Perjalanan Cinta Abizar

Perjalanan Cinta Abizar
27. Pulang


__ADS_3

Ya sama seperti kemarin ketika mau berangkat, tahajud, sholat subuh plus ngaji dulu sebentar dan baru lah jam 7 pagi mereka bersiap siap untuk kembali pulang ke rumah


Ya walau Abi menggelengkan kepala karena ada drama dari Fifin yang kembali menyadari bahwa dirinya banyak tingkah ketika bangun tidur tadi pagi


"Aihh... kok bisa ya tidur ku banyak tingkah? Tapi ibuk kok gak pernah bilang sama aku?" Ucap Fifin yang sedang duduk termenung di atas ranjang


"Harus terima kenyataan kalau tidur kamu memang banyak tingkah" Ucap Abi sambil mengangkat ransel dari bathrobe


Fifin lantas menoleh dan manyun seketika, kok bisa dia yang kayak princess gini tidur nya banyak tingkah? Ibarat cewek yang kalau tidur kayak kebo, berguling kesana kemari


"Aku kalau di rumah biasa aja tuh, jadi tidurku enggak banyak tingkah kalau ada guling mas" Ucap Fifin yang menganggap guling adalah penyelamat terbaik untuk nya


"Lohh.. baru aja aku minta tolong sama bulek Marni supaya buang guling yang ada di kamar kita"


"Mas! Aku kan butuh guling" Ucap Fifin agak memekik karena aib nya akan terus nampak jika tidak ada guling


"Kan udah ada aku, buat apa butuh guling?" Tanya Abi yang semakin gencar menggoda istri nya


"Enggak enak, guling kan empuk.. kalau paha kamu keras" Jawab Fifin yang tetap manyun sambil membuang muka karena kesal dengan suami nya


"Iya iya, bercanda.. jangan merajuk gitu" Ucap Abi dengan satu tangan yang mengelus elus lembut kepala Fifin


"Beneran jangan dibuang loh ya?" Tanya Fifin menoleh pada suami nya


"Iya, emang kapan aku pernah bohong sama kamu? Enggak kan?" Ucap Abi percaya diri bahwa ia tidak pernah berbohong


"Kemarin kamu bohong, bilangnya dikit tapi kenyataan nya banyak banget" Ucap Fifin yang masih belum selesai manyun nya


"Ya lagian enak kan di ajarin suami yang ganteng?" Ucap Abi yang lagi lagi begitu


"Tau ah" Jawab Fifin kesal ketika Abi terus bercanda dengan nya, mood nya benar benar sudah buruk kali ini


"Iya dek, maaf ya... udah jangan manyun lagi, nanti kalau aku mau matahari versi bahasa inggris nya gimana? Emang mau?" Tanya Abi menaik turunkan alisnya


Fifin masih ngebug, matahari? Bahasa inggris nya berarti sun? Sun yang berarti ciuman itu maksudnya? Seketika ia terbelalak dan plak! Memukul kecil lengan suami nya


"Enak aja" Ucap Fifin dengan pipi memerah sedangkan Abi malah tertawa


Sebelum check out mereka menyempatkan untuk berpamitan pada Biba dulu, kapan lagi mereka bertemu jika bukan keadaan sekarang ya kan?


"Wahh iya kalian mau pulang ya?" Tanya Biba yang juga sudah mengemasi koper karena dia akan pulang kampung jam 8 pagi nanti

__ADS_1


"Iya nih, sehat sehat ya.. kalau butuh apa apa kabarin aja" Ucap Fifin


Abi hanya menyimak sambil menatap kebawah, jujur ia tidak berani menatap seorang perempuan kecuali perempuan itu memang halal bagi nya


"Eh iya mas nya salam kenal ya, tolong jagain Fifin yang kekanak kanakan ini" Ucap Biba mengatupkan tangan nya


"Insya Allah" Jawab Abi yang juga membalas dengan mengatupkan tangan nya


"Yaudah ya.. aku duluan, assalamualaikum" Ucap Fifin


"Iya waalaikumsalam, jangan lupa suntik ** untuk jadwal berikut nya" Ucap Biba sebelum teman nya itu benar benar pergi


Selepas check out, mereka langsung menuju parkiran dimana mobil mereka terpakir rapi dan akan dibawa pulang kembali ke rumah


"Sudah tidak ada yang ketinggalan kan?" Tanya Abi


"Sudah mas" Jawab Fifin sakin lalu mulai membaca do'a agar diberi keselamatan ketika mobil mereka menjauh dari hotel


"Dek, suntik ** itu apa?" Tanya Abi yang sempat mendengar ucapan Biba tadi


"Suntik ** itu suntik yang mencegah tetanus dan infeksi saat pertama kali nganu" Ucap Fifin menekan kata nganu karena tidak ingin terlalu frontal


"Ohh.. iya aku paham, terus pelaksanaan nya kapan?" Tanya Abi lagi


"Kamu sudah?" Tanya Abi


"Belum" Jawab Fifin karena saat menikah ia pun hanya medikal check up saja


Abi hanya mengangguk angguk, iya sih.. pernikahan mereka saja mendadak dan karena perjodohan lewat orang tua mereka juga, jadi pasti Fifin belum memikirkan ke arah sana


"Tapi bukannya aku enggak mau serius sama kamu loh ya, aku mau serius soal pernikahan kita... cuman emang belum kepikiran ke sana karena masih adaptasi juga kan" Ucap Fifin


"Iya tidak apa apa, aku paham" Ucap Abi menenangkan istri nya, tentu saja Fifin syok karena Abi yang tiba tida datang dalam kehidupan nya.. begitu pun sebalik nya


"Kita ada di posisi yang sama, aku juga sebenarnya selalu berusaha untuk membuat rasa cinta itu ada di antara kita, jadi aku mohon kerja sama kamu juga" Ucap Abi setelah hening sesaat


"Iya, kalau kamu merasa kesulitan.. ingatlah bahwa aku pun juga merasa kesulitan, maka kita memang di posisi yang sama dan lebih baik saling bekerja sama untuk mencapai itu kan?" Ucap Fifin


"Aku yakin bahwa suatu saat nanti kita bisa seperti orang tua kita" Ucap Abi tersenyum


"Aamiin" Jawab Fifin sambil membalas senyuman Abi padanya

__ADS_1


Untuk perjalanan kali ini pun Fifin berhasil menemani suami nya mengobrol sampai mobil mereka berhenti di gerbang pondok pesantren darussalam itu


"Sudah gus, biar saya saja yang buka" Ucap Eko ketika melihat Abi datang dan ingin turun dari mobil karena gerbang masih tertutup


"Terimakasih ya mas" Ucap Abi kembali masuk mobil dan menjalankan kendaraan roda empat itu masuk ke dalam lalu terparkir rapi di carpot


"Assalamualaikum umi" Ucap Abi dan Fifin yang melihat umi Rida sudah menyambut mereka di pintu samping carpot


"Waalaikumsalam, alhamdulillah... anak anak umi sampai dengan selamat" Ucap Umi senang


"Berkat do'a umi juga" Ucap Abi


Mereka bertiga kemudian masuk ke dalam dan menuju ruang keluarga, kemana abah? Ia masih ada acara diluar rumah dan jadilah yang menyambut mereka tadi hanya umi sendiri


"Silvi kemana umi? Bukannya kuliah dia masih nanti siang?" Tanya Abi karena biasanya jika jam 9 pagi begini Silvi akan membantu bulek memasak setelah anak anak santri berangkat sekolah


"Lagi ada kerja kelompok sama teman nya, sudah Abi... kasian kalau dia bantuin terus, masih ada mbak mbak yang lain juga kok" Ucap umi karena pengurus putri yang membantu juga tidak hanya Silvi tapi masih banyak yang lain nya


"Iya mas, Silvi juga punya tugas kuliah jadi insya allah dia akan baik baik aja" Ucap Fifin berusaha menenangkan Abi


"Kok Silvi tidak izin dulu ke Abi?" Tanya Abizar yang tidak mendapati chat dari Silvi walau gadis itu punya ponsel yang mana semua pengurus juga punya


"Mungkin dia takut sama kamu nak" Jawab umi


"Telfon Silvi umi, sebelum anak anak pulang sekolah.. dia harus sudah ada disini, kalau kerja kelompok nya belum selesai... lebih baik suruh teman nya mengerjakan disini saja" Ucap Abi


"Iya Abi, kamu jangan terlalu khawatir.. Silvi juga pasti mau main keluar dan asal tidak berlebihan, dia sudah besar jadi tahu mana yang baik dan buruk" Ucap umi


"Umi.. Silvi sudah menjadi tanggung jawab Abi, jadi Abi takut kalau Silvi kenapa kenapa dan tidak bisa menjaga amanah dari ibu nya" Ucap Abi


Fifin disini masih bingung sambil menyimak, memang kenapa dengan Silvi sampai orang tua gadis itu menitipkan nya pada Abizar?


"Iya Abi, sudah ya.. umi telfon dia, kamu balik ke kamar saja sama Fifin" Ucap umi yang membuka ponsel nya dan mencari kontak Silvi


"Baik umi, Abi sama Fifin permisi ke atas dulu" Ucap Abi menarik tangan istri nya dan berjalan menuju kamar dengan barang bawaan mereka


Abi langsung rebahan di atas kasur, sangat berbeda dengan dia biasanya yang langsung mandi dan barulah rebahan


Fifin yang melihat itu langsung duduk di ranjang dan memberanikan diri untuk mengelus lembut kepala sang suami, entah kenapa ia bisa melihat bahwa beban yang Abi tanggung cukup berat


Cukup lama elusan itu berlangsung karena Fifin ingin agar ketenangan suami nya itu kembali, Abi sendiri malah menutup kedua matanya dengan telapak tangan sang istri yang ia tarik dari kepalanya sendiri

__ADS_1


"Sudah tenang mas?" Tanya Fifin yang mendapat anggukan kepala, untuk pertama kali ia akan ikut campur soal kegelisahan sang suami


"Kenapa mas? Hemmm...? memang nya kenapa kalau Silvi keluar rumah? Aku tahu kalau nilai seorang wanita lebih tinggi ketika ia betah di dalam rumah, tapi bukan jawaban itu yang aku maksud" Ucap Fifin berusaha selembut mungkin


__ADS_2