Perfection System

Perfection System
Sangat Membosankan


__ADS_3

Furya yang duduk di taman dengan Sherly saling berpegangan tangan.


Sesekali mereka saling melirik dan curi-curi pandang.


Senyuman, gelak tawa dan bibir merah muda sang kekasih saat dekat denganya seperti menjadi kepuasan dan ketenangan tersendiri bagi Furya.


Bisa melihat Sherly tersenyum bahagia saja ia sudah senang apalagi jika sang kekasih sudah dapat berbicara nantinya.


Setelah istirahat dan meminum jus apel yang di bawanya, Sherly dan Furya kembali melanjutkan joging pagi mereka.


Tapi Sherly yang merupakan gadis rumahan dan lemah sudah mencapai batasnya.


“Cepetan woi...lama amat jalannya.” Kata Furya sambil berjalan santai di depan sang pacar.


Shery yang lelah dan memang jarang olahraga terlihat sudah tepar kembali.


“Aduh. Aku. Nyerah. Gak. Mungkin. Kayaknya. Muterin. Jalan. Sudirman!”


Melihat pacarnya yang berkata ingin hidup sehat tapi malas gerak, Furya tak memanjakan sang pacar dan justru meninggalkannya.


Melihat furya yang jahil dan berjalan lebih cepat, Sherly langsung ngambek dan duduk di jalan.


Melihat tingkah lucu sang pacar, Furya yang tak kuat melihat wajah manis itu akhirnya luluh dan kembali menghampiri.


“Dikit lagi...ayo berdiri.”


“Gak. Mau. Aku. Nyerah...”


Melihat si beban sudah menyerah, Furya yang sadar sudah kesiangan dan jalanan akan makin ramai langsung membungkukkan badan dan menyuruh sang pacar naik ke punggungnya.


“Yaudah naik sini, ntar telat ke sekolah lagi kita!”


Di berikan tumpangan gratis, Sherly langsung berdiri dan melompat ke atas punggung Furya.


“Pegangan yang kenceng ya...”


Lalu Furya tanpa berlama-lama langsung lari sambil menggendong sang pacar yang makin lama makin manja.


Di gendong sambil berlari, Sherly makin memeluk erat tubuh Furya.


Karena belum terlalu ramai, Furya menyempatkan diri untuk menghibur dan menyenangkan sang pacar.


Sherly yang memeluk kekasinya dan dapat menghirup aroma tubuh Furya dari dekat terlihat senang dan tertawa.


Sampai akhirnya mereka tiba di depan rumah Sherly dan tumpangan gratis ala pasangan kasmaran terpaksa berhenti.


“Sudah sampai tuan putri. Silahkan turun!”


Dengan berberat hati Sherly harus turun dari atas punggung sang pacar dan berpisah.


Dirinya yang berkeringat hebat pagi itu langsung mandi dan bersiap-siap ke sekolah.


Furya yang kembali ke rumahnya juga mandi dan sarapan bersama keluarganya.


Untungnya perabotan dan darah yang berserakan malam tadi sudah di bereskan semua dan suasana rumah jadi kondusif kembali.

__ADS_1


Ren dan Yuki yang akan di antar menggunakan mobil baru begitu tak sabar dan pergi lebih awal ke sekolah.


“Ren di sekolah jangan nakal ya. Jagain adik kamu baik-baik.”


“Yuki juga belajar yang rajin.”


“Muahhhh...”


“Muahhhh...”


“Dadah mama.”


“Dadah ma.”


Setelah berpamitan dan mengecup manja pipi sang ibu, Ren dan Yuki berangkat sekolah menggunakan mobil baru mereka.


Nando yang terluka terlihat biasa saja dan tetap mengerjakan pekerjaannya.


Di berikan kesempatan oleh Furya, ia yang sudah bosan hidup susah bekerja sebagai supir sekaligus penjaga dengan sepenuh hati.


Furya yang selesai makan dan dapat melihat kedua adiknya yang begitu senang di antar sekolah naik mobil pribadi hanya bisa tersenyum lebar.


Dulu saat masih susah, jangankan meminta di belikan ini itu, uang untuk jajan sekolah adiknya saja kadang Furya tak bisa berikan.


Karena itu, setelah memiliki banyak uang Furya tak segan-segan untuk mengabulkan keinginan adik-adiknya.


Bagi Furya masa-masa sulit dan kelam itu cukup hanya masa lalu.


Dan seperti yang sistem pernah jelaskan, Furya adalah manusia terpilih dan mampu untuk itu.


Setelah sarapan, Furya langsung mengeluarkan motor dari bengkel depan dan berniat menjemput Sherly.


Ia juga mendekat ke sang ibu yang sedang menyapu daun pohon di samping rumahnya yang berserakan karena hujan lebat tadi malam.


“Ma...nanti pak Toleh datang itu buat ngukur pagar sama bikin garasi.”


“Iya, mama tau kok.”


“Cuman mama gak usah banyak kerja lagi ya. Serahin aja sama Nando biar dia yang urus.”


“Kalo perlu nanti kita sewa pembantu sekalian biar mama gak perlu nyapu kayak gini lagi.”


Di perlakukan baik dan manja oleh anak sulungnya, buk Reni juga mengerti kalau sang anak hanya mengkhawatirkan dirinya.


Tapi jujur saja bagi buk Reni pekerjaan rumah justru sangat menyenangkan dan ia suka melakukannya.


Karena itu ia yang merasa belum terlalu tua tak mau atau belum mau menyewa yang namanya pembantu.


Lagian pekerjaan rumah juga tak terlalu berat dan ia masih sanggup melakukannya.


“Iya mama ngerti. Tapi mamamu ini belum jadi nenek-nenek jadi gak usah terlalu khawatir.”


“Nih liat, mama juga masih sehat kan!” Jelas sang ibu sambil mengangkat sapu.


Melihat bercandaan khas ibunya, Furya hanya bisa tertawa.

__ADS_1


Setelah berpamitan, ia langsung menjemput sang pacar.


Sherly yang sudah siap dan menungu lalu berangkat sekolah dengan sang kekasih.


Saat sampai di sekolah, Furya duduk dan ngumpul sejenak di taman bersama teman-temannya.


Hari itu adalah hari terakhir ujian semester dan nasib mereka apakah masih bertahan di Sanjaya International School akan terlihat pada senin berikutnya.


“Jir, jadi keringetan gini gue. Takut kalau nilai gak cukup.” Kata Ardhi yang memang tak terlalu pintar dalam akademik.


“Sama...semoga aja di kelas kita gak ada yang di keluarin.” Lanjut Boby.


Para murid berandalan dari kelas 2D saat itu hanya bisa melakukan yang terbaik di hari terakhir ujian.


Di SIS, memang peraturan sekolah sangat ketat dan runcing kebawah.


Jamal yang juga ada di sana terlihat begitu santai karena ia yakin nilai ujiannya pasti tinggi.


Di bantu sang sahabat, Jamal hari itu bisa tertawa lepas dan tak terlalu tertekan.


“Ganteng, hari ini bantu lagi ya...”


Di goda sang sahabat, Furya hanya mengangguk. Lalu waktu yang mereka tunggu akhirnya datang dan bel tanda ujian pertama mulai terdengar.


Teng...tong...teng...ting


“Oke Guys, selamat bertempur dan semoga kita tetap bertahan kali ini.” Kata Ali yang mencoba menghibur teman-temannya.


“Sep, semangat semuanya.” Lanjut Jamal yang sok ikut-ikutan.


Semua murid dari kelas 1 sampai 3 yang duduk dan ngumpul di taman sekolah langsung bergegas dan memasuki ruangan ujian mereka masing-masing.


Hari itu Furya yang di bantu sistem lagi-lagi menyelesaikan soal ujian dengan sekejap mata.


Ia yang bosan terpaksa pura-pura tetap mengerjakan soal padahal aslinya sudah selesai.


Sadar pengawas lebih sering menatap ke arahnya, Furya mulai bersandiwara dan tetap tenang.


Sesekali Jamal juga menghubungi dan dengan begitu hati-hati Furya membantu sang sahabat.


Dengan menundukkan kepala ke bawah meja, ia mulai memberikan jawaban soal ke Jamal yang bertanya.


“C,D,A,A,B.”


“Oke, makasih my Friend!”


Sambil terus berhati-hati, ia tetap membantu sang sahabat.


Furya juga sebenarnya ingin membantu teman-temannya yang lain.


Hanya saja tak mudah melakukan itu dan jika membeli alat transmisi suara lagi maka pasti akan banyak membuang poin.


Karena itu ia hanya fokus membantu Jamal yang memang nilai pelajarannya paling rendah di kelas mereka.


Furya yang sudah menyelesaikan soal ujian terlihat bosan dan hampir mati.

__ADS_1


Saat itu ia akhirnya sadar kalau menjadi yang terhebat ternyata sangat membosankan.


__ADS_2