Perfection System

Perfection System
Tetap Saja Masih Bocah


__ADS_3

Furya yang melihat pamannya sedang melawan 2 orang maling langsung membantu.


Salah satu dari maling yang melihat dan mendengar suara  teriakan Furya melirik dan tanpa bisa menghindar langsung di serang dari belakang.


~Bum~


Pukulan kuat dari tinju Furya langsung menerbangkan seorang maling sampai menabrak dinding.


Hanya dengan sekali pukulan di punggung, maling itu langsung tergeletak.


Tapi seperti belum puas, Furya tak berhenti dan menduduki lalu memukuli maling itu sampai bonyok.


Nando yang terluka di bagian bahu dan tangan untungnya ahli beladiri.


Sejak tamat sekolah sudah merantau, pamannya itu memang di bekali ilmu silat dari kampung.


Tak mau kalah dengan Furya, Nando yang sedang melawan dan berduel hebat dengan maling lain berhasil merebut parang dan balik membacok maling yang di lawannya.


“Ku bunuh kau bocah idiot!.”


Di serang secara brutal oleh Nando dengan parang, sang maling langsung menjadi tempe bacem yang di penuhi sambal merah.


Ia juga berteriak meminta ampun sambil terus menahan bacokan Nando dengan kedua tangan.


“Ampun bang...ampun.”


“Sakit bang, udah bang. Ampun...”


2 orang maling yang jika di lihat dari wajah masih sangat muda itu kini balik di lawan dan di hajar dengan brutal.


Untungnya buk Reni yang juga bangun karena mendengar suara berisik ikutan keluar dan langsung menghentikan aksi gila Nando dan anaknya.


“Mati kau An*jing, kau kira rumah siapa yang kau maling ha!” Teriak Furya sambil terus memukuli maling yang sudah tergeletak tak melawan.


Melihat Furya dan Nando yang dengan brutal menghajar maling, buk Reni yang syok dan kaget melihat ada banyak darah langsung menghentikan aksi gila mereka.


Ia yang masih punya hati dan perasaan sebagai wanita dan seorang ibu langsung menarik Furya dan menghentikan tindakan anaknya.


“Udah...udah...bisa mati itu anak orang!”


“Udah Furya...”


“Nando udah!”


Di tarik sang ibu, Furya akhirnya berhenti memukul dan berdiri kembali.

__ADS_1


Nando yang membacok maling di hadapannya juga berhenti karena maling itu sudah diam tak bersuara.


Ren dan Yuki yang juga ikutan bangun langsung mengintip dari balik pintu kamar.


Melihat pemandangan mengerikan, mereka terlihat sangat ketakutan


Yuki yang penakut bahkan langsung menangis hebat padahal ia hanya melihat dari jauh.


Buk Reni yang melihat kekacauan itu langsung menelepon pak RT.


Di temani beberapa satpam komplek, pak RT yang di telepon salah satu warganya di jam 3 malam langsung datang dan menghubungi ambulance.


“Gila...inikan Juan sama Hengki anak pak Dayat. Jadi mereka yang maling!” kata pak RT yang kaget ternyata maling itu masih orang satu komplek.


“Pak RT ambulancenya mana, bisa gawat ini mereka berdua!”


“Sabar buk Reni, udah saya telpon.”


Furya yang kelepasan terlihat duduk di luar rumahnya yang sudah ramai oleh tetangga.


Pak Hery yang ikut membantu juga ada di sana dan sedang mengobati Nando yang terluka di bagian bahu dan tangan.


Hery yang kenal Nando dan tau ia mantan pesilat kampung merasa kasihan oleh maling yang juga masih warga komplek mereka.


Tapi tetap saja perbuatan Nando dan Furya tak bisa di salahkan seutuhnya.


Sampai tak lama setelah itu mobil ambulance datang dan kedua maling yang sekarat langsung di bawa ke rumah sakit.


Dari mereka berdua yang ternyata masih muda dan hanya berjarak beberapa tahun dari umur Furya, Hengki anak pak Dayat yang paling mengalami luka fatal.


Tangannya yang menahan sabetan parang terluka sangat parah.


Setelah keadaan sedikit kondusif, pak RT yang masih ada di rumah Furya mulai menenagkan warga yang berkumpul dan mencari tau apa yang sebenarnya terjadi.


Nando yang waktu itu belum tidur dan masih menonton TV juga menjelaskan awal mula kejadian di hadapan semua orang.


“Jadi gitu pak RT, saya refleks melawan karena mereka masuk lewat pintu belakang sambil bawa 2 parang dan langsung nyerang saya!”


“Iya bapak tau, tapi gak harus kamu buat keritis gitu anak orang!”


“Alah pak RT gak usah sok bijak, Maling kayak gitu wajib di habisin!” potong warga lain yang juga kesal melihat daerah mereka kemalingan.


“Iya pak. Itu si Hengki emang udah sering buat ulah. Di pasar dia suka malak nah sekarang udah berani maling dia!”


“Benar tuh pak, kalo gak di kasih pelajaran besoknya bisa bunuh orang tuh anak!” protes warga lain yang berkumpul di sana.

__ADS_1


Pak RT yang mencoba bersikap netral justru di semprot warganya. Ia juga mengenal siapa itu Hengki.


Pria pengangguran itu acap kali bikin ulang di daerah mereka.


Tapi tetap saja, ia yang merupakan pemimpin masyarakat mencoba menenangkan dan memberikan arahan yang baik. Apalagi pelakunya masih warga sana juga.


Setelah agak tenang, kerumunan warga mulai kembali ke rumah mereka.


Furya yang duduk di depan rumahnya akhirnya di datangin pak RT.


“Furya...bapak udah ngomong sama ibu kamu!”


“Sebaiknya kalau mau beli mobil baru sediain dulu garasinya ini sama-”


“Emang kenapa pak? Mau saya parkir mobil di samping rumah atau garasi juga apa hubungannya. Inikan masih tanah rumah saya!”


Melihat bocah di hadapannya masih tak bisa memikirkan kecemburuan sosial dan kehidupan bermasyarakat, pak RT mulai menasehati kembali.


“Gini ya Furya, 30 tahun bapak menjadi RT di sini dan udah banyak banget maling di daerah kita.”


“Kamu tau kenapa dan kesalahanmu di mana?”


“Mana saya tau pak. Lagian dia yang salah udah berani maling rumah orang. Saya cuman melindungi keluarga saya!”


“Iya bapak tau...tapi denger dulu ini!”


Malam itu, Furya di berikan pencerahan oleh pak RT.


Dirinya yang baru membeli motor dan sekarang memarkirkan mobil mewah di sebelah rumah dengan begitu mudah tentu saja akan menarik banyak perhatian orang.


Di bilang salah juga tidak, semua orang berhak membeli apapun yang mereka mau jika mampu.


Furya juga memarkirkan mobilnya di samping rumah yang masih menjadi tanah milik keluarganya dan tak menganggu siapapun.


Tapi sadar atau tidak, itu sama saja dengan Furya yang sengaja memancing kejahatan untuk mendekat.


Di nasehati pak RT yang sudah tua, Furya duduk diam dan mendengarkan dengan baik.


“Jadi gitu, masyarakat di sekitar kita gak semuanya mampu. Jadi kamu harus bisa menjaga perasaan mereka juga.”


“Bapak senang kamu dan keluargamu hidupnya jadi lebih baik. Tapi bukan berarti kamu bisa mamerin mobil baru di samping rumah dengan terang-terangan!”


“Furya gak pamer pak, lagian apa urusannya sama perasaan orang lain. Pas keluarga saya susah ada gak dari mereka yang bantu?”


“Itu dia kesalahan kamu, kamu gak sadar udah buat masalah. Ingat di dunia ini gak semuanya tentang uang!”

__ADS_1


Di nasehati panjang lebar seperti anak kecil oleh pak RT, Furya menahan diri dan tak terlalu meladeni.


Bagi Furya yang saat susah tak pernah di tolong tetangga(Selain pak Hery) persetan dengan mereka semua.


__ADS_2