Perfection System

Perfection System
Makin Tampan


__ADS_3

Setelah selesai sekolah, Furya pulang ke rumah bersama Sherly.


Karena sore itu ia sudah ada rencana ingin ke salon, Furya yang tak bisa menolak permintaan sang kekasih hanya nurut.


Di tambah rambutnya memang sudah panjang dan memang waktunya di pangkas.


Furya yang sampai rumah langung mandi dan bersiap-siap.


Hanya tinggal menerima satu misi lagi sampai ia mendapatkan 100 Ribu Poin yang di inginkannya.


Jika saja sudah sampai, mungkin ia akan langsung pergi ke rumah sakit.


Hanya saja misi random tak bisa di pilih dan hanya akan aktif di waktu tertentu saja tanpa bisa ia perkirakan.


Sambil mandi, Furya dapat melihat total Poin miliknya di layar hologram.


Nama                       : Furya Aditya


Ras                           : Manusia


Level                        : 12


Status                       : Penerus Resmi Dewa Kesempurnaan


Umur                        : 17


Perfection God      : Terkunci


Perfection Body     : 220


Perfection Rich        : 0


Perfection Power  : 50


Status Poin             : 0


Perfection Poin      : 96.990


“Hiuhh, dikit lagi 100 ribu poin. Semoga aja malam ini bisa langsung kebeli.”


Setelah mandi dan bersiap-siap, Furya langsung tancap gas ke rumah Sherly.


Meskipun tadi Naomi sempat menelepon dan memastikan masalahnya kelar, Furya tak percaya begitu saja dan tetap waspada.


Karena itu juga kedua adiknya ia titipkan di cafe Sherly yang ramai saat dirinya ingin ke salon.


Ren dan Yuki yang sudah lebih dulu main ke cafe Sherly juga sudah di beritahu untuk lebih hati-hati.


Jika ada orang tak di kenal yang mencurigakan, mereka sudah di suruh untuk menjauh dan lari.


Setelah tampil rapi dan keren, Furya pergi menjeput sang pacar.


Setibanya di cafe Sherly ia dapat melihat sang adik bungsu Yuki di meja kasir bersama ibu Sherly.


“Sore tante, Sherly udah siap tante?”


“Udah... duduk aja dulu bentar lagi paling datang.”


Karena tak melihat Ren di sana, Furya bertanya pada sang adik bungsu.


“Si Ren mana, kok gak keliatan?”

__ADS_1


“Ren lagi di dalam kak, dia asik main game.”


“Ohhh...”


Tak lama menunggu, Sherly yang sudah dandan cantik dan menawan akhirnya keluar dari kamar dan menemuinya.


Furya yang melihat sang pacar dengan pakaian casual modern begitu mempesona hanya tersenyum dan langsung berdiri.


“Yuk pergi...”


Setelah berpamitan dengan ibunya, Sherly dan Furya langsung meluncur ke salon langganan Sherly.


Karena sedikit elite, salon Austine tempat langganan Sherly dan ibunya memang agak jauh dan berada di pusat kota.


Tapi karena harganya yang tak begitu mahal dan hasilnya memuaskan, banyak pelanggannya bukan hanya berasal dari kalanagan atas saja.


Akhirnya setelah mengedarai motor beberapa menit, Furya dan Sherly sampai di lokasi.


Di lihat dari depan saja Furya sudah tau kalau salon Austine yang di ceritakan Sherly pasti bukan tempat sembarangan.


Furya yang biasanya pangkas rambut di abang-abang depan rumahnya menjadi sedikit grogi.


Jujur saja ia baru pertama kali ke tempat seperti itu.


“Ayo. Masuk. Kamu. Pasti. Seneng. Ketemu. Koko. Austine.”


“Ohhh, jadi nama salon ini pakai nama orang aslinya?”


“Iya. Dia. Udah. Terkenal. Dan. Profesional. Di. Bidang. Salon. Dan. Kecantikan.”


“Heeem, gitu toh.”


Tanpa berlama-lama, Furya dan Sherly memasuki tempat salon.


Di tambah ada banyak tante-tante yang langsung melirik ke arahnya saat ia baru saja masuk.


Furya yang di tatap oleh-tante-tante cantik menjadi makin grogi.


“Ehhh, Sherly. Duduk dulu sayang.”


Sherly yang sampai dan di suruh menunggu oleh Austine si pemilik salon hanya tersenyum dan duduk di salah satu kursi.


Furya yang sudah merasa aneh dengan nama Austine akhirnya hanya bisa tepok jidat karena dugaannya benar.


Pria pemilik salon itu ternyata  adalah seorang banci.


“Anjir, beneran banci dong!” Kata Furya dalam hati.


Untung saja masih ada karyawan lain yang merupakan wanita dan Furya bisa bernafas lega.


Ia yang geli dan jijik dengan pria feminim seperti itu langsung buang muka saat di tatap oleh koko Austine.


Sambil menunggu, Sherly yang duduk di samping sang pacar terlihat asik membaca majalah kecantikan.


Furya yang gerah karena di tatap banyak mata di sana menjadi keringat dingin.


Sampai akhirnya ada salah satu tante-tante datang dan duduk di sampinya.


“Hallo cowok ganteng, siapa namanya?


Di dekati dan di tanya, Furya menjadi pucat dan kebingungan.

__ADS_1


Untungnya Sherly yang tak cemburuan hanya tersenyum dan tertawa melihat sang pacar yang di godain tante-tante.


“Ihhh, sombong amat sih di tanyain diem aja.”


“Hehehe, maaf tante. Nama saya Furya.”


“Ohhh, nama yang sedikit aneh ya. Ini cewek kamu?”


“I-iya tante.”


“Ihhh, cantiknya. Salam kenal ya. Nama tante Kemala.”


Furya yang berkenalan dan di ajak ngobrol oleh tante-tante hanya bisa pasrah dan meladeninya.


Sambil menunggu antrian, Furya hampir gila karena bukan hanya satu tapi ada 3 tante muda yang mendekatinya.


Sherly yang ada di sana bahkan tak membantu dan justru tertawa dan membiarkan Furya di godain.


Sampai akhirnya antrian makin sepi dan giliran Furya tiba.


“Ayo mas, silahkan.”


Di panggil oleh orang yang paling tak di inginkannya, Furya hanya bisa pasrah.


Kata Sherly koko Austine sangat pro dan karena itu Furya mencoba menahan kegeliannya.


“Mau di potong gaya apa mas?”


Furya yang di tanya juga bingung harus jawab apa.


Biasanya di tempat cukur abang-abang di dekat rumahnya, Furya hanya potong pendek dan rata.


Karena untuk menghemat uang, Furya memang selalu potong habis bahkan nyaris botak.


“Hemmm, gini deh ko. Coba koko potong sesuai tren anak cowok jaman sekarang aja deh.”


“Ohhh, oke-oke jadi sesuai selera koko ya.”


“Bukan, maksud saya potong sesuai tren anak cowok sekarang.”


“Hehehe, iya iya koko ngerti kok.”


Akhirnya rambut Furya mulai di potong. Berbeda dengan tempat langganannya, di sana ia benar-benar di buat kaget karena semuanya berbeda.


Mulai dari keramas, pijit manja dan sebagainya. Semua fasilitas dan hal yang memanjakan kepala benar-benar membuatnya nyaman.


Koko Austin yang mulai memotong terlihat sangat terampil dan ahli dalam menggunakan gunting.


Tanpa alat bantu dan hanya modal gunting saja, rambut Furya di potong dan hasilnya benar-benar membuat Furya kaget.


“Huh...ini benaran aku kan?” Tanya Furya dalam hati.


Melihat dirinya yang sudah seperti artis-artis korea, Furya menjadi bingung dengan wajahnya sendiri.


Biasanya wajahnya agak sangar, kumuh dan kucel.


Tapi karena memang tubuhnya berubah dan makin bersih , ia bahkan tak mengenali wajahnya lagi.


“Gila sih, cuman gaya rambut doang bisa merubah semuanya.”


“Ahhh mas bisa aja. Emang dasarnya mas udah ganteng kok.” kata ko Austine sambil membelai pipi Furya.

__ADS_1


Furya yang di belai langsung kaget dan merasa jiik bahkan mau muntah.


Tapi karena puas dengan hasilnya, ia menahan diri dan mencoba tersenyum.


__ADS_2