
Di dalam kelas, Furya hanya duduk dan sedikit mengobrol dengan teman-temannya yang tak ada kegiatan.
Saat kelas lain sibuk mempersiapkan Bazar dan Pentas Seni, anak-anak kelas 2D yang tak berbakat dalam hal seni hanya bisa menjadi penonton.
Sampai sebelum Bazar SIS dibuka, semua murid di kumpulkan ke tengah lapangan dan kepala sekolah memberikan sedikit arahan.
“Jadi begitu anak-anak!”
“Hari ini seluruh jajaran Dewan SIS dan para Sponsor serta Donatur akan datang ke sekolah kita.”
“Tentunya Orang tua kalian juga akan datang sekaligus untuk membahas Darmawisata Sekolah yang akan datang.”
“Bapak harap kalian semua menjaga sikap dan menunjukan bakti pekerti di sekolah.”
“Tunjukkan kalau SIS tetaplah Sekolah nomor satu di Ibu Kota Jakarta. Sekian arahan dari bapak. Dengan ini Festival Terakhir SIS ke 66 resmi dibuka.”
Setelah si botak gendut alias kepala sekolah memberikan arahan, para murid bubar barisan dan kembali ke tempat mereka masing-masing.
Di parkiran utama SIS yang luas, sudah berdatangan para wali murid dan warga sekitar yang sengaja di undang terbuka tiap tahunnya untuk memperkenalkan sekolah bergengsi itu ke masyarakat umum.
Furya dan anak-anak kelas kelas 2D yang menganggur langsung berkeliling sambil mencicipi banyaknya Bazar Makanan yang disediakan.
Bersama Sherly, Furya mulai berkeliling memburu kuliner yang ada.
“Wih yang itu kayaknya enak yang.”
“Kamu mau Cumi Bakar? Mau yang pedes atau rasa BBQ?”
“Aku yang BBQ aja yang.”
“Yaudah biar aku yang ngantri kamu beli minuman sana.”
Sangking ramainya masyarakat yang datang, Bazar tahunan SIS langsung seperti pasar dan sangat ramai.
Furya yang terpaksa ngantri hanya bisa menikmati berburu kuliner sambil berdesak-desakan dengan pengunjung lain.
Selain mengundang banyak nama Food Street terkenal, ada juga sebagian murid yang ikutan berjualan.
Tapi itu hanya sebagian karena kebanyakan siswa adalah dari kaum berada dan tak membutuhkan uang tambahan.
Setelah mengantri dan mendapatkan 2 Cumi bakar jumbo, Furya pergi menemui Sherly dan makan di taman sekolah yang sudah ramai sekali oleh para pengunjung.
Melihat Sherly yang melambai, Furya tersenyum dan mendekatinya.
“Huuh, akhirnya dapet juga Cumi bakarnya!”
“Hahaha, rame banget yang datang.” kata Furya sambil duduk di sebelah Sherly.
“Jelas ramai dong. Tahun lalu juga sama ramenya.”
“Nih pesenan kamu.”
Ditemani acara music, Furya dan Sherly duduk bermesra-mesraan sambil memakan jajanan mereka.
Furya yang baru pertama kali mengikuti Bazzar tahunan disekolahnya terlihat sangat menikmati itu.
Sanjaya International School memang tak main-main kalau bikin acara.
Di taman disediakan panggung music dengan beberapa artis lokal.
Lalu disebagian tempat juga ada mini game untuk makin memeriahkan dan menghibur para pengunjung.
Tentu saja di saat-saat itu anggota OSIS dan Kedisiplinan Siswa yang paling sibuk.
__ADS_1
Namun seperti tak mempedulikan jabatannya di OSIS, Furya justru bersantai sambil asik berduaan dengan sang pacar.
Bahkan chat Aurelia yang diterimanya sejak pagi sampai ia abaikan.
Saat sedang asik makan bersama Sherly, panggilan dari sang ibu muncul di layar hp Furya.
“Hallo Ma, udah sampai?”
“Udah. Ini Mama, Nando, Arthur sama adikmu udah di depan.”
“Oke-oke ma, Furya kesana sekarang.”
Buk Reni yang baru pertama kali datang ke acara sekolah anaknya terlihat masih sedikit grogi.
Furya yang keluarganya sudah datang langsung pergi menemui mereka.
Tentu saja Sherly juga ikut dan pasangan itu jalan berdua sabil bergandengan tangan.
Melihat Furya yang datang, Nando langsung melambaikan tangan.
“Gimana Ma, ramai gak?”
“Ini bukan ramai lagi Furya, udah kayak pasar ini!”
“Hahaha, yaudah yuk masuk Ma.”
Bersama dengan keluarga kecilnya, Furya jalan-jalan keliling sekolah.
Buk Reni yang sempat berkunjung ke SIS waktu pendaftaran masuk anaknya terlihat masih takjub dengan kemegahan sekolah ternama itu. Tak lama kemudian orangtua Sherly juga menelepon.
“Akhirnya Mamaku datang juga. Yang aku ke tempat papa sama mamaku dulu ya!”
“Ohhh, yaudah.”
Ren dan Yuki yang berkunjung ke sekolah kakaknya terlihat sangat senang dan memainkan beberapa mini game yang disediakan.
“Kakak, Ren besok kalau udah besar mau sekolah di sini ya kak.”
“Iya kak, Yuki juga.”
Furya yang mendengar perkataan adiknya tentu saja mengiyakan apa kemauan kedua adik kesayangannya.
Bahkan jika tak lulus tes, dengan uang miliknya Furya dapat menjamin adik-adiknya dapat bersekolah di tempat terbaik.
Setelah agak lama berkeliling sekolah sambil memperkenalkan sebagian tempat, Furya yang di telpon lagi oleh ketua OSIS akhirnya mengangkat panggilan dari Aurelia.
“Akhirnya diangkat. Kamu dimana sih?”
“Hehehe, maaf kak Aurel. Aku lagi jalan-jalan sama keluargaku keliling sekolah.”
“Ohhh, emang harus kamu temenin gitu? Kamu gak lihat pesan yang ku kirim?”
“Pesan?...belum liat sih emang penting ya?”
“Penting dong! Kamu itu udah jadi anggota OSIS, ini temen-temenmu sedang sibuk kamu malah keluyuran.”
“Kamu sebenernya niat gak sih gabung OSIS?”
Diomelin Aurelia, Furya hanya bisa cengengesan dan meminta maaf.
Lalu ia melihat pesan dari sang ketua OSIS dan akhirnya mengerti kenapa Aureli sampai marah dengannya.
Karena tak enak hati, Furya akhirnya izin kepada sang ibu dan memilih membantu anggota OSIS lain yang sedang sibuk.
__ADS_1
“Ma, lanjutin sama om Nando aja ya, Furya ada urusan.”
“Ohh yaudah. Sana seneng-seneng juga kamu.”
“Pokoknya jangan lupa ya Ma. Nanti jam 1 siang baru ke Aula yang tadi Furya kasih tau.”
“Iya-iya Mama ngerti kok!”
Setelah itu Furya menjauh dan mendekati Arthur yang bermain bersama Ren dan Yuki.
“Arthur, tolong jaga keluargaku baik-baik!”
“Baik tuan, Saya akan menjamin semuanya baik-baik saja.”
Furya yang sudah membaca pesan letua OSIS langsung menuju Aula Utama SIS dan berniat membantu beberapa pekerjaan yang belum rampung.
Aurelia yang juga ada disana dan melihat wajah anggota baru yang tak kompeten sedikit cemberut dan langsung memberi Furya tugas.
“Hehehe, maaf kak baru baca pesannya.”
“Yaudah sana bantu anak laki-laki ngangkat dekorasi.”
Baru datang sudah disuruh-suruh, Furya yang terlanjur bergabung OSIS karena misi hanya bisa ikut membantu anggota lain.
Ditambah melihat wajah Bastian dan anggota Kedisiplinan yang ternyata juga ada disana makin membuat Furya sedikit tak senang.
Aula Utama SIS yang super besar dan mewah saat ini sudah seperti Pentas Seni Kelas Atas dan dipenuhi dekorasi mengagumkan.
Tentunya anggota OSIS dan sebagian murid lain ikut membantu dalam proses yang hampir selesai.
Karena semua hal sengaja dikerjakan oleh para murid, pekerjaan menjadi lebih melar dan tak tepat waktu.
Untungnya dibantu seorang Even Organizer(EO) terkenal, semua persiapan hampir rampung.
Furya yang mengangkat kursi besi 10 buah sekaligus langsung membuat orang-orang yang melihatnya tertawa.
“Anjay, serius kuat lu?”
“Ampun bos! Awas jatuh, hahaha.” Kata beberapa pria lain.
“Hehehe, santai.”
Untuk menghargai dan sebagai permintaan maafnya ke anggota OSIS lain, Furya bekerja lebih ekstra dan membantu banyak hal yang ia bisa
Dengan kekuatannya, sangat mudah bagi pria kuat itu menyiapkan hal-hal yang berhubungan dengan tenaga fisik.
“Huuh, akirnya selesai!” Kata Aurelia yang sempat ketar-ketir Aula Utama telat di dekorasi.
“Hahaha, kakak bilang juga apa dek. Gak mudah nyiapin acara beginian tau.” balas seorang wanita cantik yang merupakan EO Professional.
“Iya kak maaf. Cuman ini acara terakhir saya di sekolah sebagai ketua OSIS. Jadi saya sengaja buat acara ini dikerjakan oleh para murid agar lebih berkesan buat semua orang.”
“Gpp, udah hebat kalian bikin sampai kayak gini. Yaudah yuk istirahat dulu.”
Furya yang hanya membantu sebentar masih merasa tak enak hati dengan anggota lain yang terlihat kelelahan.
Ia pikir menjadi anggota OSIS hanya planga-plongo dan tak begitu melelahkan. Tapi nyatanya itu sangat merepotkan.
Setelah semua dekorasi siap, tugas Furya tak berhenti sampai disitu dan ia lagi-lagi membantu di bagian lain sambil menyiapkan beberapa barang untuk acara Pentas Seni.
“Sialan, kalau tau gini mending gak gabung OSIS aku.” kata Furya yang waktu berharganya tersita untuk hal-hal yang menurutnya tak penting.
Tapi saat melihat anggota lain yang serius terutama para kakak kelas yang membantu secara percuma, Furya sekali lagi membuang egonya dan ikut membantu apa yang bisa ia kerjakan.
__ADS_1