Perfection System

Perfection System
Remake Battle


__ADS_3

Pagi itu Furya yang sudah ada jadwal lomba langsung ke taman.


Di taman SIS yang sejuk dan rindang, lomba catur langsung dimulai.


Di babak 6 besar ini Furya menghadapi seorang wanita dari kelas 2B.


Wanita kutu buku dengan kaca mata lucu itu terlihat kaku dan kikuk saat duduk dihadapan Furya.


“Hallo...salam kenal, Furya.” Kata Furya sambil mengajak bersalaman.


“Sa-salam kenal, Nadia.”


Setelah bersalaman, pertandingan antara Furya dan Nadia langsung dimulai.


Karena di lomba kali ini ketua OSIS ikut bermain, nampak makin banyak penonton yang datang untuk menonton dan mendukung.


Ditambah para penggemar berat Bastian juga hadir khusus untuk menonton idola mereka sehingga makin banyak teriakan dan dukungan.


Di meja 1 ada Aurelia dan anak kelas 3 lain sedangkan di meja 2 ada Bastian melawan anak kelas 1. Lalu jelas, di meja 3 ada MC kita.


Furya yang menghadapi Nadia dengan permainan santai juga mengikuti gaya permainan santai.


Khusus di babak 6 besar ini sudah mulai menggunakan alat hitung waktu seperti gaya permainan profesional.


Furya yang sudah terbiasa karena sang ayah dulu juga menggunakan alat seperti itu saat berhadapan dengannya terlihat stay kalem enjoy.


Tapi melawan wanita muda dengan gelar Grandmaster membuatnya sedikit kesulitan.


Nadia yang ternyata penggila catur dan sudah bergelar Grandmaster di kanca Internasional benar-benar mendesak Furya untuk serius dan sangat berhati-hati.


Salah satu langkah saja akan dipastikan ia langsung kalah.


“Hemmm...”


“Sistem, apa tak ada misi?”


[Ding! Misi akan muncul random tanpa bisa tuan tentukan]


Furya yang menghadapi orang kuat di permainan kali ini sedang terdesak.


Mungin jika misi aktif, Furya tak akan segan-segan main curang dan langsung membeli Skill Dewa Game.


Dengan skill ini ia akan menguasai semua permainan yang ada didunia sampai ke tingkat Dewa dan tak terkalahkan.


Tapi karena harganya yang mahal yaitu 30.000 Poin dan misi yang tak muncul, Furya terpaksa menggunakan otak dan kemampuannya sendiri.


Nadia yang awalnya kalem dan santai kini mulai menyerang.


Furya yang di desak hanya dapat bertahan dahulu sambil menunggu waktu yang pas untuk mengcounter.


Wanita di hadapannya benar-benar hebat dan penuh perhitungan sampai membuat Furya berfikir keras.


“Sialan...ayo Fuya berfikir!”

__ADS_1


Saat Furya sedang panas-panasnya, Aurelia di meja 1 sudah selesai dan Bastian juga memenangkan telak permainan.


Karena 2 meja utama sudah selesai, fokus penonton kini tertuju ke arah meja 3.


Di taman yang luas dan sejuk, Furya dan Nadia mulai dikerubungi penonton yang ingin melihat dari dekat.


“Wih sengit banget nih.”


“Ayo kak Furya, semangat!” kata beberapa penonton yang mengerubungi meja 3.


Furya yang di desak dan makin kehabisan waktu akhirnya meladeni gaya permainan menyerang Nadia.


Di desak waktu dan atmosfir pertandingan yang makin panas, adegan saling memakan bidak catur tak terelakkan lagi.


Untungnya di saat-saat krusial Nadia yang sedikit introvert menjadi risih dan gerah di kerubungi banyak orang.


“Aduh panas nih, kemana sih pihak penyelenggaranya?”


Karena udara yang awalnya sejuk menjadi pengap, Nadia yang sedikit tak nyaman tanpa sengaja melakukan kesalahan.


Furya yang melihat kesempatan emas untuk membalikkan keadaan tak menyia-nyiakan momen emas itu dan kini balik memimpin.


“Aduh, jadi salah kan! Bisa minggiran dikit gak sih, panas tau!” Teriak Nadia yang sudah mulai keringatan.


“Alah sombong amat sih, kak Furya aja biasa aja tuh!”


“Bener, kak Aurel sama Bastian juga biasa aja di tonton dari dekat!” Balas beberapa penonton.


Karena ada banyak lomba di waktu yang bersamaan, pihak OSIS dan kedisiplinan siswa yang membantu jalannya lomba Festival Olahraga juga terpencar dan kekurangan personil.


Setelah dibubarkan, Nadia yang sudah terlanjur berbuat kesalahan merasa tak bisa lagi bertanding.


Dalam permainan yang menggunakan waktu dan fokus tinggi, lengah sedikit saja maka akan buyar semua permainan.


Furya yang tak memberi ampun pada lawannya terus mendesak sampai sang Grandmaster yang tahun lalu berhadapan dengan ketua OSIS di Final dibuat menyerah.


“Ahhh, gara-gara penonton nih!”


Furya yang melihat wanita manis di hadapannya marah dan cemberut hanya tersenyum tipis.


Mungkin karena tingkat keberutungannya yang makin tinggi sampai membuat lawannya sedikit tak nyaman oleh penonton dan melakukan sedikit kesalahan.


Merasa tak mungkin bisa menang lagi, Nadia langsung menyondorkan tangannya dan menyerah.


“Selamat ya. Semoga bisa sampai final..”


“Hehehe, maaf ya ada yang ganggu padahal tadi dikit lagi loh.”


“Gpp kok. Kalah tetep aja kalah.”


Nadia yang menyerah langsung pergi meninggalkan taman. Beberapa penonton yang melihat si kutu buku kalah langsung menyorakinya.


“Huuh, banyak gaya gak taunya kalah.”

__ADS_1


“Hahaha, sana baca buku lagi di perpus.”


“Dasar kutu buku.” Ejek beberapa penonton.


Furya yang menang karena hoki hanya bisa tersenyum tipis.


Karena jumlah ganjil alias 3 orang, maka sambil menunggu 3 terbawah bertanding ulang untuk menempati posisi ke 4, Furya duduk di taman bersama beberapa teman sekelasnya.


Saat itu juga layar proyektor besar di sediakan atas saran ketua OSIS agar penonton tak menganggangu permainan seperti tadi.


Bahkan kali ini pak Bagas sebagai juri dan salah seorang murid dari dewan Kedisiplinan siswa langsung menjadi komentator dadakan.


“Tes...tes...satu, dua, tiga.”


“Oke-oke, anak-anak jangan ada lagi yang mendekati pemain, ya.”


“Kita duduk dan tonton sama-sama aja di layar tancap yang sudah disediakan.”


Setelah di sediakan layar tancap besar untuk menonton, akhirnya para pemain tak terganggu lagi dan kali ini Nadia berhasil menang melawan 2 lawannya dan menempati posisi ke empat.


Karena jumlah pemain sudah pas dan semua persiapan sudah siap, pertandiangn 4 besar lomba catur langsung dimulai.


Empat nama langsung diacak dan kali ini nama Furya muncul bersamaan dengan nama ketua dewan kedispilinan SIS yaitu Sebastian.


Di meja 1 Aurelia menghadapi Nadia dan di meja 2 Furya menghadapi Bastian.


Para penonton wanita yang melihat remake pertandingan cowok ganteng saat cerdas cermat antara Bastian dan Furya menjadi makin bersemangat.


“Semangat Furya!”


“Ayo Furya kamu pasti bisa. Kalo menang lagi nanti dapet ciuman mesra dari Tiara loh.”


“Ihhh, apaan sih.” Kata beberapa teman sekelas Furya yang mendukung dirinya.


Furya yang tak mendapatkan misi juga masih tetap akan bertarung sekuat tenaga.


Bastian yang akhirnya melawan pria yang sudah membuatnya malu di lomba cerdas cermat kali ini akan membalas kekalahannya waktu itu.


Tanpa bersalaman dan memperkenalan diri, 2 pria yang kini wajahnya disorot kamera terlihat begitu berapi-api sampai membuat sebagian penonton wanita histeris.


“Kyaaa, kak Bastian ganteng banget!”


“Ayo kak Bastian, kalahin dia.”


“Ayo Furya, jangan mau kalah!”


Mendapat dukungan dari para penonton, meja 2 yang atmosfirnya lebih panas dan mencekam langsung disorot terlebih dahulu.


“Oke, kalau semua pemain sudah siap langsung aja kita mulai babak Grandfinal Lomba Catur ke 66 SIS!”


“Kita mulai ya...3...2...1 Start!”


Mendengar aba-aba dari pak Bagas yang menjadi juri sekaligus komentator dadakan, ke empat pemain langsung memulai pertandingan.

__ADS_1


__ADS_2