
Jam 4 pagi Fifin baru bangun, ia lelah jadi tidak sholat tahajud dan Abi pun juga tidak membangunkan istrinya.. lagi pula tahajud itu sunnah, daripada membangunkan Fifin nanti yang ada istri nya akan tidur lagi dan terlambat sholat subuh yang mana itu justru kewajiban
Jangan berlebihan dalam beribadah sunnah hingga melupakan yang wajib. Ex : bela belain tahajud abis tahajud tidur trus malah terlewat waktu sholat subuh, paham kan?
"Sudah bangun? Wudhu dulu.. ayo sholat subuh" Ajak Abi yang baru selesai mengaji dan istri nya juga baru bangun
Fifin mengangguk, ia merenggangkan badan dan menuju kamar mandi dengan gontai karena rasa kantuk itu masih ada bahkan banyak, ia merasa kurang tidur
"Allahu akbar...
Setelah sholat subuh dan berdzikir, Abi lantas berusaha mencoba untuk mencium dahi istri nya yang ternyata Fifin tidak lagi menghindar seperti kemarin
"Dek" Panggil Abi
"Ya?" Jawab Fifin singkat, sejujurnya ia masih kesal karena orang yang harus berbagi apapun dengan nya itu masih tidak bisa meletakkan rasa percaya pada ia, selaku istri nya
"Mas minta maaf soal yang kemarin ya?" Ucap Abi lalu cup! Dan ia juga memeluk istri nya yang masih berbalut mukenah
Fifin diam, tapi ia juga tidak menolak ciuman dan pelukan hangat yang suami nya berikan
"Hari ini kita jalan jalan mau ya? Di desa desa" Ajak Abi berusaha membujuk sang istri yang nampak nya masih ngambek itu
Fifin mengangguk, ya walau desa desa disini tidak seperti tempat tinggal mereka tapi biasanya suasana asri pedesaan akan lebih bagus dan sejuk
Abi tersenyum seraya mengelus kepala istri nya
"Ya sudah, adek kalau memang masih capek dan ngerasa kurang tidur boleh tidur lagi saja"
Memang tidur setelah sholat tubuh itu tidak di anjurkan, tapi apabila dhorurot seperti mengalami insomnia, sakit dan keadaan tubuh yang terlalu lelah maka diperbolehkan
"Iya" Jawab Fifin berdiri dan membereskan peralatan sholat mereka, lalu ia pun kembali tidur di kasur yang hangat nan empuk itu
Abi kembali melebarkan senyum saat melihat istri nya tidur pulas, ia lantas turun ke bawah karena berniat untuk ngaji lagi bersama anak anak di villa sebelah
"Abi, nak Fifin masih tidur?" Tanya umi yang baru saja keluar dari kamar Aina setelah membantu untuk memasang baju pada cucu nya
"Njih umi, kemarin Fifin hanya tidur dua jam jadi pasti masih mengantuk" Jawab Abi
"Oh... iya yaudah tidak apa apa, nanti waktu sarapan saja kamu bangunin biar perut nya tidak kosong" Ucap umi
"Njih umi..."
Jam 7 pagi semua orang sudah berkumpul di ruang keluarga villa 1 kecuali Aina yang masih fase penyembuhan di kamar nya, seperti kemarin... bahwa mereka akan sarapan bersama
"Fahri, ini sekalian kamu berikan ke Aina ya" Ucap umi memberikan nampan pada Fahri yang berisi makanan, sebelumnya makanan itu juga sudah di cek oleh Fifin soal aman atau tidaknya bagi ibu setelah melahirkan
"Njih umi... terimakasih, Fahri juga makan bersama Aina saja umi" Ucap Fahri yang turut membawa makanan nya di nampan itu
"Iya..."
"Dek, sekarang menu makanan nya ada yang tidak bisa kamu makan?" Tanya Abi saat mereka sudah berkumpul dengan makanan untuk sarapan
"Mboten" Jawab Fifin sambil menggeleng lalu mengambilkan Abi makan dan barulah mengambil untuk dirinya sendiri
"Terimakasih"
Para pengurus dan santri kali ini juga sangat menikmati makanan mereka, walau agak penasaran dengan wajah dari putri ng Aina dan juga nama nya siapa karena memang masih belum di umum kan.
__ADS_1
Jam 8 pagi Abizar sudah menunggu di teras villa sambil memanaskan motor matic yang dipinjamkan oleh pemilik villa, karena kalau jalan jalan pakai mobil kan sudah biasa
"Pakai motor mau kan?" Tanya Abi pada istri nya yang baru saja keluar villa
"Mau" Jawab Fifin tidak masalah, dan... baru kali ini ia berboncengan sepeda motor dengan Abi karena biasanya pun selalu menggunakan mobil saja
"Pegangan yang kencang, bissmillahirrahmanirrahim..." Ucap Abi menstater dan menjalankan motor itu untuk keliling keliling dengan pelan
Fifin juga mengeratkan pegangan nya pada pundak Abi, karena ada jalan agak menanjak yang mana ia takut jatuh jika tidak berpegangan dengan erat
Mereka melewati kapan beraspal dimana kanan dan kiri semuanya adalah perkebunan teh, disitu Fifin juga sempat minta berhenti sebentar untuk berjalan kaki di area kebun teh itu
"Awas nanti ada ulat nya dek" Ucap Abi yang mengikuti istri nya dari belakang
Fifin menikmati pemandangan indah dan sejuk yang ia rasakan, dia juga beberapa kali menyapa ibu ibu yang sedang memetik daun teh
"Ini cara metik nya gimana ya bu?" Tanya Fifin iseng iseng bertanya
"Oh.. gini mbak caranya..." Ucap ibu ibu itu menjelaskan sedangkan Fifin mengangguk angguk paham, setelah nya ia membantu ibu ibu tersebut untuk memetik daun teh sebentar dan langsung pamit lagi untuk keliling
Di perjalanan Abi pun senyum senyum sendiri, ia ingat bahwa tadi sempat memotret Fifin dari belakang tanpa sepengetahuan istri nya
"Mau ke danau sekitar sini? Nanti ada warung sederhana juga" Ucap Abi menawarkan
Fifin kembali mengangguk tepat di pundak suami nya, benar memang ia masih malas menjawab tapi tidak di pungkiri bahwa tangan nya sedari tadi tetap memeluk Abi dengan erat
Mereka akhirnya tiba di tempat itu, seperti cafe tapi di pegunungan dan sedang sepi karena sekarang masih pagi
"Oke" Jawab Fifin menyetujui
Abi meminta tolong pada pemilik warung agar memotret mereka berdua dari belakang... ada juga yang nampak wajah mereka, namun Abi berniat memposting dia dan istri nya yang hanya nampak belakang saja
"Terimakasih ya mas" Ucap Abi memberikan uang pecahan 50 ribu sebagai ucapan terimakasih nya
"Iya mas, sama sama"
Abi kemudian menggandeng Fifin untuk duduk di tempat yang kosong, mereka cukup memesan minuman hangat juga roti sebagai pelengkap karena tadi sudah sarapan
"Dek, masih marah sama mas?" Tanya Abi
"Nggeh, sedikit" Jawab Fifin lalu menyeruput minuman hangat nya, tapi...
Byur! Entah dorongan dari mana tapi Fifin sangat kaget ketika minuman itu tumpah mengenai baju nya
"Astaghfirullahaladzim..." Ucap Fifin memejamkan mata dan mengusap wajah nya yang terkena sedikit minuman tadi
"Adek, sayang? Kamu gak papa? Ada yang sakit?" Tanya Abi panik sambil membersihkan baju serta wajah istri nya yang terkena kopi hangat
"I-iya gak papa" Jawab Fifin, untung nya udara disini dingin jadi meski minuman hangat tadi mengenai tubuh nya namun tidak terasa panas sama sekali
"Wah... sejoli lagi disini ternyata"
Setelah membersihkan baju Fifin, Abi lantas menoleh ke samping dan seketika menatap sengit pada wanita di depan nya itu
__ADS_1
"Sopan ya begitu sama istri saya?" Tanya Abi yang berusaha meredam emosi nya saat ini
Fifin ikut menoleh kesamping, tadi badan nya memang tidak terasa panas.. tapi seketika panas nya melebihi air mendidih karena melihat bahwa di depan mereka ada seorang perempuan yang tak lain dan tak bukan adalah Nisa Naina yang beberapa waktu lalu mengirim pesan tidak penting padanya
"Kok bisa sundel bolong ini kesini pagi pagi? Masa iya mas Abi ngasih tau kalau kita liburan disini?" Batin Fifin heran karena sudah ada hantu pelakor pagi pagi di wilayah pegunungan ini
"Kamu juga sopan menikah tanpa pemberitahuan pada saya?" Tanya Nisa balik dengan wajah yang sudah emosi
"Memang kamu siapa? Sampai saya harus repot repot ngasih tahu kamu" Ucap Abi balik
"Saya masa lalu kamu, orang yang sempat menyukai mu" Ucap Nisa
Abi menggelengkan kepala "Mohon maaf, itu sudah lama sekali dan yang meninggalkan saya empat tahun lalu itu siapa? Anda duluan kan? Maka dari itu sekarang jangan menganggu rumah tangga saya lagi"
Abi langsung menarik tangan Fifin agar segera berdiri dan keluar dari tempat itu
"Saya, saya minta maaf karena baru yang sadar jika perasaan saya memang sudah mencintai mu" Ucap Nisa sambil menangis dan menunduk ke bawah
Abi yang melangkahkan kaki nya itu seketika berhenti dan menoleh ke belakang "Itu dulu... lihat keadaan sekarang, ingat bahwa dulu yang menolak saya adalah kamu"
Habis menangis malah Aina tersenyum sinis "Toh kalian menikah hanya karena perjodohan kan? Tidak mungkin karena jatuh cinta satu sama lain" Ucapnya meremehkan
Fifin lalu makin kesal dengan situasi ini, ia ikut tersenyum sinis sambil mengucap "Siapa yang kamu bilang tidak saling mencintai?"
"Ya kalian lah siapa lagi?" Tanya Nisa dengan nada songong nya, sungguh... gamis dengan hijab panjang itu sangat tidak sesuai dengan kelakuan nya
"Yakin?" Tanya Fifin menantang perempuan di hadapan nya itu
"Yakin" Jawab Nisa percaya diri
"Cih..." Fifin mendecih lalu menatap suami nya, ia menatap wajah tampan itu lalu memegang nya di kedua sisi
"Mungkin ini memamg ampuh, jadi tidak dosa kan?" Ucap Fifin lirih, lalu perlahan kaki nya menjinjit dan mencium bibir sang suami di hadapan Nisa tadi
Abi sangat terkejut tapi sebisa mungkin ia tahan dan malah memegang erat pinggang Fifin agar tidak lelah menjinjit dan memeluk tubuh itu
Nisa melebarkan mata nya, ia sangat sangat terkejut melihat pria yang dicintai nya kini berciuman dengan wanita lain... bahkan terlihat jelas kalau Fifin berani ******* bibir suami nya
Setelah kehabisan nafas, Fifin menghentikan ciuman itu dengan dada yang naik turun. Untung saja warung disini sepi karena masih pagi sehingga tidak ada yang menyaksikan ciuman mereka kecuali Nisa, penjual warung pun tadi pergi sebentar untuk mengambil bahan masam dan menitipkan warung nya pada Abi
"Puas? Atau perlu yang lebih jauh lagi?" Tanya Fifin berpura pura ingin menggigit leher suami nya, tapi hal itu ia urungkan ketika Nisa menggeleng keras
"No, jangan sentuh dia karena aku menyukai nya" Ucap Nisa dengan suara nya yang naik satu oktaf
"Sudah ku bilang jaga sopan santun kamu di hadapan istri saya" Ucap Abi yang nada nya ikut naik bahkan dua oktaf, jujur Fifin kaget karena baru kali ini melihat suami nya semarah itu sampai badan nya terasa kaku
"Tapi saya menyukai mu dan mencintai mu" Ucap Nisa bersandiwara seolah ingin menangis lagi
"kamu perempuan dan harus punya harga diri, saya sudah menikah dan memiliki keluarga sendiri.. jangan pernah kamu menghancurkan kebahagiaan wanita lain" Ucap Abi, sebenarnya ia agak heran dengan Nisa yang belajar ilmu agama sekian lama tapi menjadi gila seketika hanya karena perasaan
"Tapi sayyidina khadijah juga mengungkapkan cinta nya dulu pada nabi Muhammad" Bantah Nisa
"Sedangkan saya bukan nabi Muhammad yang bisa menerima cinta seseorang dengan baik, lihat situasi nya.. ketika itu nabi belum menikah, sedangkan sekarang? Kamu mengungkapkan perasaan kamu pada lelaki yang sudah menikah dan itu menyakiti perasaan wanita lain, sayyidina Khadijah tidak seperti itu Nisa.. kamu harus tau perbedaan nya" Ucap Abi
Dada nya makin naik turun karena emosi nya sedang naik sampai ke ubun ubun, Sedangkan Fifin memilih diam sebentar dan membiarkan mereka menyelesaikan kisah masa lalu
"Abi, saya memang salah telah meninggalkan kamu duluan-
__ADS_1
"Stop! Masa lalu kita hanya pertemanan tanpa ada hubungan spesial apapun, silahkan kamu pergi dari sini dan jangan menganggu kami lagi" Ucap Abi mempersilahkan Nisa untuk segera pergi.
°