Perfection System

Perfection System
Arthur Sang Mesin Sempurna


__ADS_3

Furya yang mendapatkan bawahan baru langsung membawa Arthur ke kamarnya.


“Nih, pake dulu baju biar enak dilihat!” kata Furya sambil menyerahkan baju dan celana.


Arthur yang melihat masternya memberikan pakaian hanya menyentuh baju pemberian Furya dan secara mengejutkan dapat menggunakan barang yang sama.


Menggunakan teknologi tertinggi, dengan hanya menyentuh suatu benda Arthur dapat menggunakan atau menduplikat benda serupa.


Furya yang melihat kehebatan Arthur hanya meletakan tangan kirinya di dagu.


“Jadi begitu ya.”


“Arthur, apa saja yang bisa kau lakukan?”


Arthur yang sudah menggunakan pakaian dengan sopan bersujud kembali dan menjawab pertanyaan tuannya.


“Lapor tuan, Saya dapat menyalin dan menduplikat semua benda dan melakukan segala hal yang tuan butuhkan.”


“Tapi kemampuan saya belum sempurna karena minimnya data yang saya punya saat ini.”


Furya yang mendengar perkataan Arthur langsung mengerti apa maksudnya.


Tepat seperti yang sistem katakan sebelumnya, Arthur adalah kecerdasan buatan dari kesempurnaan teknologi masa lalu yang hilang.


Dia dapat menduplikat benda apapun yang ia sentuh dengan teknologi nano super canggih yang ada di inti programnya.


Namun Arthur yang dibangkitkan masih seperti bayi kecil dan harus menyempurnakan kemampuannya sendiri.


“Baiklah aku mengerti. lalu bisakah kau ubah wajahmu itu agar tak terlalu mirip denganku?”


“Seperti permintaan tuan, tapi saya membutuhkan contoh terlebih dahulu.”


Furya yang mengerti itu langsung mengeluarkan hp miliknya dan menyerahkannya pada Arthur.


“Nih, ini namanya hp. Di dunia ini hampir segala hal bisa kau pelajari dari benda kecil ini.” Kata Furya sambil menyerahkan hpnya.


Arthur yang diberikan teknologi berupa smart phone langsung memegang dan menyalin semua data yang ada.


Saat itu juga bayi yang baru lahir itu mendapatkan sejuta pengetahuan baru dari internet dan makin berevolusi ke tingkat lebih tinggi.


“Terima kasih master, saat ini saya sudah mempunyai lebih dari 2 milyar wajah manusia. Apakah ada spesifikasi khusus yang master inginkan?”


“Terserah, gunakan wajah siapa saja tapi jangan sampai yang mudah dikenali.”


Diberi perintah, Arthur merubah bentuk fisiknya dan menjadi bentuk baru.


Kini sosok pria tampan umur 40an berdiri gagah dihadapan Furya.


“Heee, hebat juga.”


Furya yang baru membangunkan mesin dengan evolusi tak tertandingi  benar-benar dibuat takjub.


Harga 100 juta Poin Sistem memang sangat layak dengan satu anak buah seperti Arthur.


“Hemmm, bukankah ini terlalu tua. Perlihatkan wajah lain kepadaku.”


Furya yang tak suka wajah pria macho dan super tampan itu menyuruh Arthur merubah penampilannya lagi.


Arthur yang diperintah hanya menuruti semua kemauan Furya dan mulai berganti-ganti wajah.

__ADS_1


“Hahaha, tolong jangan jadi wanita cantik. Ada wanita aneh diluar sana yang akan marah jika aku dekat dengan wanita lain.”


Arthur yang tak bisa menentukan keinginan sang majikan akhirnya melihat data pribadi Furya yang ada di hp.


Disana ia menemukan satu wajah yang sangat mirip dengan sang master.


“Bagaimana dengan yang ini master?”


Saat Arthur berubah menjadi sosok ayahnya, Furya langsung terdiam.


Bukannya tak senang, hanya saja itu sangat menyakitkan baginya ketika melihat wajah sang ayah yang telah tiada muncul kembali di hadapannya.


“Apapun asalkan jangan yang itu!”


Arthur yang melihat perubahan ekspresi wajah Furya langsung mengerti dan memodifikasi sedikit penampilannya.


Dengan postur tubuh dan wajah yang hampir serupa tapi dimodifikasi menjadi lebih menarik akhirnya sosok Arthur yang paling pas jatuh ke wajah pria tampan umur 20an dengan rambut pirang perpaduan pria modern dan abat pertengahan.


“Heemm, yang ini lumayan menarik.”


“Baiklah pakai yang ini saja dan mulai sekarang sosok ini akan menjadi dirimu yang asli.”


“Perintah dilaksanakan!”


Arthur yang selesai mempelajari banyak hal dari internet dan masternya kini duduk di kamar.


Selagi Furya bersiap-sipa menemui Sherly, sang mesin canggih hanya diam saja.


Furya yang mau ngapel sekaligus meminta hadiahnya terlihat full senyum dan tak sabar.


Sambil beriap-siap, ia menyuruh Arthur belajar sendiri dan berkeliling kota jakarta.


“Seperti katamu Arthur, semakin banyak kau menyentuh sesuatu maka semakin berguna dirimu. Misi pertama dariku malam ini adalah pergi dan pelajarilah lebih banyak hal.”


“Baik master, perintah diterima.”


“Ohhh, satu lagi. Jangan panggil aku master. Terus jangan terlalu Formal dan Panggil namaku saja.”


“Seperti perintah master. Kalau begitu aku pergi, Furya!”


Arthur yang mengerti pesan dan perintah sang master langsung mengerjakan misi pertamanya.


Malam itu ia berkeliling kota Jakarta dan menyentuh banyak hal untuk evolusi dirinya sendiri.


Furya yang melepaskan AI super canggih dan sangat berbahaya ke tengah kota seperti tanpa dosa malam itu pergi ke rumah sang kekasih.


Melihat cafe Sherly yang ramai, Furya sedikit basa-basi dan mengobrol sejenak dengan orang tua Sherly yang ada di cafe.


“Yaudah kalo gitu Furya nemuin Sherly dulu ya om.”


“Oke.”


Furya yang sudah izin langsung menemui Sherly di kamarnya.


Melihat sang pacar yang sudah datang dan mengetok pintu, Sherly langsung membuka pintu dan menyeret Furya masuk.


“Akhirnya datang juga, sini masuk!”


“Hehehe, ya jelas datang dong.”

__ADS_1


“Kamu mau minum apa? Biar ku buatin dulu.”


“Gak usah repot-repot, aku mau minum kamu aja!”


Mendengar perkataan aneh sang pacar, Sherly hanya bisa malu-malu dan sedikit grogi.


Saat itu juga ia teringat dengan janji anehnya waktu itu.


Furya yang sampai di kamar sang pacar duduk sejenak dan menonton pertunjukkan Biola sang kekasih.


“Mantap, udah kayak artis beneran!”


“Hehehe, besok aku mau tampil main Biola di sekolah. Beneran udah gak kaku lagi kan?”


“Bener Sher, aku yakin semua orang pasti pada suka nanti.”


Setelah itu Sherly duduk disamping Furya dan beristirahat sejenak.


Meskipun di dalam kamar dan sedikit bebas, nyatanya 2 pasangan itu masih ragu-ragu dalam bertindak.


Furya yang melihat moment pas langsung membahas masalah taruhan mereka.


“Sherly, kamu inget kan taruhan kita kemaren?”


Sherly yang ditanya hanya mengangguk pelan.


Aroma tubuh sang pacar yang duduk di sebelahnya benar-benar membuat Furya tak tahan lagi.


Apalagi keadaan kamar yang sunyi dan Sherly yang diam saja makin membuat Furya hampir gila.


“Itu, soal hadiah taruhan aku mau...”


Furya yang masih pria normal tentu saja meminta hal yang sudah lama ia inginkan.


Ditambah sosok sang pacar kini duduk disampinya seperti siap diapakan saja membuat hasrat Furya makin tak terkontrol lagi.


Tanpa berlama-lama, Furya langsung menyentuh tangan sang pacar dan mencium mulutnya.


Tapi belum sempat Furya melakukan lebih jauh, buk Dinda datang dan mengetuk pintu kamar.


Furya yang diganggu dan mengetahui tak mungkin ia melakukannya di tempat ramai seperti itu memikirkan ulang aksinya.


“Sherly, buka pintunya sayang!”


Sherly yang mendengar suara ibunya langsung panik dan berdiri membuka pintu.


“Ke-kenapa ma?”


“Tolongin mama bentar di depan. Lagi rame banget itu.”


“Terus si Furya mana?”


Furya yang dicari dan mendengar perkataan buk Dinda ikutan berdiri dan mendekat ke pintu.


“Kenapa tante?”


Buk Dinda yang melihat Furya dan Sherly berduaan dalam kamar awalnya bingung mau melakukan apa.


Tentu saja ia sangat menyetujui hubungan sang anak dengan pacarnya.

__ADS_1


Hanya saja buk Dinda khawatir mereka salah jalan dan langsung menegur.


Furya yang masih amatiran parah dan di berikan ceramah panjang lebar hanya bisa memasuki mode anak penurut dan menunda aksinya.


__ADS_2