
Karena Abi adalah orang yang penyabar, jadi ia tidak menegur kasar pada Nisa.. meskipun hati nya ikut dongkol ketika Fifin diganggu dengan pesan tidak sopan seperti itu
"Pak Abi... gimana sama hafalan nya anak anak?" Tanya seorang guru laki laki yang merupakan wali kelas
"Iya pak, ada sebagian yang belum.. tapi setelah semua selesai hafalan, daftar nilai nya akan segera saya kirim" Ucap Abi
"Oke pak"
~
Jam 11 siang juga Abi sudah kembali ke rumah dan seperti biasa, ia melihat Fifin yang tidur pulas dengan tangan yang masih memegang handphone
Karena penasaran dan ingin tahu pesan apa saja yang Nisa kirim pada istri nya, perlahan... Abi mendekat dan mengambil handphone itu secara diam diam agar Fifin tidak terbangun
Tapi daftar chat di instagram itu sudah tidak ada karena Fifin memblokir dan menghapus bekas chat dari Nisa tadi
Tapi... Abi tahu bahwa istri nya itu cerdik, Fifin tidak mungkin menghapus chat tanpa menyimpan cadangan nya untuk dijadikan sebagai bukti karena itu chat penting
Dan benar saja, saat membuka galeri ada gambar chat atau screenshot rentetan chat dari Nisa, Abi membaca semua pesan itu dengan seksama
Hati Abi ikut sakit setelah tahu betapa kasar dan jahat nya pesan yang Nisa kirim pada istrinya, kenapa dulu ia bisa mengagumi orang seperti Nisa? Yang nyatanya seperti monster dan menjadi duri dalam rumah tangga mereka
"Mas bangga sekali punya istri seperti kamu" Ucap Abi sambil memandang istri nya
"Kamu wanita yang kuat dan pemberani" Ucap Abi lagi kala melihat balasan menohok tanpa basa basi yang istrinya berikan untuk Nisa
Kenyataan nya begitu, Fifin memang minus ilmu agama tapi tidak minus akhlak.. tapi Nisa? Benar bahwa gadis itu punya segudang ilmu agama yang dulu membuat Abi kagum, tapi ternyata akhlak wanita itu yang minus, bahkan lebih parah dari yang Abi kira
Ingat! Bahwa akhlak memang penting karena akan dibawa sampai mati, sedangkan pengetahuan juga penting tapi jika tidak di terapkan pun menjadi sia sia
Setelah menikah dengan Fifin, Abi sepenuhnya sadar bahwa akhlak adalah yang paling utama.. mungkin ini juga alasan orang tuanya menjodohkan dirinya dengan Fifin
"Emh..." Fifin meregangkan badan nya, tanda bahwa ia terbangun dari tidur nya, Abi pun juga dengan segera mengembalikan handphone itu di samping istri nya
"Assalamualaikum... sudah bangun?" Tanya Abi
"Waalaikumsalam, iya sudah" Jawab Fifin namun matanya masih terpejam, setelah membantu umi dan mandi tadi ia memang langsung tidur karena akan berangkat kerja
Abi tersenyum, ia suka melihat muka bantal Fifin yang terlihat polos dengan rambut yang berantakan kemana mana, bukan terlihat jelek.. malah terlihat cantik bagi Abi
"Kenapa?" Tanya Fifin karena sang suami menatap nya terus terusan
__ADS_1
Abizar menggeleng, sambil tersenyum ia langsung memeluk istri nya yang masih rebahan dan mengecup semua sisi wajah yang cantik itu
Cup cup cup!
"Geli" Ucap Fifin berusaha menahan
"Ya Allah dek, mas beruntung sekali punya istri yang menurut seperti kamu" Ucap Abi karena Fifin ini sangat mudah mengerti dan tidak memberontak jika diberi nasihat
"Yakin mas nggak nyesel?" Tanya Fifin menaik turunkan alisnya
"Insya Allah enggak sayang" Jawab Abi serius
Fifin memukul pelan lengan Abi "Kenapa sering sayang sayang mulu sih? Panggilan doang tapi mas gak pernah confess sama adek"
"Ya nanti ada waktunya sendiri'" Ucap Abi memberikan alasan nya, ia lantas bangun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi karena ia baru sampai dan belum membersihkan diri
Fifin juga langsung menyiapkan baju kerja dan rok untuk menutupi celana nya, karena celana itu membentuk lekuk tubuh, jadi Fifin tidak mungkin keluar melewati halaman pondok putra dengan memakai celana seperti ini
Setelah sholat dzuhur, makan siang lalu berpamitan pada abah dan umi, Fifin langsung berangkat kerja dengan suami nya yang mengantar hari ini
"Dek, besok jadwal kerja kamu jam berapa?" Tanya Abi saat mereka masih di perjalanan
"Pagi mas, memangnya kenapa?" Tanya Fifin balik
"Berapa lama mas liburan nya?" Tanya Fifin karena ia tidak bisa mengambil izin lama lama
"Sebenarnya rencana liburan keluarga itu satu minggu, tapi mas tahu kalau adek tidak bisa izin lama lama kan?"
Fifi mengangguk membenarkan
"Maka dari itu liburan keluarga memamg satu munggu, tapi kita berdua hanya dua hari saja dan pulang lebih awal" Ucap Abi
"Adek jadi tidak enak mas, karena harusnya mas menikmati waktu sama keluarga" Ucap Fifin
"Tidak apa apa, karena murid mas yang di MA juga mau kerumah untuk hafalan.. jadi mas pulang juga karena ada tugas sebagai guru" Ucap Abi
Fifin mengangguk angguk sambil membentuk O di bibirnya, jadi kalau ia hanya liburan 2 hari, berarti selama 5 hari nanti nya ia dan Abi akan berdua saja di rumah? Wah... momen yang langkah sih ini, apalagi anak anak banyak yang pulang dan pasti sepi
Enak nya ngapain ya? ngapain hayo???
"Mikir apa kamu dek?" Tanya Abi melihat istrinya terdiam
__ADS_1
"Eh... nggak mikir apa apa" Ucap Fifin nyengir
Tidak terasa bahwa tahu tahu mereka sudah sampai aja di rumah sakit, Fifin mencium tangan Abi... tapi untuk kali ini ia memberanikan diri dan cup! Mengecup cepat pipi suami nya secepat kilat dan mengucap salam lalu keluar dari mobil
"Ha?..." Abi terbengong karena baru kali ini istri nya yang mencium dia duluan, tapi senyum manis itu seketika terbit juga ketika sadar bahwa sang istri mulai menerima dirinya baik secara lahir maupun batin
~
Fifin yang baru sampai di ruangan itu lagi lagi disuguhkan dengan pemandangan yang sama, ya apalagi kalau bukan Lia? Juga beberapa pasien ibu hamil yang akan rawat inap di poli KIA ini
"Set dah... baru juga kemarin ketemu, sekarang disatukan lagi" Ucap Lia geleng geleng kepala
"Ya emang dokter Wina sengaja kasih kita shift yang sama Li" Ucap Fifin meletakkan tas salempang nya di dalam loker, lalu mulai mengecek keadaan ibu hamil yang rawat inap bersama Lia.. apakah ada yang sudah pembukaan lengkap atau belum
"Ngeri ya melahirkan tuh" Ucap Lia saat berjalan di koridor rumah sakir
"Ya mau gimana lagi atuh? Kodrat nya cewek kan memang melahirkan" Ucap Fifin agak heran dengan sahabat nya ini, sudah tidak terhitung dalam menyaksikan dan menolong orang melahirkan pun masih saja ngeri
"Ya kenapa gak cowok aja ya kan?" Ucap Lia makin nyeleneh saja pertanyaan nya
"Cowok cari rezeki Lia, kita kan tulang rusuk... mana bisa ditakdirkan buat cari nafkah keluarga? Yang ada mah kita yang dinafkahin"
"Ya.. iya juga sih" Ucap Lia mengangguk angguk
"Lagian tanggung jawab cowok itu lebih besar, dia harus bisa membimbing seluruh anggota keluarnya untuk taat dan masuk surga nya Allah, emang kamu mau dikasih amanah sebesar itu?" Tanya Fifin
"Enggak" Jawab Lia
"Nah... yaudah"
"Fiks emang gak salah sih aku pilih mas Wawan sebagai calon imamku" Ucap Lia terpejam dan mengangguk seolah mantap dengan keputusan nya yang menyukai Wawan
"Hadeh..." Ucap Fifin menghela nafas kala melihat Lia yang seperti tergila gila dengan mas Wawan, masalahnya... mas Wawan ini mau tidak sama Lia? Dan Lia ini tepe nya mas Wawan atau bukan?
"Kenapa emangnya?" Tanya Lia saat tahu Fifin menghela nafas berat
"Ya anu... itu loh ada pengurus cewek yang ternyata suka juga sama kang Wawan" Jawab Fifin jujur saja agar Lia tidak terlalu sakit hati ketika mereka tidak berjodoh nanti
"Serius? Cantik anak nya? Pinter agama juga?" Tanya Lia kaget
Fifin mengangguk, memang benar bahwa mbak Ila itu salah satu pengurus cewek yang terkenal cantik juga pandai dan tidak sombong atas apa yang ia punya
__ADS_1
"Duh... terancam sudah posisiku sebagai calon istrinya mas Wawan" Ucap Lia lemas seketika
"Sabar ya... jodoh tidak akan kemana kok, kayak aku dan gus Abi contoh nya" Ucap Fifin sambil mengelus elus bahu sahabat nya.