
Seminggu kemudian Fifin dan Silvi sudah di perbolehkan pulang dari rumah sakit, hanya bayi nya saja yang belum bisa keluar dari NICU karena harus menunggu organ organ dari bayi itu siap untuk digunakan tanpa menggunakan alat bantu lagi
“Sudah?” Tanya Abizar
Fifin sedang memandangi putra nya sambil pumping asi, sudah cukup lama ia disini, jujur rasanya sangat berat hati ketika ia harus meninggalkan bayi mungil itu di rumah sakit
“Tidak apa apa, nanti kalau kondisinya sudah stabil pasti kita bisa membawa nya pulang” Ucap Abizar
Fifin mengangguk, alhamdulillah nya ada Lia yang bisa ia minta i tolong untuk selalu mengecek kondisi putra nya di ruang NICU
“Ada aku, aku yang jagain” Ucap Lia tersenyum sambil menyimpan hasil pumping asi barusan
“Makasih banyak ya Li” Ucap Fifin bersyukur memiliki Lia sebagai sahabat yang super duper pengertian dan sekufu/sepaham dengan nya
“Alah udahlah kayak sama siapa aja” Ucap Lia
Fifin juga tersenyum, ia lalu memandangi sang putra yang ada di inkubator dan mengucapkan sesuatu “Ibu pulang dulu ya? Secepatnya pasti ibu akan kesini lagi dan menjemput kamu untuk tinggal di rumah”
Selesai dengan asi dan berbincang sebentar tadi, Abizar langsung mendorong kursi roda istri nya untuk menuju parkiran, dimana para kelurga sudah pulang duluan tadi untuk menyambut Fifin di rumah
Karena Fifin masih memakai kursi roda, pun Silvi juga begitu maka Abi menyuruh mas Eko untuk menjemput dengan menggunakan mobil keluarga saja yang mana lebih besar
“Hati hati mas” Ucap Fifin saat Abi menggendong tubuh nya dan meletakkan di kursi penumpang
“Maaf ya Sil” Ucap Abizar tatkala ia harus membantu Silvi agar bisa duduk di dalam mobil dan mau tidak mau harus menyentuh Silvi, memang diperbolehkan sih tapi Abi tidak pernah seperti ini, tapi mau bagaimana lagi? Tidak mungkin ia menyuruh mas Eko kan?
“Maaf nggih ning” Ucap Silvi tidak enak pada Fifin meski Abi adalah sepupu nya
“Tidak apa apa” Ucap Fifin tidak masalah karena toh tidak ada yang bisa membantu selain Abi, ibarat tanggung jawab orang tua Silvi sudah sepenuhnya beralih ke tangan Abi
Setelah memasukkan kursi roda di bagasi belakang, Abi langsung duduk manis di sebelah mas Eko dan bersiap untuk pulang
“Bissmillah…..”
Dalam perjalanan pulang pun Abi sering melirik istri nya dari kaca, untuk berjaga jaga apabila melihat Fifin yang merasa tidak nyaman ataupun membutuhkan sesuatu
Namun, tiba tiba saja handphone nya berdering dan ternyata ada panggilan telfon dari Bima
“Wa’alaikumsalam, ya Bim, kenapa?” Tanya Abi
“Ini bro, surat penangkapan nya udah jadi, tadi juga sudah ada pihak yang menjemput tapi cewek nya gak ada di rumah, tau gak tempat dia pulang atau rumah orang tua nya, apartemen dan lain lain gitu?” Tanya Bima dari telfon
Abi yang mendengar pun hanya tersenyum sinis, ia tahu kalau Nisa itu pasti sedang berlindung di ketiak ibu nya sekarang “Cari aja di rumah orang tuanya, jalan halmahera gang dua nomer delapan belas, Insya Allah ada disitu”
__ADS_1
“Oh… oke, hafal bener ya alamat orang tuanya” Ucap Bima tergelak disana
Bombastic side eye, Fifin yang mendengar ucapan Bima tadi langsung melirik sinis ke suami nya, ternyata pria itu hafal sekali dengan alamat yang disebutkan tadi
“Gini nih, temen gak ada akhlak” Ucap Abi heran
“Bercanda, udah ya.. sibuk ni, by the way semoga segera sehat kembali dan bisa beraktivitas seperti biasanya” Ucap Bima
“Iya… terimakasih”
Setelah selesai membahas jalan meja hijau barusan, Abi melirik ke belakang dan masih bisa ia lihat bahwa wajah Fifin menatap nya dengan rasa tidak suka
“Hafal nih sama alamat nya” Sindir Fifin
Abizar hanya tersenyum saja, tidak berani menjelaskan apalagi masih ada mas Eko dan Silvi bersama mereka sekarang
“Ning, berarti nanti kalau jatah asi nya habis harus ke rumah sakit ya?” Tanya Silvi
“Saya tidak tega meningalkan dia lama lama, kalaupun bisa sebelum asi nya habis juga saya harus ke rumah sakit lagi sampai kondisi putra saya stabil” Ucap Fifin
“Oh… gitu” Ucap Silvi mengangguk angguk, memang benar sih apalagi kalau asi nya sudah banyak dan tidak segera di keluarkan malah sakit nanti
“Mas, mampir ke makam ya? Temani adek” Ucap Fifin
Fifin mengangguk, ia memang belum terlalu kuat untuk berjalan tapi kalau hanya berdiri ia sudah bisa walau tidak terlalu lama
“Ya sudah, ke makam sebentar ya mas” Ucap Abizar
“Njih gus” Eko pun patuh patuh saja, saat menuju makam juga ia sempat disuruh berhenti untuk membeli bunga tabur dan air mawar
Dan terlihat lah sudah gapura tempat pemakaman umum, yang mana saat melihat nya saja Fifin berusaha untuk menguatkan diri agar bisa berkunjung ke rumah putri nya
“Silvi nunggu di mobil mawon” Ucap Silvi, bukannya tidak mau, tapi ia memilih untuk memberi ruang pada pasangan itu saat mengunjungi putri mereka, sedangkan mas Eko juga menunggu di warung dekat makam sampai Abizar kembali
Hati Fifin rasanya menjadi pilu kembali saat kursi roda nya sudah mendekati makam yang masih baru itu, dengan nisan bertuliskan nama putri mereka
“Bantu adek duduk di bawah” Ucap Fifin
Abizar menurut karena permukaan tanah nya juga rata dan di bagasi ada kursi kecil yang selalu dibawa, jadi harusnya tidak masalah kalau Fifin duduk di kursi kecil sebentar
“Assalamualaikum nak… Gimana? Sudah tenang di tempat yang indah kan? Maaf ya… ibu baru bisa kesini, baru bisa menemui kamu” Ucap Fifin sambil mengelus nisan tersebut
Abizar membiarkan saja karena saat pemakaman pun ia juga sangat terpukul, jadi wajar saat istri nya bersikap demikian
__ADS_1
Fifin ikut menaburi bunga yang sempat mereka beli, tapi ia bersyukur, karena apa? Makam putri nya tidak pernah kering atau sampai sekarang masih banyak taburan bunga yang menggunung, itu berarti banyak yang datang untuk mendo’akan putri mereka
“Kita berdo’a dulu ya?” Ajak Abi yang di angguki kepala oleh istri nya, ia kemudian memimpin do’a do’a baik yang ia lantunkan khusus untuk putri nya
“Nak… ibu memang belum bisa menjadi ibu yang baik buat kamu, ibu minta maaf ya? Tapi ibu pun berdo’a supaya kita di satukan lagi di surga nya Allah nanti, ajak ibu kesana ya nak… ibu ingin sekali bisa bertemu dengan kamu suatu saat nanti” Ucap Fifin
“Abah akan selalu mengunjungi kamu nak, abah akan berdo’a dan abah percaya bahwa kamu sudah di tempat yang indah dan dijaga oleh Allah, tunggu kita ya nak… nanti tolong ajak kami berdua supaya bisa bertemu kembali dengan mu” Ucap Abi karena dia sendiri pun tidak bisa menjamin apakah akan masuk surga nanti nya
Terakhir, Fifin memeluk papan Nisan bertuliskan Fatimah Ghazala Humaira itu dengan sangat erat sampai sampai mencium nya, ia tidak bisa mencium secara langsung dan hanya bisa mencium nisan nya saja
“Ibu pamit ya nak? Insya Allah ibu akan sering berkunjung kesini” Ucap Fifin
“Wassalamu’alaikum….” Ucap mereka berdua hingga Abi dan Fifin benar benar meninggalkan area pemakaman karena tidak bisa lama lama disini
“Sampun gus?” Tanya mas Eko yang sedang ngopi di warung itu langsung gercep kembali
“Sudah mas” Jawab Abi
Pemakaman memang dekat dari pondok, jadi mereka kembali ke dalam mobil dan tidak lama juga sudah sampai di pondok pesantren darussalam
Dan begitu kursi roda Fifin sudah di dorong memasuki halaman pondok “Selamat hari milad ning Fifin!” Ucap anak anak yang ramai dan sama sama berseru demikian
Fifin kaget pollll, ia sendiri sampai lupa bahwa hari ini adalah hari ulang tahun nya dan sudah ada confeti yang berjatuhan dari atas
Pun sudah ada musik ulang tahun yang berputar dari tadi seiring dengan keramaian dan keceriaan semua anak anak
“Ya Allah…” Ucap Fifin benar benar terharu, beneran loh… ia saja lupa kalau hari ini tepat hari kelahiran nya
“Selamat ulang tahun ya sayang… terima kasih sudah bertahan melawan rasa sakit nya, dan terimakasih sudah menjadi ibu yang baik” Ucap Abizar sambil mengelus kepala istri nya
Dilanjut dengan anggota keluarga yang ada di carpot rumah dan semuanya memeluk Fifin satu per satu kecuali yang memang bukan mahrom nya
Pun abah juga melantunkan do’a yang baik agar menantu nya ini diberi umur barokah, keberkahan hidup, rezeki dan rasa ikhlas serta tabah yang besar untuk kelangsungan hidup di dunia ini
Abizar juga memeluk istri nya walau tidak terlalu erat karena takut jahitan bekas caesar itu akan terluka, ia bersyukur… walau merasakan kehilangan tapi benar bahwa kenikmatan yang mereka rasakan itu masih berlimpah ruah dan malah makin banyak
Fifin juga demikian, walau dalam hati nya masih terlalu sulit untuk ikhlas namun ia merasakan kebahagiaan yang begitu banyak, ia harus bisa belajar mengikhkaskan suatu kehilangan yang bahkan Allah ganti dengan beribu kebaikan
“Terimakasih ya mas… suami terbaik nya aku” Ucap Fifin membalas pelukan sang suami dengan senyum dan tangis haru sekarang
“Sama sama” Jawab Abi sambil tersenyum dan enggan melepaskan pelukan itu walau ada banyak santri putra maupun putri yang menatap mereka berdua tanpa berkedip.
•
__ADS_1