furya langsung mengeluarkan uang seratus ribu dan memberikannya.


“Nih, beliin temen-temenmu juga. Ingat ya mainnya jangan ke jalan besar.”


“Hehehe, oke kak.”


“Woi...yuk beli minum dulu.” Teriak Ren sambil memamerkan uang merah seratus ribu ke arah teman-temannya.


Setelah itu Furya langsung masuk ke dalam cafe Sherly.


Melihat ada banyak pelanggan, Furya hanya tersenyum dan menyusul ke bagian dapur.


Di sana pak Hery yang keteteran langsung ia bantu.


“Aduh, jadi gak enak om di bantuin terus.”


“Hehehe, gpp kok om. Furya juga senggang.”


Furya yang membantu pak Hery menggoreng ayam di dapur menunggu-nunggu misi dari sistem.


Ia yang sedikit lagi berhasil mengumpulkan 100 ribu poin berharap misi bisa aktif.


Karena itu Furya mencoba mengganti suasana dan membantu bagian depan.


“Kayaknya di depan makin ramai tuh, Furya bantuin di sana dulu ya om.”


“Ohhh, yaudah gpp. Masih bisa om handel di sini.”


Furya yang melihat buk Dinda sibuk di kasir dan Sherly yang sudah bolak-balik mengantar pesanan langsung mendekati rombongan pelanggan yang baru saja datang.


Melihat ada rombongan besar sekitar 6 orang, Furya langsung mendekat sambil membawa daftar menu.


“Siang bang, mau pesen apa?”


Di tanya oleh Furya, 6 orang pria berbadan besar dan sepertinya habis berolahraga itu memesan banyak makanan berdaging.


“Udah bang itu aja?”


“Itu aja dulu, nanti kalo mau nambah kami panggil lagi.”


“Oke bang sebentar ya...”


Setelah itu Furya kembali ke dapur dan membantu pak Hery mempersiapakan pesanan baru.


Melihat Shery yang kelelahan bolak-balik, Furya hanya tersenyum dari jauh dan menyemangatinya.

__ADS_1


Belum selesai Furya membuat pesanan 6 orang tadi, rombongan lain yang sepertinya satu keluarga datang dan iapun langsung buru-buru ke depan.


Furya yang tau sang pacar bisu dan tak bisa melayani pelanggan tanpa di suruh bergerak terlebih dulu.


Apalagi ada banyak sekali pesanan online dan grabfood yang mengantri makin membuat buk Dinda kerepotan di kasir.


Saat Furya sedang melayani tamu lain yang baru saja datang, Sherly yang mengantarkan minuman pesanan 6 orang tadi sedikit di goda.


“Halo cantik, siapa namanya?”


Di goda oleh pelanggan, Sherly yang sudah sering di perlakukan seperti itu hanya tersenyum ramah.


Furya yang memiliki pendengaran super dapat mendengar dengan jelas ada pria lain yang mencoba menggoda pacarnya.


Tapi ia yang sibuk tak bisa berbuat banyak dan fokus pada tamu lain.


“Ihhh, sombong amat sih di tanyain diem aja.”


“Duduk sini dulu dong temenin abang makan.”


Di tarik oleh salah satu pelanggan, Sherly mencoba melawan dan melepaskan tangan pria yang menariknya.


Entah karena apa salah satu dari 6 orang itu seperti sangat menyukai Sherly dan mulai bersikap tak sopan.


5 di antaranya juga diam saja dan justru tertawa seperti tak melakukan kejahatan.


Sherly yang tubuhnya kecil dan lemah mencoba melepaskan tangan pria besar itu yang menarik tangan kanannya.


Karena keadaan ramai dan kedua orangtuanya sibuk, Sherly yang bisu bingung harus meminta bantuan ke siapa.


“Ayo dong duduk di sini dulu cantik, temenin abang makan siang.”


Di tarik paksa, Sherly sangat ketakutan dan mencoba meminta pertolongan Furya.


Tapi seperti tak perlu ia minta, Furya tiba-tiba saja sudah ada di sampingnya dan mencengkram balik tangan pria yang menariknya.


“Hoi, lepasin tanganya!”


Kaget melihat Furya yang tiba-tiba saja ada di sana dan menatap serta mencengram pergelangan tangannya dengan kuat, pria besar itu menjadi tak senang.


Ia yang hanya ingin mengenal lebih dekat wanita cantik yang di temuninya yaitu Sherly balik menatap Furya dan langsung berdiri.


“Ada masalah apa pria kecil? Lakukan saja pekerjaanmu dengan benar dan jangan mencampuri urusanku!”


Furya yang tubuhnya kalah besar dengan pria yang berdiri di hadapannya tak mempedulikan peringatan pria itu dan balik berbicara.


“Lepaskan tanganmu atau ku patahkan!”


Mendengar ucapan Furya, pria itu terlihat sangat marah.


Teman-temannya yang lain juga sama dan ke 6 orang itu menatap Furya sambil tersenyum jahat seperti menatap mainan kecil.


“Kenapa kalau aku tak mau melepaskannya? Apa yang bisa kau lakukan ha?”

__ADS_1


Seperti semua peringatannya di hiraukan, Furya yang mencengram pergelangan tangan pria besar dan berotot itu akhirnya membuktikan perkataanya dengan tindakan.


Dengan kekuatan penuh, Furya mencengram dan meremukkan tulang pria itu seperti kapas.


__ADS_2