Perjalanan Cinta Abizar

Perjalanan Cinta Abizar
103. Pemakaman


__ADS_3

Abizar dan mas Wawan sampai di rumah itu sudah hampir mau maghrib, saat baru di depan gerbang pun ternyata santri putra dan putri sudah berkumpul semua di halaman, banyak dari mereka yang menangis saat mendengar kabar buruk itu karena merasa kasihan dan karena selama ini Fifin juga baik dengan mereka


Huaaaa


Hikssss


Ya Allah….


Rintihan yang banyak itu terdengar jelas di telinga Abi, memang benar Abi yang sedang kehilangan tapi ternyata semua anak anak nya pun ikut bersedih


“Innalillahi… ya Allah” Ucap bu Risma yang memang sengaja menunggu di depan pagar dan beliau sudah sampai disini setelah di kabari oleh umi Rida


“Buk…” Panggil Abi lirih


Bu Risma hanya mengangguk dan dengan segera tangan itu menggapai bayi mungil alias cucu pertama nya yang meninggal


“Ya Allah nak… ternyata Allah sayang sekali sama kamu” Ucap bu Risma dengan berlinang air mata


Pak Yahya yang melihat anak menantu nya sedang rapuh pun tidak tinggal diam, ia maju dan bergerak memeluk Abizar dengan sangat erat hingga beberapa kali memukul kecil punggung itu agar selalu tabah


“Pak… ya Allah” Ucap Abizar kembali menangis tersedu sedu


“Bapak tahu kamu pasti sedih, tapi yang tabah nak… ini ujian dari Allah” Ucap pak Yahya yang di angguki berkali kali oleh Abi


Banyak sekali santri yang prihatin, tapi dengan keadaan sekarang pun Abi tetap menguatkan diri agar bisa sholat berjamaah dengan semua anak anak


Saat para santri sedang sholat, bu Risma dan pengurus santri putri pun sedang di ruang ndalem rumah untuk mengurus kain yang akan digunakan ning mereka ini


“Ya Allah… pasti ning Fifin sedih sekali” Ucap Ila yang mana ia sedang memakaikan kain kafan kepada bayi mungil ini


“Enggeh mbak, pastinya begitu”


“Kasihan ning Fifin sama gus Abi”


Bu Risma memang hanya sambil merapikan kain putih itu, namun tetap wajah nya mengalir deras oleh air mata itu


\~


Sedangkan Abizar sendiri selesai berdo’a dan dzikir pun langsung kembali masuk ke ndalem, ia masih ingin menghabiskan waktu bersama putri nya


“Gus, ngapunten niki namine sinten?” Tanya mas Wawan yang mengikuti Abizar ke dalam, karena yang membuat nisan pun bertanya soal nama almarhum nya


“Fatimah, Fatimah Ghazala Humaira” Jawab Abizar meskipun hati nya teriris saat berucap nama tersebut sambil melihat putri yang yang sudah dalam keadaan siap di makam kan


Fatimah Ghazala Humaira, artinya : anak perempuan berpipi kemerahan dan menawan, yang pendiam, cerdas, dan lembut hatinya.


“Ning Fatimah” Ucap mbak Ila dan pengurus perempuan secara serentak, ning Fatimah sendiri terlihat cantik meskipun wajah nya sudah pucat pasi


Mas Wawan dan mas Abdul serta pengurus yang lain kemudian mengambilkan buku tahlil untuk membacakan yasin pada ning Fatimah sampai waktunya di kebumikan

__ADS_1


Karena Abizar belum kuat hati nya, jadilah mas Abdul yang memimpin duluan pun disusul dengan suara santri putra yang terdengar keras walau membaca di halaman pondok


Sedangkan santri putri kompak membaca di ruang tengah ndalem, dan garasi yang biasanya digunakan untuk hajatan hajatan kecil


Bahkan banyak juga para tetangga yang melakukan takziah di rumah ndalem abah dan umi, mereka semua juga prihatin apalagi Abizar yang selama ini di kenal baik


“Ujian nya orang baik memang berat ya” Ucap salah seorang yang sedang bertakziah


\~


Setelah mas Wawan mendapat kabar bahwa tanah di pemakaman umum sudah siap, ia pun memberi tahu Abizar agar ning Fatimah segera di sholatkan di musholla


Abizar mengangguk, dengan berat hati ia menggendong bayi perempuan yang tertutup kain itu kemudian di sholatkan bersama sama di musholla pondok


“Hati hati ya nak… Insya Allah ibuk ikhlas dan nak Abi sama Fifin juga harus ikhlas, nggeh?” Ucap bu Risma saat cucu perempuan nya akan dibawa ke tempat pemakaman umum


“Njih, ibuk” Ucap Abizar mengangguk yang mana dari tadi ia memang sedang berusaha tabah dan ikhlas


Walaupun berkata demikian tapi bu Risma juga menangis saat melihat perlahan cucu nya menjauh dari nya, yang mana Abi sendiri kekeh ingin membawa Fatimah di gendongan nya sambil berjalan ke tempat pemakaman


‎“لَا إِلَهَ إِلاَّ الله”


Sepanjang perjalanan pun mereka semua terus menerus mengucapkan kalimat tauhid, yang mengantar ke pemakaman adalah semua pengurus santri putra dan santri yang sudah dewasa


Sedangkan santri putri maupun saudara saudara perempuan yang lain pun tetap menunggu di rumah ndalem


“Silahkan turun” Ucap bapak bapak pengurus pemakaman jenazah


Abi juga turun ke dalam liang lahat secara perlahan, ia letakkan putri kesayangan nya itu dengan sangat hati hati lalu melepas ikatan pada kain itu dengan dibantu oleh yang lain


Ini… momen di momen ini Abi harus bisa mati mati an menahan air mata nya, perlahan ia mendekat ke arah telinga putri nya dan meng adzani untuk yang pertama sekaligus terakhir


Saat mencium nya pun Abi juga berusaha agar air mata nya tidak jatuh disitu


“Yang tenang di surga nya Allah ya sayang… Insya Allah abah dan umi kamu ikhlas nak, semoga kita di pertemukan di surga nya Allah ya nak? Aamiin” Ucap Abi dalam hati nya


Lalu… Tangis Abizar baru keluar lagi saat melihat bahwa perlahan tanah yang berlubang tadi sudah terisi sampai sedikit menggunung


Setelah di do’a kan dan di beri juga bunga yang diduakan secara mendadak tadi, semuanya perlahan meninggalkan area pemakaman, sampai hanya Abi dan para pengurus putra saja yang masih disitu


“Gus” Panggil mas Wawan karena hari sudah semakin gelap tapi Abi belum beranjak sedikitpun dari posisi duduk nya


Memang sih Abizar sedih saat memandang nisan itu bertuliskan, Fatimah Ghazala Humaira binti Muhammad Abizar Al Hafidz, keterangan lahir dan tanggal meninggal nya pun jelas di hari yang sama


Tapi Abizar bersyukur dan merasa perlu berterima kasih pada warga sekitar sekaligus pengurus pemakaman, karena walau pemakaman di adakan di malam hari pun mereka semua dengan senang hati membantu sampai membawa banyak senter untuk pencahayaan


“Ya mas” Jawab Abizar, ia mengerti bahwa hari sudah malam, maka dari itu ia mencium nisan itu agak lama sampai akhirnya berdiri dan meninggalkan makam putri nya dengan perasaan yang campur aduk


“Tabah njih gus” Ucap mas Eko

__ADS_1


Abizar mengangguk, ia jalan saja masih lemas dan masih di gandeng mas Abdul agar badan nya tidak ambruk di jalan


Saat sampai di pondok pun ternyata ada pemandangan baru, Yap… Aina baru sampai karena ia tadi berada di rumah sang mertua yang jauh dari rumah mereka, ia pun langsung perjalanan kesini bersama suami dan mertua nya saat mendengar kabar tersebut


Jelas Aina sendiri ikut sedih dan prihatin, ia tidak bisa melihat wajah keponakan nya untuk pertama maupun terakhir kali, dan sekarang malah melihat Abi yang penampilan nya udah acak acakan, wajah sembab dan rambut yang tidak beraturan


Abi juga menerima banyak kalimat penenang dari keluarga gus Fahri dan juga kakak nya, Aina


“Pemakaman nya lancar kan?” Tanya bu Risma


“Lancar bu” Jawab Abizar mengangguk namun ia kemudian teringat dengan sesuatu


“Buk… Abi ke rumah sakit dulu nggeh? Abi ingin sekali menemani Fifin” Ucap Abizar karena ia berharap bahwa Fifin juga segera bangun


“Nak Abi, bebersih dulu nggeh badan nya? Biar nyaman kalau di buat keluar” Ucap bu Risma pun dengan Aina yang juga menyarankan


Abizar mengangguk, ia mandi dan bebersih dulu sebentar dan kembali ke rumah sakit bersama dengan seluruh anggota keluarnya, kecuali orang tua gus Fahri yang harus menjaga ning Salma di rumah ndalem bersama para pengurus dan santri santri disitu


Mas Abdul menyetir sambil membawa gus Abi, dan orang tua ning Fifin karena kebetulan Zaki masih ada keperluan di luar kota dan sekarang masih dalam perjalanan pulang setelah mendengar kabar tentang adik nya


Gus Fahri, ning Aina ada di mobil yang satu nya lagi bersama mbak Ila dan salah satu pengurus putri yang duduk di belakang, mereka ke rumah sakit atas permintaan umi untuk menjaga Silvi disana


Abi yang sangat khawatir dan tidak sabaran itu langsung berlari, untung nya Fifin sudah di pindah di ruang rawat VVIP yang mana bersebelahan juga dengan kamar nya Silvi


“Alhamdulillah…” Ucap Abi bersyukur lantaran istri nya sudah bisa di jenguk


Aina memeluk umi dengan sangat erat, sedangkan Fahri juga menguatkan abah agar selalu tabah dalam kondisi apapun


Di dalam ruang rawat inap tidak boleh ramai ramai karena itu akan mengganggu pasien, jadi hanya dua orang yang masuk sedangkan keluarga yang lain menunggu di sofa khusus keluarga VVIP room


“Biar Abizar saja yang masuk duluan ya buk? Kasihan” Ucap pak Yahya mengerti perasaan menantu nya dan ingin memberikan waktu untuk Abizar agar bisa berduaan dengan istri nya di dalam


Bu Risma mengangguk paham, selagi Abi menemui Fifin maka ia akan menemui Silvi dulu, gadis cantik itu pun harus menjadi korban dalam kecelakaan ini


“Ya Allah sayang” Ucap Abizar sangat sedih saat masuk ke ruang rawat namun ia tidak bisa menangis karena sudah kehabisan air mata tadi


Kondisi Fifin benar benar perlu di perhatikan, kepala dan kaki nya cidera sedangkan perut nya sendiri juga harus di caecar paksa karena terhimpit saat kecelakaan tadi, wajah yang mulus kini penuh luka goresan dan bekas darah juga, tak lupa hidung juga mulut itu masih memakai alat bantu nafas


Abizar duduk di samping ranjang itu, ia menggenggam erat tangan sang istri bahkan sampai menciumi nya berkali kali


“Mas benar benar minta maaf sayang… karena tidak berhasil menjaga kamu dan kedua anak kita, jadi mas mohon kamu harus cepat bangun ya? Putra kita masih membutuhkan kamu, dan mas juga selalu membutuhkan adek” Ucap Abizar sambil memejamkan mata nya, merasakan tangan Fifin yang berubah menjadi kasar saat menyentuh pipi nya


Disaat Abizar memandangi Fifin yang sedang tidak sadarkan diri, diluar ada gus Fahri yang sibuk dengan handphone nya karena berusaha mendapatkan rekaman kamera dashboard dari mobil Abizar yang Fifin pakai tadi siang


Ia harus mendapatkan petunjuk selain supir truk yang sedang di tahan sekarang, karena rasanya tidak mungkin kalau supir yang tidak dikenal itu tiba tiba ingin mencelakai Fifin


Walaupun mobil bagian depan sudah ringsek bahkan hancur, ia berharap kamera itu masih terselamatkan sebagai bukti di pengadilan nanti nya, sengaja ataupun tidak tapi kasus ini harus tetap dibawa ke ranah hukum.


__ADS_1


__ADS_2