
Furya yang mengerjakan soal Matematika langsung mencatat semua jawaban yang di berikan sistem.
Dengan hanya memberi perintah, sistem langsung memberikan jawaban sempurna dari soal ujian.
Mendapatkan misi yang mudah tentu saja Furya akan mengerjakannya.
Meskipun berlawanan dengan prinsip hidup yang ayahnya ajarkan, Furya yang butuh poin tetap mengejakan misi.
Ia yang awalnya hanya ingin meminta bantuan untuk memastikan nilainya aman kini menjawab semua soal sambil melihat layar hologram.
Tak butuh waktu lama bagi Furya untuk mengerjakan ujian. 10 menit, Semua soal yang begitu sulit bagi sebagian murid ia selesaikan dengan begitu cepat.
“Huuuh, selesai...”
Setelah mengisi seluruh lembar jawaban, Furya menjadi bosan dan melamun.
Bisa saja ia langsung keluar kelas karena jika sudah selesai maka tiap murid sudah di perbolehkan meninggalkan ruangan ujian.
Saat sedang santai dan melamun, Jamal akhirnya menghubungi Furya lewat alat transmisi suara.
“Woi...kedengeran gak?” Tanya Jamal sambil bisik-bisik.
Furya yang sudah kong-kalikong langsung lanjut bertanya kembali.
“Nomor berapa?”
“Satu sampai dua puluh dulu.”
“Anjir nih anak, bener-bener gak ngerti apa emang gak mau ngerjain soal sih!” Batin Furya dalam hati.
Tapi karena dirinya juga curang, Furya tanpa basa-basi memberikan jawaban kepada Jamal.
“Udah tuh, yang lain coba dulu sendiri kalau gak bisa hubungin lagi.”
“Oke bos, makasih!”
Furya yang santai dan melamun membuat beberapa murid dari kelas A yang duduk di sampingnya melirik.
Di tatap dengan jutek, Furya hanya bisa buang muka.
Karena bosan, Furya yang sudah selesai mengerjakan soal dan menunggu waktu yang tepat akhirnya berdiri dri bangkunya.
Semua murid yang melihat itu langsung melirik ke arah Furya. Ada yang heran dan ada yang berfikir dia menyerah.
Guru yang mengawas dan melihat Furya berdiri juga langsung bertanya.
“Kamu kenapa?”
“Nama saya Furya buk.”
“Ohhh, ada apa Furya?”
“Saya sudah selesai. Apa boleh saya meninggalkan kelas buk?”
Pengawas yang melihat murid kelas D sudah selesai mengerjakan lembaran soal menjadi sedikit bingung.
Tapi karena Furya sendiri yang sudah bilang telah mengerjakan soal ujian, pengawas hanya menganguk dan Furyapun maju.
__ADS_1
“Nih buk kertas ujian saya!”
“Oke...jangan salahin ibuk kalau nilai kamu rendah ya!”
“Anak-anak, ingat ya jangan contoh teman kalian ini. Udah murid kelas D bukannya berusaha malah main asal jawab.”
Mendengar perkataan dari pengajar yang adalah guru dari kelas A, Furya yang bosan dan memang ingin cepat-cepat keluar kelas hanya diam saja dan langsung berjalan keluar.
Beberapa murid yang berasal dari kelas A dan B terlihat sedikit tertawa dan mengejek karena mereka berfikir Furya yang berasal dari kelas D pasti sudah pasrah dan putus asa.
Furya yang keluar ruangan ujian dapat melihat lorong kelas yang masih sepi.
Jamal yang lagi-lagi menghubunginya juga mulai bertanya kembali.
Sambil berjalan ke taman SIS, Furya juga memberikan jawaban soal ujian kepada sang sahabat.
“Udah jangan nanya semua soal. Ntar kalau di tes ulang baru tau rasa kamu!”
Di peringatkan Furya, Jamal yang juga mengerti itu diam kembali. Setidaknya ia bisa memastikan nilainya tak di bawah standar.
Furya yang memiliki waktu luang banyak sebelum istirahat berjalan ke taman sekolah.
tempat yang hijau dan kalau siang pasti ramai terlihat begitu sepi dan tenang.
“Ahhh...ini yang di sebut kebebasan...”
Furya yang tak memperhatikan sekitar duduk di salah satu bangku.
Baru saja duduk, tak jauh dari sana ia bisa melihat seorang wanita cantik yang juga duduk di dekat sana.
Melihat ada murid lain yang sama dengannya yaitu sudah selesai mengerjakan ujian, Furya tak heran dan justru tersenyum saat mata mereka bertemu.
Tapi Furya yang tak kepo dan tak ingin mencampuri urusan orang lain tetap cuek dan stay kalem.
Aurel yang melihat ada murid pria yang wajahnya tak asing duduk di taman justru di buat tertarik dan mendekati Furya.
Di dekati ketua OSIS, Furya pura-pura tak lihat dan tetap stay kalem enjoy.
“Hai...sudah selesai kamu ngerjain soal ujian?”
Di dekati dan di sapa Aurel, Furya balik menatap dan menjawab singkat.
“Udah.”
Melihat Furya yang merupakan pria yang telah menolongnya saat di jalan waktu itu, Aurel bertanya kembali sambil tetap tersenyum ramah.
“Kenalin Aurel...Boleh duduk di sini gak?”
Furya yang di dekati ketua OSIS menjadi sedikit terkejut.
Aurel yang berasal dari kelas bangsawan dan konglomerat sampai meminta izin ingin duduk di sampingnya.
Di tambah senyuman manis serta tubuh super aduhai itu membuat Furya sedikit terpikat.
“Silahkan, kenalin Juga...Furya Aditya.” kata babang tamvan yang mencoba memperkenalkan diri sambil mengajak berjabat tangan.
Karena memang bosan dan tak ada kerjaan, Furya hanya menganguk sambil tersenyum dan memperkenalkan diri.
__ADS_1
Saat menyentuh tangan Aurel yang lembut, Furya jelas tau itu adalah tangan wanita berkelas.
Setelah itu Aurel langsung duduk di sampingnya.
Baru saja duduk, wangi semerbak bunga dari arah Aurel makin terasa oleh hidung Furya dan membuatnya makin tenang.
“Btw makasih ya waktu itu udah nolongin. Maaf kalo kurang sopan karena aku gak turun dari mobil.”
“Ehhh, gpp kok. Santai aja.”
Furya yang amatrian dalam hal wanita terlihat mulai grogi. Di dekati ketua OSIS SIS yang cantik tentu saja membuatnya kaku.
Saat ini salah satu bidadari SIS yang paling di dambakan seluruh pria di sekolahnya sedang duduk tepat di sampingnya.
Mata biru dengan rambut pirang panjang Aurel yang begitu bersinar seakan-akan membuat Furya tak berani menatapnya terlalu lama.
Furya yang kebingungan harus memulai obrolan apa hanya diam saja seperti kutu yang menghisap darah.
Untungnya Aurel yang memiliki komunikasi bersosial yang baik dapat memulai obrolan dan tanpa sadar mereka mulai mengbobrol panjang lebar soal hobi masing-masing.
“Ohhh gitu. Gak nyangka aku masih ada cowok yang suka music classic.”
“Hehehe, aku juga suka karena ayahku dulu sering mutar di rumah.”
“Ohhh, kamu paling suka yang mana?”
“Semuanya...mau karya Beethoven, Mozard atau Chopin semuanya aku suka. Cuman kalo yang paling ku suka ya Moonlight Sonata!”
“Wahh, aku juga suka itu. Cuman sampai sekarang aku belum bisa maininnya.”
“Heeeh, emangnya kamu bisa main piano?”
“Dikit...hehehe.”
“Ohhh...”
Furya yang mendenger Aurel pandai bermain Piano menjadi teringat kembali dengan sang ayah.
Dulu di rumahnya ada piano tua milik sang ayah yang tiap malam pasti sering di mainkan.
Hanya saja piano itu terpaksa di gadai untuk biaya lahiran kedua adiknya.
Karena itu juga Furya menjadi teringat kembali kenangan lama saat ia masih kecil.
“Piano ya...masih ada gak ya di sana...” kata Furya tanpa sadar karena teringat dengan piano Yamaha sang ayah yang sempat di gadai.
Saat sedang asik mengobrol, tiba-tiba saja bel tanda ujian selesai berbunyi.
Teng...tong...teng...ting
Seperti menyudahi obrolan singkat mereka pagi itu, Furya dan Aurel akhirnya berpisah.
“Makasih untuk waktunya. Aku seneng banget bisa ngobrol sama kamu.”
“Harusnya aku yang makasih...maaf malah sedikit curhat, hehehe.”
“Gpp kok. Kalo gitu sampai jumpa lagi!” kata Aurel sambil tersenyum dan melambaikan tangan sedikit.
__ADS_1
Melihat Aurel yang pergi dan para murid lain yang mulai keluar dari kelas, Furya hanya duduk dan menatap langit biru yang cerah pagi itu.
Karena obrolan itu juga ia menjadi teringat dengan sosok sang ayah dan siang itu setelah pulang sekolah, Furya berniat menebus kembali apa yang menjadi miliki ayahnya dulu.