Perfection System

Perfection System
Bidak Catur


__ADS_3

Furya yang sedang asik menonton voli tiba-tiba saja ditelepon oleh teman sekelasnya.


Ana yang merupakan bendahara kelas sekaligus perwakilan catur perempuan dari kelas 2D terlihat panik karena Furya tak berada di lokasi pertandingan.


Melihat panggilan dari Ana, Furya yang teringat ada jadwal catur langsung mengerti dan mengangkat panggilan itu.


“Hallo.”


“Kamu dimana? Udah mau dimulai loh ini!”


“Oke-oke, aku datang.”


“Cepetan, bisa di diskualifikasi kamu kalo telat!”


Furya yang keasikan menonton sampai lupa kalau sore itu ia ada jadwal pertandingan lain.


Karena itu Furya buru-buru pergi ke taman tempat lokasi dimana lomba catur dilaksanakan.


Ali yang duduk di sebelah Furya juga langsung bertanya saat melihat Furya yang tiba-tiba saja berdiri.


“Mau kemana lu?”


“Aku lupa ada lomba catur di taman.”


“Astaga...bener juga, baru inget aku. Yaudah sana pergi.”


Setelah pamit dengan teman-temannya yang masih asik menonton, Furya yang sudah berdiri langsung meloncat begitu saja dari atas jendela.


Ali dan sebagian teman sekelas Furya yang melihat si bucin main loncat aja langsung kaget sampai melihat kebawah serentak.


Tinggi jendela yang mencapai 7 meter seperti tak ada apa-apanya dan Furya yang baru saja meloncat langsung berjalan dengan santai.


“Kampret tuh anak, gak takut patah apa kakinya!” Teriak Ali.


“Anjir, kek jendela 3 meter doang cuy main lompat begitu.” Lanjut Ardhi.


“Semenjak kakinya sembuh emang agak lain sih itu anak.!” Tegas Boby sambi melipat kedua tangan.


Furya yang berlari pelan akhirnya sampai ditaman dan dapat melihat semua murid sudah memulai lomba catur.


Pak Bagas yang merupakan juri lomba catur langsung ia datangi.


“Pak, maaf telat.”


“Oalah, hampir aja bapak coret nama kamu.”


“Hehehe, maap pak.”


“Udah sana! Lawan kamu di meja nomor tujuh.”


“Oke pak makasih.”


Furya yang telat langsung menuju meja nomor 7. Disana ia dapat melihat adik kelasnya yang duduk dan menunggu.


“Hallo dek, maap ya kakak telat dikit.”


“Gpp kok kak Furya. Btw kenalin kak, Henry.”


“Salam kenal, Furya.”


Setelah bersalaman, dua pria itu langsung memulai permainan dibawah pohon rindang dan sejuk.


Henry yang sempat menonton Furya di lomba cerdas cermat terlihat sangat bersemangat melawan kakak kelasnya itu.


Furya yang sudah hampir 1 tahun tak menyentuh bidak catur terlihat kaku dan sedikit bernostalgia.


Ia sangat ingat terakhir kali dirinya bermain catur adalah setahun yang lalu saat melawan ayahnya sebelum tragedi berdarah.


Sang ayah yang ahli bermain catur selalu mengalahan Furya dan tak memberi ampun.

__ADS_1


Bahkan sejak kecil Furya sering dibuat menangis karena sang ayah yang tak mau mengalah.


Tapi berkat itu, dirinya yang sekarang bisa dibilang sangat ahli dalam permainan yang satu ini.


Melawan anak kelas satu yang ternyata cukup hebat, Furya yang baru menyentuh bidak catur setelah hampir setahun sempat terdesak.


“Hehehe...gimana kak Furya, masih mau lanjut?”


Henry yang merasa di atas angin terlihat sedikit sombong.


Tapi Furya yang mendapatkan ketenangan dan fokusnya kembali dapat membalikkan keadaan dengan cepat dan menang.


“Skak...” Kata Furya sambil tersenyum tipis.


Henry yang sudah meremehkan kakak kelasnya itu hanya bisa cengar-cengir dan akhirnya menyerah.


“Aduh, gak salah sih kakak bisa ngelahin ketua OSIS.”


“Makasih kak, kayaknya aku sial banget langsung lawan kakak di pertandingan awal.”


“Ahhh, kamu bisa aja ri. Udah hebat kok kamu bisa sampai desak aku kayak gini!”


Furya yang datang telat malahan menyelesaikan pertandingan lebih cepat dari yang lain.


Lalu di pertandingan kedua ia melawan anak perempuan dari kelas 2C.


“Hallo, mohon kerjasamanya.” Kata Furya sambil mengajak bersalaman.


Wanita cantik bernama Hana yang sempat dilawannya di cerdas cermat kini menjadi lawan kedua sekaligus penutup Furya sore hari itu.


Berbeda dengan Henry yang main terobos dan full menyerang, Hana lebih kalem dan bermain santai.


Namun tetap saja, melawan Furya yang sejak bocah sudah bermain dan menggilai catur, wanita cantik itu dibuat tak berkutik dan kalah.


“Ahhh, kalah lagi. Hebat banget kamu.”


“Hehehe, maklum aku dari kecil udah suka catur.”


“Sep, makasih!


Furya yang mengalahkan 2 lawannya dengan mudah langsung menuju tempat Ana teman sekelasnya.


Tapi baru saja sampai, Ana yang melawan Bastian sudah dikalahkan lebih dulu.


Bastian yang melihat wajah pria paling dibencinya langsung pergi setelah mengalahan perwakilan perempuan kelas D.


Furya yang melihat Bastian bahkan tak berani menatapnya hanya tersenyum dan mendekati Ana.


“Gak usah sedih gitu. Aku janji bakalan menangin lomba catur untuk kelas kita!”


“Hehehe, maap ya aku langsung kalah.”


“Santai, serahin sisanya sama aku.”


Furya yang berhasil bertahan besoknya akan bertanding di babak 6 besar.


Karena tiap kelas ada 2 perwakilan, jadi total ada 24 orang yang bertanding.


Tapi di hari pertama langsung banyak yang gugur dan menyisakan 6 kontestan saja.


Setelah itu Furya yang tak memiliki jadwal lagi berniat menemui Sherly di lapangan voli.


Belum sampai ia kesana, terlihat para penonton sudah pada bubar.


Furya yang melihat teman-teman sekelasnya lesuh dan sedikit sedih sudah bisa menebak siapa pemenangnya.


Sambil melihat dan mencari-cari sang pujaan hati, Furya yang tak menemukan Sherly memutuskan masuk ke aula.


Di dalam dengan jelas ia bisa melihat Sherly yang duduk sambil mengobrol dengan teman-temannya.

__ADS_1


Sadar ada pria tampan yang menjemput Sherly, teman-temannya langsung pergi lebih dulu.


“Yaudah Sher kami duluan ya, tuh udah di jemput ayang mu!”


Sherly yang di tinggal teman sekelasnya langsung melirik kebelakang dan dapat melihat wajah sang pacar.


“Hoi...sampe keringetan gitu. Kamu gpp kan?”


“Gpp, yuk pulang!”


Furya yang melihat sang pacar sudah dapat beradaptasi dan berteman dengan perempuan lain menjadi sangat senang.


Sore itu Sherly yang mandi keringat sangat membuat Furya tak tahan.


Di perjalanan pulang juga bau keringat Sherly terasa sangat nikmat baginya.


Setelah mengantar sang pacar, Furya yang besok jadwalnya padat langsung mandi dan memilih berisistirahat di kamar.


Sebelum tidur ia juga telfonan dengan Sherly sampai malam.


“Udah ya yang, dah jam 10 malem. Aku ngantuk!”


“Oke, dadah.”


Furya yang lelah dan mengantuk akhirnya tertidur lelap dikamarnya.


***


Pagi harinya Furya terbangun karena alarm hp. Ia yang membuka mata langsung Check In.


“Sistem, Check In!”


[Ding! Selamat tuan berhasil Check In hari ke 16]


[Selamat tuan mendapatkan hadiah 16.000 Perfection Poin]


Furya yang habis Check in dapat melihat jumlah poinnya yang makin bertambah banyak dengan cepat.


Nama                       : Furya Aditya


Ras                           : Manusia


Level                        : 18


Status                       : Penerus Resmi Dewa Kesempurnaan


Umur                        : 17


Perfection God      : Terkunci


Perfection Body     : 240


Perfection Rich        : 40


Perfection Power  : 50


Perfection Poin      : 93.990


Status Poin             :


Skill                           : Seni Beladiri Dewa I, Regeneration, Mata Dewa I


Furya yang levelnya makin tinggi juga mendapatkan poin dengan makin cepat.


Baru 2 hari lalu ia membeli Water Of Life dan sekarang poin miliknya sudah hampir 100 ribu kembali.


Ia yang makin merasakan keberuntungannya bertamabah berkat status Rich juga sudah menaikkan semua poin status miliknya ke Perfection Rich.


Setelah olahraga rutin pagi, Furya kembali kerumahnya dan berangkat bersama Sherly ke sekolah.

__ADS_1


Furya yang hari itu ada jadwal catur dan basket terlihap siap untuk mengalahkan lawan-lawannya.


__ADS_2