
Sherly yang menjadi pelari ke empat sekaligus terakhir dari kelas 2A dapat melihat Alexia yang datang lebih dulu.
“Ayo Alexia ... semangat, dikit lagi!” Teriak Sherly dari tempatnya berdiri.
Alexia yang jauh meninggalkan lawan-lawannya tersenyum kearah Sherly yang melambai.
Lalu ia menyerahkan tongkat kayu Estafet dan mempercayakan nya pada Sherly.
“Nih Sher, maju.”
“Oke, serahin sama aku.”
Sherly yang kini berlari lebih dulu makin jauh meninggalkan peserta lainnya.
Dinda yang akhirnya mendapatkan tongkat Estafet dari Siska juga tak mau kalah dan berniat menyusul.
“Maaf Din, aku...”
“Gpp, serahin sisanya sama aku.”
Dinda yang sudah mendapatkan tongkat estafet berlari lebih cepat dari yang lainnya.
Dibelakangnya ada ketua OSIS dan peserta lain yang juga mengejar.
Aurelia yang awalnya tak ingin terlalu menunjukkan kehebatannya mau tak mau sampai turun tangan di lomba fisik.
Di 2 lomba terakhir ini selisih poin kelas mereka dan kelas lain makin terkejar dan mau tak mau sang ketua OSIS turun tangan langsung untuk menjaga pride kelas mereka.
Semua itu tak lain karena dirinya yang tak enak hati sudah kalah di lomba cerdas cermat dan catur saat melawan sang bintang sekolah.
Jadi di lomba ini ia sangat serius dan akan mengincar poin untuk menjaga pride dan kebanggan kelas impian.
Furya yang melihat Sherly berlari kencang di paling depan tak dapat menyembunyikan rasa senangnya dan mulai berteriak memberikan dukungan.
“Ayo sayang, kalahkan mereka semua!”
“Maju...”
Para jomblo dari kelas 2D yang mendengar teriakan Furya hanya bisa iri tanpa bisa melakukan apa-apa.
Jujur saja semua pria kini fokus menatap Sherly yang tubuhnya bergoyang dengan begitu indah.
Dua boba besar dan padat itu memantul-mantul sampai membuat sebagian penonton pria ngences.
“Gila ... udah cantik tubuhnya seger lagi.”
“Hahaha, bener cok. Itu Sherly dari kelas 2A yang ku bilang kemarin.”
“Mantap, gak sia-sia aku masuk SIS.” Kata beberapa penonton pria.
Sherly yang memimpin jauh di depan tak dapat menyembunyikan rasa senangnya.
Lalu saat melewati tempat duduk Furya, ia melihat sang pacar berdiri dan mendukungnya sambil berteriak.
Melihat Furya begitu semangat mendukung dirinya, Sherly yang menatap ke arah penonton menjadi agak malu dan tanpa sadar salah melangkah lalu terjatuh.
“Aduh ... sayang!” Teriak Furya.
Furya yang melihat Sherly jatuh langsung panik bukan main.
Padahal garis finish sedikit lagi tapi sang pacar pakai acara jatuh segala.
Anak-anak kelas 2A yang melihat Sherly jatuh juga mulai panik dan berteriak.
“Ayo Sher, berdiri.”
“Semangat Sherly, dikit lagi loh.”
__ADS_1
“Sherly...”
Sherly yang lengah karena menatap terlalu lama kearah sang pujaan hati padahal sedang lari ngebut kini mencoba berdiri kembali.
Karena sangat kencang berlari kedua lutut kakinya sampai lecet dan berdarah.
Furya yang melihat itu tak dapat menyembunyikan rasa khawatirnya dan langsung turun dari bangku penonton.
Ia berniat menolong Sherly saat itu juga.
Tapi melihat sang pacar yang belum menyerah dan masih tetap melanjutkan pertandingan, Furya hanya diam saja dan melihat dari kejauhan.
“Ayo kak Sherly...semangat!”
“Kasihan banget itu, lihat tuh kakinya sampai berdarah.” Kata beberapa penonton yang berada dekat.
Sherly yang tetap berlari pelan kini mulai dikejar oleh peserta lain.
Melihat perwakilan dari kelas 2A yang berada di depan terjatuh tentu membuat semua pelari lain makin menambah kecepatan lari mereka.
Sherly yang mulai dikejar terlihat panik dan berusaha lari sekuat tenaga.
Sambil berlari pincang ia menahan rasa sakit di kedua lututnya dan tetap memaksakan dirinya menuju garis finish.
Tapi takdir tak dapat dilawan oleh wanita biasa itu dan dengan begitu menyedihkan peserta lain mulai menyusul dan mendekatinya.
Dinda yang berlari bersebelahan dengan Aurelia di posisi terdepan dapat melihat darah yang tercecer di lapangan pertandingan.
Tentu saja semua peserta tau itu adalah dari Sherly teman sekolah mereka.
Tapi karena sama-sama ingin menang, Dinda mencoba tetap konsentrasi dan melaju lebih cepat.
Sampai Aurelia yang berada di sampingnya berhenti dan lebih memilih menolong Sherly yang berjalan pincang.
“Ini gimana sih!”
“Mana pihak penyelenggara nih, gak lihat kaki dia berdarah gini.”
Mendengar teriakan ketua OSIS mereka sendiri, anggota OSIS dan Kedisiplinan yang menjadi penyelenggara acara panik dan langsung mendekat membawa P3K.
“Udah Sherly, gak perlu dipaksakan lagi.” Kata Aurelia yang memegang tangannya.
“Tapi kak...”
“Udah gak usah mikirin hal lain. Lihat nih, kaki kamu berdarah gini.”
Sherly yang melihat ketua OSIS membantunya dan anggota OSIS lain yang datang sambil membawa obat akhirnya menyerah dan memilih duduk.
Kedua kakinya benar-benar sakit tapi tetap saja masih ada rasa tak bisa menerima saat dirinya harus kalah.
Namun saat melihat ketua OSIS yang justru menolongnya dan tak mempedulikan pertandingan, Sherly pun mengerti dan tak memaksakan dirinya lagi.
Setelah itu guru datang dan bersama-sama membawanya ke ruang UKS.
Sampai pada akhirnya lomba lari estafet wanita dimenangkan oleh Dinda dari kelas 2D yang menjadi juara disusul kelas 3B dan 3D.
Furya yang kelasnya menang sama sekali tak merasa senang dan terdiam. Setelah itu ia pergi menyusul sang pacar.
Di ruangan UKS, Furya ingin menemui Sherly yang sedang diobati.
Disana juga ada Chika bersama beberapa anak perempuan dari kelas 2A dan guru kesehatan yang merawat.
Karena terlalu ramai Furya hanya melihat dari kejauhan dahulu.
“Udah, aku gpp kok guys.”
“Kalian lanjut nonton lomba aja.”
__ADS_1
“Beneran gak parah kan?” Tanya Alexia yang masih khawatir.
“Bener, kan udah di bilang buk Popy tadi kalau cuman lecet doang.”
Setelah beberapa saat, teman-teman Shely akhirnya pergi dan hanya meninggalkan Chika yang menemani sendirian.
Furya yang melihat keadaan sudah agak sepi langsung masuk dan mendekat.
Chika yang melihat kedatangan Furya langsung tersenyum dan beralasan pergi menonton.
“Yaudah aku lanjut dukung teman kita yang lain.”
“Tuh bebep mu udah datang.”
Furya yang sampai disana duduk dan langsung mengeluarkan potion penyembuh luka luar ringan.
“Gimana lukanya, parah gak?”
“Cuman lecet yang, kayaknya aku terlalu semangat deh sampai jatuh, hehehe.”
“Huuuh, aku tau kamu mau menang tapi gak perlu sampai gini juga, Sherly.”
“Nih, minum biar langsung sembuh!”
Sherly yang diberikan obat dengan botol aneh yang hampir mirip dengan yang pernah diberikan Furya waktu itu tanpa bertanya langsung meminum obat pemberian sang pacar.
Setelah meminum air dalam botol itu semua luka lecet di kakinya tak sakit lagi dan sembuh secara ajaib.
Sherly yang lagi-lagi diobati sang pacar tak banyak bertanya dan langsung berterima kasih.
“Makasih obatnya, kakiku langsung sembuh, hehehe.”
“Yaudah yuk balik, ngapain sendirian di sini padahal yang lain sedang asik di luar sana.”
Baru saja mau keluar, buk Popy yang merupakan guru kesehatan kaget saat melihat Sherly yang berdiri dan berniat pergi.
“Ehhh, mau kemana kalian?”
“Buk Popy, Sherly udah sembuh kok buk.”
“Haduh, jangan ngigau kamu Sherly. Udah duduk sini.”
“Beneran buk, Sherly udah sembuh. Lihat nih!” kata Shely sambil loncat-loncat kayak kelinci.
Buk Popy yang merupakan guru kesehatan muda sexy nan cantik dari SIS hanya bisa kebingungan melihat keanehan itu.
Padahal ia ingat sekali baru memperban luka di kaki Sherly yang cukup dalam.
“Santai aja buk Popy, nanti kalo kenapa-napa saya bawa lagi ke UKS deh nih kelinci!” Lanjut Furya sambil tertawa.
Melihat 2 pasangan muda yang sangat serasi, buk Popy menjadi sedikit iri dan akhirnya mengizinkan Sherly pergi bersama pacarnya.
Dari kejauhan buk Popy dapat mengintip dan melihat Sherly bersama Furya yang bergandengan tangan dan sangat dekat.
“Ahhh, enaknya masa muda!” Ucap guru muda itu lalu menutup pintu UKS kembali dan lanjut main game.
Sambil berjalan bersama, Furya dan Sherly pergi menuju lapangan utama SIS.
“Abis ini kamu kan yang bakalan tanding?”
“Benar sekali.”
“Yah, jadi makin jauh dong poin kelas kita!”
“Ya mana kutau. Salah sendiri, siapa yang ngajak taruhan waktu itu!” Kata Furya sambil sedikit menatap dan mengejek sang pacar.
“Jangan sampai lupa ya soal hadiahnya, hehehe.”
__ADS_1
“Iya-iya aku tau kok!”
Sherly yang tau pacarnya makin berpeluang menang hanya bisa pasrah dengan permintaan aneh apa yang nanti akan diminta sang kekasih.