Perjalanan Cinta Abizar

Perjalanan Cinta Abizar
120. Ibu kedua


__ADS_3

Saat masih tidur Fifin merasakan ada sebuah elusan lembut di dahi nya, ia beneran masih sedikit mengantuk tapi sepertinya sang suami memang menyuruh nya bangun


“Heem, kenapa mas?” Tanya Fifin dengan mata yang masih terpejam karena baru dua jam ia tidur


“Ada Lia di bawah nungguin kamu, sekalian Abbad juga waktunya minum susu kan?” Ucap Abizar yang sudah berdiri dan menggendong Abbad, ia membangunkan bayi itu karena waktu nya mengisi daya


( note : bayi berusia 0 bulan biasanya memang di bangunkan dua jam sekali untuk menerima asi karena waktu tidur bayi lebih banyak daripada saat bangun, sekitar 18 jam per hari )


Fifin juga langsung bangun karena ada tamu dan Abbad yang harus minum asi


“Susu nya sudah mas siapkan” Ucap Abizar menunjuk botol susu di meja nakas sambil membangunkan Abbad, bukan apa apa… tapi Fifin kedatangan tamu jadi sekarang biar minum lewat botol dot saja


“Suhu nya sudah sesuai?” Tanya Fifin mengambil botol susu itu dan mencoba di tangan nya, takut masih terlalu dingin karena baru keluar dari freezer


“Sudah, tadi mas rendam di air” Jawab Abizar


“Yaudah adek minta tolong titip Abbad sama mas dulu ya? adek ganti baju dulu” Ucap Fifin


“Iya sayang, udah sana” Ucap Abizar


Fifin buru buru ganti maju, gak perlu mandi kan 2 jam yang lalu juga baru mandi hehe… pas udah sampai di ruang tamu ternyata Abbad sudah ada disana, sedangkan Abizar mungkin udah ngobrol sama mas Wawan dan pengurus yang lain diluar


“Masya Allah cantik nya bumil” Ucap Fifin ketika melihat perubahan pengantin baru itu yang makin ca rim


Lia langsung melotot karena ia belum memberi tahu siapapun soal kehamilan nya, masih belum siap dan ragu


“Hehe bercyandhaaa” Ucap Fifin tergelak dan untung saja umi dan abah sedang tidak di rumah, katanya tadi mau pergi ke beberapa tempat kajian sambil belanja keperluan


“Sehat kan?” Tanya Lia saat Fifin sudah duduk di samping nya


“Sehat alhamdulillah, ada apa weh kok kesini?” Tanya Fifin balik


“Ya kan biasanya juga sering kesini kalau mas Wawan ngajar, trus mbak itu gimana? masih lama ya proses sembuh nya” Ucap Lia sambil matanya menuju pada Silvi yang sedang latihan berjalan di dalam rumah dengan mbak Ila yang memapah nya


“Ya masih lama kan patah, aku juga ngerasa bersalah tapi mau gimana lagi? kecelakaan yang gak disengaja dan gak ada yang tau juga kan” Ucap Fifin


“Owalah… ini juga selalu minum pakai botol?” Tanya Lia yang mana ia menggendong Abbad dan memegangi botol susu nya


“Enggak lah… pakai botol tergantung sama situasi nya aja, ada kamu disini masa aku mau kasih asi langsung dari sumber nya?” Ucap Fifin balik, kan saru etdahhh


“Hehe ya gapapa sih kalau kamu gak malu” Ucap Lia slengeh an udah kayak gak ada beban

__ADS_1


“Kabar nya tante sama om gimana?” Tanya Fifin


“Baik baik mereka baik kok, sehat dan kadang juga minta kesini tapi nunggu kamu baikan dulu” Jawab Lia


“Alhamdulillah… iya kapan kapan aku aja yang ke rumah mu” Ucap Fifin


“Trus si anu udah di hukum? tadi di pengadilan lancar lancar aja kan?” Tanya Lia


“Ya Alhamdulillah nya lancar, udah selesai juga semuanya”


“Oh iya? Alhamdulillah… hukuman nya jadi apa?” Tanya Lia


“Penjara seumur hidup karena pasal pembunuhan berencana, tapi entah kita gak tau mereka nanti mengajukan banding atau enggak” Ucap Fifin


“Ya tolak aja kalau mengajukan banding, berani berbuat juga harus berani tanggung jawab” Ucap Lia


“Yaaa lihat saja nanti” Ucap Fifin agak ragu sebenarnya karena kalau dilihat lihat ya kasian sama itu cewek, kalau hukuman seumur hidup nanti masa depannya bagaimana? masa iya harus sendirian sampai meninggal di dalam sel


“Buset broohhh… buang air besar ini dia” Ucap Lia merasakan kalau tangan nya yang memegang bagian pantat bayi itu terasa hangat


“Yaudah sih tolong gantiin pampers nya ya? di ruang keluarga itu ada semua keperluan Abbad disana” Ucap Fifin menunjuk ruang di belakang mereka


Fifin hanya tersenyum lalu mengantar Lia ke ruang keluarga, disana Lia sendiri yang menggantikan dalaman Abbad sedangkan sang ibu hanya duduk manis


Lia juga tidak keberatan dan tidak masalah, untung saja ia berprofesi seorang bidan, jadi tidak ada rasa jijik dengan hal seperti ini karena sudah banyak mengurus bayi di rumah sakit


“Terimakasih ya ibu Lia yang cantik” Ucap Fifin ketika Abbad sudah bersih dan diletakkan di stroller situ


“Oh iya nanti masuk kerja lagi kapan? masih kerja kan?” Tanya Lia


“Ya masih, tapi nanti nunggu selesai nifas dan sekalian setelah acara kirim do’a empat puluh hari nya fatimah” Jawab Fifin yang agak nyekit sedikit saat harus berbicara seperti ini


“Owalah… yaudah nanti sebelum acara aku datang kesini buat bantu bantu” Ucap Lia


“Iya…”


\~


Waktu jelas kian berlalu meninggalkan segala kenangan baik dan buruk di waktu kemarin, tidak ada lagi kesedihan yang menimpa dan semua manusia pasti ingin menggapai kebahagiaan nya masing masing


Kemarin setelah acara kirim do’a 40 hari nya Fatimah, sekarang Fifin sudah mulai masuk kerja lagi karena kontrak nya dengan rumah sakit juga belum selesai

__ADS_1


“Sudah tambah besar, nanti ibu tinggal kerja tuh Abbad harus anteng ya? jangan rewel nanti kasihan sama mbak mbak” Ucap Fifin saat mengoleskan minyak telon pada Abbad yang baru mandi



“Sana adek pakai hijab dulu, biar mas saja yang pakaikan baju nya Abbad” Ucap Abizar karena istri nya sudah memakai atasan putih lengkap rok dan hanya tinggal hijab nya saja


“Oke, hati hati loh ya…” Ucap Fifin karena badan anak nya masih sangat lunak


Setelah mereka berdua siap dan Abbad juga udah ganteng, lanjut turun ke bawah untuk sarapan sebentar dan menitipkan Abbad pada umi sama mbak mbak dibawah, ia sudah menyiapkan semua keperluan Abbad termasuk asi yang ada di dalam freezer


“Umi… Fifin nitip Abbad ya, maaf merepotkan umi sama mbak mbak” Ucap Fifin


“Tidak apa apa, umi malah suka kalau bisa melihat tumbuh kembang cucu umi” Ucap umi Rida karena ia juga tidak sendirian, ada mbak mbak yang siaga ikut menjaga Abbad


“Yaudah umi, Abi sama Fifin berangkat dulu” Ucap Abizar sambil mencium punggung tangan umi dan diikuti oleh istri nya


“Hati hati di jalan ya… jangan ngebut dan lain lain yang penting sampai” Ucap umi


“Njih umi”


Setelah berpamitan dengan abah yang ada diluar, mereka juga langsung berangkat karena khawatir telat kalau terlalu lama


“Mas, mas mau antar jemput adek terus kah?” Tanya Fifin di tengah tengah perjalanan karena Abi tidak pernah membahas ingin membeli mobil baru dan sebagainya


“Iya, karena sekarang dan seterusnya itu keselamatan adek sangat penting bagi mas, uang mas juga menipis kalau dibuat beli mobil lagi” Ucap Abizar


Bukan tidak ada uangnya tapi ia akan fokus untuk mengembangkan pondok dan butik terlebih dahulu daripada membeli mobil lagi yang mana jarang ia butuhkan, lagian ia juga tidak mau jika ada mobil baru dan mereka akan berangkat sendiri sendiri seperti kemarin


Fifin mengangguk angguk tapi dalam hati ia bergumam “Apa tabungan mas Abi menipis ya? kasihan” Karena selama ini Fifin tidak pernah mencari tahu berapa pendapatan Abizar dan sebagainya, yang penting Abi sudah melakukan semua kewajiban seperti memberi nya uang kebutuhan rumah, uang jajan dan lain lain, itu pun sudah lebih dari cukup


“Nanti adek pulang jam berapa?” Tanya Abizar


“Jam tiga sore, adek bisa nebeng Lia kalau mas sibuk” Jawab Fifin


“Yaudah nanti mas kabarin aja ya” Ucap Abizar karena mas Wawan sore hari ini ada jadwal mengajar di pondok


“Hati hati, semangat juga kerja nya dan jangan mikirin yang lain” Ucap Abizar setelah mencium kening istri nya


“Hehe iya, mas juga hati hati”


__ADS_1


__ADS_2