
“Mas dari mana? Anter adek periksa yuk” Ajak Fifin saat suami nya baru pulang dari mengajar di madrasah namun telat sekali pulang nya
Yap… akhirnya setelah drama panjang pun kandungan Fifin berhasil mencapai usia tujuh bulan, nanti malam rencana nya mau di gelar syukuran kecil kecil an
“Nanti ya sayang… mas capek sekali” Ucap Abizar
“Ohh… Yaudah kalau mas capek juga tidak apa apa, nanti saja” Jawab Fifin
Fifin sendiri pun agak heran karena tidak biasanya suami nya lemas begini, mana pas pulang langsung ke kamar atas tanpa mencium kening nya seperti biasa
“Fin…” Panggil umi saat melihat menantu nya yang merenung saja di ruang tengah
“Njih umi” Jawab Fifin langsung merespon
“Mau umi temani periksa?” Tanya Umi Rida yang tadi melihat sepertinya sang putra memang lelah berat
“Mboten pun umi, umi pasti sedang sibuk kan? Biar Fifin periksa sama Silvi aja” Ucap Fifin karena rumah sedang ramai karena acara tujuh bulanan nanti, masalah nya umi juga tidak bisa menyetir sedangkan ia juga tidak karena terhalang dengan perut nya yang besar
“Mau sama Silvi? Iya tidak apa apa” Jawab umi lantaran Silvi bisa menyetir
Sebelum pergi, Fifin juga berpamitan dengan suami nya sebentar, karena kalau periksa nya nanti malam yang ada malah terlewat acara tujuh bulanan itu
Jadi lebih baik sekarang saja “Mas, adek pinjam mobil nya ya?” Tanya Fifin
“Iyaa sayang, kunci nya di nakas” Jawab Abizar yang katanya kelelahan sampai ia hanya berbaring sambil memejamkan mata di kamar
\~
“Silvi, pelan pelan aja ya kalau nyetir” Ucap Fifin saat mereka sudah di dalam mobil
“Njih ning…” Jawab Silvi patuh
Di dalam perjalanan itu mereka banyak mengobrol, biasalah ya cewek… pasti bisa cepat se frekuensi, apalagi mereka juga sudah sering bersama
“Ning sampun tumbas keperluan baju nya kembar?” Tanya Silvi ( tumbas \= beli )
“Belum, rencana nya besok Sil… karena ini baru tujuh bulan, kata umi besok saja beli nya” Jawab Fifin memang benar adanya
“Ohh… nanti kalau butuh bantuan, ning Fifin panggil saya aja” Ucap Silvi yang dengan senang hati akan membantu apapun itu
“Oke” Jawab Fifin tersenyum sambil mengangguk juga
Entah kenapa sekarang itu vibes nya beda, biasanya ia periksa di antar suami tapi sekarang terpaksa harus bersama yang lain dulu
Tapi sama Silvi juga enak kok karena anak nya baik dan humble sama orang, saking seru nya mengobrol pun sampai Fifin tidak menyadari kalau ada yang mengikuti mobil mereka dari belakang
“Ning, sepertinya ada yang mengikuti kita” Ucap Silvi saat kaca spion samping dan menyadari ada yang aneh
__ADS_1
Fifin kaget tentu nya, ia juga refleks langsung menoleh ke belakang dan memang ada sebuah mobil hitam yang sepertinya membuntuti mereka
“Ning, kita memutari jalan dulu ya… “ Ucap Silvi memastikan mereka benar benar mengikuti mobil ini atau tidak
Dan… setelah lima menit memutari jalan memang benar, mobil itu masih di belakang padahal ia hanya memutar di jalan saja tanpa kepastian
Fifin juga bisa melihat hal itu, karena panik jadi ia refleks menelfon suami nya
“Mas… angkat dong” Ucap Fifin karena dari tadi pas di telfon pun tidak satu panggilan pun yang terjawab
“Telfon polisi aja ning” Ucap Silvi
Fifin mengangguk dan langsung menelfon nomer darurat “Halo pak, tolong pak… ada yang sedang mengikuti kami sekarang di jalan raya”
“Baik, tolong share lokasi ya bu”
“Iya pak” Tangan Fifin saja sampai bergetar ketika membagikan lokasi mereka pada nomer darurat tadi
“Sudah ning?” Tanya Silvi yang mana ia juga berusaha fokus untuk mengendalikan setir walau ia dalam keadaan panik sekali pun
“Sudah” Jawab Fifin
“Telfon umi ning, siapa tahu bantuan dari pondok lebih cepat” Ucap Silvi
Tanpa disuruh memang Fifin sedang mencari cari nomer telfon umi, setelah ketemu, ia langsung memencet calling dan harap harap cemas, khawatir kalau umi tidak mengangkat telfon nya
Fifin yang awalnya ingin menjawab itu langsung melebarkan mata kala melihat sebuah truk besar sepertinya melintas di depan mereka, dan sangat jelas bahwa truk itu melewati garis tengah jalan raya
“SILVI AWAS!!!!”
Silvi yang kaget dan bingung juga refleks langsung banting setir ke pembatas samping jalan raya dan cittttttt Brakkk!!!! Mobil yang mereka tumpangi pun menabrak besi pembatas itu
“Ahhh”
“Ya Allah”
Fifin dan Silvi sendiri masih dalam keadaan sadar lantaran air bag di depan itu mampu melindungi mereka berdua walau tidak sepenuh nya
“Silvi, kamu tidak apa apa?”
Belum sempat Silvi menjawab, namun truk besar tadi menabrak mobil bagian samping hingga mereka pun terguling akibat mobil yang juga terguling kencang
“ASTAGHFIRULLAH… nakk??? Ya Allah nak, kalian dimana? Dimana sayang? Biar umi kesana ya? Fifin sama Silvi dimana nak? Ya Allah” Terdengar suara panik umi yang juga sudah menangis dan berasal dari handphone Fifin
Tapi karena mobil mereka terbalik, jadi handphone itu jatuh dan Fifin juga mengalami cedera di kepala, ia melirik sekilas Silvi yang juga sedang menatap nya balik dengan tatapan sayu
“Maaf ya ning” Fifin tau Silvi berucap seperti itu walau tidak bersuara, tubuh mereka juga dalam kondisi terbalik.. jadi sudah tidak bisa melakukan apa apa kecuali menunggu bantuan yang datang
__ADS_1
Tapi… jalanan tadi cukup ramai jadi langsung banyak orang yang mengerumuni mereka, namun tidak berani menolong karena harus menunggu pihak ambulans atau kepolisian terlebih dahulu apalagi mobil juga dalam keadaan ringsek sampai ngeri kalau melihat langsung
“Tidak apa apa” Jawab Fifin meski hanya gerak bibir, namun entah… ia merasakan sakit yang teramat sekali apalagi saat mengingat Abi yang agak diam hari ini, ia juga mengingat pembicaraan mereka dua bulan lalu yang mengatakan untuk berjaga jaga kalau ia pergi duluan dari dunia ini
“Maaf in ibu ya nak…” Batin Fifin dengan tangan yang terluka itu namun masih berusaha untuk mengelus perut besar nya
“Semoga kalian berdua bisa selamat dan bertemu dengan abah kalian” Batin Fifin, ia sudah tidak kuat menahan rasa sakit karena tubuh nya yang terhimpit dari depan dan samping, hingga akhirnya mata cantik itu terpejam juga
Silvi yang masih bisa membuka mata sedikit itu langsung menangis tanpa suara, melihat ning yang ia suka terluka dan kejadian ini pun saat bersama nya
Tak lama polisi dan ambulans pun tiba, untung nya warga jalan raya tadi langsung mengamankan supir truk yang menabrak mobil Fifin tadi
Sayangnya saat dibawa ke rumah sakit pun keduanya tidak sadarkan diri, terluka parah itu membuat mereka tidak kuat menahan sakit dan akhirnya menyerah untuk menjaga kesadaran diri sendiri
Dua ambulans pun melaju dengan kencang, berusaha agar kedua korban ini bisa di selamatkan
Sedangkan di rumah sakit, ada Lia yang baru saja sampai karena ingin bekerja, tapi naas nya ia justru melihat ambulans di depan instalasi gawat darurat dan ia kenal dengan baik siapa orang yang sedang sekarat itu
“Astaghfirullah Fin….” Ucap Lia refleks langsung lari dan melihat kondisi Fifin dari dekat
Mas Wawan yang mengantar istri nya bekerja juga kaget bukan main waktu melihat ning Fifin terluka parah, apalagi di ambulans satu nya ternyata ada Silvi juga
“Ya Allah ning…” Tanpa babibu pun mas Wawan langsung menelfon nomer rumah ndalem dan mengabarkan kalau Fifin sedang ditangani di rumah sakit Husada sekarang
“Fin… yang kuat ya Fin, ya Allah” Ucap Lia langsung berlinang air mata dan menepuk pipi Fifin berkali kali, berharap agar kesadaran wanita itu kembali walau rasanya tidak mungkin karena luka yang separah ini
“Assalamualaikum umi”
“Wa-waalaikumsalam, hkss ada apa mas Wan? Umi sedang buru buru” Jawab umi dari sana yang sangat jelas suara nya sedang panik lantaran ingin mencari keberadaan menantu nya
“Umi, ning Fifin kale Silvi mboten sadarkan diri ten rumah sakit Husada, njenengan langsung mriki mawon” Ucap Mas Wawan walau ia ikut sakit saat menyampaikan kabar ini pada umi ( uni, ning Fifin sama Silvi tidak sadarkan diri di rumah sakit Husada, langsung kesini saja )
“Astaghfirullahaladzim ya Allah…. Anak anakku, ya Allah…. “ Ucap umi dan sangat jelas terdengar suara tangisan dari telfon
“Njenengan mriki umi, sak aken ning Fifin kale Silvi” Ucap mas Wawan ingin ikut menangis saat mendengar suara umi ( kesini umi… kasihan ning Fifin sama Silvi )
“Iya mas, umi titip mereka berdua sebentar ya? Umi kesana sekarang”
“Njih umi”
Tit! Telfon pun dimatikan sepihak karena umi pasti sedang panik dan mengabari anggota keluarga yang lain nya termasuk Abizar yang paling penting, selaku suami dari ning Fifin
“Mas, Ya Allah Fifin” Ucap Lia menangis histeris di pelukan mas Wawan, ia tidak bisa masuk ke igd karena itu bukan area kerja nya
Mas Wawan pun hanya bisa diam tanpa mengucap sepatah kata pun, rasanya kalau menyuruh seseorang untuk tabah dalam hal ini pun tidak mungkin, jadi ia hanya bisa mengelus punggung Lia supaya istri nya bisa lebih tenang.
•
__ADS_1