
“Mas, mobil mas yang rusak itu mau di apakan?” Tanya Fifin saat Abizar baru pulang dan ia sedang duduk di ruang keluarga bersama mbak mbak lain
“Mau mas klaim asuransi nya, nanti dapat ganti yang baru” Jawab Abizar sambil mengelus elus kepala istri nya yang tertutup hijab
“Wah… alhamdulillah sih, tapi pasti susah kan? Maksud adek proses nya ribet” Ucap Fifin
“Iya, tapi mau bagaimana lagi? Setelah kasus nya selesai juga nanti mobil yang rusak itu dibawa ke penampungan karena tidak mungkin bisa diperbaiki lagi” Ucap Abizar karena ringsek parah akibat terguling waktu kecelakaan kemarin
Lagi lagi Fifin agak merasa bersalah karena mobil itu hasil kerja suami nya sendiri, bukan di belikan oleh orang tuanya
“Oh iya Abbad mana?” Tanya Abizar saat menyadari kalau anak nya tidak disini
“Lagi di mandiin sama umi, sebenernya tadi mau adek mandiin sendiri tapi tidak boleh sama umi, katanya takut tidak bisa berdiri lama lama, malah mbak Ila yang disuruh jagain adek biar tidak kemana mana” Jawab Fifin karena umi khawatir dengan jahitan di perut nya
Walaupun Fifin sendiri sudah menjelaskan kalau kemarin itu Abi memilih operasi caecar dengan metode eracs, jadi proses penyembuhan nya cepat dan ia sendiri tidak merasakan sakit sama sekali
Abi hanya terkekeh saja “Tidak apa apa, adek juga tidak merepotkan umi. Kalau gitu mas lihat Abbad dulu di atas”
“Iyaa”
Saat Abi benar benar sudah tidak kelihatan lagi batang hidung nya, “Ini yang bikin saya merasa bersalah, mobil hasil kerja keras mas Abi sendiri malah saya buat ringsek” Ucap Fifin
“Takdir kan mboten enten sing semerap ning, nami ne cobaan, ujian… menawi ikhlas Insya Allah angsal gantos ingkang katah” Ucap mbak Ila ( takdir kan tidak ada yang tahu ning, namanya cobaan, ujian… kalau ikhlas inysa Allah dapat ganti yang banyak )
Fifin hanya mengangguk angguk karena itu memang benar, cuman menghilangkan rasa tidak enak dalam dirinya sendiri itu susah
\~
Bahkan di malam hari sebelum tidur itu Fifin sempat mengajak suami nya untuk pillow talk dan niat meminta maaf apabila ia sudah mengecewakan sang suami
“Wah… lahap sekali” Ucap Abizar melihat anaknya yang sedang minum susu langsung dari sumber nya
“Iya babah, lapar nih” Ucap Fifin menirukan suara anak kecil
“Abah nya juga lapar nih” Goda Abizar
“Di dapur ada mie instan babah” Jawab Fifin sambil tertawa ngakak wkwk
Abizar geleng geleng kepala lalu mengecup semua bagian wajah istri nya, jujur rasa cinta terhadap sang istri itu semakin melimpah
Ia juga suka hari jum’at karena ini hari full dimana kegiatan anak anak itu libur, hanya ngaji sore saja dan seharian mereka fokus untuk bermain juga istirahat, terkecuali para pengurus yang tidak bisa libur mengaji dengan abah
“Anti Jamilah habibati” Ucap Abizar dengan senyum nya yang tidak pernah pudar jika di hadapan sang istri
__ADS_1
“Kamu selingkuh mas?” Tanya Fifin kaget to the bone sampai Abbad ikut melepas sumber makanan nya
“Ha? Selingkuh? Siapa?” Tanya Abizar jadi bingung sendiri karena tiba tiba membahas selingkuh
“Ya mas lah, selingkuh dari adek?” Tanya Fifin
Belum sempat pula Abi menjawab pun Fifin kembali ngoceh, “Jahat banget kamu, adek baru lahiran udah ada yang lain aja”
“Loh, siapa yang selingkuh? Mas loh tidak ada main di belakang adek, serius” Ucap Abizar panik apalagi melihat wajah Fifin yang mau nangis
“Itu… Jamilah, siapa Jamilah? Kenapa mas harus selingkuh sama Jamila?” Tanya Fifin menatap sengit suami nya
“Ya Allah ya Robbi….” Ucap Abizar lega seketika, tapi juga heran sekali
“Makanya belajar bahasa arab dikit dikit” Ucap Abi sambil menyentil telinga istri nya
“Apa hubungan nya selingkuh sama bahasa arab?” Tanya Fifin
“Jamilah itu artinya cantik, anti jamilah habibati artinya kamu cantik sekali sayangku…” Ucap Abizar menjelaskan dengan kesabaran nya yang seluas samudera
“Oh… gitu” Ucap Fifin langsung mengalihkan pandangan pada putra nya, agar tidak malu wkwk
Abizar benar benar dibuat geleng geleng kepala dan sangat di uji kesabaran nya
“Memang adek tidak ada keinginan untuk di rumah, tiap hari mengurus Abbad, hmm?” Tanya Abizar pelan pelan agar tidak menyinggung istri nya
“Pasti ada mas keinginan seperti itu, tapi disisi lain adek masih ingin jadi ibu sekaligus wanita yang pekerja keras, kontrak adek dengan rumah sakit juga masih panjang” Jawab Fifin
“Mas tidak memaksa adek untuk berhenti bekerja kalau memang bisa membagi waktu dengan baik” Ucap Abizar karena ia tahu, bahwa bisa bercanda dengan teman saat di tempat kerja itu menyenangkan dan bisa menjadi penghilang stress
“Adek minta maaf ya kalau masih memikirkan soal kerja” Ucap Fifin
“Iya, tidak apa apa” Ucap Abi karena ini sudah resiko nya, dari awal ia sudah tahu bahwa Fifin adalah orang yang suka bekerja daripada hanya meminta padanya
“Adek bekerja juga bukan karena tidak bersyukur atau merasa kurang dengan nafkah dari mas selama ini, cuman adek memang mencintai profesi adek yang sekarang mas… rasanya sangat bahagia kalau adek bisa membantu proses melahirkan ibu ibu diluar sana” Ucap Fifin karena kalau ia bekerja dengan alasan uang pun gaji nya sangat tidak sebanding dengan nafkah yang suami nya berikan
“Iya… mas mengerti sayang, jadi adek kembali kerja kapan?” Tanya Abi
“Minggu depan” Jawab Fifin yang cukup membuat suami nya kaget
“Memang bisa? Masih baru sembuh loh” Ucap Abizar yang khawatir
“Metode eracs kemarin sangat membantu adek mas, bahkan adek tidak merasakan sakit sama sekali sampai sekarang, loncat loncat pun adek sudah bisa” Ucap Fifin karena metode eracs itu bisa dibilang biaya nya sangat mahal bagi dia yang perempuan biasa😭
__ADS_1
“Ya sudah… nanti mas antar jemput saja kerja nya ya? Tapi adek juga harus hati hati saat dimana pun itu” Ucap Abi dan Fifin mengangguk setuju
“Abbad… mau mengajak begadang ya?” Tanya Abi melihat putra nya yang membuka mata lebar lebar padahal ini sudah hampir larut malam
“Coba gendong Abbad dulu mas, adek mau pumping” Ucap Fifin menyerahkan Abbad kepada bapak nya dan ia mengambil alat untuk pumping Asi karena rasanya Asi itu masih penuh di dada
“Masya Allah… sehat selalu ya putra abah yang ganteng ini” Ucap Abizar menciumi bayi berusia satu minggu itu, wangi nya benar benar membuat candu
“Hehe… bagian wajah Abbad yang mirip adek itu bagian mana mas?” Tanya Fifin
Abi memperhatikan wajah putra nya lalu berucap “Bibir, mirip sekali dengan punya adek, kecil tipis”
“Ahaha.. iya, hanya bibir Abbad saja yang seperti adek, bagian lain plek ketiplek kayak abah nya” Ucap Fifin tertawa, kadang ia heran karena yang perut nya berat itu dia tapi pas lahir kenapa harus Abi yang menang banyak, bahkan hidung Abbad dari bayi sudah mancung sekali seperti bapak nya
“Iya lah… benih nya kan dari mas” Ucap Abi tergelak, ya kalau tidak mirip dia trus mirip siapa? Malah aneh kalau tidak mirip dengan nya
Sambil menunggu alat pumping itu selesai bekerja, Fifin menatap Abi dan putra nya dengan penuh senyum
“Tidak kelihatan ya kalau sudah mau tiga puluh tahun” Ucap Fifin
“Iya, seperti adek kakak ya? Haha” Ucap Abizar mengpede dulu gais
Fifin cuman mengiyakan saja biar suami nya senang, tapi saat Abizar menggendong Abbad memang kelihatan masih muda kayak hot daddy, keren
Ia juga sempat memotret sebentar untuk dibagikan ke instastory, tentu nya tanpa terlihat wajah Abbad karena yang berhak menunjukkan wajah Abbad di media sosial itu hanya Abbad sendiri saat ia sudah dewasa nanti, dan sudah memiliki keputusan sendiri untuk memposting di media sosial atau tidak
Akhirnya malam ini pasangan suami istri itu kembali begadang karena Abbad yang tidak mau tidur, kalaupun tertidur pasti bangun lagi karena Abbad yang menangis. Ya… itulah kehidupan para orang tua yang baru memiliki anak ya gaiss yaa
\~
Keesokan hari nya, Abi dan keluarga kembali hadir di pengadilan untuk proses sidang kedua, mereka semua berharap bahwa hari ini akan keputusan dari hakim dengan hasil yang memuaskan
Hari ini Fifin juga memutuskan untuk ikut agar tidak ada hinaan yang di lontarkan seperti kemarin, mungkin dengan ia hadir pun putusan bisa lebih cepat terselesaikan
“Adek bisa ya?” Tanya Abi
“Insya Allah bisa, tapi kita mampir ke makam dulu” Ucap Fifin karena ia sangat teramat rindu dengan Fatimah, putri kandung yang ia sendiri belum sempat memeluk raga itu sekalipun
“Kamu tahu betapa hancur nya hati ibu saat melihat gundukan basah ini nak, ibu bahkan tidak sempat melihat langsung, ataupun memeluk kamu dengan hangat, maafkan ibu ya nak… ternyata mengikhlaskan kamu itu sangat sulit sayang” Batin Fifin, namun ia berjanji akan mengusahakan agar putri nya mendapatkan keadilan walaupun Fatimah sudah meninggal.
•
__ADS_1