Perjalanan Cinta Abizar

Perjalanan Cinta Abizar
105. Bangun


__ADS_3

Saat Abizar sholat subuh di samping ranjang istri nya, pelan pelan Fifin mulai membuka mata dan itu ia saksikan dengan mata kepala nya sendiri


“Alhamdulillah… sudah bangun? Ada yang sakit?” Tanya Abizar langsung memencet tombol untuk memanggil dokter


Fifin diam saja, pikiran nya masih ngebug dan loading, mata nya sendiri hanya menatap langit langit kamar rumah sakit dan tubuh nya juga terasa kaku lantaran sudah 2 hari ia tidak sadarkan diri


“Haus? Mau minum?” Tanya Abizar lagi


Namun respon Fifin tetap saja diam seperti tadi, jujur ia masih kebingungan kenapa bisa ada disini dan kenapa badan nya teras kaku sekali


Saat dokter datang, Abi menunggu diluar karena ada pemeriksaan yang harus dilakukan


Setelah beberapa saat menunggu


“Gimana ya dok?” Tanya Abi


“Alhamdulillah… bu Fifin berhasil melewati masa kritis nya, tapi beliau masih syok karena perut nya yang tiba tiba mengecil kembali, jadi untuk sekarang bapak di usahakan menghibur dan selalu memberi semangat yang positif untuk istri nya” Jawab dokter tersebut


Tentu saja Abi mengangguk dan berkali kali mengucapkan terimakasih, walau nanti ia bingung mau menjelaskan dari mana


Lalu ia masuk lagi ke kamar rawat, bisa dilihat sekarang Fifin sudah sadar dengan posisi badan duduk senderan di ranjang yang sudah di atur, selang untuk tabung oksigen juga sudah dilepas


“Anak aku mana?” Belum sempat Abi bertanya tapi Fifin langsung mengucap duluan


Abizar sendiri menghela nafas, ia dengan perlahan mendekati sang istri dan memberikan minum air putih juga, walau tidak mungkin dehidrasi tapi setidaknya tenggorokan itu tidak kering


“Mana mas?” Tanya Fifin lagi


Abi langsung memeluk istri nya dengan cukup erat, sembari mengelus kepala istri nya dengan lembut, ia menjawab secara perlahan


“Putra kita masih di NICU dek karena lahir prematur”


“Lalu? Satunya lagi?” Tanya Fifin karena seingatnya ia memang hamil kembar


Abizar menghela nafas dalam dalam, berat untuk mengatakan tapi ia harus jujur “Allah lebih sayang ke putri kita, mas juga sudah bangga dia berjuang sejauh ini dalam perut ibu nya”


Fifin, seorang ibu yang baru kehilangan putri nya itu tentu saja sangat syok berat dan histeris, ia menangis sejadi jadi nya sampai Abi sendiri menahan agar tubuh itu tidak terlalu banyak bergerak alias ngereog


“Anak aku…”


“Mas tahu kamu sedih” Ucap Abi berusaha menenangkan yang ternyata hanya sia sia

__ADS_1


Fifin sendiri makin ngereog sambil menangis dan mencari ibu nya, ia malah mengancam akan melepas infus itu secara paksa


“Mau kemana mau kemana?” Tanya Abizar


“Anak aku, tidak mungkin kalau dia pergi kan? Tidak mungkin kalau dia mendahului ku kan?” Jawab Fifin


Abizar sendiri geleng geleng kepala karena tidak sanggup menjawab dan pelukan hangat nya pun tidak bisa menenangkan sang istri


“JAWAB MAS!!! anak aku masih hidup kan?” Tanya Fifin dengan menaikkan nada bicara nya satu oktaf sambil memukul lengan suami nya


Brak!!!


“Kenapa nak? Kenapa?” Tanya bu Risma yang baru datang dan kaget mendengar putri nya berteriak, disusul pak Yahya juga di belakang nya


“Buk… mas Abi bilang kalau anak aku meninggal, itu bohong kan buk?” Tanya Fifin dengan wajah nya yang pucat namun sudah sembab karena menangis


Pak Yahya dan bu Risma mengerti, putri mereka ini masih sangat syok berat akibat baru bangun sudah melihat perut nya yang kempes dan kehilangan putri nya


“Abi, ikut bapak ayo” Ajak pak Yahya pada menantu nya


Sedewasa apapun Fifin itu, ia tetap hanya seorang anak yang selalu membutuhkan ibu nya di saat saat gundah dan sedih seperti ini sebagai penopang kesedihan nya


Abizar mengangguk dan keluar dari ruang perawatan dengan perasaan yang campur aduk, ia khawatir tapi ia tidak bisa mengatasi hal ini sendirian


Sedangkan di dalam ruang rawat, Fifin langsung memeluk ibu nya dengan sangat erat dan menumpahkan kembali tangis nya disana, ia mengeluarkan semuanya hal hal yang ia rasakan sekarang


Bu Risma juga membiarkan saja sampai anak nya tenang, walau ucapan Fifin tidak terlalu jelas karena sesegukan, tapi ia bisa mengerti apa saja maksud dari ucapan anak nya


“Nak… ingat tidak kalau dulu kamu pernah bilang ingin menerima dengan baik semua takdir yang Allah tentukan untuk kamu, berarti sekarang sudah mengerti kan?”


“Tapi ini sangat menyakitkan buat Fifin buk” Ucap Fifin memegang dada nya yang terasa sangat nyeri sekarang


“Ibuk tahu pasti ini sangat berat untuk kamu nak… tapi ingat! Putri kamu sudah di surga sekarang, dia juga tidak mau kalau ibu nya bersedih, dan kamu juga harus kuat supaya bisa menemani putra kamu kan?”


Fifin hanya mengangguk angguk tapi tangis itu belum bisa berhenti, antara ia merasa bersalah karena tidak bisa menjaga kandungan nya sendiri dan sedih juga tidak akan pernah bisa bertemu dengan putri nya


Cukup lama juga bu Risma menenangkan putri nya sampai Fifin bener bener berhenti menangis dan bisa lebih tenang daripada tadi


Karena kondisi Fifin sudah tidak kritis, jadi sudah bisa lebih banyak orang yang masuk untuk menjenguk ke dalam ruang rawat


“Insya Allah, kamu bisa ikhlas ya nak” Ucap pak Yahya seraya mengelus elus lengan Fifin

__ADS_1


Fifin cuman bengong sambil mengelus perut nya, ia masih tidak menyangka kalau harus kehilangan satu anak di dalam perut nya


“Mas, makam anak kita dimana?” Tanya Fifin tiba tiba


“Di TPU indah, adek kalau mau kesana harus sembuh dulu” Jawab Abizar yang cukup membuat Fifin cemberut karena kondisi nya yang tidak memungkingkan untuk keluar dari rumah sakit


“Tapi adek juga ingin melihat kondisi putra ku” Ucap Fifin


“Iya, tadi mas sudah menyampaikan ke dokter nya, tapi tunggu kondisi dia membaik ya?” Jawab Abizar karena bayi nya tidak boleh dibawa keluar dari ruang NICU


“Trus anak aku kesepian disana? Tidak ada yang menemani?” Tanya Fifin agak sedikit nge gas karena emosi nya belum stabil


“Ada kak Aina sama suami nya yang menjaga” Jawab Abizar tetap lembut dan tidak bisa menyuruh istri nya untuk sabar karena ia tahu bagaimana rasanya kehilangan


“Kalau dia tidak bisa dibawa kesini, adek aja yang kesana” Ucap Fifin ingin turun dari ranjang walau kaki sangat kaku dan sakit


“Yakin adek bisa?” Tanya Abizar


“Bisa, adek kuat kok” Jawab Fifin


“Yaudah… mas ambilkan kursi roda dulu sebentar, adek tunggu disini” Ucap Abizar dan langsung keluar dari ruang rawat


Bu Risma sebenarnya ingin menasihati Fifin agar lemah lembut saat bicara dengan suaminya, tapi kalau situasi nya seperti ini pun rasanya tidak pantas, karena jelas saja Fifin masih butuh waktu untuk menerima semuanya


“Nduk… pelan pelan aja, sabar ya” Ucap pak Yahya juga memahami kenapa putri nya jadi mudah emosi seperti ini sekarang


“Assalamualaikum”


Saat Abizar mengambil kursi roda, ada abah dan umi yang baru datang karena tadi mendapat kabar bahwa menantu mereka sudah bangun


“Wa’alaikumsalam…”


Fifin yang sedang merasakan kehilangan, tapi tetap umi juga ikut mewek dan menangis sambil memeluk menantu nya


“Yang tabah ya nak…. Putri kamu Insya Allah sudah tenang di surga nya Allah”


Fifin mengangguk angguk sambil membalas pelukan umi, tapi memang rasa bersalah nya soal tidak bisa menjaga kandungan itu masih ada, masih terbesit menyalahkan diri sendiri soal ia yang kecelakaan kemarin


“Lalu Silvi?” Tanya Fifin karena ia baru ingat untuk menanyakan keadaan Silvi


“Sudah siuman kemarin malam, lagi dijaga sama mbak mbak yang lain” Jawab umi karena tadi ia harus pulang ke rumah sebab Salma agak rewel dan baru bisa kembali kesini sekarang

__ADS_1


“Ya Allah… kasihan sekali” Ucap Fifin, ia tahu kalau kondisi kesehatan Silvi sudah pasti lebih buruk darinya, karena kalau dilihat dari keadaan mobil memang yang ringsek itu bagian kanan depan alias bagian pengemudi.



__ADS_2