Perfection System

Perfection System
Perbedaan Antar Kelas


__ADS_3

Setelah membersihkan selokan dan tong sampah di belakang sekolah, Furya dan teman-temannya yang sudah membersihkan diri di toilet akhirnya bebas dan berniat kembali ke kelas.


Untungnya para murid perempuan di kelasnya hanya kebagian membersihkan kelas dan taman saja.


Saat sedang jalan bersama teman-temannya, mereka yang berpas-pasan dengan rombongan murid kelas 2A langsung di tertawakan dan hina.


“Woi ada nyium bau gak sedap gak?”


“Hahaha, lihat tuh siapa yang lewat. Udah pasti para gembel dari kelas D yang baunya nyampe sini!”


Merasa tak di hargai kelas lain, Jamal yang lelah membersihkan sekolah dan mendengar ejekan dari kelas lain tak begitu senang dan langsung mendatangi mereka.


“Ada masalah bro? Aku kok malah nyium bau mulut yang lebih busuk di sini!”


Mendengar perkataan Jamal, pertikaian hampir saja terjadi.


Jika saja peraturan sekolah tak ketat soal sikap dan kedisiplinan muridnya di sekolah, mungkin sudah sering terjadi perkelahian seperti di masa lalu.


Di tambah jika tak di penuhi CCTV, mungkin para murid yang selalu berselisih itu sudah saling baku hantam.


“Gak usah sok hebat, kalo mau yok di belakang gedung olahraga. Berani gak?” Tantang Boby yang juga mendekat.


“Udalah Bob, mana berani anak-anak manja itu berantem, kan mereka bisanya cuman koar-koar, hahaha!” Lanjut Ali.


Di provokasi anak kelas 2D, beberapa murid kelas 2A yang ada di sana hanya tertawa dan tak meladeni.


Lalu seperti memang sengaja mencari perkara, Marco yang kebetulan lewat dan melihat pertikaian para adik kelas langsung mendatangi Boby yang sempat menantang murid lain.


“Hoi...hoi...sepertinya udah makin berani para gembel dari kelas D ya, mau ribut lu? Maju lu semua sini, gue abisin satu-satu nih!”


Melihat Marco dan rombongannya yang numpang lewat dan menantang balik, Boby yang di tatap badan besar bak gorila langsung ciut dan keringat dingin.


Ia yang masih termasuk ekskul basket sangat mengenal sosok Marco sang ketua tim basket.


Di SIS, tak ada satupun murid pria yang bisa di bandingkan dengan Marco.


Ali yang melihat temannya di intimidasi datang dan mendekat.


“Udah yuk pergi! Maaf bos, kami cuman bercanda.”


Melihat Ali yang tangannya di perban, Marco hanya tersenyum dan memegang pundaknya.

__ADS_1


“Udah sana cabut. Lain kali bilangin sama para kurcaci ini kalau mau nyari ribut jangan sama anak kelas A, ngerti kan?”


Di peringatkan pria yang bisa di bilang penguasa sekolah, Ali yang tak suka ribut dan yakin tak akan bisa menang melawan Marco dan kelompoknya yang badanya besar-besar dan tinggi seperti tiang listrik lebih memilih pergi.


Furya yang ada di sana juga diam saja dan tak mau ikut campur.


Meskipun ia yakin bisa mengalahkan semua murid dari kelas A sendirian, tapi Furya bukanlah orang yang suka mencari masalah.


Jika tak berlebihan atau belum di perlukan ia akan lebih memilih diam. Lagian itu hanya masalah sepele dan memang sering terjadi di antara murid-murid SIS.


Sanjaya Internation School, sekolah swasta bertaraf internasional itu memang banyak di masuki anak pejabat dan konglomerat.


Hanya saja, untuk menciptakan image baik di masyarakat pihak sekoah juga menerima murid biasa dari daerah sekitar.


Karena itu status sosial sangat terlihat dan terpampang nyata di SIS.


Parahnya pihak sekolah juga seperti tak peduli dan justru makin membuat keadaan buruk.


Bayangkan saja jika kau masuk ke kelas D karena tak pintar, tak berprestasi atau tak mampu.


Sudah jelas kau akan di cap buruk karena kelas D adalah kelas buangan dari itu semua.


Jadi dari awal memang itu semua sudah salah pihak sekolah yang membuat peraturan aneh di SIS.


Melihat semua orang ketakutan bahkan Ali, Marco menjadi makin tertarik karena Furya terlihat begitu santai dan tenang.


Tapi karena Furya diam saja seperti pengecut, Marco tak ambil pusing dan mengira ia sama saja dengan para banci yang pergi.


Sesampainya di kelas, seperti yang sudah Ali persiapkan para murid kelas D baik perempuan dan laki-laki langsung mengadakan rapat kelas.


“Oke...karena semuanya udah ngumpul kita langsung aja mulai rapat soal Festival Olahraga besok!”


“Yang merasa jago di bidang olahraga bakalan aku kelompokin di kategori ini.”


“Terus buat yang pinter bakalan beda lagi.”


Di bantu Dinda sang primadona kelas 2D, Ali dan beberapa orang memulai diskusi lanjutan.


Furya yang baru pertama kali akan mengikuti acara tahunan sekolahnya terlihat biasa saja dan hanya mengikuti arus.


Ia yang sempat menonjol di tes fisik beberapa waktu lalu juga di berikan kepercayaan oleh teman-temannya untuk menjadi perwakilan kelas di beberapa lomba terpenting.

__ADS_1


Lari Estafet, Tarik Tambang dan Catur. Furya kebagian 3 olahraga untuk mewakili kelasnya di lomba tahunan sekolah.


Ia yang membabat habis teman-temannya di tongkrongan saat main catur di pilih langsung oleh Ali untuk menjadi perwakilan olahraga yang bisa di bilang mengandalkan otak dan strategi itu.


“Jadi udah semua kan ini?”


“Kalo masih ada yang gak yakin bisa minta ganti karena pengumpulan data paling lambat hari senin.”


“Ayo kita buktikan Gaes kalau kelas D juga bisa bersinar di acara Festival olahraga!” kata Ali sang ketua kelas dengan begitu percaya diri di hadapan teman-temannya.


Meskipun tangan kirinya masih di perban, Ali juga mengikuti beberapa lomba dan yakin kalau saat itu tangannya sudah lebih baik.


Furya yang 2 jam duduk dan rapat di kelasnya banyak di spam chat oleh sang pacar yang ternyata sudah menunggu di depan sekolah.


Karena rapat selesai, semua murid kelas 2D langsung bubar barisan. Beberapa ada yang pulang dan sebagian lebih memilh ngumpul.


Furya yang sudah janji malam minggu itu akan nongkrong dengan teman-temannya mau pulang lebih dulu.


“Beneran gak ikut?”


“Malam deh aku kesana mal, sekalian nonton balap.”


“Yuadah pokoknya harus datang kau malam nanti. Awas kalau sampai gak datang lagi.”


“Sep, pasti datang aku.”


Setelah itu Furya langsung menemui Sherly yang sudah duduk manis dan menunggunya di depan sekolah.


Melihat sang kekasih yang datang, Sherly terseyum cerah dan berbicara lewat bahasa syarat.


“Kok. Lama. Banget. Sih?”


“Hehehe, maklum temen-temenku serius banget rapatnya buat acara lomba besok.”


“Ohh. Emang. Baru. Sekarang. Kelasku. Udah. Dari. Bulan. Lalu. Loh.”


“Huuh, serius kamu?”


“Iya. Kelas. Kami. Udah. Nentuin. Siapa-Siapa. Aja. Yang. Bakalan. Ikut. Lomba. Sebulan. Yang. Lalu. Jadi. Udah. Mulai. Pada. Latihan. Sejak. Lama!”


Furya yang mendegar kelas saingannya ternyata lebih disiplin dan serius soal lomba tahunan sekolah hanya bisa menghela nafas.

__ADS_1


Seperti yang di harapkan dari kelas A, mereka yang harus menjaga piala bergulir agar tetap di kuasali kelas impian bahkan sudah bergerak dan mempersiapkan semuanya jauh hari.


__ADS_2