Perfection System

Perfection System
Bankir Berbahaya


__ADS_3

Bersama dengan Sherly, Furya mengendarai motor menuju sekolahnya.


Setelah sampai di parkiran sekolah, Sherly yang merasakan tempat bantalan duduk di motor Furya sudah berubah lebih nyaman langsung berbicara dengan bahasa isyarat.


“Tempat. Duduknya. Enak. Udah. Gak. Mepet. Lagi. Kapan. Kamu. Ganti?”


“Kemaren, pas di tongkrongan kebetulan ada yang pas yaudah langsung ku ganti.”


“Ohhh. Bagus. Deh. Jadi. Lebih. Nyaman.”


Setelah itu mereka berjalan bersama menuju sekolah.


Di lorong kelas, Sherly yang rencananya pulang sekolah mau ke salon dan merapikan rambunya yang makin panjang mengajak sang pacar.


“Nanti. Sore. Aku. Mau. Ke. Salon. Kamu. Ikut. Ya. Tuh. Rambut. Kamu. Juga. Udah. Panjang.”


Di ajak sang pacar, Furya hanya terenyum dan menangguk.


Setelah itu mereka berpisah dan berjalan menuju kelas masing-masing.


Furya yang sampai kelas duduk sejenak dan akhirnya mulai belajar ketika guru sudah datang.


Sampai akhirnya bel tanda istirahat berbunyi


~Teng...ting...teng...tong~


“Baiklah anak-anak, sisanya lanjutkan di rumah. Ingat ya minggu besok kita mulai ujian smester dan pastikan kalian semua sudah siap!”


“Siapaun yang nilainya makin turun, terancam bakalan di DO dari sekolah!”


“Mengerti!!!”


“Baik buk!” Jawab semua murid serentak.


Jamal yang tak terlalu ahli dalam hal akademik dan nilainya di bawah rata-rata terlihat pucat dan gelisah.


Furya yang melihat sahabatnya ketakutan menghadapi ujian yang akan datang hanya tersenyum dan mencoba menenangkan.


“Woi, yuk makan. Ngapain melamun aja, hahaha.”


“Aduh, aku takut Fur. Kalau nilau ujianku jelek lagi bisa di DO ini!” Jawab Jamal yang terlihat begitu khawatir.


Karena peraturan dan standar yang tinggi, di SIS memang tiap murid yang tertinggal akan langsung di pindahkan ke kelas D di tahun ajaran berkutnya.


Tapi murid-murid di kelas D akan lebih buruk lagi nasibnya dan akan langsung di keluarkan jika gagal memenuhi standar nilai dalam ujian.


Sebenarnya bukan hanya Jamal, tapi hampir semua teman sekelasnya terlihat khawatir.


Sekolah bertaraf Internasional itu memang tak main-main jika soal nilai.


Tapi tetap saja, masih banyak celah yang bisa di manfaatkan dan sebagian murid yang memiliki uang dan koneksi akan mendapat bocoran.


Karena itu tak banyak murid di kelas A sebenarnya tidak terlalu pintar dan bisa bertahan di kelas impian karena sogokan.


Furya yang biasa-biasa saja atau tak terlalu pintar dalam hal akademik hanya bisa cengengesan.


Di bantu sistem, dirinya bisa menjamin nilai 100 di semua mata pelajaran, bahkan untuk semua teman sekelasnya jika dia mau.


Tak ada yang tak di ketahui sistem apalagi hanya soal anak sekolahan.


Melihat Jamal yang ketakutan dan gelisah, Furya langsung merangkul bahu sahabatnya itu dan berbicara.


“Santai, nanti aku bantuin pas ujian!”


“Huuuhhh?”


Mendengar ucapan sahabatnya, Jamal hanya bisa kebingungan.


Meskipun tau Furya lebih baik darinya dalam hal akademik, tapi yang menjadi persoalan bagaimana cara dia untuk membantu.


Sedangkan saat ujian guru akan mengawasi dan CCTV akan memantau dari setiap susut.


Lain cerita jika mereka anak pejabat atau konglomerat yang pasti sudah mendapat bocoran.


Karena itu Jamal yang masih gelisah bertanya lagi.


“Kamu serius? Terus gimana caranya?”

__ADS_1


“Hehehe, santai. Khusus untuk sahabat baikku akan ku jamin nilai ujianmu tinggi.”


Karena tau Furya sudah berubah dan menyembunyikan sesuatu yang besar, Jamal langsung tersenyum dan memeluknya.


“Makasih My Friend.”


Di peluk sang sahabat, Furya langsung mendorongnya dan melepaskan pelukan Jamal.


“Jijik jir, jangan peluk-peluk.”


“Hehehe, oke-oke.”


Setelah itu mereka yang lapar berat berencana makan di kantin Utama.


Furya yang sejak malam tadi hanya makan pizza dan belum menyentuh yang namanya nasi juga ingin makan yang namanya daging.


Sambil berjalan berdua, Furya juga ngechat Sherly agar menemuinya di kantin Utama SIS.


Saat sampai di depan kantin Utama SIS yang megah dan berkelas, Jamal dan furya langsung duduk di salah satu meja.


Anak-anak pejabat dan konglomerat yang melihat siswa kelas D makan di sana terlihat sedikit tak senang.


Tapi seperti tak peduli dengan tatapan mereka, Jamal dan Furya justru menatap balik dan membuat sebagian orang ketakutan.


Apalagi video perkelahian Furya dan Rudy yang sudah tersebar ke seluruh murid SIS.


Melihat pria yang membuat Rudy menangis seperti bayi ada di sana membuat sebagian anak pejabat yang manja menjadi takut.


Tak lama mereka duduk, seorang pelayan berpakaian maid langsung menghampiri.


“Selamat siang tuan. Silahkan, ini menunya!”


“Hemmm, makan apa ya yang enak...”


Furya yang lapar memutuskan memesan banyak makanan berdaging.


Jamal yang doyan makan juga tak segan-segan dan memesan banyak menu.


Sherly dan sahabatnya Chika yang sampai langsung duduk dan menemui Furya di sana.


“Be-beneran nih kamu mau neraktir makan di sini Furya? Tanya Chika yang terlihat masih ragu.


“Santai, pesen aja apa mau kamu. Semuanya di traktir Big Bos!” kata Jamal sambil  memegang pundak Furya.


Sherly yang sampai juga tak banyak tanya dan langsung memesan makanan. Siang itu mereka berempat makan di kantin Utama.


Di meja yang luas dan mewah terdapat banyak makanan yang di pesan dan harganya jujur saja tak main-main.


Bahkan beberapa anak pejabat akan berpikir dua kali jika ingin memesan sebanyak mereka.


“Lihat tuh si gembel, dapat duit dari mana ya mereka makan di sini?”


“Alah paling hasil nyolong. Diemin aja udah.”


“Wus, jangan gede-gede suara lu, mau di bikin kayak Rudy lu?” kata beberapa murid yang ada di sana.


Karena terbatas waktu, Furya dan mereka semua tanpa basa-basi melahap semua menu yang sudah di pesan.


Chika yang awalnya malu-malu akhirnya menunjukkan sifat aslinya.


“Gila...woi tahan. Makin gemuk ntar kamu!” Kata Jamal sambil berusaha merebut sepotong daging.


“Hehehe, enak sih. Baru pertama kali aku makan daging mahal kayak gini.”


Furya yang makan dengan kalem bersebelahan bersama sang pacar terlihat tertawa.


Melihat teman-temannya senang ia juga ikutan senang.


Hanya saja Sherly yang makannya sedikit membuatnya sedikit khawatir.


Bukan apa-apa, hanya saja tubuh Sherly memang kurus dan yang terpenting bobanya seperti tak tumbuh.


Furya yang normal dan menyukai boba besar memberikan banyak daging ke piring sang pacar.


“Nih makan Sher, biar makin gede kamu, hehehe”


“Udah. Aku. Gak. Bisa. Makan. Banyak-Banyak.”

__ADS_1


“Gpp, abisin tuh daging biar ada pertumbuhannya!”


Setelah puas makan, tak lama kemudian bel tanda istirahat juga berbunyi.


~Teng..ting...teng...tong~


“Ahhh, baru juga duduk!” Kata Jamal yang masih enggan untuk bangkit.


Jamal yang kekenyangan dan perutnya kembung terlihat kesulitan berjalan.


Tapi karena tak ingin telat masuk kelas, mereka semua dengan cepat kembali ke kelas masing-masing.


“Dadah...”


“Dah.”


Setelah berpisah, Furya yang berjalan dengan sang sahabat di lorong kelas akhirnya membantu Jamal yang kesulitan berjalan.


*****


Di tempat lain...


Di salah satu restoran mewah yang ada di pusat kota Jakarta.


Naomi yang sudah janjian ketemu dengan Tomy terlihat makan di meja yang sama.


Meskipun sebenarnya enggan, tapi demi rekan bisnisnya yaitu Furya, Wanita cantik itu akhirnya setuju untuk menerima permintaan makan siang dari Tomy.


Tomy Antony yang merupakan banker sukses dan kaya raya memang sudah terkenal se antero kota Jakarta suka gonta-ganti pasangan.


“Gimana sayang makan siangnya, kalo kamu capek kita bisa lanjut ke hotel kok buat istirahat.”


Mendengar ucapan tak beradap dari sang buaya darat, Naomi hanya tersenyum dan membalas singkat.


“Maaf, hari ini aku sibuk jadi sama wanita lain saja.”


Tomy yang pagi tadi kaget di hubungi oleh Naomi juga tak menyangka ia bisa makan siang bersama.


Dirinya memang sudah lama menargetkan anak dari Mr Tanaka si pengusaha batu mulia.


Hanya saja Naomi sangat selektif memilih teman dan pasangan dan sulit ia dekati.


Setelah selesai makan, Naomi langsung berniat pergi.


“Sepertinya sudah waktunya aku kembali ke kentor. Terima kasih untuk waktu dan makan siangnya tuan Tomy.”


“Lalu...soal anak itu...”


Tomy yang mendengar ucapan Naomi hanya tersenyum dan menegaskan kembali.


“Santai...jika nona Naomi yang meminta maka saya tak akan bertindak lebih jauh.”


“Jujur saja saya tak terlalu peduli dengan anak itu. Masalah saya denganya juga sudah selesai dan tak akan menggangunya lagi.”


Mendengar perkataan Tomy, Naomi hanya bisa tersenyum manis dan mempercayainya.


Jika masih bisa di selesikan dengan baik-baik, maka itu yang terbaik untuk kedua belah pihak.


Berurusan dengan Tomy Antony bukanlah perkara muda dan Naomi tau itu.


Mungkin di kaca publik ia adalah banker sukses. Tapi di dunia bawah, ia adalah salah satu anggota dari kelompok mafia paling di segani dan di takuti.


Setelah itu Naomi pergi dan memasuki mobil pribadinya.


Sang supir yang melihat nona Naomi masuk juga langsung menghidupkan mesin dan mobil mulai melajut.


Di dalam mobil, Naomi terlihat kesal dan tak senang.


“Sialan...aku sampai terpaksa tersenyum di depan bajingan itu.”


“Melihat wajahnya saja aku sudah mau muntah.”


“Huuuh, sabar Naomi. Ingat ini semua demi mesin pencetak uangmu...”


Naomi yang terpaksa membantu Furya terlihat tak terlalu senang ketika berurusan dengan seorang buaya darat berbahaya seperti Tomy Antony.


Jika saja buka untuk kerjasama bisninya kelak, mana mau ia sampai turun tangan langsung.

__ADS_1


Tapi Naomi yang memiliki insting kuat dalam bisnis dan menilai orang merasa yakin kalau membantu Furya saat itu akan membuat bisnisnya maju di masa depan nanti.


__ADS_2