
Furya yang mendengar bel tanda ujian kedua langsung pergi dari belakang perpustakaan bersama para murid pria lain.
Di ujian kedua yaitu bahasa Indonesia, Furya yang sudah mengisi semua lembaran soal hanya bisa duduk bosan dan termenung.
Jamal yang kesusahan juga lagi-lagi menghubungi lewat alat transmisi suara dan meminta pertolongan sang sahabat.
Setelah itu Furya tidur-tiduran kembali dan bersantai.
Menjadi yang terhebat juga ternyata sangat membosankan.
Setelah selesai ujian, semua murid akhirnya pulang.
Boby yang jalan bersama Furya mengajaknya kembali untuk berkumpul dahulu di markas besar.
“Woi, hari ini lu harus ikut ke markas. Kita mau rapat soal balapan besar malam minggu besok!”
Di ajak dan di rangkul Boby, Furya yang sudah janji siang itu akan bertemu Naomi menolak dengan halus.
“Aduh aku ada urusan. Atur aja dah malam minggu aku pasti datang deh!”
“Yaelah...yaudah malam minggu jangan sampai gak datang lu. Sayang itu motor baru kalau gak di pake buat balap.”
“Iya iya bob...”
Setelah itu Furya dan sang kekasih pulang ke rumah.
Sherly yang sudah memiliki hoby baru dan ingin mengejutkan sang pacar juga berlatih Biola di rumahnya.
Karena siang itu sudah ada janji, Furya yang sampai rumah langsung berganti pakaian.
Di ruang tengah ia dapat melihat Ren dan Yuki yang sedang belajar piano bersama sang ibu.
“Ma, Furya mau main dulu ya.”
“Iya hati-hati, ingat jangan ngebut-ngebutan di jalan!”
“Iya ma, santai.”
Setelah izin pamit, Furya langsung tancap gas ke tempat yang telah di janjikan.
Naomi yang menunggu di salah satu cafe berkelas dan mahal akhirnya dapat melihat wajah rekan bisnisnya yang datang.
“Furya...”
Di panggil Naomi, Furya langsung datang menghampiri.
Melihat Naomi yang cantik dengan pakaian modern bak model, Furya menjadi sedikit tertarik.
Tentu saja ia suka, Furya yang masihlah pria normal jelas akan senang melihat wanita cantik seperti Naomi yang memanggilnya sambil memberikan senyuman manis.
“Kak...udah lama nunggunya?”
“Lumayan sih...yuk duduk.”
Setelah itu Furya dan Naomi mulai membahas tentang bisnis mereka yang berjalan.
Siang itu juga Furya di kejutkan karena 5 Berlian miliknya laku dengan harga fantastis yang mencapai 250 Milyar.
Di kalikan lima itu artinya semuanya laku dengan nominal 1 Trilyun lebih.
Naomi sampai bilang sultan-sultan dari Arab sampai bersitegang dengan konglomerat dari eropa untuk mendapatkan Berlian indah itu.
__ADS_1
Tapi kelima berlian Furya akhirnya laku di beli beberapa orang kaya raya. Salah satunya adalah Pangran Arab yang membeli 3 diantaranya.
“Gila...gak salah nih kak Naomi total semuanya, banyak banget ini?” Tanya Furya yang melihat rekap transaksi antar perusahaan.
“Gak dong. Kan menurut perjanjian total 40% jadi bagian kakak!”
Furya yang kaya mendadak karena menjual Berlian masih tak habis pikir dengan cara kerja sistem.
Di satu sisi sistem menjual potion, armor, senjata dan beberapa barang lain dengan harga tak masuk akal mahalnya.
Tapi di sisi lain sistem juga menjual banyak barang berharga dengan begitu murahnya.
Emas dan Permata yang ada banyak di toko sistem seperti hanya mainan padahal itu semua asli.
Untuk perbandingan, alat Transmisi suara yang di beli furya dengan harga 1.000 Poin sama dengan harga 1 buah Berlian sebesar kelereng.
Jika di dunia nyata, jelas harga kedua barang itu jauh berbeda dan bagaikan langit dan bumi.
Naomi yang sudah untung banyak terlihat sangat senang. Tapi seperti ingin terus mengeksploitasi Furya, ia bertanya kembali.
“Kamu masih ada yang lain gak? Katanya waktu itu kamu ada banyak!”
Furya yang di tanya juga tersenyum dan tanpa pikir dan curiga mengeluarkan 5 berlian kembali.
Dengan begitu santainya ia meletakkan 5 berlian baru berbagai warna di atas meja dan membuat mata Naomi melotot.
“Li-lima lagi....asli kan ini?”
“Asli dong. Coba aja kakak cek nanti!”
“Ka-kalau gitu kakak bawa ya. Serahin masalah penjualan sama kakak!”
“Oke kak, Furya percaya kok.” kata Furya santai sambil meminum kopi pesanannya.
Tapi itu tak penting karena Furya bisa membeli lagi di toko sistem sebanyak apapun yang ia mau.
Dari arahan Naomi ia juga tau menjual barang berharga seperti itu tak main-main dan sangat sulit.
Untuk mendapatkan harga yang sesuai, harus ada pertimbangan besar dan tentunya nama besar perusahaan.
Furya yang perusahaannya bahkan belum ada dan hanya menggunakan nama perusahaan bengkel sang ayah yaitu Furya Kencana masih tak mau ambil pusing.
Naomi yang di berikan 5 berlian lagi langsung menyimpan itu di tas branded miliknya dengan rapat.
Keputusannya untuk membantu dan terus berhubungan baik dengan Furya memang ternyata benar.
Dengan itu kekayaannya akan meningkat lagi dan lagi.
Setelah mengobrol singkat, Furya akhirnya izin pergi.
“Yaudah makasih waktunya. Serahin semuanya sama kakak dan nama perusahaanmu beneran mau kayak gitu. Gak mau pakai yang lebih bagus lagi?”
“Gak perlu kak, itu juga nama bengkel ayah saya dulu.”
“Ohhh, yaudah nanti masalah pajak dll kakak yang urus. Mungkin uangnya besok atau lusa udah masuk di rekening perusahaan kamu.”
“Oke kak, sekali lagi makasih...”
Furya yang di bantu untuk membuat nama dan mendirikan perusahaannya sendiri oleh Naomi hanya bisa berterimakasih.
Karena masih bocah dan belum punya KTP dan sejenisnya, Furya memang masih mengandalkan bantuan Naomi.
__ADS_1
Bisa di bilang perusahaannya yaitu Furya Kencana saat ini menjadi anak dari perusahaan besar Tanaka Diamond.
Naomi yang mendapatkan untung fantastis merasa mendapatkan mesin pencetak uang yang luar biasa.
Tapi bagi Furya, justru Naomi yang menjadi mesin pencetak uangnya.
Dengan itu ia tak perlu repot-repot menjual sendiri dan mengurus banyak hal yang memusingkan kepala.
Setelah bisnis besarnya berjalan lancar, Furya pulang kembali ke rumah.
Meskipun sudah banyak uang, ia yang masih pemuda 17 tahun jelas bingung untuk menggunakan semua uangnya itu.
Hampir semua hal yang di inginkannya sudah terpenuhi.
Furya yang tak boros berkat didikan sang ayah juga tak memiliki keinginan tersendiri yang begitu berlebihan.
Asalkan hidup ia dan keluarganya tercukupi, itu sudah cukup baginya.
Setelah urusannya beres, Furya pulang ke rumah. Sore itu ia melihat ada sebuah mobil yang tak asing terparkir di depan rumahnya.
Furya yang curiga langsung masuk ke dalam rumah dan ternyata benar, kecurigaannya terjawab karena Devan sedang duduk sambil minum kopi di ruang tamu.
Melihat wajah Devan, Furya merasa sedikit jengkel dan langsung menghampiri.
“Om, ngapai ke sini?”
“Ehh Furya...om mau ngajak Ren sama Yuki jalan-jalan. Kamu mau ikut sekalian gak?”
Mendengar ucapan Devan, Furya menjadi makin kesal.
Mengajak adiknya, bilang aja itu hanya alasan untuk mendekati sang ibu.
Karena tak senang Furya langsung masuk ke dalam rumah dan ternyata sang ibu dan kedua adiknya tengah bersiap-siap untuk jalan-jalan.
“Lahhh ma, mau kemana?”
“Mama mau jalan-jalan sama pak Devan. Ini adikmu juga ikut.”
“Gak usah ma....ngapain coba!”
Ren yang ingin naik mobil dan jalan-jalan langsung menjawab perkataan sang kakak.
“Kenapa sih kak, kan Ren pengen jalan-jalan naik mobil.”
Melihat sang adik yang ikut campur, Furya langsung berbicara kembali dengan nada keras.
“Pokoknya gak usah...kalau mau naik mobil sekarang juga kakak beliin tapi jangan pergi sama dia!”
Sang adik yang di bentak langsung diam dan hampir menangis. Setelah itu Furya langsung keluar dari kamar sang ibu dan adiknya.
Ia berjalan dengan cepat dan langsung menuju tempat Devan yang sedang santai minum kopi.
“Om...maaf mama gak bisa pergi. Sekarang juga om pulang sana.”
“Waduh, tadi katanya bisa. Emang kenapa?”
“Gak kenapa-napa. Udah om sana pergi.”
Melihat sang anak sulung tak suka dengan kehadirannya, Devan yang di usir dengan kasar terpaksa berdiri dan pergi.
Furya yang melihat Devan pergi langsung menutup pintu.
__ADS_1
Entah karena apa, Furya hanya tak bisa dan belum bisa menerima kehadiran orang lain dalam keluarganya.
Melihat ada orang asing yang mencoba masuk, sifat alaminya sebagai anak tertua sekaligus tulang punggung keluarga entah kenapa tak mengizinkan itu.