Perjalanan Cinta Abizar

Perjalanan Cinta Abizar
36. T2


__ADS_3

Setelah sholat dzuhur, Fifin langsung tidur siang sebentar untuk mengisi daya sebelum berangkat kerja karena bahaya kalau sampai ia tertidur di rumah sakit nanti


Tak lama datanglah Abi yang baru pulang mengajar, ceklek!


Ia tersenyum saat melihat Fifin yang tidur namun tetap saja cantik seperti biasanya, Abi juga tidak membangunkan karena sudah tahu kebiasaan istri nya yang akan menyempatkan untuk tidur sebelum kerja


Abi yang baru selesai mandi juga langsung menutup jendela kamar yang terbuka karena melihat Fifin kaget dalam tidur nya ketika mendengar suara ramai para santri MI, MTs yang pulang dari sekolah madrasah tempat mereka belajar


Sembari menunggu waktu, Abi membuka laptop untuk mengecek pekerjaan butik, produksi pakaian dan usaha impor mereka berjalan dengan baik atau tidak, ada penurunan dan sebalik nya atau tidak, bahan bahan ada yang perlu di tambahkan lagi atau tidak


Kring kring! Kring kring!


Alarm dari ponsel Fifin berbunyi, sang pemilik juga langsung bangun dan tersenyum ketika melihat sang suami sudah ada di samping nya


"Kapan pulang?"


"Dari tadi" Jawab Abi sambil membantu Fifin untuk duduk dan mengumpulkan nyawa


"Emm mas... sebenarnya adek ragu sih mau cerita atau enggak" Ucap Fifin memikirkan kembali soal yang ia lihat di rumah Aina tadi


"Adek mau cerita apa? Bilang aja sama mas kalau memang ada yang mengganjal" Ucap Abi menutup laptop dan beralih fokus pada istri nya


"Jadi... tadi adek kan ke rumah nya mbak Aina tuh sama umi"


Abi mulai mendengar cerita istri nya dengan serius, mungkin ada yang perlu ia ketahui juga dari cerita Fifin


"Trus waktu adek mau pamit, adek sadar kalau di dahi mbak Fifin ada bekas kayak memar ke unguan gitu... adek dengan permisi nanya sama mbak Aina soal memar itu, katanya habis jatuh karena jalan jalan trus lantai nya ketutup perut, jadilah kaki nya tersandung dan dahi nya terhantam meja"


"Oalah... kasihan, mas do'a in biar cepet cepet lahiran supaya tidak jatuh lagi" Ucap Abi


"Ck, bukan itu yang adek maksud mas" Ucap Fifin menyenggol lengan Abi


"Ya trus apa dek?"


"Aku kok ragu ya waktu mbak Aina bilang memar nya karena kepentok meja, ya enggak mungkin se tipis itu bekas nya" Ucap Fifin

__ADS_1


"Trus kepentok apa dong?" Tanya Abi


"Itu... suami nya mbak Aina, gus Fahri suka kdrt nggak sih? Enggak mungkin kan?" Tanya Fifin perlahan


"Hahaha.. enggak lah, mas tahu betul kok bang Fahri itu orangnya seperti apa, tidak mungkin kalau sampai kdrt sama istri nya" Ucap Abi karena ia dan Fahri sudah berteman dari mereka masih sekolah dan mondok dulu


"Ohh gitu ya... mungkin aku yang terlalu negatif thinking sama orang" Ucap Fifin sambil mengelus dada nya sendiri


"Iya, bang Fahri orangnya baik kok.. tidak perlu khawatir, mungkin memang benar ucapan kak Aina sama kamu" Ucap Abi, walau dulu Fahri adalah kakak kelas nya dan mondok lebih dulu namun Fahri juga selalu baik pada adik adik nya di pesantren


"Ya alhamdulillah kalau memang begitu kenyataan nya" Ucap Fifin memilih untuk mengganggap lalu saja meskipun ada yang masih mengganjal saja di hati nya


"Udah sana mandi" Ucap Abi melirik jam dinding yang sudah jam setengah dua siang


"Iya, ini juga mau mandi kok" Ucap Fifin langsung bangun dari kasur dan menuju kamar mandi


Selagi Fifin mandi, Abi juga mengirim pesan pada Aina untuk menanyakan soal ia jatuh itu.. Abi memang percaya pada Fahri, tapi semua manusia juga pasti akan melakukan kesalahan kan? Jadi ia juga harus menanyakan kebenaran nya pada Aina... jika memang ada pertengkaran,  semoga saja itu hanya pertengkaran kecil dalam rumah tangga mereka dan tidak sampai ada kdrt di dalam nya


"Mas... adek lupa handuk nya"


Abi menggelengkan kepala


"Iya, maaf.. namanya juga lupa" Ucap Fifin yang menerima handuk itu dan cepat cepat menutup pintu


Jika biasanya kaum laki laki yang suka kelupaan tidak membawa handuk, ini kebalik pula... justru Fifin yang suka lupa tidak bahwa handuk kalau ke kamar mandi, jadi lah Abi yang beberapa kali mengambilkan


"Maaf merepotkan mas, lain kali adek catat dan tempel di depan pintu kamar mandi supaya ingat" Ucap Fifin dari dalam


"Iya... tidak apa apa" Ucap Abi yang sebenarnya juga tidak masalah, namun ketika ia tidak ada maka siapa yang akan mengambilkan handuk untuk istri nya nanti? Jadilah ia selalu mengingatkan Fifin berkali kali soal handuk sebelum mandi


Saat Fifin sudah siap dengan pakaian yang ia gunakan untuk bekerja, ia juga meminta izin pada Abizar untuk menyetir sendiri kali ini karena Abi baru pulang dan pasti capek, ia juga kangen menyetir.. apalagi mobil milik nya sudah di antar kesini oleh Zaki


"Ya nanti katanya mau kencan? Trus nanti adek yang jemput mas gitu?" Tanya Abi


"Iya, nanti malam mas ada jadwal ngajar atau ngaji?" Tanya Fifin balik

__ADS_1


"Ada, nanti malam habis isya' mas di undang untuk mengisi tausiyah di masjid kota dekat alun alun itu.. jadi yang ngajar anak anak nanti mas Wawan sama pengurus lain nya" Jawab Abi


"Nah yaudah mas berangkat nanti minta tolong di antar sama kang Eko, nanti selesai tausiyah biar adek yang jemput mas" Ucap Fifin


"Trus mas Eko dibiarin pulang sendiri?" Tanya Abi


"Ya emang mas mau ngajak kang Eko buat pacaran bertiga sama kita?" Tanya Fifin balik


"Ya enggak lah dek" Jawab Abi, masa iya mau pacaran halal trus bawa bawa mas Eko? Enggak mungkin lah


"Ya udah izinin adek nyetir ya" Ucap Fifin


"Iya, mas kasih izin.." Jawab Abi mengizinkan, mungkin sesekali ia memang perlu menuruti keimginan sederhana seperti ini


"Yaudah adek berangkat dulu ya, assalamualaikum" Ucap Fifin mencium tangan suami nya dan dibalas kecupan dahi oleh Abi


Fifin langsung turun ke bawah untuk berpamitan dengan abah dan umi, lalu mengeluarkan mobil nya dari carpot meski pengurus yang bertugas menjaga pos itu agak kaget karena baru kali ini ning Fifin berangkat kerja sendiri


Saat baru keluar gerbang, Fifin membuka kaca mobil dan memberikan gestur dadah 👋pada Abi yang melihat dari balkon kamar mereka, Abi juga tersenyum dan membalas tangan itu


~


Baru juga Fifin masuk ke ruangan, ia sudah di suguhkan dengan bestie nya yang tak lain dan tak bukan adalah Lia


"Tuh kan betah satu shift lagi sama aku" Ucap Lia terkekeh


"Iya ya.. heran juga kenapa aku sering satu shift sama kamu" Ucap Fifin walau dalam hati ia juga senang kok satu shift dengan sahabat nya


"Gimana? Sudah suntik T2?" Tanya Lia mengingatkan karena sudah hampir sebulan sahabat nya itu menikah


"Eh... i-iya, besok deh aku suntik" Jawab Fifin yang kembali berbohong


"Ohh.. oke, jangan sampai lupa" Ucap Lia yang kemudian mengecek daftar nama pasien ibu hamil yang ranap iwat disini


Fifin terdiam, memang benar bahwa pernikahan nya sudah berjalan hampir satu bulan.. tapi Abi tidak pernah sekalipun meminta hak seperti itu padanya, hal yang biasa dilakulan oleh pasangan suami istri

__ADS_1


Fifin jadi berpikir, ini memang Abi yang menunggu nya sampai siap? Atau Abi tidak pernah berna*su dengan nya? Tapi itu tidak mungkin... mengingat Abi yang gemas nya minta ampun dan suka mengunyel unyel pipi istri nya


"Astaghfirullahaladzim... jangan mikir yang aneh aneh Fin" Ucap Fifin lirih dan berusaha untuk mengalihkan pikiran nya, tapi tetap saja... semakin berusaha dihilangkan malah semakin sering ia kepikiran soal Abi.


__ADS_2