
Di kantin bude yang masih sepi, Furya dan Sherly ditemani Chika langsung duduk dan memesan makanan.
Sherly yang merupakan murid kelas A sangat senang dengan pencapaian Furya yang berhasil menjadi juara umun di ujian semester kali itu.
Tapi yang paling membuatnya senang bukanlah Furya yang menempati posisi pertama melainkan Furya yang akan segera pindah ke kelas A.
Sadar atau tidak, ada satu peraturan spesial bagi setiap murid yang berhasil masuk 10 besar peringkat tertinggi tiap ujian semester.
Itu adalah hak khusus untuk menentukan kelas mana yang mereka inginkan.
Sangat jarang ada murid yang bisa masuk 10 besar jika bukan dari kelas A.
Maka peraturan ini banyak yang lupa atau bahkan tak tau. Furya adalah salah satunya yang tak begitu ingat.
Sambil makan, Furya yang melihat pacarnya sangat senang lebih banyak diam.
Tentu saja ia sangat ingin satu kelas dengan Sherly.
Ia yang dulu ada di kels B bahkan sempat berjanji akan menyusul Sherly ke kelas impian.
Tapi jauh di lubuk hatinya paling dalam, Furya lebih suka untuk tetap berada di kelas D.
Itu semua tak lain karena di kelas inilah ia akhirnya mengerti arti sesungguhnya dari seorang teman dan sahabat.
Karena itu ia menjadi khawatir Sherly akan merajuk jika ia tak ingin pindah kelas.
“Yang, kamu kok diem aja sih, lagi mikirin apa?”
“Gak ada, aku cuman...”
“Ohh iya, habis ini kita langsung ke ruang guru yok. Biar ku temenin sekalian ngomong soal pindahan kelas kamu.”
Furya yang mendengar perkataan Sherly hanya tersenyum dan mengangguk pelan.
Ia belum berani mengatakan apa yang ada di hatinya saat itu kepada sang pacar kalau ia lebih ingin tetap berada di kelas D.
Saat Furya sedang asik makan, rombongan kelas 2D datang dan langsung menyerbunya.
“Ini dia...”
“Woi, main kabur aja!” Teriak Boby yang mendekat.
Furya yang sudah membuat kehebohan di SIS terlihat biasa saja dan santai.
Padahal hampir semua murid menjadi heboh karena seseorang dari kelas D menjadi peringkat pertama dalam ujian semester dengan nilai sempurna.
Di dekati teman-temannya, Furya hanya bisa pasrah di puji dan di sanjung-sanjung.
“Hahaha, puas banget aku lihat muka-muka anak kelas A” Kata Ali.
“Bener tuh, akhirnya ada dari kelas lain yang bisa ngalahin orang-orang sombong itu.” Lanjut Dayat yang juga masih satu kelas dengan Furya.
“Apalagi jagoannya dari kelas kita guys, hahaha.” Lanjut Ardhi yang tertawa lepas.
Bahkan bukan hanya mereka, kantin yang makin penuh dan lebih banyak di isi kelas rendahan juga membicarakan hal yang sama.
Semua orang sedang mencemooh anak-anak kelas A yang akhirnya bisa di bungkam.
Sherly dan Chika yang merupakan anak kelas A terlihat sedikit tak senang dengan apa yang di katakan anak-anak kelas B, C, bahkan D.
Bagi mereka yang belajar mati-matian untuk tetap berada di kelas populer, perkataan seperti itu terasa sangat tak benar.
Tak semua orang di kelas A sombong dan kebanyakan dari mereka juga sama dengan yang lain dan berjuang lebih ekstra dari pada hanya bisa menceloteh saja.
Furya yang di dekati dan di sanjung-sanjung kelas lain hanya bisa cengengesan dan sok merendah.
“Mantap Furya, akhirnya ada juga yang bisa nyumpel mulut-mulut anak kelas A.”
__ADS_1
“Hahaha, bener puas banget aku.”
“Opss...guys, Ada yang denger tuh nanti di kaduin lagi, hahaha.” Kata murid dari kelas lain.
Furya yang melihat makin lama orang-orang makin menjadi-jadi hanya diam saja dan tak terlalu merespon.
Ia juga mencoba menenangkan Sherly yang mulai di intimidasi. Setelah makan, Furya langsung di ajak Sherlly ke ruang guru.
“Yuk yang, kita ke ruang guru sekarang.”
Mendengar itu, teman-teman sekelas Furya mencoba menghentikan karena mereka ingin membahas masalah Festival Olahraga Tahunan besama sang juara.
“Fur, abis ini kita mau ngumpul di kelas.” Kata Ali yang mencoba menahan Furya.
“Bener tuh, kita mau rapat ulang soal festival olahraga besok!” Lanjut Dinda yang juga duduk di dekat Ali.
Sherly yang dekat dengan anak-anak kelas 2D karena sang pacar juga berasal dari kelas 2D hanya bisa diam saat melihat teman-teman sang pacar berusaha menghentikannya.
Melihat Furya yang diam saja, Sherly langsung mengajaknya lagi.
“Mau pergi apa enggak nih?”
Furya yang di buat pusing harus berpihak pada siapa terlihat plin-plan dan membuat Sherly yang tak bodoh langsung mengerti.
Karena itu Sherly yang sudah tau tanpa harus di bilang lebih memilih pergi dari sana.
Melihat Sherly yang pergi di susul Chika, Furya merasa tak enak hati tapi tetap saja tak mungkin baginya menghianati teman-teman sekelasnya saat itu.
Ini bukan lagi soal kelas terbaik ataupun impian melainkan solidaritas Furya terhadap teman-temannya.
Saat dirinya kecelakaan dan susah dulu, banyak teman sekelasnya yang memberikan bantuan baik dari segi materil dan non materil.
Karena itu, setidaknya sampai selesai tahun ajaran ini ia lebih memilih tetap berada di kelas D.
Namun sayang, Sherly yang sudah lama memimpikan dan ingin satu kelas dengan sang pacar tak bisa menerima fakta itu dan memilih pergi.
Setelah makan di kantin, Furya kembali ke kelas 2D dan ikut rapat ulang soal Festival Olahraga Besok.
Salah satunya adalah cerdas cermat yang menjadi lomba bergengsi dan paling populer di sekolah mereka.
“Oke makasih untuk waktunya guys.”
“Inget, besok kita buktikan kepada anak-anak pejabat manja itu kalau kelas D bukanlah sampah dan kelas buangan!” Kata Ali dengan begitu membara di hadapan teman-teman sekelasnya.
Ali yang sebenarnya tak terlalu bodoh juga bisa berakhir di kelas D karena nilai kedisiplinannya rendah dan sering bolos pas kelas 1.
Ia yang dulunya berada di kelas 1A tak begitu suka karena di kelas itu tak terlalu mengasikkan baginya.
Di tambah adanya sosok Bastian yang terlalu bersinar seperti mematikan pesona para pria lain dan itu membuatnya jengkel
Tapi siapa sangka, saat di pindahkan ke kelas buangan ia justru merasa lebih senang dan menjadi sosok yang lebih baik.
Hampir sama kasusnya dengan Furya dan di kelas yang di cap rendah inilah Ali membangkitkan jiwa kepemimpinannya.
Di kelas ini juga ia menjadi ketua kelas sekaligus membentuk Geng Motor Brotherhood.
Furya yang selesai rapat kelas dan sudah bisa pulang langsung menghubungi Sherly.
Tapi seperti yang di takutkannya, sang pacar yang merajuk tak mengangkat panggilan telepon.
Karena itu Furya menuggu Sherly di parkiran agak lama.
“Hadeh, gini nih kalo udah selisih pendapat.” Kata Furya yang bosan menunggu Sherly.
Sampai tak lama akhirnya sang pacar datang dan menemuinya.
Melihat wajah Sherly yang sedikit cemberut, Furya mencoba bersikap ramah dan menghibur sang bidadari egois
__ADS_1
“Akhirnya datang juga.”
“Kenapa sih Sher, jangan marah lah!”
Sherly yang diam saja dan terlihat sangat menyeramkan membuat Furya keringat dingin.
Memang kalau sampai keinginannya tak di penuhi, Sherly yang manja pasti akan merajuk dan memasuki mode Penyihir Kejam.
Furya yang melihat sang pujaan hati ngambek akhirnya menyerah dan sekali lagi mengalah.
“Huuh, Oke-oke aku janji deh kelas 3 nanti kita-”
“Ayo kita taruhan!”
Tapi belum sempat Furya menyelesaikan perkataannya, Sherly langsung memotong dan menantangnya.
“HUUH?”
Furya yang mendengar perkataan Sherly yang cemberut haya bisa makin bingung.
Padahal ia sudah mau mengalah tapi si bidadari egois malah menantangnya.
“Ta-taruhan?...mau ngapain sih pake taruhan segala.”
“Ohhh, jadi kamu takut nih ceritanya?”
Furya yang merasa di remehkan langsung mendekat dan balik berbicara.
“Takut?...”
“Oke aku mau, emang mau taruhan apa?”
“Gini...besok di Festival Olahraga kalau kelas kamu bisa ngalahin kelas aku maka aku gak akan komplain kalau kamu masih mau di kelas D.”
“Kelas mana yang nilai akhirnya paling tinggi yang akan menang. Gimana, Berani gak?” Tantang Sherly.
Furya yang di tantang oleh sang pacar hanya bisa tertawa terbahak-bahak.
Suara tawa Furya menggema kuat dan memenuhi hampir semua tempat parkiran motor.
“Gahahahaha...”
“Hahahaha, Sherly...kamu serius mau nantangin aku?”
“Serius! Kalau kamu sampai kalah maka setelah selesai Festival Olahraga kamu harus mau pindah ke kelas A.”
“Oke! Tapi kalau kamu yang kalah gimana?”
“Itu...kalau kamu menang. Kamu boleh minta apa aja yang kamu mau!”
Jlebb, mendengar ucapan Sherly membuat Furya makin semangat dan membara.
Furya yang di tantang jujur saja tak bisa menahan rasa lucunya.
Baginya yang memiliki cheat terhebat mengalahkan semua kelas akan sangat mudah baginya.
Tapi Sherly yang tak bodoh juga sudah tau ada yang tak beres dengan pacarnya itu.
Jadi sebelum ia menantang, Sherly sudah tau ia akan menang telak.
Inilah ciri khas penyihir kejam yang sempat dilupakan Furya yang sekarang.
Sherly beranggapan tak peduli mau sehebat apapun sang pacar, tak mungkin kelas D bisa menang karena Festival Olahraga adalah nilai dan cerminan dari keseluruhan kelas.
Jadi Furya yang terbatas untuk bergerak tak akan bisa menjamin kelasnya bisa mengalahkan kelas Sherly.
Tapi satu hal yang tak disadari Sherly adalah sang pacar bukanlah manusia biasa.
__ADS_1
Di tambah mendapatkan hadiah satu permintaannya apapun itu akan dikabulkan jika menang, Furya tak akan segan-segan lagi.
Saat itu juga, Furya akan membuat bidadari egois itu menyesal sudah berani menantang dan membuat sang terpillih begitu membara.