
Setelah menenangkan Ren yang hampir menangis, sang ibu keluar kamar dan melihat Devan sudah pergi.
Karena rumah itu kecil sang ibu juga mendengar perkataan kasar Furya yang mengusir Devan.
Melihat ibunya yang mendekat, Furya hanya diam saja dan berniat masuk kamar.
Tapi sang ibu yang tak suka dengan kelakuan anaknya yang kurang ajar dengan orang yang lebih tua berniat menasehatinya.
“Kenapa kamu usir. Kan dia niatnya baik cuman mau ngajak jalan-jalan adik kamu!”
Furya yang mendengar ucapan sang ibu berhenti sejenak dan membalas singkat.
“Gak perlu ma, besok Furya beliin mobil kalo si Ren pengen naik mobil. Terus kita jalan-jalan berempat jadi gak perlu pergi sama dia.”
“Bukan masalah itu Furya-”
Brakkk
Belum selesai sang ibu menasehati, Furya langsung masuk kamar dan mengunci pintu.
Sang ibu yang mendengar jawaban anaknya hanya bisa diam dan duduk di sana.
Satu tahun ia koma sang ibu benar-benar tak tau apa yang telah anak sulungnya alami.
Memiliki banyak uang dengan gampangnya tentu saja membuat sang ibu khawatir.
Bukan tak suka, ibu mana yang tak senang melihat anaknya suskes.
Tapi Furya yang tak bekerja dan hari itu seperti menjadi orang yang berbeda makin membuat ibunya takut.
Selama 17 tahun di urus, ia tak pernah melihat Furya marah kepada adiknya. Bahkan hanya sekedar membentak pun tak pernah.
Furya yang masuk kamar dan rabahan juga tak tau apa yang terjadi dengan dirinya.
Hanya saja ia menjadi kesal dan tak senang ketika ada orang asing yang sok baik dan mencoba mendekati keluarganya apalagi berniat menggantikan posisi ayahnya.
Saat dirinya di masa-masa paling sulit, jangankan membantu, satupun orang tak ada yang mau menolong.
Jika ada itu hanya Sherly dan keluarganya dan beberapa teman baiknya saja.
Lalu tiba-tiba saja ada orang asing yang mencoba masuk dan Itu seperti ada rasa aneh dan tak nyaman di dalam hatinya yang membuat Furya menjadi marah.
Malamnya saat makan malam siap, Furya keluar kamar dan makan bersama ibu dan kedua adiknya.
Ren yang sempat di bentak bahkan tak berani menatap sang kakak dan terlihat masih ketakutan.
Sadar dirinya sudah berlebihan, Furya menjadi merasa bersalah dan meminta maaf.
“Maaf ya Ren. Kakak tadi sore udah marah.”
Ren yang di tatap dan di ajak ngobrol oleh sang kakak langsung buang muka dan pergi lebih dulu memasuki kamar.
__ADS_1
Yuki yang melihat itu juga entah kenapa sama dan langsung mengikuti Ren.
Furya yang di kacangin kedua adiknya menjadi makin merasa bersalah.
Hanya karena emosi sesaat, keadaan yang harmonis hancur lebur.
Untungnya sang ibu masih ada di sisinya dan mulai menasehati kembali.
“Kenapa sih kamu Furya, sebenarnya ada masalah apa?”
“Cerita sini sama mama...”
Furya yang di tanya juga bingung harus menjawab apa.
Ia yang tak memiliki masalah khusus jugatak tau kenapa bisa semarah itu sore tadi.
Hanya saja siang tadi ia ingat mendapatkan banyak uang dari hasil melelang berlian.
“Furya juga gak tau ma. Cuman Furya gak seneng aja ada yang deketin mama.”
“Dulu waktu Furya susah gak ada satupun orang yang mau nolong ma. Cuman Sherly dan keluarganya aja yang bener-bener baik sama kita!”
Sang ibu yang melihat anaknya sedikit cemburuan dan akhirnya mau curhat hanya tersenyum dan mendekat.
Sifat Furya sama persis dengan ayahnya yang tak suka ada lelaki lain yang mendekati dirinya saat masih muda dulu.
Malam itu sang ibu mulai menasehati dan memberikan beberapa masukan.
Tapi sang ibu mengatakan akan tetap mendukung anaknya dan itu makin membuat Furya tenang.
“Ingat nih Furya. Sifat dan karakter asli seseorang akan berubah ketika mereka sudah memiliki segalanya. Jadi jangan sampai hal itu merubah dirimu yang lama!”
“Mama mau kamu tetap menjadi anak yang baik dan penyayang keluarga.”
Furya yang di nasehati oleh sang ibu dan sadar sudah berbuat salah hampir di buat menangis.
Mungkin karena sudah memiliki banyak uang dan sistem dirinya yang sekarang merasa jauh lebih hebat dari orang lain.
Bahkan sifat baik hatinya dan ramah kepada semua orang seperti hilang siang itu. Setelah agak tenang, Furya masuk ke kamar adiknya dan meminta maaf kembali.
“Ren, maafin kakak ya.”
“Kakak ngaku salah udah marah-marah tadi siang.”
Ren yang melihat kakaknya sedih juga ikutan sedih dan langsung memeluknya.
Malam itu di bantu sosok sang ibu, hubungan baik Furya dan kedua adiknya bisa kembali.
Setelah itu Furya kembali dan memasuki kamarnya.
Ia yang di suruh sang ibu untuk meminta maaf kepada pak Devan karena sudah kasar langsung menelepon Devan.
__ADS_1
Devan yang kaget di telepon Furya juga balik meminta maaf dan mengatakan kalau ia hanya ingin kenal lebih dekat dengan keluarganya dan tak ada niatan jahat.
Cuman tetap, Furya tak setuju jika Devan dekat-dekat dengan ibunya.
Besok paginya Furya bangun dan harus sekolah. ia yang masih ada ujian langsung ke kamar mandi untuk cuci muka.
“Sistem, Check In!”
[Ding! Selamat tuan telah berhasil Check In hari ke 11]
[Selamat tuan mendapatkan hadiah 11.000 Perfection Poin]
Setelah Check In, Furya lanjut olahraga dan setelah itu pulang kembali ke rumahnya.
Sherly yang sempat ingin ikut joging ternyata masih tidur saat di telepon. Furya juga tak ambil pusing akhirnya joging sendirian.
Setelah itu ia kembali ke rumah dan mandi yang bersih.
Masakan sang ibu yang nikmat kini selalu Furya santap bersama kedua adiknya.
Setelah sarapan, Furya berniat menjemput Sherly. Ia juga memberikan uang kembali kepada sang ibu untuk keperluan rumah.
“Nih mah udah Furya lebihin.”
“Terus nanti mungkin orang AC datang dan kamar mama sama Furya bakalan di pasangin AC baru.”
Sang ibu yang di berikan segepok uang hanya bisa menerima itu karena memang ia tak bekerja.
Sempat ia mengatakan ingin bekerja tapi di larang keras oleh Furya.
Yang jelas anaknya kini memiliki banyak uang dan semua kebutuhan keluarga mereka terpenuhi.
Bahkan baru malam tadi Ren ngambek karena panas, paginya Furya langsung membelikan AC.
Setelah izin pamit, Furya pergi menjemput Sherly. Sang pacar yang tak di bangunkan dan di ajak joging pagi langsung merajuk dan komplain.
“Kenapa. Gak. Bangunin. Aku. Kan. Aku. Juga. Mau. Ikut.”
Furya yang di komplain hanya bisa tertawa. Ia bahkan sudah menelepon sampai 10 kali dan Sherly yang tidurnya kayak kebo tak bangun-bangun.
“Jangan salahin aku lah. Kan udah ku telepon sampai sepuluh kali.”
“Iya. Aku. Tau. Cuman. Datang. Aja. Langsung. Nanti. Mamaku. Yang. Bangunin!”
“Hemmm, iya iya maaf. Besok ku jemput langsung deh.”
“Oke. Awas. Bohong. Lagi.”
Furya yang mendengar keluhan sang pacar hanya bisa tersenyum.
Sherly yang melihat perubahan dalam diri sang pacar juga ingin berubah dan mengikuti perilaku hidup sehat sang kekasih.
__ADS_1