
Hal yang tidak pernah mereka lupakan saat menikmati quality time adalah setiap pulang akan selalu mengunjungi makam fatimah dulu, dan juga membawa pulang beberapa makanan yang mereka beli untuk dibagikan ke anak anak, walau tidak banyak tapi setidaknya bisa icip lah
“Nak… sudah hampir setahun kamu disini, rasanya waktu cepat berlalu dan jelas ibu masih sedih kalau teringat dengan kamu, yang tenang ya nak… insya allah makam kamu akan selalu terjaga dengan indah sesuai dengan tempat kamu tinggal sekarang” Ucap Fifin tersenyum lalu mencium nisan tersebut
Abizar tersenyum sambil mengelus punggung istri nya, tanpa mereka duga bahwa Abbad sedang mencontoh perilaku ibu nya, yaitu dengan mencium nisan saudara perempuan nya
“Masya Allah… iyaa, ini saudara kamu sayang” Ucap Fifin tersenyum pada Abbad yang belum mengerti apa apa
“Nanti kalau sudah besar dan mengerti, Abbad sering sering kesini ya? mendo’akan supaya tenang di surga nya Allah” Ucap Abizar sedangkan Abbad hanya terdiam dan tak lama kemudian mengangguk walau sepertinya dia masih tidak mengerti
Setelah berdo’a, mereka kemudian pulang ke rumah karena hari juga sudah semakin sore dan Abizar masih perlu menyiapkan fisik nya untuk berangkat ke kota sebelah
“Maaf ya mas tidak bisa menemani ke rumah sakit” Ucap Abi karena sudah sore dan dia tidak bisa menjenguk Lia
“Mboten nopo nopo mas, adek bisa sendiri atau nunggu Lia pulih dulu” Ucap Fifin
Setelah memberikan makanan pada anak anak tadi, mereka masuk ke dalam rumah dengan Abizar yang menggendong Abbad karena putra kecil nya itu tertidur, mirip sekali dengan Fifin yang mudah tidur di dalam mobil
“Fin, Lia sudah melahirkan ini kata mas Wawan, sudah ke rumah sakit?” Tanya umi yang sedang menunggu waktu sholat maghrib di ruang keluarga sambil nderes/ngaji dengan mbak mbak pengurus
Mbak Ila dan Silvi serta pengurus inti atau abdi ndalem yang sedang mengaji bareng umi dan mendengar kabar itu juga gembira, mereka bersama pengurus lain memang berencana menjenguk tapi nanti saja kalau Lia sudah pulang ke rumah
“Dereng umi, mbenjeng mawon bareng kale Fifin pas berangkat kerja” Jawab Fifin karena dia hari ini libur jadi rasanya agak kurang enak kalau ke rumah sakit, toh besok dia juga yang akan memeriksa proses penyembuhan Lia ( belum umi, besok saja bareng sama Fifin waktu berangkat kerja )
“Ya sudah kalau gitu nanti malam umi beli kado nya dulu” Ucap umi
“Mas Abi nggeh bade berangkat ten luar kota malam ini umi, dadose kersane istirahat riyen” Ucap Fifin ( mas abi juga mau berangkat ke luar kota malam ini umi, jadinya biar istirahat dulu )
“Iya benar… tidak apa apa, istirahat yang cukup biar nanti bisa berangkat tepat waktu, umi do’a kan berangkat sampai pulang pun dalam keadaan selamat tanpa berkurang suatu apapun ” Ucap umi bahagia sekaligus mendo’a kan karena sekarang makin banyak yang mengundang putra nya, berarti masyarakat memang percaya dengan Abizar, dan semoga saja anaknya bisa kuat menghadapi ujian ketenaran nanti
“Aamiin aamiin”
“Abi ke atas dulu njih umi, ini Abbad kasihan” Ucap Abizar yang di angguki oleh umi Rida dan Fifin juga menyusul ke atas
Ceklek!
“Mas, kenapa tidak diletakkan di kasur kita aja?” Tanya Fifin, Abbad memang memiliki kamar sendiri di sebelah kamar mereka, namun karena masih kecil jadi ada connecting door atau pintu penghubung antara kamar Abi dan Abbad, jadi bisa memeriksa keadaan putra nya setiap saat
Awalnya Abi juga tidak setuju, tapi Fifin kekeh ingin mendidik anaknya agar mandiri dari kecil dan tidak merasa dibedakan atau dikurangi kasih sayangnya saat memiliki adik nanti, dan Abi akhirnya membolehkan tapi dengan memasang pintu penghubung di dalam kamar yang selalu terbuka setiap saat
“Mas mau istirahat jadi takut nanti Abbad tertindih sama badan mas” Jawab Abizar yang setelah membereskan Abbad dengan benar, ia langsung rebahan di atas kasur nyaman nya
Fifin sendiri akhirnya membiarkan dan lebih memilih untuk menyiapkan keperluan suami nya saja, “Mas nanti menginap disana tidak?”
“Kalau capek mas akan menginap, kalau tidak ya langsung pulang dek” Jawab Abizar sambil memejamkan mata
“Yaudah, adek siapin baju nya mas aja untuk jaga jaga” Ucap Fifin yang kemudian langsung menuju ke ruang ganti mereka
Setelah selesai menyiapkan tas itu dan kembali ke depan kasur, dilihatnya juga Abi sudah tidur dan Abbad sendiri masih nyenyak karena terlalu lelah bermain tadi, jadi mumpung kedua pangeran nya masih tidur, ia lebih memilih untuk ikut masak makan malam saja di bawah
“Umi, kok tumben sudah selesai masaknya?” Tanya Fifin saat sampai di dapur
“Iya nak, bulek katanya ada keperluan jadi ngebut sekali tadi masaknya” Ucap Umi karena bulek masak lebih awal
Fifin mengangguk angguk lalu ia lebih memilih untuk membuat bubur daging, ini makanan pendamping asi untuk putra nya yang sudah berusia 11 bulan
“Umi mau bubur daging? biar sekalian Fifin buatkan” Ucap nya menawarkan
“Boleh” Jawab umi tersenyum
Fifin selalu suka ketika membuat mpasi, karena Insya Allah Abbad akan selalu suka dengan apa yang ia masak jadi tidak terlalu pilih pilih dalam hal makanan
Seperti biasa kalau makan malam seperti ini, Abbad masih duduk di baby chair sambil tetap menggandeng tangan buna, sedangkan tangan Fifin yang satunya ia gunakan untuk menyuapi
__ADS_1
“Adek makan saja, biar mas yang menyuapi” Ucap Abi karena ia sudah selesai makan
Disini lah umi dan abah terlihat senang karena pasangan di depan mereka itu selalu bisa kerja sama untuk merawat Abbad, tidak pernah ada pertengkaran atau perdebatan karena hal hal remeh seperti ini
“Nak… nanti kalau abah pergi maka Abbad harus jadi anak baik ya? jangan rewel terus sama buna” Ucap Abizar, sedangkan Abbad juga hanya mengangguk angguk meskipun tidak tahu nanti akan rewel atau tidak
“Nanti menginap atau tidak Abi?” Tanya abah
“Kalau lelah nggeh menginap abah, dan menawi tasik kuat nyetir nggeh langsung mantuk mriki” Jawab Abizar ( kalau masih kuat nyetir ya langsung pulang kesini )
“Owalah… iya tidak apa apa, usahakan kalau mau pulang langsung ya menyempatkan istirahat dulu sejenak” Ucap abah
“Njih bah”
Setelah makam malam juga Abi langsung mau berangkat ditemani mas Eko, karena kalau habis isya yang ada mereka akan telat saat sampai di acara nanti
“Hati hati ya mas… pulang besok juga tidak apa apa” Ucap Fifin mencium tangan suami nya dan seluruh wajah itu sebentar
“Iya… adek juga harus tidur nyenyak supaya besok tidak telat berangkat kerja” Jawab Abizar
Abah, umi, Fifin dan Abbad berkumpul di carpot karena Abizar sudah mau berangkat, kelihatan nya cuman Abbad yang sedang bingung, kenapa dia tidak di ajak?
Setelah berpamitan pada orang tua, istri dan anaknya, Abizar langsung aja masuk ke dalam mobil setelah meletakkan koper kecil miliknya tadi
Dan “Huwa…… “ Abbad menangis kencang saat tahu bahwa abah nya pergi tidak mengajak dia
Abi sendiri juga kaget, ia membuka kaca jendela dan melambaikan tangan pada putra nya “Nanti abah pulang, Abbad jangan menangis nak” Ucap nya
Fifin dan abah serta umi sampai geleng geleng kepala dibuatnya, mereog beberan ini Abbad sampai terduduk di carpot
“Assalamualaikum…” Pamit Abi dan mas Eko
“Waalaikumsalam…” Jawab mereka semua dan kemudian mobil tadi pun sudah melaju jauh dari gerbang pondok pesantren darussalam
Mas mas pengurus yang sedang jaga pos depan juga geleng geleng sekaligus gemas dibuatnya, saat nangis itu lucu karena tidak mengeluarkan air mata sama sekali
“Gus Abbad kalau nangis itu lucu, berasa mau nyubit pipi nya” Ucap santri yang gemas sekali melihat nya
“Sudah… ayo katanya mau main sama buna? ganti baju dulu trus main yuk” Ajak Fifin yang langsung menggendong putra nya untuk di ajak masuk ke dalam
Heran nya pas sudah di depan mainan pun Abbad masih terlihat letih lesu letoy, kenapa dah? padahal ditinggal juga hanya beberapa jam saja, emang dasar anak abah ini
Tapi tidak lama juga anak itu tertidur dengan sendiri nya, mungkin capek nangis kali ya? jadi tenaga nya terkuras. Nah… kalau tidak ada Abi maka Abbad akan tidur berdua di samping ibu nya.
\~
Tepat saat jam 3 subuh, Fifin sudah bangun karena selama ini Abi membiasakan diri nya untuk sholat tahajud waktu tidak sedang lelah
Tapi pas membuka mata, Fifin sendiri bisa melihat kalau Abi sudah ada di samping nya dengan Abbad di tengah tengah mereka
“Mas… mas, sampai disini jam berapa?” Tanya Fifin ketika sang suami ingin membuka mata, dia membangunkan Abi karena tahu bahwa meski lelah ia akan menyempatkan untuk sholat tahajud dan lanjut tidur setelah subuh
“Jam dua tadi sayang” Jawab Abizar yang baru sampai rumah satu jam yang lalu
“Ya sudah adek buatkan minuman hangat dulu sebentar, mas istirahat dulu sama Abbad” Ucap Fifin turun dari kasur lalu keluar ke bawah
10 menit kemudian ia masuk kembali dengan membawa gelas berisi air jahe hangat, ini bagus untuk suami nya supaya tidak masuk angin dan bisa menghangatkan tubuh
“Mas minum dulu” Ucap Fifin yang mana Abi juga langsung duduk dan meminumnya
__ADS_1
Fifin juga langsung memindahkan Abbad ke kamar sebelah karena suami nya pasti lelah dan biar bisa rebahan dengan leluasa, ia menyalakan lampu sejenak sampai sholat tahajud dimulai
“Mas kenapa tidak menginap saja tadi?” Ucap Fifin sambil mengelus dan sedikit memijat pundak suami nya
“Mas tidak tega melihat Abbad menangis, dan mas Eko sendiri tidur saat ada acara disana jadi bisa langsung pulang” Jawab Abizar
Fifin mengangguk angguk, saat dirasa Abi sudah siap untuk sholat ya mereka berdua langsung mengambil wudhu, sholat tahajud di dalam kamar karena rasanya masih lelah untuk turun ke musholla bawah
Selesai tahajud juga mereka mengaji berdua, selain ini sudah kebiasaan tapi Abi membaca juga supaya tidak mengantuk dan tidak ketinggalan waktu sholat subuh
“Mas, adek itu sayang sekali sama mas karena mas juga sangat menyayangi adek dan keluarga, tapi mas kalau lain kali memang lelah pun adek tidak masalah misalkan mas menginap di hotel sana, nanti Abbad juga akan mengerti dengan sendiri nya” Ucap Fifin yang setelah sholat subuh ia mematikan lampu dan terus mencium i wajah sang suami sebagai ungkapan rasa cinta dan terimakasih nya
“Iya… mas mengerti sayang, adek juga tidak perlu berterima kasih karena mas sayang dengan kamu bukan karena mengerti tanggung jawab suami, tapi mas memang sangat mencintai kamu dek” Ucap Abizar yang membalas ciuman istri nya
“Sebelum adek berangkat kerja ini masih ada beberapa jam kan?” Ucap Abizar memastikan
Fifin langsung kaget dan refleks memundurkan kepala, busettt… ternyata Abi beneran hanya lelah sedikit saja, bukti nya ia masih semangat dalam hal seperti itu
“Yaudah ayo, sebelum Abbad bangun” Ucap Fifin yang mana ia langsung duduk dan mendorong suami nya agar telentang lalu ia berada di atas nya, biasanya dia yang selalu di gini kan, tapi kali ini beda
“Wah… belajar dari siapa ini?” Ucap Abi terkekeh geleng geleng kepala
Fifin mendekat dan benar benar mengungkung suami yang ada di bawah nya “Dari mas dong” Jawab nya
Abizar tersenyum dengan mata yang sudah sayu, jarang jarang hal ini terjadi maka dari itu sepertinya ia nanti akan benar benar puas
Fifin melakukan hal yang sama seperti Abi memperlakukan nya, yaitu mencium seluruh wajah, disertai bibir, lalu lanjut dengan bagian leher, dada dan turun ke bawah
“Allahumma janibnasyaithana wa janibnisyathanamarazaqna” Ucap Abizar ketika ia memutar tubuh dan Fifin berada di bawah nya, ia mengambil selimut dan memastikan kalau posisi mereka benar benar sudah nyaman
“Adek sudah ingin mau hamil lagi atau bagaimana?” Tanya Abi di sela sela kegiatan tersebut
Fifin menggeleng, bagi nya Abbad masih terlalu kecil untuk memiliki seorang adik, tapi entah… kalaupun Allah menghadirkan juga tidak apa apa sih
“Memangnya mas sudah siap puasa lagi?“ Ejek Fifin dengan senyum nya
Abizar sendiri hanya tersenyum sambil geleng geleng kepala, ia memeluk sang istri dengan erat sambil melanjutkan apa yang sedang mereka lakukan sekarang.
tit!!!! ( sensor ges )
\~
Jam 7 pagi Fifin sudah berpakaian rapi dan cantik karena ingin berangkat kerja, sedangkan Abizar masih tidur dengan bertelanjang dada
Fifin yang melihat nya juga terkekeh karena banyak tanda pink pink di bagian leher dan dada suami nya, gara gara siapa itu? ya gara gara dia wkwk
“Mas istirahat saja, adek mau berangkat kerja” Ucap Fifin mencium pipi suami nya sekilas lalu turun ke bawah untuk sarapan, tadi pagi Abbad sudah turun ke bawah sama Silvi dan mungkin sekarang sedang main di halaman dengan para pengurus
“Mbak Sil, Fifin titip Abbad sebentar ya? semoga tidak rewel dan anteng” Ucap Fifin karena ia akan berangkat kerja bareng umi dan abah, kenapa? karena umi sudah bilang ke mas Wawan, pagi ini mau ke rumah sakit untuk membawakan sarapan buatan umi sendiri
“Njih ning, santai… Insya Allah aman” Jawab Silvi memberikan jempol nya sambil menyuapi Abbad, Abbad sendiri juga ikut ikutan memberikan jempol nya seperti yang di lakukan Silvi
“Maya Allah, sudah bisa kasih jempol” Ucap Fifin tersenyum sedangkan abah dan umi juga ikut senang dengan perkembangan cucu mereka
“Oh iya jangan lupa nanti jam sembilan, bilang sama kang Abdul dan minta tolong supaya membangunkan mas Abi sama kang Eko, biar mereka berdua sarapan dulu” Ucap Fifin
“Njih ning siap”
Fifin dan abah juga umi akhirnya berangkat dengan apa yang perlu dibawa, anehnya saat melihat Fifin berangkat kerja tuh Abbad malah tersenyum dan melambaikan tangan
Karena kalau Fifin berangkat kerja, ia bisa bebas bermain dan berlarian kesana kesini meski kaki nya belum kokoh, jatuh juga tidak masalah, apalagi ada para pengurus yang selalu mau bermain dengan nya
“Mau main bola diluar?” Tanya Silvi
__ADS_1
Abbad menganggukkan kepala sambil tersenyum, ia suka saat bermain dengan para pengurus yang walaupun umur nya berbeda jauh tapi ia merasa mendapatkan kasih sayang yang banyak dari orang orang.
•