
Furya yang mendapatkan misi langsung menghubungi Naomi yang duduk di jajaran para Dewan lewat hp.
Saat itu juga ia meminta tolong agar dirinya bisa tampil di Pentas Seni lewat jalur belakang.
Naomi yang dihubungi rekan bisnisnya juga langsung mengerti dan memanggil si botak alias kepala sekolah.
Kepala sekolah yang di panggil Naomi langsung mendekat sambil tersenyum ramah.
“Ada apa Nona Naomi? Apa ada yang bisa saya bantu?”
“Pak Lukman, kau mengenal anak bernama Furya bukan?”
Lukman yang mendengar ucapan Naomi langsung keringatan dan sedikit gagap.
“Te-tentu saja. Dia anak berbakat disekolah ini dan menjadi siswa terbaik di tahun ajaran sekarang. Ada perlu apa dengannya?”
“Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin melihatnya tampil di Pentas Seni. Jadi kau taukan apa yang harus kau lakukan?”
Si botak korup yang mendengar perkatan salah satu anak dari Donatur Utama langsung cengengesan dan mengangguk.
Saat itu juga ia memanggil murid yang memimpin jalannya acara dan menyelipkan nama Furya Aditya di salah satu performa solo.
Pembawa acara yang merupakan siswi cantik itu hanya bisa mengikuti arahan dari kepala sekolah dan langsung naik kembali ke atas panggung.
“Maaf sebelumnya. Sepertinya ada satu nama siswa yang terlewat dan belum tampil.”
“Karena itu penampilan kali ini akan menjadi yang terakhir dari Pentas Seni SIS ke 66.”
“Ayo kita sambut pria menakjubkan yang akan mengakhiri acara kita hari ini.”
“Dia adalah Furya Aditya dari kelas 2D.”
Aurelia yang harusnya menjadi peserta terakhir yang tampil dalam pentas seni tentu saja menjadi heran.
Sebelumnya Furya tak ada mengikutsertakan namanya dalam acara tahunan sekolah mereka.
Tapi tak butuh waktu lama bagi Aurel untuk mengetahui kalau itu semua pasti perintah dari kepala sekolah yang memang suka melakukan hal-hal diluar agenda.
Furya yang namanya dipanggil langsung berdiri dari bangkunya dan berniat naik keatas panggung.
“Kamu kok gak bilang sih mau tampil juga?” tanya Sherly yang duduk di sebelah Furya.
“Hehehe, aku baru aja daftar!” jawab Furya santai sambil tersenyum dan berdiri.
Buk Reni yang juga tak diberitau sang anak kalau dirinya akan tampil hanya bisa menaruh harapan besar pada Furya.
Meskipun ia tau Furya tak berbakat dalam seni seperti ayahnya, tapi entah mengapa ia merasa sang anak akan menunjukkan penampilan yang bagus.
“Semangat Sayang, Mama dukung dari sini!”
“Ayo kakak, semangat!” Lanjut sang adik bungsu.
Furya yang mendengar teriakan keras ibunnya menjadi sedikit malu karena banyak orang yang melihat kearah mereka.
Karena sudah mengganggu jalannya acara, Furya berniat langsung menyelesaikan misi dengan cepat.
__ADS_1
“Sistem, belikan aku skill itu!”
[Ding! Perintah diterima, apakah tuan bersedia membayar 50.000 Perfection Poin untuk membeli skill Dewa Music]
“Hooh, beli!”
[Jawaban diterima, membeli skill yang tuan inginkan]
[Selamat, tuan mendapatkan skill baru Dewa Musician]
[Ding! Memasang skill baru yang tuan miliki]
[10%]
[20%]
[40%]
[60%]
[80%]
[100%]
[Selamat, Skill baru Dewa Musician berhasil digunakan]
Dewa Musician adalah skill hebat yang dijual sistem dengan harga 50 ribu Poin.
Skill satu ini terbilang kompleks dan sangat hebat.
Dengan skill ini, Furya mampu menguasai segala jenis alat musik yang ada di dunia sampai ke tingkat tertinggi.
Saat peserta lain akan tampil dengan costume yang menarik dan elegan, pria satu itu hanya menggunakan pakaian sekolahnya saja.
Para petinggi yang melihat masih ada peserta terakhir padahal Aurelia katanya yang terakhir menjadi sedikit dipermainkan.
Maklum, waktu mereka sangat berharga dan tiba-tiba saja ada seorang murid random yang naik ketas panggung tanpa persiapan.
“Ka-kalau begitu ini dia perwakilan dari kelas 2D, Furya Aditya!”
Setelah iu pembawa acara pergi menuruni panggung dan Furya di tinggal sendirian.
Furya yang berada di panggung besar dan megah sendirian mulai merasa grogi.
“Ayo Furya, kau pasti bisa!”
Setelah itu tanpa basa-basi Furya duduk di piano yang ada di sisi kanan panggung pertunjukkan.
“Haduh, tanpa memperkenalkan dirinya main langsung duduk. Saya bisa menebak pria ini pasti mengacau!” ucap Thedorick Malfey yaitu ayah Sebastian.
“Yah kita lihat saya dulu tuan Theo! Jika dia berani naik keatas panggung berarti tekad anak ini sudah kuat.” Lanjut Aurelio.
Bastian yang duduk berdekatan dengan ketua OSIS juga dibuat sedikit tak senang.
Mungkin disegala bidang ia sudah dikalahkan Furya. Tapi di Piano, Bastian yang sudah berlatih sejak kecil merasa pria rendahan seperti Furya tak akan memiliki kesempatan mengalahkannya.
__ADS_1
Namun saat melihat wajah polos yang tersenyum seperti tanpa beban itu, Bastian sekali lagi mengerti kalau pria di depannya itu pasti menyembunyikan sesuatu.
“Cih, entah kenapa melihat wajahnya membuatku kesal!”
“Hahaha, apa kau takut tersaingi oleh pria itu?” Potong Aurelia.
“Takut? Aku tak pernah takut kepada siapapun Aurel. Tapi yang satu ini berbeda. Dia pasti curang!” tegas Bastian kembali.
Aurelia yang berfikiran sama hanya bisa tersenyum tipis dan menatap kearah Furya.
Jika kali ini pria misterius itu lagi-lagi menujukkan hal luar biasa maka sudah tak ada yang tak bisa ia lakukan.
Itu seperti sosok pria sempurna kharismatic bernama Furya Aditya tiba-tiba saja mucul dan mengambil semua pujian untuk dirinya sendiri.
Furya yang duduk didepan Piano super mahal dan mengkilap bahkan tak mengetahui apa kegunaan tombol dan not yang ada di hadapannya.
Tapi itu semua berubah seketika saat skill menakjubkannya diatifkan.
“Sistem, Aktifkan Skill Dewa Music!”
Saat skill barunya diaktifkan, Furya seperti dapat melihat segala hal yang behubungan dengan piano yang ada dihadapannya.
Semua pengetahuan penting langsung masuk dan seperti terprogram ke dalam otaknya dengan sangat cepat dan mudah.
Bahkan ia sampai dapat melihat dari mana Piano pertama kali dibuat dan diciptakan lalu dari mana benda itu berasal.
“Hebat, jadi ini ya kemampuan skill baruku.”
Setelah itu Furya mengambil nafas panjang-panjang dan mulai menggerakkan jarinya.
Monnlight Sonata, itu adalah lagu Classic ciptaan Senimam music ternama bernama Bethoven.
Lagu itu sekaligus menjadi lagu kesukaan sang ayah dan Furya memilih memainkan lagu itu didepan semua orang.
Tepat saat Furya mulai memainkan piano, semua pintu dari segala penjuru dikunci agar tak ada suara menggangu.
Lalu semua lampu juga mati dan kini hanya ada satu cahaya yang menyinari seorang pemuda di atas panggung.
“Lagu ini...”kata Aurelia kaget.
“Hahahaha, dasar idiot! Memainkan Monnlight Sonata di siang bolong. Aku rasa ada yang salah dengan otak pria ini.” kata Bastian sambil tertawa ngakak.
Tentu saja Bastian tertawa, dari semua jenis music Classic, yang satu ini adalah yang tersulit dan paling susah untuk dimainkan.
Bahkan dirinya yang sejak kecil sudah belajar piano masih belum berani memainkan lagu itu di panggung apalagi dihadapan sang ayah yang juga menggilai music Classic.
Aurelia yang duduk disamping Bastian juga berfikiran sama.
Tempat, suasana dan yang terpenting siang hari.
Akan lebih masuk akal baginya jika Furya memainkan lagu yang mudah dan gembira di hadapan para penonton yang tak terlalu mengerti music Classic.
Tapi seperti tak mempedulikan dasar dari itu semua, Furya justru memilih memainkan lagu gelap dan penuh emosional.
Tapi apa yang mereka semua pikirkan tak akan bertahan lama.
__ADS_1
Saat melody indah dari Sang Terpilih mulai berkumandang dan memenuhi seisi Aula, saat itu juga semua orang terdiam dan terhipntotis.
Saat itu tak terdengar satupun suara lain selain dari Piano yang dimainkan Sang Cheater Musician.