
Furya yang sampai di sekolah langsung pergi menuju kelasnya.
Di hari ke 3 Ujian, ia yang sadar mulai menarik banyak perhatian mencoba menahan diri dan tetap di kelas sampai jam istirahat pertama.
Teng...tong...teng...ting
“Ahhh, akhirnya istirahat.” kata Furya yang bosan bukan kepalang.
Di jam istirahat seperti biasa, Furya ngumpul bareng teman-temannya dan para brandalan lain di belakang gedung olahraga untuk merokok.
Sherly yang sudah memiliki banyak teman juga tak terlalu bergantung padanya lagi dan mulai dapat membaur.
Melihat Ali yang tangan kirinya di perban, Furya kaget dan langsung bertanya.
“Tangan mu kenapa Li?”
Ali yang di tanya langsung menjawab refleks.
“Mangkanya aktif di grub wa, sombong amat udah banyak duit lu.”
“Waduh...maaf-maaf aku sibuk, hehehe.”
Furya yang jujur saja memang jarang aktif baik di grub dan perkumpulan gengnya hanya bisa cengengesan di singgung bos Ali.
Untungnya Jamal yang ada di sana mau menjelaskan apa yang terjadi kepada bos mereka sampai tangan kirinya di perban.
Ali yang malam minggu nanti ada pertarungan balapan liar melawan geng-geng motor lain se jabodetabek di serang orang tak di kenal saat malam hari.
Ia yang jatuh dari motor langsung membuat tangannya patah. Karena itu sekarang kandidat perwakilan dari geng Brotherhood menjadi kosong.
“Gimana nih bos, jadi siapa yang gantiin?” Tanya Ardhi sambil menatap Ali yang tangan kirinya di perban.
“Mangkanya aku bingung juga, ntar kalo gak ikut di katain banci lagi kita.”
“Udah tenang, gue aja yang gantiin. Tapi pinjem motor lu ya Furya, hehehe” Lanjut Boby yang merasa mampu untuk melawan ketua geng lain.
Furya yang tak terlalu suka balapan hanya mengangguk tersenyum dan mengikuti arus.
Ia yang sudah jarang berkumpul dengan teman-temannya setidaknya malam minggu nanti akan ikut menonton.
Di tambah motor baru spek dewa miliknya memang harus di tes di jalanan malam kota Jakarta.
Setelah mengobrol ala anak cowok, semua brandalan yang ada di sana kembali ke kelas masing-masing karena bel tanda ujian telah berbunyi.
Furya yang sudah mengisi semua soal ujian langsung tidur-tiduran dan bersantai.
Sesekali si beban alias Jamal juga menghubungi dan bertanya soal yang tak ia ketahui.
__ADS_1
Karena prilaku Furya dan hasil ujian awal yang sudah di periksa, guru pengawas saat itu yaitu buk Rara mulai memperhatikannya.
Nilai sempurna alias 100 dari Furya yang berasal dari kelas D membuat semua guru di SIS gempar.
Furya yang menyadari buk Rara mengawasinya ketat juga tau dan tak banyak membuat tindakan tak perlu.
Yang jelas jika tak terbukti curang, maka nilai ujiannya valid dan tak akan bermasalah meskipun ia berasal dari kelas D atau tak pernah menonjol sebelumnya.
Sampai jam ujian kedua selesai dan bel tanda pulang sekolah berbunyi.
Teng...tong...teng...ting
Furya yang mendengar bel pulang langsung berdiri dan menyerahkan lembaran kertas ujiannya.
Siang itu ia yang sudah berjanji pada sang adik untuk membeli mobil baru berniat langsung pulang.
Sesampainya di rumah, di ruang tamu Furya melihat tas kumuh yang cukup besar.
Lalu dari arah kamar mandi, sosok yang masih ia ingat tapi sudah berubah drastis membuat Furya sedikit terkejut dan tak senang.
“Ehhh Furya. Baru pulang sekolah?”
Furya yang di tanya pamannya hanya mengagguk.
Ia yang memiliki ingatan kuat soal wajah dan saat kecil pernah beberapa kali bertemu juga kenal dan masih ingat siapa oang yang ada di hadapannya.
Nando Aditya, adik dari ibunya sekaligus paman Furya baru saja kembali dari Malaysia.
Ia yang bekerja sebagai TKI pulang setelah di pecat tak hormat karena melanggar beberapa peraturan perusahaan.
Furya yang di jelaskan kenapa pamannya ada di sana juga cuek dan tak peduli.
Jika saja bukan karena kebaikan sang ibu yang mengizinkannya tinggal, Furya akan langsung mengusir Nando.
Dulu saat orangtuanya mengalami kecelakaan dan Furya butuh bantuan, jangankan menjenguk, menolong sedikitpun pamannya itu tak mau.
Bahkan setelah di hubungi pak Hery, Nando beralasan ia juga susah di sana dan tak bisa menolong apa-apa.
“Yaudah ma Furya mau siap-siap dulu. kan kita siang nih mau jalan-jalan.”
“Iya kak, sana cepet ganti baju, Ren udah gak sabar mau beli mobil baru.”
Furya si kakak baik hati yang sudah berjanji pada adiknya siang itu juga akan langsung membelikan apa yang Ren dan Yuki mau.
Meskipun sudah di nasehati sang ibu, tapi Furya yang memiliki banyak uang juga bingung harus melakukan apa dengan uangnya.
Ibunya yang sama dengan sang ayah yaitu hemat dan tak boros tak pernah meminta apa-apa kepadanya.
__ADS_1
Padahal Furya pernah bilang ke ibunya akan membelikan apapun yang ibunya mau tapi tetap saja sang ibu malah menasehati kalau uangnya lebih baik di tabung saja.
Setelah ganti baju, Furya langsung memesan grab.
Nando yang ada di sana dan melihat motor sport Furya dan mendengar keluarga kakaknya ingin membeli mobil baru terlihat bersemangat.
Meskipun tak di ajak, ia tetap ingin ikut karena sudah lama tak pulang ke Indonesia dan ingin jalan-jalan di kota Jakarta.
“Furya...om ikut ya!”
Furya yang mendengar perkataan paman nya pura-pua budek dan cuek.
Tapi sang ibu yang baik hati dan menyayangi keluarganya hanya melihat Furya dengan tatapan yang ia paham maksudnya.
Meskipun sudah di usir dari rumah dan hubungan pernikahannya tak di restui sampai ia harus kawin lari, nyatanya sang ibu masih suka mencari tau kabar keluarganya di kampung.
Dulu sekali saat Furya masih kecil, ia ingat betul keluarganya pernah di usir saat berkunjung ke rumah neneknya hanya karena sang ayah miskin.
Keluarga ibunya yang menginginkan buk Reni menikahi pria kaya raya benar-benar membenci sang ayah yang tak memiliki asal-usul yang jelas.
Di tambah kebencian Furya dengan keluarga ibunya makin meningkat saat orangtuanya mengalami musibah dan tak ada satupun keluarga lain yang mau menolong.
Furya yang di dekati pamanya juga diam dan tak berbicara.
Nando yang tak di anggap ada di sana oleh Furya juga sadar dengan kejahatannya.
Ia juga merasa menyesal tapi waktu tak bisa di putar ulang dan saat ia kesusahan, hanya sang kakak yang masih mau membantunya.
Tapi Ren dan Yuki yang baru pertama kali melihat paman mereka dan masih polos tak tau beban sang kakak dan justru senang karena pamannya itu suka bermain dengan mereka.
“Hahaha, geli om...”
“Udah om ampun...”
“Hahaha, rasakan ini!”
Furya yang melihat pria tua seperti Nando yang sok dekat dengan adiknya hanya bisa merasa jengkel.
Apalagi melihat Ren yang di angkat seperti pesawat terbang sambil di jahili membuatnya makin tak senang.
“Hoi jangan di angkat gitu. Kalau sampai jatuh gimana?”
“Ada duit lu buat ngobatinnya?”
Melihat Furya yang akhirnya berbicara, Nando justru tersenyum dan makin mengangkat Ren setinggi langit.
Furya yang melihat ada beban baru yang sok dekat dengan keluarganya dan akan menjadi benalu dalam hidupnya benar-benar merasa terusik.
__ADS_1
Karena itu ia berniat akan langsung mengusir Nando besok harinya.