
Di perjalanan pulang, Ren dan Yuki yang duduk di belakang bersama sang ibu terlihat sangat senang menaiki mobil baru mereka.
Kaca mobil juga di buka lebar karena permintaan sang adik yang ingin melihat pemandangan malam kota Jakarta.
Setelah sampai rumah, Furya yang turun dari mobil langsung membantu membawa barang belanjaan bersama sang ibu.
Pamannya yang melihat Furya dan buk Reni ikutan membantu membawa barang melarang dan langsung menyuruh mereka istirahat.
“Udah gpp, biar om aja yang bawa ke dalam.”
“Furya juga maunya gitu om, cuman dari pada mama yang bawa mending aku aja yang bantuin bawa.”
“Udah keluarin tuh semua om, mau hujan kayaknya nih!”
Karena hari mendung, Furya dan Nando langsung mengeluarkan barang belanjaan dengan cepat.
Buk Reni juga sudah istirahat sejenak di kamar bersama kedua adiknya.
Tapi Ren yang baru saja membeli motor mini belum lelah dan langsung ingin mencoba motor barunya.
“Cepetan om, Ren udah gak sabar nih.”
“Bentar...”
Di perintah bocil, Nando hanya bisa menuruti dan menurunkan motor mini Ren yang baru di beli.
Furya yang melihat adik lelakinya mencoba motor mini baru di samping rumah langsung mendatanginya sambil membawa barang belanjaan.
“Mau hujan, besok aja mainnya Ren!”
“Alah kak, kan belum ujan. Sebentar aja kok.”
“Yaudah tapi jangan ke jelan raya. Di sekitar sini aja mainnya.”
“Oke bos!”
Furya yang selesai membawa semua barang duduk sejenak di depan rumah sambil memperhatikan adik lelakinya yang mencoba motor baru.
Meskipun kecil, tetap saja kecepatannya tinggi dan Furya sudah di beritahu oleh sang penjual untuk mengawasi adiknya karena berbahaya.
Ren yang merupakan bocil bandel juga dengan cepat menguasai dan mengerti cara naik motor mini.
Sambil duduk melihat Ren di depan bengkelnya, Nando mendekati Furya dan mengajak ngobrol.
“Makasih udah mau percaya sama om.”
“Terus kamu dapat duit sebanyak ini dari mana sih?”
Furya yang di tanya diam sejenak dan menjawab singkat.
“Rahasia...”
__ADS_1
Baru saja mobil terparkir, tetangga Furya yang memang sedikit julid terlihat mondar-mandir dan mengintip ke arah rumahnya.
Sadar ada ibuk-ibuk yang mengintai, Furya yang kenal langsung menyapanya.
“Kenapa buk Fatimah, kok bolak-balik dari tadi?”
Buk Fatimah yang di sapa Furya langsung cengengesan dan mendekat.
“Hehehe, gpp Furya. Ngomong-ngomong itu mobil siapa?”
Sadar ada intel yang bertanya, Furya hanya tersenyum dan menjawab singkat.
“Itu mobil mama saya buk!”
Buk Fatimah yang mendengar langsung dari mulut Furya hanya mengangguk dan tersenyum balik.
Baru beberapa hari lalu tetangganya itu membuat gempar seisi komplek karena membeli motor sport secara cash.
Sekarang berulah lagi dan membeli mobil yang jika di lihat saja orang-orang akan tau kalau harganya pasti sangat mahal.
Dalam hatinya, buk Fatima si penjual pecel lele merasa yakin kalau sebentar lagi mungkin rumah Furya yang kecil akan menjadi gedung.
“Ohhh, yaudah ibuk permisi dulu ya. Mau hujan kayaknya.”
“Iya buk hati-hati. Terus bilangin sama yang lain kalau ini mobil di beli pake uang halal ya buk dan bukan hasil kejahatan!”
Mendengar perkataan nyelekit Furya, buk Fatimah langsung cabut.
Furya yang sempat pergi ke minimarket dan mendengar desas-desus kurang sedap di sekitar tetangga tentang keluarganya juga tak begitu senang.
Bisa-bisanya kabar buruk kalau dirinya mendapatkan uang secara tak benar beredar begitu cepat padahal itu semua bohong.
Bahkan ada yang bilang Furya melakukan transaksi narkoba, pesugihan dll.
Sambil memperhatikan Ren yang terlihat asik menggunaan motor barunya, seperti yang Fuya duga, cuaca yang mendung akhirnya berubah menjadi hujan deras dan merekapun masuk ke dalam rumah.
Mobil Porsche putih barunya yang terparkir di luar juga langsung kotor terkena hujan yang begitu hebat.
Di dalam rumah, Furya yang makan malam bersama keluarga kecilnya langsung menjelaskan kepada Nando apa yang harus ia lakukan jika mau tetap tinggal di rumah itu.
“Pokoknya gitu om. Pagi antar Ren sama Yuki terus siangnya jemput.”
“Sepp...serahin sama om.”
“Terus kalo mama mau keluar juga anterin. Lebih bagus lagi sekalian bantu-bantu beresin rumah biar mama gak capek!” Singung Furya kembali sambil menyantap ayam goreng buatan sang ibu.
“Aman, pasti om bantu!”
Buk Reni yang melihat sang anak akhirnya mau membuka hatinya hanya tersenyum bahagia dan bisa bernafas lega.
Ia yang sempat khawatir Furya akan mengusir pamannya sendiri alias adiknya menjadi plong.
__ADS_1
“Ngomong-ngomong kalau udah punya banyak uang kok gak renovasi ini rumah. Atau gak beli aja rumah baru gitu yang lebih besar!” Kata sang Paman.
Furya yang sempat membahas hal itu dengan sang ibu langsung melirik ke ibunya.
Buk Reni yang merasa belum siap untuk merubuhkan bangunan bersejarah yang ia dan suami bangun dengan kerja keras langsung berbicara.
“Bentar lagi ya...mama belum siap kayaknya.”
Melihat sang ibu sedih kembali, Furya langsung menenangkan.
“Santai ma, gak perlu buru-buru. Kalau mau kita juga bisa pindah ke rumah lain dan ini rumah juga biarin aja kayak gini.”
Ren dan Yuki yang mendengar perbincangan itu langsung kaget.
“Huuh, kita mau pindah kak?” Tanya ren.
“Enggak. Kalo mau aja sih, hehehe”
“Yahhh...Ren gak mau pindah kak, Ren mau tinggal di sini aja.”
“Iya kak, kalo pindah nanti Yuki main sama siapa?”
“Jangan pindah ya kak, Ren suka di sini kak.”
Furya yang jelas tau kalau kedua adiknya enggan pindah rumah juga tak akan memaksa mereka.
Di komplek itu juga sangat ramai anak-anak sebaya adiknya.
Meskipun rumah mereka tepat di pinggir jalan, tapi di sebelahnya ada gang komplek melati yang memang masih satu RT.
“Udah gak usah khawati. Kita gak bakalan pindah kemana-mana kok.”
Mendengar perkataan kakaknya, Ren yang tenang langsung lanjut makan dan mengambil 2 paha ayam kembali.
Setelah makan malam, Furya berniat tidur lebih cepat karena besok ia akan joging bersama sang pujaan hari.
Buk Reni di temani Ren dan Yuki juga tidur di kamar lain.
Karena kamar hanya ada 2, Nando terpaksa tidur di ruang tengah.
Malam itu keluarga Furya tidur nyenyak karena udara malam yang dingin sehabis hujan.
Saat sedang nyenyak tertidur, seperti mendengar suara perkelahian yang sangat berisik dari luar kamar, Furya tiba-tiba saja terbangun.
Mendengar suara ribut dan perabotan yang pecah, jantung Furya langsung berdetak cepat.
Ia juga langsung bangun dan mengecek apa yang sebenarnya terjadi.
Baru saja membuka pintu, di ruang tengah sang paman terlihat sedang berkelahi hebat dengan 2 orang maling yang masuk ke dalam rumah.
Darah merah juga berserakan di lantai dan membuat Furya murka seketika.
__ADS_1
“Maling An*jing.”
Melihat sang paman yang bersimbah darah melawan 2 maling bersenjata, Furya marah besar dan langsung menerjang.