
Aurelia yang memenangkan pertandingan akhirnya menyusul juniornya itu ke babak final.
Jujur saja 2 tahun ini ia selalu memenangkan lomba catur dengan mudah dan merasa bosan.
Ia yang tak terlalu bisa olahraga memang hanya mengikuti lomba-lomba yang lebih banyak menggunakan otak.
Tentu saja di semua lomba yang diikutinya sang ketua OSIS selalu memenangkan pertandingan dengan mudah.
Bahkan Nadia yang merupakan Grandmaster catur muda dari Indonesia bukanlah tandingan wanita genius itu.
Namun kini, seorang pria misterius tiba-tiba saja muncul dan menghilangkan rasa bosan dihatinya.
“Oke anak-anak, kita bakalan lanjutkan babak Final catur ke 66 SIS.”
“Disebelah kiri ada Juara bertahan kita yang tak terkalahkan selama 2 tahun berturut-turut yaitu ketua OSIS SIS Aurelia Sanjaya.”
“Lalu di sebelah kanan ada sang bintang baru dari kelas 2D yang tak terprediksi. Jujur aja bapak gak kenal banget loh sama ini cowok misterius sebelum jadi juara umum!”
“Siapa dia? Yap, benar sekali, dia adalah sang Juara Umum semester ini, Furya Aditya.”
Furya yang namanya disebut mendapatkan dukungan yang tak kalah meriah dengan ketua OSIS.
Bahkan para wanita makin banyak berkumpul untuk sekedar melihat wajah tampannya saat bermain catur di layar tancap besar.
Seperti sudah ahli menjadi komentator, pak Bagas yang menjadi komentator dadakan terlihat sangat senang sekaligus membara karena sebentar lagi akan melihat pertarungan berkelas dari 2 murid berbakatnya.
“Oke, kalau sudah siap kita mulai aja ya.”
“Tiga, dua, satu, Start!”
Saat aba-aba mulai terdengar, Aurelia langsung tersenyum manis dan menyodorkan tangan kanan sebagai formalitas perkenalan.
“Ayo kita bertanding dengan sportif!”
Furya yang mendengar perkataan Aurelia hanya tersenyum dan menjabat tangannya.
“Sep, mohon kerja samanya kak Aurel!” Balas Furya sambil tersenyum tipis dan akhirnya pertandingan pun dimulai.
Tapi seperti berkata lain, suara yang sudah lama ia tunggu-tunggu akhirnya terdengar dan sedikit mengagetkan Furya.
[Ding! Selamat tuan mendapatkan misi baru]
[Kalahkan wanita dihadapan tuan dalam permainan catur dan menjadi juara, hadiah 17.000 Perfection Poin]
Furya yang duduk di hadapan ketua OSIS Aurelia dan mendengar suara misi yang aktif langsung memulai langkah pertamanya.
Seperti sudah menjadi ciri khas pria muda itu, gaya permainan santai langsung Furya tunjukan.
Datangnya misi juga tak membuat Furya bimbang.
Daripada memilih curang diawal, ia lebih memilih mencoba terlebih dahulu.
Toh ia bisa sampai ke babak final juga murni karena kemampuan miliknya.
Aurel yang sempat dikalahkan saat lomba cerdas cermat oleh adik kelasnya itu menjadi lebih termotivasi.
Karena itu ia langsung serius dan bertarung dengan bersungguh-sungguh.
Gaya permainan Aurelia yang agresif hampir sama dengan Bastian. Sejak awal ia langsung menyerang dari segala sudut.
Furya yang diserang ganas mulai memikirkan langkah pencegahan.
“Ayo Furya, Berfikir...”
Dengan gaya permainan santai seperti air yang mengalir, Furya menahan serangan cepat Aurel dan mengambil alih tempo permainan.
Mungkin jika diibaratkan, Aurelia seperti Naga yang menyerang dari atas langit secara terang-terangan dan terbuka.
Sedangkan Furya seperti rombongan Serigala yang lebih menunggu momen terbaik untuk menyerang.
__ADS_1
“Hohoho, sepertinya kali ini pertandingan akan agak lama!” Kata pak Bagas.
Komentator lain yaitu Dharma yang mendengar perkataan gurunya juga spontan bertanya.
“Kenapa begitu, pak?”
“Lihat itu, mereka berdua memiliki gaya permainan yang jauh berbeda.”
“Satu menyerang secara terbuka dan satu bertahan sambil menunggu moment yang pas. Jadi ini hanya soal waktu sampai dua predator itu akan saling menerkam dan membunuh.” Jelas pak Bagas.
Furya yang memasuki mode serius terlihat sangat fokus melihat papan catur.
Semua fokusnya sudah berada di tiap bidak catur.
Tapi Aurelia yang genius bahkan lebih dari itu dan sudah mempersiapkan jebakan berskala panjang dan hanya tinggal menunggu waktu untuk diledakkan.
Dan benar saja, Furya yang mulai kehabisan waktu karena banyak berfikir akhirnya membuka sedikit pertahannya.
Didesak waktu, Furya akhirnya mulai menyerang menggunakan pion andalannya yaitu Sang Ratu.
“Hahaha, kena kau!” Kata Aurelia dalam hati sambil tersenyum manis.
Hanya dalam sekali gerakan akurat, Furya yang mulai menyerang langsung tertekan.
Ia dipaksa saling memakan bidak catur sampai bom waktu yang telah disiapkan Aurelia sejak awal pertandingan aktif.
Saat itu juga Furya dengan terpaksa kehilangan sang Ratu tercinta.
“Aduh...ga enak gini posisinya.”
“Malah Ratu udah ilang lagi!” Kata Furya dalam hati sambil tetap berfikir.
Furya yang berada dalam kondisi tak diuntungkan mulai keringatan.
Ditambah kehilangan Ratu yang merupakan pasukan andalannya seperti membuat permainan Furya kacau.
Aurelia yang melihat adik kelasnya itu sudah mati langkah hanya tersenyum.
Baginya melawan Nadia bahkan jauh lebih sulit.
Melihat tuannya yang kebingungan dan waktu yang hampir habis, sistem seperti terprogram khusus mencoba memberikan sedikit bantuan.
[Ding! Sistem menyarankan tuan membeli Skill Dewa Game atau Skill Catatan Masa Depan untuk memastikan kemenangan tuan]
[Peringatan tambahan, jika misi gagal tuan akan menerima hukuman pengurangan exp dan poin]
Furya yang di desak waktu bahkan sistem mengambil nafas dalam-dalam dan mencoba menenangkan dirinya kembali.
Dalam permainan catur profesional tak peduli sesulit apapun kondisimu, ketenangan dan fokus tetaplah menjadi kunci utama. Itulah apa yang pernah ayahnya ajarkan dulu.
Lalu saat ia melihat bidak catur yang tersisa, Furya teringat dengan kenangan lamanya ketika bermain dengan sang ayah bahkan posisinya yang terdesak sekarang hampir mirip.
Menghadapi ketua OSIS yang penuh perhitungan dan kuat seperti Naga di udara, Furya seakan melawan sosok ayahnya kembali.
Sejak kecil bahkan sampai sekarang tak pernah sekalipun Furya mengalahkan ayahnya itu.
Namun dalam satu kesempatan, Furya pernah menyudutkan ayahnya dengan permainan gila yang ia lakukan.
Karena itu Furya yang sebelumnya sudah bersalaman dan mengatakan akan bermain sportif mulai melakukan hal yang gila.
Kini sang Raja yang harusnya ia lindungi keluar dari pertahanan dan membuat pergerakan besar.
Saat itu ia juga tak ingin bergantung pada sistem dan menodai permainan penuh kenangan bersama sosok yang dikaguminya hanya demi poin semata.
“Ehhh, lah..lah..lah, kenapa ini. kok Rajanya di majuin?” Kata pak Bagas kebingungan.
“Emang kenapa bang Messi, ehh maksudnya pak Bagas?”
“Gak Boleh gitu dong, mau dalam kondisi apapun Raja harus dalam keadaan aman. Ini sama aja dengan tindakan bodoh! Kalau Raja mati yaudah, game over ini.” Tutur pak Bagas.
__ADS_1
Pak Bagas yang melihat Furya makin kehabisan waktu dan memajukan Raja ke barisan depan merasa muridnya itu sudah kehabisan ide dan melakukan blunder fatal.
Namun dimata Aurelia yang dapat melihat pergerakan aneh Furya, itu sama sekali bukanlah kesalahan dan bahkan harus dilakukan.
Bidak Raja dalam catur memang lemah karena pergerakannya terbatas.
Tapi jika digunakan dengan efisien dan akurat, itu bisa menjadi senjata terkuat di pertempuran.
Bayangkan saja Raja musuhmu ada di barisan depan, sudah jelas siapapun itu akan mengejarnya tak peduli apapun yang terjadi.
Inilah yang di inginkan Furya. Dengan ini pergerakannya yang hampir mati dapat dibuka dan dirapikan kembali.
Seperti pedang bermata dua, ini menjadi pertaruhan hidup dan mati Sang Raja.
“Heeh, boleh juga. Tapi begini saja tak akan cukup untuk mengalahkanku!”
Aurelia yang melihat keanehan itu tak mempedulikan Raja milik Furya dan fokus melahap pasukan yang lain.
Furya yang akhirnya mengerti cara bermain Aurelia yang menyerang tapi melihat jauh kemasa depan teringat kembali dengan gerakan khas sang ayah.
Jika dihitung sudah ribuan kali ia bertanding dengan ayahnya tapi tak pernah sekalipun Furya menang.
Jadi ketika melawan musuh yang mengingatkannya dengan sosok yang dikaguminya, Furya entah kenapa menjadi senang dan tersenyum cerah.
Ini bukan lagi permainan baginya melainkan pembuktian apakah ia mampu melampaui sosok sang ayah.
“Ayah, apa kau bisa melihatku?”
“Apa yang harus kulakukan?”
“Apa aku harus curang lagi kali ini?”
“Tolong beritahu aku, ayah!”
Furya yang mengingat sosok ayahnya yang tak pernah curang dan selalu sportif dalam bermain kini menatap meja catur dengan fokus tingkat tinggi.
Ia menatap bidak Raja seperti melihat dirinya sendiri dan mulai menyerang maju.
Aurelia yang melihat Furya maju menyerang sendirian menggunakan Raja hanya bisa geleng-geleng dan menganggap adik kelasnya itu sudah pasrah dan menyerah.
Saat itu banyak juga penonton yang mulai bingung dan menyangka Furya sudah pasti kalah.
Tapi nyatanya bukanlah seperti itu. Saat ini seluruh fokus dalam diri Furya berada di tiap bidak catur yang tersisa di atas meja.
Ia seakan berada di medan pertempuran sungguhan dan sedang menghadapi sosok Naga Penguasa Langit.
Dengan tenang seperti air yang mengalir, Furya mulai menyerang dan maju kedepan.
Bahkan para pasukan yang tersisa kini sudah tak melindungi sang Raja dan fokus pada musuh utama mereka.
Aurelia yang baru pertama kali melihat gaya permainan gila seperti itu tak sengaja melakukan kesalahan kecil.
Sebenarnya bukan kesalahan, hanya saja peluang kecil itulah yang sudah di tunggu-tunggu oleh Furya sejak tadi.
Furya yang melihat secercah harapan langsung menggunakan dan memanfaatkan semua pasukan yang ia miliki.
Tak terhitung banyaknya pasukan yang ia korbankan percuma demi mencapai satu titik terdepan sampai akhirnya memojokkan sang Naga.
“Skak...”
Aurelia yang di skak mencoba tetap tenang dan mundur sesaat sambil tetap fokus melihat kearah bidak catur dimeja.
Namun Furya sudah melebih segala hal, Ia bahkan saat ini sudah menyatu seutuhnya dengan permainan catur itu sendiri dan menganggap sang Raja adalah dirinya yang sedang bertarung dalam keadaan hidup dan mati.
Dengan kesatria berkuda dan sang Raja di bagian terdepan, Furya dengan kekuatan terakhir dapat menusuk tetap ke jantung sang Naga.
“Skak...”
Aurelia yang di desak dan terhalangi pasukan lain untuk lari masih tak mengerti bagaimana posisinya bisa tersudutkan sampai seperti itu.
__ADS_1
Tapi ketika melihat wajah pria dihadapannya, Aurelia langsung paham kalau ia yang meremehkan musuh sudah dikalahkan.
Tak mungkin baginya bisa menang melawan seorang pria yang tersenyum seperti Raja Sejati yang siap mengorbankan nyawanya di medan perang.