
Furya yang sampai di lapangan olahraga dan melihat perlombaan sudah mau dimulai langsung berlari menemui teman-temannya.
Sherly pun sama dan pergi duduk di rombongan kelas 2A.
“Loh, kaki kamu udah sembuh?” Tanya salah seorang teman Sherly yang melihatnya datang.
“Udah, hehehe. Cuman lecet dikit jadi aman kok.”
Furya yang sampai di tempat teman-temannya hanya cengengesan sambil meminta maaf.
“Ahirnya datang juga. Kemana aja lu?” Tanya Ali.
“Hehehe, maap Bos. Aku tadi ke UKS bentar.”
“Yaudah sini ngumpul, kita bagi posisi tim lari dulu.”
Setelah itu semua orang pergi ke posisi masing-masing yang sudah ditentukan.
Khusus di anak laki-laki, lomba estafet akan jauh lebih luas.
4 orang yang bertanding akan lari satu putaran full dan di pelari terakhir akan berlari 2x ukuran lapangan.
Panjang lapangan utama SIS adalah 100 meter dan jika dikelilingi itu berarti tiap pria akan berlari sejauh 200 meter.
Lalu di pelari terakhir akan dipaksa berlari 2x putaran alias sejauh 400 meter.
Berlebihan? Tentu tidak.
Jika menang di lomba ini seperangkat komputer gaming paling canggih dan poin kelas dalam jumlah banyak akan didapatkan jadi tiap murid pasti sangat menanti-nantikan pertandingan ini.
Terlebih lagi mereka yang berasal dari kelas rendahan.
Furya yang menjadi pelari keempat dapat melihat banyak wajah yang tak asing.
Rudy dari kelas 3C, Daniel dari kelas 3A dan para pria tercepat dari masing-masing kelas tentu menjadi pelari terakhir dari kelas mereka.
Tak lupa juga ada sosok Sebastian Malfey yang terlihat cuek dan tak mau melihat wajah Furya lagi.
“Yoh bintang sekolah. Makin terkenal aja lu ya bro.” Sapa Rudy yang mendekati Furya.
“Hehehe, gak lah bro.”
“Gak usah merendah gitu. Di SIS sekarang siapa sih yang gak kenal elu, hahaha.”
Melihat Rudy yang mendekati Furya, Daniel dari kelas 3A juga sama dan mendekat bersama anak lelaki lainnya.
Tentu saja melawan sang bintang sekolah mereka semua menjadi bersemangat.
Bastian yang melihat sosok dari kelas D itu makin populer hanya bisa menahan rasa kesalnya.
“Sialan, jika tak ada si sampah ini harusnya aku yang mendapatkan semua perhatian.”
“Lihat saja kau, kali ini aku tak akan kalah lagi.” Kata Bastian dalam hati.
Bastian tak berbohong dengan kata-katanya.
Di lomba lari 100 meter pria dirinya yang tinggi dan ramping berhasil menjadi juara pertama dan mengalahkan semua kelas.
Bahkan Ali yang larinya kencang juga tak mampu mengalahkan pria satu itu.
Namun jika berhadapan dengan Furya, entah kenapa Bastian merasa ada jurang pembatas yang tak mungkin bisa ia lewati.
Tapi bukan Bastian jika ta percaya diri. Melawan sekali lagi sosok bintang sekolah, dirinya tak getar dan akan berusaha sekuat tenaga.
“Baiklah anak-anak. Lomba lari estafet laki-laki akan segera kita mulai.”
__ADS_1
“Mana suara dan dukungannya nih?”
Mendnegar perkataan pak Bagas yang menjadi komentator, semua murid langsung bersorak.
Setelah semua persiapan siap, lomba lari estafet pria akhirnya dimulai.
“Tiga...”
“Dua...”
“Satu...”
{Start}
Boby yang menjadi pelari pertama dari kelas 2D langsung tancap gas sekuat tenaga.
Di pelari pertama semua perwakilan langsung menunjukkan performa terbaik mereka.
“Ayo Bob, lari yang kenceng!” Teriak Caca teman sekelas Furya yang mulai dekat dan suka kepada sang captain basket dari kelas 2D.
Seperti yang diharapkan dari seorang Boby, dengan tubuh tinggi sedikit berisinya, sangat mudah bagi Boby meninggalkan pelari lain dan memimpin paling depan.
Sampai di pelari kedua tongkat estafet diberikan kepada Radit.
Radit yang badannya tinggi dan tentunya memiliki kaki panjang melaju dengan sangat cepat.
Namun seperti kesialan menimpa pria tinggi dan pendiam itu, dengan sengaja pelari dari kelas 2A menyenggol kaki Radit sampai membuatnya terjatuh.
Furya yang melihat dari kejauhan dengan penglihatan supernya lagi-lagi hanya bisa menghela nafas.
“Huhh, gak kapo-kapok apa cari masalah terus.”
Radit yang terjatuh tak menyerah dan bangkit kembali lalu berlari.
Kini posisinya yang awalnya di tengah-tengah makin jauh tertinggal.
Ia juga yang menyuruh temannya itu untuk sengaja melakuan kecurangan kepada kelas 2D karena tau lawan terberat mereka pastilah sang bintang sekolah.
Mengalami sedikit keseleo makin membuat Radit tertinggal dari kelas lain sampai di pelari ketiga yaitu Ali dipaksa start paling belakang.
“Maaf bos, tadi ada yang nyenggol kakiku tapi gak tau siapa.”
“Oke, serahin sisanya sama aku dan Furya!”
Tepat sesaat mendapatkan tongkat, Ali mengeluarkan semua kekuatannya dan berlari sekuat tenaga.
Meskipun sudah tertinggal jauh, tapi di depan sana ada sosok hebat yang menunggunya.
Jadi Ali tak menyerah dan berusahan mengejar ketertinggalan kelasnya.
Anak-anak dari kelas 2D yang menonton juga terus memberikan dukungan kepada teman-temannya yang bertading.
Walaupun sudah tertinggal jauh mereka tak patah semangat dan yakin kelas mereka masih akan menang.
Karena Radit tertinggal hampir satu lap, Ali yang berlari sekuat tenaga tak bisa melakukan apa-apa.
Furya yang melihat para pelari lain di posisinya sudah mulai berlari hanya tersenyum.
Bahkan Bastian sudah pergi lebih dulu dengan senyuman menjijikkan yang mengarah tepat kewajahnya.
“Sedikit lagi bos, semangat!” teriak Furya yang melihat Ali makin mendekat.
Sampai akhirnya tongkat estafet diberikan kepada sang bintang.
“Huuh, maaf Fur. Aku udah...”
__ADS_1
“Santai, serahin sisanya sama aku!” kata Furya yang langsung tancap gas.
Memulai star di posisi terahir, Furya dengan sangat cepat mulai menyusul pelari lain.
Kecepatan yang sudah diluar nalar itu banyak membuat semua orang terkejut bukan main.
Bahkan pak Bagas juga dibuat kaget dan lagi-lagi semua fokus penonton tertuju pada sang bintang sekolah.
“Benar-benar tak dapat dipercaya. Lihat tuh larinya kenceng banget buk Melati!”
“Waah, bener pak Bagas. Yang lainnya pada kekejer semua.”
Bastian yang mendengar suara dari komentator makin menambah kecepatan larinya.
Tinggal 1 lap lagi sampai ia berhasil menjadi juara.
Tapi dengan begitu anehnya, kelas 2D yang awalnya berada di posisi terakhir kini mulai mengejar dan berada tepat di belakangnya.
“Hoi...hoi...hoi... serius aja nih!”
“Ini orang apa gak ada kelemahan gitu!” kata Bastian dalam hati yang mulai melihat Furya mendekat.
Furya yang berlari santai jujur saja masih menahan diri dan tak menunjukkan kecepatan maksimalnya.
Tapi meskipun begitu, ia sudah dapat mengejar semua pelari lain dengan begitu mudah.
“Hehehe, duluan bro.” Sapa Furya yang melewati Rudy.
Rudy yang di lewati dan melihat Furya cengengesan hanya bisa geleng-geleng dan mencoba fokus.
Saat melihat sosok sebastian di depannya, Furya sengaja mendekat dan melewatinya.
Bastian yang dilewati hanya bisa pasrah dan tak percaya.
Lalu parahnya lagi kini Furya yang berlari didepannya seperti sengaja mundur dan berbalik badan.
Sambil berlari kencang dengan posisi terbalik, Furya berbicara kepada musuhnya itu.
“Gimana Bastian, masih mau main curang lagi?”
Bastian yang melihat senyum menjiikkan itu dibuat makin kesal.
Bisa-bisanya Furya berlari kencang dengan posisi terbalik seperti itu.
Karena tak tahan, Bastian akhirnya mulai mengerutu.
“Apa maumu brengsek, kalau mau menang sana duluan jangan pamar di wajahku!”
Furya yang melihat wajah kesal Bastian justru makin menjadi dan makin mendekat.
“Ini terakhir kalinya aku melihatmu curang dasar idiot. Kalau ada urusan denganku selesaikan denganku dan jangan libatkan orang lain.”
“Mengerti!” Tegas Furya.
“Huuh, apa maksudmu? Aku tak mengerti perkataanmu dasar bodoh!”
Bastian yang mendengar ucapan Furya mencoba ngeles dan tak paham apa maksudnya.
Furya yang melihat Bastian masih tak mau mengaku di hadapannya berbicara sekali lagi.
“Sebaiknya kau meminta maaf kepada anak-anak kelas 2D atas perbuatanmu sebelum terlambat Bastian.”
“Dan satu lagi! Kau itu bukan lawanku jadi cobalah untuk mencari lawan yang sepadan.” Kata Furya tepat di wajah ketua kedisiplinan lalu berbalik arah.
Saat berbalik arah, saat itu juga Furya menunjukkan kekuatan penuhnya.
__ADS_1
Dengan kecepatan yang sudah melebihi semua manusia bahkan makhluk bumi daratan, Furya meninggalkan semua teman-temannya dan finish di posisi pertama dengan begitu mudah.