Perjalanan Cinta Abizar

Perjalanan Cinta Abizar
110. Stress


__ADS_3

“Mas kok bisa masih hafal alamat nya tadi?” Tanya Fifin saat mereka berdua sudah di dalam kamar


Abizar terkekeh, ternyata Fifin benar benar cemburu dan masih mengingat perkataan nya tadi mengenai alamat orang tua Nisa


“Ya mas kan dulu sempat bertanya alamat orang tuanya dimana, tau sendiri mas waktu belum menikah sama kamu aja langsung ke rumah bapak sama ibuk tanpa menghubungi kamu” Jawab Abizar


“Berarti dulu kamu sesuka itu ya sama dia?” Tanya Fifin karena Abi dulu berniat serius soal pernikahan


“Dulu ternyata mas masih buta sih, belum bisa melihat aslinya dia seperti apa” Jawab Abizar sambil merapikan sprai tempat tidur agar bersih sebelum membaringkan istri nya


“Ohh…” Fifin cuman oh oh aja, rasanya ia lelah dengan apa yang terjadi belakangan ini dan ingin istirahat total sambil fokus pada perkembangan putra nya


“Bismillahirrahmanirrahim” Abi mengucap basmalah saat ia menggendong sang istri dan memindahkan nya ke tempat tidur, ia senantiasa mengelus kepala itu dengan lembut dan penuh kasih sayang


“Jujur saja, mas takut kehilangan kamu” Ucap Abi mengingat saat saat Fifin masih dalam kondisi kritis dan tidak merespon siapapun


“Takut apa takut?” Tanya Fifin


“Takut beneran, mas tidak bisa membayangkan kalau harus kehilangan kamu” Ucap Abizar “Maaf juga karena mas yang lalai dan tidak bisa menjaga keselamatan kamu juga anak kita” Lanjut nya


Fifin tidak berucap namun ia menggeleng sambil tersenyum karena ini bukan kesalahan Abi, berandai andai juga percuma karena ini adalah takdir dan ujian rumah tangga mereka berdua


“Adek harus bisa kembali sehat ya? Supaya bisa menemani anak kita sampai dewasa, sampai punya cucu cicit gitu” Ucap Abi


“Ih aamiin aja kalau umur nya panjang” Ucap Fifin, tadi ia habis makan kue dan minum obat jadi sudah berasa ngantuk


“Tidur saja, ada mas disini” Ucap Abi dapat membaca gestur istri nya yang seperti tidak mau ditinggalkan


Akhirnya Abi memeluk pelan sang istri, membelai rambut dan mengelus lengan nya dengan sangat hati hati sampai wanita itu tertidur pulas


Ia ingin menemani lebih lama, tapi tiba tiba saja ada telfon masuk dari Bima, dan Abi tau percakapan ini akan panjang. Maka dari itu ia keluar kamar sebentar untuk membicarakan hal yang penting


“Wa’alaikumsalam, ya Bim kenapa?” Tanya Abi


“Ini loh, alhamdulillah Nisa sudah dibawa ke polres” Ucap Bima yang ternyata tim berhasil menjemput Nisa

__ADS_1


“Alhamdulillah, berarti proses penyelidikan berlanjur dong ya? Sudah cukup bukti kan untuk membawa kasus ke pengadilan?” Tanya Abizar


“Sudah, berkas nya sudah masuk ke pengadilan dan dia juga berhak membawa pengacara nanti” Jawab Bima


“Oke, kalau gitu aku diskusi dulu sama abah” Ucap Abizar


“Oke, assalamualaikum” Ucap Bima dan Abizar langsung mematikan telfon setelah menjawab salam barusan


Abi juga segera turun ke bawah, yang mana di ruang keluarga ternyata masih berkumpul dan berbincang semua disini


“Gimana Abi? Sudah ada kabar dari Bima?” Tanya Fahri, sedangkan yang lain termasuk kakak Fifin yang baru pulang dari luar kota


“Berkas nya sudah masuk meja hijau, dia juga sudah di tahan di kantor polisi” Jawab Abi


“Alhamdulillah….”


“Berarti kita butuh pengacara ya? Apa boleh kalau teman ku saja yang menjadi pengacara dari pihak kita?” Tanya Fahri


“Boleh boleh mas, bukti juga sudah kuat kok jadi harusnya kasus ini tidak panjang” Jawab Abizar


“Kalau abah ikut bagaimana alur dan baiknya saja, makin cepat makin baik” Ucap abah yang sudah tidak tahan dengan kejadian kali ini


“Nggih…” Jawab Abi sambil menundukkan kepala nya, jujur ia masih sungkan dan malu terhadap mertuanya, karena waktu kemarin ia sudah menjelaskan siapa itu Nisa dan alhamdulillah nya mereka bisa mengerti, namun tetap saja Abi merasa sungkan dan tidak enak hati


“Pokoknya kasus ini harus selesai loh Abi, memaafkan boleh tapi hukum harus berlanjut” Ucap Aina


“Iya” Jawab Abi meng iya iyakan saja meski tidak semudah itu untuk memenjarakan Nisa


“Ya sudah, aku mau menghubungi pencara dulu sekalian mengirim detail kasus nya” Ucap Fahri langsung gercep


“Iya mas, terimakasih” Ucap Abi bersyukur ketika dalam kondisi seperti ini dan semua keluarga pun mendukung nya


Saat Abi mau berucap, tapi handphone yang ada di saku nya keburu bunyi yang ternyata telfon dari Fifin


“Iya, kenapa?”

__ADS_1


“Mas dimana? Katanya mau menemani adek disini” Tanya Fifin disana yang sepertinya habis menangis karena ditinggal ke bawah


“Ini mas sedang berbincang sebentar di bawah sama mengambil air minum” Jawab Abi


“Yaudah cepetan kesini!” Ucap Fifin yang sudah merengek kesal


“Iya… ini mas mau ke atas, tunggu sebentar ya” Ucap Abi lalu mengakhiri pangilan telfon itu


“Rewel ya nak?” Tanya bu Risma


“Nggih buk, mboten purun kulo tinggal” Jawab Abizar ( iya buk, tidak mau saya tinggal )


“Yaudah Abi langsung ke atas saja, kasihan nak Fifin” Ucap umi


“Njih umi”


Dan benar saja, sesampainya di kamar atas ternyata Fifin sudah menatap nya dengan mata swmbab dan hidung memerah


“Maaf ya tadi ke bawah sebentar, pasti mas temani adek lagi kok” Ucap Abi dengan sabar dan kembali memeluk istrinya walau Fifin sempat mengomel karena ditinggal saat dia tidur


“Smeoga segera selesai ya? Kasihan kamu kalau terus terusan di kondisi seperti ini” Ucap Abi dalam hati yang dapat merasakan bahwa keceriaan dalam diri istri nya itu hilang atau wanita ini masih mengalami stres berlebihan


Selagi menemani sang istri tidur siang, Abi juga terus menemani sambil mengerjakan pekerjaan yang tertunda dan mempelajari kasus kecelakaan istri nya


Alhamdulillah nya ia berhasil mendapatkan rekaman cctv dari jalan raya tempat kejadian, yang ia heran adalah kenapa mobil yang mengikuti istri nya iti bukan mobil yang biasanya Nisa gunakan


Berarti sudah kelihatan bukan? Kalau ia sengaja ingin menutupi keterlibatan dirinya dalam kecelakaan yang disengaja ini


Truk yang menabrak istri nya pun truk kosong dan tidak sedang mengangkut apa apa alias tidak mungkin supir tidak mungkin bisa mengatakan kelebihan muatan sebagai alasan nya oleng


Abizar sendiri juga mengecek langsung plat nomor mobil yang dipakai Nisa, dan ternyata itu bukan mobil miliknya sendiri melainkan milik orang lain


“Mas pasti akan mendapatkan bukti lebih banyak dek, demi keadilan untuk kamu dan anak kita” Ucap Abizar lirih lalu mengecup dahi itu sebentar dan kembali memikirkan kronologi kecelakaan ini


“Dan mas tidak rela kalau orang yang menyakiti kamu dan anak kita bisa hidup bebas begitu saja” Ucap Abizar yang benar adanya

__ADS_1


Hukum di dunia harus berlaku dan bisa adil, sedangkan hukuman di akhirat itu tugas Allah yang menentukan nanti.



__ADS_2