
"Pak Abi, pengen deh kita semua bisa bertemu sama istri nya"
"Iya pak... kita juga sudah mau lulus" Sahut yang lain, karena Abi saat ini mengajar di kelas 12 yang mana sebentar lagi mereka juga akan lulus sekolah
"Insya Allah nanti" Ucap Abi yang tidak bisa berjanji
"Beneran ya pak?"
"Insya Allah.."
Abi kemudian menyuruh anak anak untuk tidak berisik dan lanjut mengerjakan tugas saja, daripada nanti ada pertanyaan yang lebih banyak lagi mengenai ia dan istri nya
"Oh iya pak Abi izin bertanya, ini minggu depan kan sudah liburan semester... sedangkan masih ada beberapa dari kami yang belum ujian hafalan, itu bagaimana ya pak?" Tanya seorang siswi lagi
Abi berpikir sejenak, gimana ya? Sedangkan minggu depan ia dan keluarga ada agenda untuk liburan bersama
"Setelah liburan saja, atau kalau mau boleh ke rumah saya, untuk waktu nya nanti akan saya kabari lagi"Jawab Abi pilih jalan tengah saja
"Ohh... njih pak"
Selepas menilai tugas untuk para siswa siswi, Abi juga langsung menuju kelas lain yang memang ada jadwal nya mengajar
~
Jam 11 siang Abi pulang karena sudah tidak ada jam mengajar lagi, saat sampai di rumah ia juga bertepatan dengan pegawai butik yang baru akan kembali
"Assalamualaikum" Ucap Abi setelah masuk dari pintu samping dan langsung ke depan untuk menuju ruang tamu
"Waalaikumsalam... pripun gus? Sudah bagus atau masih ada yang perlu di rubah?" Tanya seorang desainer perempuan dengan menunjukkan gambar gaun yang akan Fifin kenakan, tuxedo milik Abi, juga seragam keluarga
"Sudah bagus, kalau istri saya suka maka saya juga menyukai nya" Jawab Abi
"Adek suka banget kok mas, jadi tidak ada masalah untuk desain nya" Ucap Fifin
Para pegawai butik itu tersenyum saat melihat pasutri di depan nya, mereka kemudian memutuskan untuk kembali ke butik karena harus bekerja tentu nya
"Mas" Panggil Fifin
"Dalem?" Ucap Abi menoleh pada istri nya yang sedang menulis untuk daftar tamu undangan dari keluarga pak Yahya
"Itu... anu kamu, di undang atau tidak?" Tanya Fifin tidak jelas
"Anu? anu siapa?" Tanya Abi balik dengan mengerutkan dahi nya
"Itu... mantan kamu" Jawab Fifin menekankan kata mantan walaupun Abi dan perempuan masa lalu nya tidak pernah berpacaran sama sekali
"Astaghfirullahaladzim... bukan mantan dek, mas memang pernah menyukai nya dan itupun rasa kagum sesaat saja" Ucap Abizar sambil geleng geleng kepala, hadeh... Fifin ini ada ada saja yang mau di tanyakan
"Yaudah, adek masukan list undangan kamu ya?" Tanya Fifin
"Enggeh sayang" Jawab Abi dengan nada nya yang menggoda Fifin
__ADS_1
"Hih... genit"
"Hahaha, bilang aja suka.. iya kan?" Ucap Abi mendekat dan memegang leher istri nya yang tertutup hijab
"Enggak, siapa yang bilang suka? Enggak ada" Ucap Fifin menggelengkan kepala nya berkali kali
Abi tersenyum seraya perasaan nya yang ikut bahagia ketika Fifin merasakan kebahagiaan, bahkan bagi nya sang istri yang selalu memandang diri nya dengan hormat itu akan menjadi orang yang sangat berarti dalam hidup nya
Fifin juga membalas tatapan suami nya dengan mata bening itu, berkali kali hati nya mengucap syukur alhamdulillah karena ditakdirkan memiliki pendamping seperti Abi yang paham agama, mengamalkan, dan juga sabar dalam mengajari nya
"Kenapa?" Tanya Abi karena Fifin yang tidak berhenti menatap nya
"Hmm? Tidak apa apa" Jawab Fifin
Dalam posisi duduk, Abi lantas membawa Fifin ke dalam pelukan nya.. istri nya yang sangat ia banggakan itu kini sudah mulai terbiasa dengan kehidupan pernikahan
"Loh... kok badan adek hangat?" Tanya Abi kala merasakan suhu badan Fifin yang tidak sepeti biasa
"Mungkin efek setelah vaksin tadi"
Abi melonggarkan pelukan dan meletakkan tangan nya pada dahi Fifin, sangat terasa bahwa tubuh itu sedang menderita panas.. bahkan istri nya saja seperti menahan rasa dingin
"Iya, badan adek panas ini... ayo istirahat di kamar saja" Ajak Abi yang membopong tubuh istru nya walau Fifin sendiri masih kuat berjalan
"Aku enggak papa, ini hanya demam biasa"
"Tetap saja ini namanya kamu sakit, sebentar ya..." Selepas merebahkan Fifin, Abi segera mengambil kotak P3K untuk mengukur suhu badan Fifin dan mengambil obat yang tepat
"Ohh iya kah? Adek tidak berasa panas mas, cuman memang lemas saja" Ucap Fifin lirih dengan tangan nya mengambil paracetamol dan minum dengan bantuan suami nya
"Adek istirahat dulu saja... mas ke bawah sebentar, kalau butuh apa apa langsung telfon mas saja" Ucap Abi mengecup dahi itu sebentar lalu turun ke bawah, dan ternyata sudah ada umi dan abah yang baru pulang dari belanja
"Kamu ngapain di dapur nak?" Tanya umi yang jarang sekali melihat putra nya mengotak atik kompor seperti saat ini
"Fifin sakit umi, Abi mau buatkan bubur untuk makan siang nya" Jawab Abi sambil menyiapkan bahan bahan yang ia perlukan
"Sakit apa Abi? Kenapa tidak dibawa ke dokter saja?" Tanya umi agak panik
"Demam cukup tinggi, Fifin tidak mau karena katanya ini memang efek setelah vaksin tadi" Jawab Abi
"Nanti kalau semakin lemas, langsung dibawa saja ke dokter nak" Ucap Abah menyahuti, ia ingin melihat Fifin... tapi rasanya sudah tidak kuat jika harus naik ke lantai atas
"Njih bah..."
Umi juga langsung mengganti pakaian nya dan membantu Abi untuk membuat bubur, bukan nya tidak tega melihat Abi memasak... tapi takut kalau bubur buatan Abi rasanya tidak enak dan Fifin akan semakin sakit nanti
Jam 12 siang, Abi membawa nampan berisi bubur dan air minum untuk istrinya, ia juga ditemani umi yang ingin melihat keadaan Fifin
"Dek... makan dulu ayo" Ucap Abi pada Fifin yang memejamkan mata, bisa ia lihat bahwa tubuh Fifin kelihatan semakin lemas.. dari matanya yang sayu saja sudah terlihat
Fifin menurut, ia lalu duduk dan bersandar dengan bantuan suami nya sedangkan umi memilih untuk duduk di sebelah Fifin sambil mengolesi minyak kayu putih di tangan menantu nya
__ADS_1
"Terimakasih umi... maaf kalau Fifin merepotkan"
"Tidak repot nak, umi juga ibu kamu"
Dengan sedikit demi sedikit, Abi menyuapi bubur yang sudah ia buat tadi pada Fifin... meski hanya sedikit saja yang masuk mulut, tapi tidak apa apa... dari pada lambung nya kosong nanti
"Ayo dek, satu sendok lagi ya..." Ucap Abi
Fifin menggeleng, ia menutup mulut nya dengan tangan karena tiba tiba ada rasa mual yang melanda
"Mas.. adek- huek" Belum sempat meminta tolong untuk di antar ke kamar mandi, Fifin sendiri sudah muntah dan mengenai baju hingga sprei tempat tidur nya
Umi yang melihat itu lansung buru buru turun dari ranjang dan mencari kain lap, sedangkan Abi juga langsung meletakkan mangkuk bubur nya tadi dan menggendong Fifin ke kamar mandi
Huek!..
Huek!..
Abi memijat tengkuk istri nya yang sedang mual di wastafel kamar mandi
Beberapa menit Abi setia menunggu sampai Fifin selesai muntah, ia juga mengambilkan baju ganti untuk Fifin dan menunggu istrinya berganti pakaian sambil menghadap ke arah lain
"Sudah belum dek?" Tanya Abi, sebenarnya ia ingin membantu tapi Fifin melarang karena masih malu apabila Abi melihat semua lekuk tubuh nya
"Sudah mas" Jawab Fifin yang tidak kesusahan karena Abi mengambilkan gamis rumahan hingga mudah dipakai walau dia lemas sekalipun
Abi langsung kembali menggendong Fifin dan mendudukkan nya di sofa kamar mereka, ia lalu membersihkan bekas muntahan Fifin dengan kain lap yang sudah di ambilkan oleh umi.. bahkan ia juga mengganti sprei itu agar Fifin tidak tidur dengan alas yang kotor
"Ayo" Ucap Abi kembali meletakkan Fifin di atas kasur
"Fin... ini umi pasang ya" Ucap umi membawakan plester khsuus demam dan menempelkannya di dahi Fifin
"Njih umi... terimakasih" Ucap Fifin tersenyum tipis, saat sakit seperti ini biasanya ada bu Risma yang merawat nya.. tapi ketika disini, ada Abi dan umi Rida yang selalu memperhatikan dan merawat nya juga
Abi kemudian mengelus lembut kepala Fifin, wanita itu benar benar kehilangan tenaga nya setelah muntah dan benar benar lemas sekali
"Ayo Abi, sudah adzan... biarkan nak Fifin tidur sebentar dan nanti bisa kamu bangunkan" Ucap umi kasihan pada menantu nya jika harus dibangunkan sekarang
"Njih umi" Ucap Abi menurut, ia membenahi selimut Fifin dan menurunkan suhu AC di kamar nya.. lalu turun ke bawah untuk sholat berjamaah
"Bagaimana keadaannya nak Fifin Abi?" Tanya abah yang baru keluar kamar dengan setelan baju untuk sholat seperti biasa
"Masih istirahat di atas bah" Jawab Abi, abah mengangguk paham dan berdo'a agar Fifin segera sembuh
"Abi.. apa Fifin hamil nak?" Tanya umi saat mereka baru mau keluar dari pintu samping
"Belum umi, Fifin memang sakit dan itu efek samping setelah vaksin tadi" Jawab Abi, mana mungkin Fifin hamil disaat ia saja belum pernah menyentuh nya sama sekali?
"Vaksin khusus wanita maksudnya?" Tanya umi balik
"Iya mungkin umi" Jawab Abi yang mana ia saja tidak tahu Fifin itu suntik vaksin apa.
__ADS_1