
Fifin tersenyum bahagia saat melihat betapa bahagia nya sang suami yang bermain bersama anak anak juga gus Fahri hari ini
Sebenarnya ia agak merasa bersalah juga karena selama disini Abi lebih banyak menemanj nya daripada santai bersama yang lain, ia juga sepertinya perlu minta maaf soal dia yang ngambek hanya karena Nisa datang secara tiba tiba dalam kehidupan mereka
"Ning, bisa main ini?" Tanya Silvi
"Bisa" Jawab Fifin lalu duduk di bawah dan bergabung dengan para pengurus putri
"Dulu saya juga main nya ini" Ucap Fifin pada bola bekel beserta gandengan nya yang sudah ia genggam
"Oh... njih, sekarang ning Fifin saja yang mulai duluan" Ucap Silvi
"Oke"
Beberapa menit setelah Fifin berhasil memantulkan bola kecil tersebut tanpa henti, ia akhirnya kalah saat handphone di saku gamis nya berdering
"Yah... ning Fifin sampai level sini"
"Iya, maaf ya ada telvon soalnya" Ucap Fifin permisi sebentar untuk masuk ke dalam, dan setelah dilihat ternyata panggilan video call dari Lia
"Assalamualaikum... ya Ampun udah dua hari ya aku nggak lihat batang hidung mu di rumah sakit" Ucap Lia saat panggilan video call tersambung
"Wa'alaikumsalam... belum dua hari Li, iya besok aku pulang" Ucap Fifin karena kebetulan besok dia mendapat shift malam di rumah sakit
"Kalau gitu jangan lupa oleh oleh nya, kamu kan baik sama semua orang" Ucap Lia
"Lah dari dulu aku mah baik" Ucap Fifin yang mana ia memang suka bercanda dengan sahabat nya
"Iya deh iya, tapi beneran loh jangan lupa sama oleh oleh nya. Besok harus masuk kerja, kalau ngantuk ya tidur aja disini" Ucap Lia agak seenak jidat ya udah kayak pemilik rumah sakit nya aja
"Buset... iya iya besok aku beliin yang banyak, tenang aja" Ucap Fifin karena besok selagi perjalanan pulang ia memang sudah berencana untuk membeli banyak oleh oleh
"Haha... aku tau emang kalau kamu tuh baik banget" Ucap Lia
"Iya lah siapa dulu?" Ucap Fifin menaik turunkan alisnya, tapi rasa bahagia saat bercanda dengan Lia tadi seketika memudar saat melihat dari jendela bahwa ada mobil yang berhenti di halaman villa
"Eh Fin, gimana kabar nya soal yang aku sampaikan ke kamu?" Tanya Lia
"Bentar ya bentar" Ucap Fifin memfokuskan mata nya kapada siapa yang baru saja turun dari mobil
"Kenapa? Ada apa?" Tanya Lia bingung
"Udah dulu ya, nanti telfon lagi karena aku ada urusan" Ucap Fifin
"Urusan apa?" Lia masih sempat sempat nya bertanya ketika Fifin terlihat panik
"Membasmi ular bulu jumbo, udah assalamualaikum" Ucap Fifin yang kemudian langsung menyudahi video call nya
Tap tap tap!
Langkah Fifin langsung buru buru menuju ke depan, ya apalagi kalau bukan karena Nisa? Yang entah kenapa bisa datang kesini
"Assalamualaikum.." Ucap Nisa dengan manis seolah ia tidak pernah mengganggu Abi
"Waalaikumsalam" Jawab abah umi biasa saja meskipun ia tidak menunjukkan rasa tidak suka, tapi Fifin tahu bahwa umi sangat tidak menyukai Nisa karena tindakan nya yang tidak sopan
Abi yang melihat wanita ular itu disini pun juga langsung menghampiri sang istri dan memeluk nya dengan erat, ia tidak mau jika ada ular berbisa yang menyakiti istri nya
"Ada apa datang kemari?" Tanya Abi langsung saja tanpa basa basi
"Kenapa tidak di suruh masuk dulu sih? Kasihan kan kalau ngobrol diluar" Ucap Aina heran pada keluarga nya dan langsung menggandeng lengan Nisa
"Bagaimana kabar nya?" Tanya Aina
__ADS_1
"Alhamdulillah... baik baik saja kok ning" Jawab Nisa dengan penuh senyuman nya
Fifin, Abi juga abah dan umi terheran heran saat melihat ke akraban mereka berdua. Tapi Fifin sendiri juga baru ingat kalau Nisa ini teman nya Aina dari dulu
"Sayang, jalan nya sama mas saja" Ucap gus Fahri menggenggam erat pundak istri nya dan masuk ke dalam bersama Nisa tadi
"Kamu tidak apa apa nak?" Tanya abah pada menantu nya
"Mboten nopo nopo abah" Jawab Fifin (mboten nopo nopo \= tidak apa apa)
"Nanti biar umi yang bilang sama Aina" Ucap umi karena ia tidak ingin Nisa memanfaatkan kedekatan nya dengan Aina untuk menghancurkan rumah tangga putra mereka
"Ya sudah.. kita masuk dulu ke dalam ya" Ajak abah karena sebagai tuan rumah ia harus menemui tamu tersebut
"Njih bah..." Jawab Abi
"Ning Fifin, semangat!" Ucap Silvi menunjukkan kepalan nya pada Fifin karena ia adalah salah satu orang yang tidak suka dengan Nisa, bukan tanpa alasan melainkan secara tidak sengaja ia tahu sifat Nisa yang sebenarnya, dan jelas ia akan selalu membela Fifin dalam hal ini
"Terimakasih" Jawab Fifin tersenyum
Fifin dan Abi yang baru masuk itu bukan menyapa Nisa, tapi langsung ke dalam untuk menuju dapur karena lebih baik mereka yang membuat minum daripada harus menemani Nisa mengobrol
"Boleh gak sih adek jahilin dia mas?" Tanya Fifin saat menunggu air mendidih
"Jahilin gimana?" Tanya Abi
"Ya, kasih ini di minuman nya" Ucap Fifin menunjuk bahan masakan bertuliskan chili powder atau cabe bubuk
"Bahaya dek, kasih garam aja" Ucap Abi melarang
Fifin langsung manyun lima centi meter "Iya deh iya... si paling khawatir sama Nisa"
Abi menghela nafas karena posisi nya serba salah sekarang "Mboten sayang, yaudah deh terserah adek saja.. nanti kalau dia sakit langsung tanggung jawab loh ya"
"Oh... tenang aja, nanti adek potong gaji dan kasih ruangan VVIP khusus untuk dia" Jawab Fifin, lagian ia juga tidak akan memberi bubuk cabe sebanyak itu juga sampai harus di rawat di rumah sakit
Tapi saat ingin memberi sedikit cabe bubuk pun hati nya terasa tidak tega, ia kemudian mengambil botol garam dan memberi teh itu setengah sendok teh garam
"Ya... kalau pakai bubuk cabe sih lima sendok itu baru menggambarkan omongan kamu tadi pagi yang pedes banget" Batin Fifin
Abi sendiri tersenyum tipis, is sekarang tahu bahwa sang istri tidak akan setega itu kepada orang yang telah menyakiti nya
"Karena ganti pakai garam jadi nanti kalau sakit adek kasih ruangan VIP" Ucap Fifin yang mana level kamar juga ikut turun dari yang pertama ia janjikan
"Haha.. iya iya"
Setelah semua selesai, Fifin membawa nampan berisi minuman tadi dan langsung menuju ruang tamu
"Oh, ini santri baru?" Tanya Nisa saat Fifin menyuguhkan minuman pada semua orang
"Eh bukan, itu istri nya Abi" Jawab Aina
"Oh... kok bawa bawa teh? Jadi kelihatan seperti santri baru ya" Ucap Nisa yang kelihatan sekali mata nya menatap rendah Fifin
"Oh iya? Alhamdulillah dong, berarti saya memang awet muda" Ucap Fifin dengan senyum manis nya kemudian duduk di sebelah sang suami
"Abi, kamu nyari istri dimana sih?" Tanya Nisa
"Kenapa kamu nanya nanya begitu?" Tanya Umi yang tidak terima dengan pertanyaan Nisa tadi
"Eh saya hanya bertanya saja umi, kasihan kan kalau istri nya tidak memiliki ilmu yang tinggi. Jadi saya ingin memastikan"
"Atas hak apa kamu mau memastikan?" Tanya Abi dengan mengangkat satu alis nya
__ADS_1
"Sebagai teman yang baik, maka saya juga mengkhawatirkan mu" Jawab Nisa
Abi terkekeh "Alhamdulillah saya punya istri yang baik, sangat menjaga sopan santun dan tidak suka mengusik rumah tangga orang lain"
Nisa yang mendengar hal tersebut pun menjadi dongkol, kenapa sih susah sekali menggoyahkan perasaan Abi agar berpihak saja padanya
Fifin yang perasaan nya makin badmood pun mengambil biskuit di meja, ia sengaja mematahkan biskuit itu dengan kasar hingga potongan biskuir nya terbang mengenai jidat Nisa
Plak!
"Wah... ini yang dinamakan sopan santun ya?" Ucap Nisa saat biskuit itu menempel di dahi nya
"Eh kok bisa nempel di dahi? Ada maghnet nya kah dahi kamu?" Tanya Fifin yang enggan meminta maaf, biskuit itu menempel di dahi Nisa mungkin karena terlalu banyak pelembab di wajah perempuan itu
"Fin..." Tegur Aina karena ia belum tahu soal Nisa
"Aku minta maaf ya untuk hari ini" Ucap Aina lagi
"Iya, tapi..." Ucap Nisa terhenti saat melihat Abi yang dengan santai nya memeluk sang istri lalu meletakkan wajah nya di leher yang tertutup hijab itu, mengendus endus bau favorit nya dari dulu
"Cepat cepat hadir ya nak, di perut ibu.. abah akan menunggu kamu" Ucap Abi dengan tangan nya mengelus elus perut rata Fifin
"Makanya sering sering begadang ya abah, biar aku cepat hadir disini" Ucap Fifin
"Iya nak, abah akan sering sering begadang nanti ya" Ucap Abi sambil mengeratkan pelukan nya
Nisa makin kesal sampai ubun ubun kala melihat pasangan bucin itu, begitu juga dengan Aina dan Fahri yang terheran heran karena selama ini Fifin dan Abi tidak pernah menunjukkan kemesraan berlebihan di depan orang lain
Umi dan abah pun hanya terkekeh geli saja, anak dan menantu nya itu hebat karena melawan Nisa tanpa menyakiti fisik nya
"Eh anu, diminum dulu saja teh nya" Ucap Aina agak canggung karena ulah adik nya
"Iya" Jawab Nisa yang raut nya sangat bete tapi seketika mata nya melebar saat merasakan teh itu asin, ingin memuntahkan nya tapi tidak sopan jika di depan umi
"Kenapa? Diminum sampai habis biar tidak mubadzir, kasihan anak saya udah capek capek bikinin kamu" Ucap umi kala melihat raut aneh Nisa
"Eh.. hehe, iya umi" Ucap Nisa terpaksa menghabiskan teh asin itu tapi dengan tatapan nya yang cukup menyalang pada Fifin
Fifin yang ditatap pun juga membalas, tak mau kalah... ia memasang wajah songong seakan bilang "Apa lo? Maju lo" Gitu. Ia juga sengaja memberi kecupan ringan di seluruh wajah suami nya
"Aina, aku pamit dulu ya... harus menjaga hafalan jadi tiap hari aku mengulang lagi" Ucap Nisa
Fifin pun ikut ikutan "Mas... katanya mau praktek yang di kitab sampul kuning itu, ayok"
"Iya sayang, nanti malam ya" Ucap Abi tersenyum saat melihat keberanian istri nya
Sedangkan Nisa yang tahu apa kitab yang dimaksud pun makin melebarkan mata nya, kok bisa pasangan ini terang terangan membahas hal tersebut yang mana membuat hati nya makin panas
"Kok buru buru Sa? Baru juga ketemu" Ucap Aina berusaha tidak mempedulikan ulah adik nya sekarang
"Iya, kapan kapan kesini lagi insya Allah.. aku pamit dulu ya" Ucap Nisa menyalami semua orang termasuk Fifin, yang mana ia mendapat remasan halus di tangan nya
"Hati hati di jalan, jangan sampai tergoda sama suami orang" Ucap Fifin lirih
Dan saat mobil Nisa benar benar sudah pergi dari villa, Abi, Fifin dan abah juga umi seketika tertawa mengingat kejadian tadi
"Kamu kasih apa teh nya nak?" Tanya umi
"Garam umi, Fifin jengkel sekali soalnya" Jawab Fifin
"Kok bisa dia tidak punya malu?" Ucap abah bertanya tanya sambil geleng geleng kepala
Hanya Aina dan suami yang bingung sekarang, kenapa coba semua orang membenci Nisa? Heran
__ADS_1
"Aina sama Fahri, kut umi sebentar yuk... ke kamar kamu saja" Ucap umi agar anak dan menantu nya itu tidak kebingungan
"Njih umi" Jawab Fahri sambil membantu istri nya berjalan ke kamar mereka.